Sosialisasi Pemilu 2019 di Chiang Mai

Hari ini 10 November 2019, panita pemilihan luar negeri perwakilan Bangkok mengadakan sosialisi pemilu 2019 kepada WNI di Chiang Mai. Acara sosialisasi berlangsung dari jam 11 sampai sekitar jam 2 siang di restoran Takawa Cuisine Chiang Mai Land. Kami datang agak terlambat karena saya paginya ada kegiatan lain sampai jam 12. Walau terlambat, tentunya kami masih dapat point utama dari sosialisasi ini yaitu makan siang! Eh maksudnya mengenai pemutakhiran data pemilih tetap.

Sejak beberapa tahun terakhir, WNI di Chiang Mai sudah semakin banyak dibandingkan 11 tahun lalu. Beberapa WNI dari kota Lampang yang berdekatan dengan Chiang Mai juga hadir. Acara sosialisai pemilu 2019 untuk pemilih di Thailand sebelumnya sudah diadakan di Bangkok tanggal 3 November 2018 lalu. Kami bersyukur sejak WNI di Chiang Mai cukup banyak, walaupun kota ini jauh dari Bangkok tapi KBRI Bangkok memperhatikan kami dan memberikan sosialisasi khusus.

Point penting dari sosialisasi pemilu tadi, yang mana saya juga baru tau adalah mengenai daftar pemilih tetap. Pertama kita harus cek apakah kita sudah terdaftar di daftar pemilih. Untuk pemilih di Thailand bisa di cek di link berikut: http://www.pplnbangkok2019.org/?page_id=114 apabila ingin memilih di Thailand tapi belum terdaftar, bisa mendaftarkan diri dari link yang tersedia di halaman tersebut.

Untuk WNI yang sudah memiliki NIK dari E-KTP diwajibkan untuk mengajukan permohonan penghapusan data ganda. Jadi ternyata, sistem pemilu 2019 sudah mengotomasi mendaftarkan semua WNI yang memiliki NIK terdaftar dalam DPT di daerah KTP masing-masing. Untuk memastikan, bisa di cek dengan memasukkan nama dan NIK di link berikut ini.

Kalau kita terdaftar di DPT daerah KTP dan di DPT luar negeri, kita perlu untuk mengajukan permohonan penghapusan data ganda. PPLN Bangkok akan membantu WNI di Thailand untuk mengajukan permohonan penghapusan data ganda dengan mengisi form di sini. Selain menghapus data ganda, melalui form itu kita juga bisa mengajukan pindah metoda pemilihan, atau pindah tempat memilih (misalnya kita tiba-tiba pindah ke negara lain atau pulang ke Indonesia).

Pemilu di Thailand untuk TPS  KBRI bangkok diadakan tanggal 10 April 2019 (lebih awal dari pemilu di Indonesia). Pemilih yang dikirim via pos seperti kami yang di Chiang Mai ini kemungkinan akan menerima surat suara lebih awal dari tanggal 10 April 2019. Untuk mencegah kemungkinan WNI yang sudah memilih di Thailand ikut lagi memilih di Indonesia, maka perlu diingatkan untuk menghapus data ganda. Tadi waktu pertemuan sosialisasi, panitia juga aktif menanyakan apakah kami punya NIK dan mengingatkan untuk mengecek dan menghapus data ganda kalau memang terdaftar di 2 tempat. 

Walaupun rasanya hal itu namanya niat banget, tapi ya tetap saja hal ini harus dihindari supaya tidak terjadi kecurangan dalam pemilu. Satu pemilih hanya boleh menggunakan 1 suara. Semoga saja ga ada yang memanfaatkan hal ini untuk mecurangi pemilu. Kalau misalnya kita mengetahui ada yang curang, kita juga bisa segera laporkan ke panitia pemilu.

Untuk penghitungan suara pemilu di Thailand, akan diadakan hari Rabu tanggal 17 April 2019. WNI di Thailand yang ingin menyaksikan penghitungan suara dipersilahkan datang ke KBRI Bangkok. Semoga pemilu Indonesia 2019 berlangsung dengan aman dan damai, dan siapapun yang terpilih bisa membawa Indonesia lebih baik lagi.

Bumbu Masakan Indonesia di Chiang Mai

Saya bukan orang yang ahli masak, biasanya hampir semua menu makanan Thai bisa saya makan baik-baik saja. Tapi adakalanya ada rasa ingin makan makanan Indonesia dan harus masak sendiri.

Kalau kami tinggal di Bangkok, mendapatkan makanan Indonesia lebih mudah, tinggal datang ke KBRI Bangkok. Dan karena di sana lebih banyak orang Indonesia, ya kemungkinannya bisa lebih sering dapat icip-icip makanan Indonesia. Dan karena ada direct flight dari Indonesia ke Bangkok, kemungkinan jasa titip bumbu bakal bisa dicari dengan mudah.

Secara umum, bumbu masakan di sini hampir semua sama dengan bumbu masakan di Indonesia. Tapi bertahun-tahun di Chiang Mai, ada beberapa bumbu yang emang ga pernah ditemukan di sini. Untuk sering-sering pulang demi bumbu ya ga mungkin. Penerbangan dari Indonesia ke sini juga belom ada yang langsung, dan komunitasnya juga ga sebanyak di Bangkok, jadi kesempatan titip bumbu makin sedikit. Beberapa bumbu juga ga bisa tahan lama di simpan di kulkas.

Kalau pulang ke Indonesia atau eyang atau oppung datang ke sini, beberapa bumbu yang kami perlu bawa dari Indonesia:

  • kemiri
  • daun salam
  • andaliman buat masak arsik
  • kencur kalau eyang mau bikin urap
  • gula jawa (disini gula jawanya warnanya ga cantik coklatnya)
  • bumbu pecal yang tinggal siram air panas (praktis buat saya ga usah giling-giling haha)

Beberapa bumbu tidak bisa tahan lama seperti andaliman, dan karena saya jarang masak arsik, biasanya kalaupun bawa cukup untuk 1 atau 2 kali masak saja. Kalau oppung yang datang ke sini sih bisa minta bawa agak banyak, karena yang masakin kan oppung hahaha.

Ada beberapa bumbu yang sebenarnya ada di Chiang Mai tapi menurut teman-teman citarasanya beda dengan yang ada di Indonesia, beberapa teman masih selalu bawa bumbu ini dari Indonesia:

  • Cabe Merah
  • Kecap ABC atau
  • Kecap Bango

Teman yang jago masak rendang di sini selalu stok cabe merah giling yang di bawa dari Indonesia. Katanya supaya bisa tahan lama bisa disimpan di freezer.  Cabe merah di Thailand pedasnya beda, dan kurang pas katanya untuk bikin rendang.

Untuk kemiri bisa disimpan agak lama di kulkas. Daun salam waktu itu sekitar 1 bulan di chiller lalu layu.  Belum coba kalau di freeze gimana, lain kali mungkin akan coba di freeze. Kalau kencur harusnya di tanam, tapi karena pada dasarnya saya jarang masak pake kencur jadi ga nanam deh.

Selain bumbu, ada bahan makanan yang di Indonesia merupakan makanan paling murah (lebih murah dari daging) tapi di sini jadi lebih mahal dari daging. Beberapa tahun pertama saya ga nemu tempe di sini sampai akhirnya saya belajar bikin sendiri. Beberapa tahun terakhir sudah bisa beli tempe walaupun itu versi yang dibekukan dan tentunya rasanya agak berbeda dengan tempe segar seperti yang kita beli di Indonesia.

Ngomongin makanan saya jadi lapar. Untungnya buat bikin bakwan alias bala-bala bumbunya tersedia di sini, jadi kalau lagi kangen makanan Indonesia, paling banter masak bala-bala aja deh.

Oh ya, bulan lalu ada restoran Indonesia baru buka di Chiang Mai. Saya belum cobain, kata teman-teman yang udah ke sana sih rasanya cukup original. Pemiliknya bukan orang Indonesia, tapi chefnya orang Indonesia katanya. Nanti kalau saya udah ke sana saya tuliskan reviewnya di sini.

Perang Cyber dan Hacker Indonesia

Beberapa hari yang lalu China melarang security researchernya untuk mengikuti kompetisi pwn2own dan sejenisnya di luar negaranya.  Ini bisa jadi suatu awal yang gawat untuk dunia keamanan cyber baik secara umum, dan juga untuk Indonesia.

Saya mau mundur sedikit: apa sih pwn2own itu? Ini adalah kompetisi hacking di mana hacker diminta menjebol device dengan software terbaru dengan bug yang belum pernah diketahui orang lain sebelumnya (zero-day). Pemenangnya mendapatkan devicenya dan hadiah puluhan sampai ratusan ribu USD (ratusan juta hingga milyaran rupiah).

Bug

Secara singkat: beberapa bug ini memungkinkan orang mengambil alih ponsel, tablet, dan bahkan mobil (mobil pintar) dari jauh tanpa interaksi dari user.  Ini bukan bug kacangan seperti XSS atau SQL injection di website. Lanjutkan membaca “Perang Cyber dan Hacker Indonesia”

Trip Medan dan Samosir 2017

Kami baru saja kembali dari liburan singkat (seminggu) ke Medan dan ke Samosir. Polusi udara Chiang Mai sedang buruk dan sangat panas (sampai 40an derajat celcius), jadi di masa libur Songkran, kami memutuskan untuk pulang saja ke Indonesia. Kali ini kami hanya mengunjungi Medan, tidak ke pulau Jawa.

Karena rencananya agak mendadak, kami sudah kehabisan tiket AirAsia, jadi kami mencoba memakai Malindo. Pengalaman terbangnya cukup menyenangkan, ada IFE (in flight entertainment) di perjalanan Chiang Mai – Kuala Lumpur (dan sebaliknya). Makanan di pesawat juga lumayan. Hal yang agak membuat lelah adalah: Joshua mencret sepanjang perjalanan berangkat, dan saya perlu mengganti popoknya di berbagai tempat, termasuk juga di pesawat.

Hari pertama (Sabtu) kami gunakan untuk menukar kartu XL ke 4G dan belanja pakaian di Mall. Karena kami tidak ke Depok, orang tua saya (eyangnya Jonathan dan Joshua) datang untuk ketemu Jonathan dan Joshua walau hanya Minggu sampai Selasa. Ibu saya (yang dipanggil “eyang girl” oleh Jonathan) sempat pergi ke Belawan, karena Dompet yang saya belikan 9 tahun yang lalu hilang entah di mana, padahal masih bagus, jadi ingin dapat lagi yang serupa.

Lanjutkan membaca “Trip Medan dan Samosir 2017”

Mudik Indonesia 2016

Posting ini sekedar merangkum beberapa posting sebelumnya, sekaligus untuk menceritakan hal-hal kecil di luar posting-posting yang lain. Liburan kali ini cukup lama, dari tanggal 22 Juni (tiba di sana) sampai 10 Juli (tiba di Chiang Mai).

20160622_101146

Karena pemesanan tiket sudah mendekati harinya, harga Air Asia ternyata sudah sangat mahal, jadi kami mengambil Singapore Air yang ternyata lebih murah. Ketika berangkat Joshua agak pilek. Terakhir saya ingat (mungkin 5 tahun yang lalu), di Singapore WIFI gratisnya agak ribet. Tapi kali ini ternyata mudah diakses dan bahkan sangat cepat.

Kami mendarat dijemput oleh orang tua saya, dan sekaligus menjemput mamanya Risna yang mendarat dari Medan di waktu yang hampir sama. Di hari pertama, saya bersama bapak berusaha menyelesaikan tujuan utama. Tujuan utama adalah membuatkan Visa untuk Joshua. Joshua perlu keluar dari Thailand untuk bisa mendapatkan Visa (yang adalah ijin untuk masuk ke Thailand). Di hari pertama ini pembuatan Visa gagal karena kurang syarat Company Registration Letter dan Tax Proof.

Di sore hari pertama, saya naik motor bersama Jonathan ke Ceria Mart, dan pulangnya dihadang hujan. Setelah menunggu lama dan mengecek Google Weather akhirnya kami memutuskan pulang gerimis.

20160623_171426

Di hari kedua kami memutuskan berangkat lagi untuk mengurus Visa Joshua. Kali ini semua sudah dipersiapkan (dokumen yang diperlukan sudah diemail dan dicetak), jadi tidak ada masalah lagi. Pulangnya kami menyampaikan titipan Kak Wanti, dan karena masih cukup sore kami memutuskan mampir di Monumen Pancasila Sakti (sudah dituliskan ceritanya di posting lain).

Di hari berikutnya, opungnya Joshua berhasil memangkas rambutnya, sekarang dia kelihatan lebih ganteng. Joshua bisa terdistract karena diberikan video Mother Goose Club. Bersama saudara saya, mas Adi, kami naik bus dan ke monas hari itu. Ini juga sudah diceritakan di posting terpisah.

Di hari Minggu kami beristirahat karena mempersiapkan diri untuk ke Jawa Tengah esok harinya. Adik Asty (sepupunya Jonathan) datang, dan mereka bisa bermain bersama. Keesokan harinya kami berangkat ke kampung halaman dan ke Yogyakarta.

Sepulang dari Yogyakarta sudah tengah malam, jadi kami membiarkan anak-anak beristirahat, sementara Opung duluan datang ke acara adat sayur matua Inang Tua Kom pada dini hari. Kami datang ke Bekasi dengan menggunakan Grab dan kembali menggunakan Uber. Senangnya sekarang rumah Eyang sudah bisa dicari di peta sampai level nomer rumah dan posisinya pas, sehingga mudah memanggil Uber/Grab. Seperti pernah saya ceritakan di posting lain, ketika seseorang mencapai Sayur Matua maka acara adatnya adalah perayaan.

20160702_165728

Di hari Minggu kami kembali beristirahat lagi dan saya nyetir ke Hypermart untuk membeli beberapa benda (terutama alat pel yang lebih baik karena pembantu di rumah Eyang sedang mudik). Joshua bisa diajak makan di Solaria. Pulangnya kami mampir ke rumah Yosi. Keesokan harinya kami pergi ke Ancol, ini juga sudah dituliskan di posting terpisah.

20160703_135859

Sebenarnya kami ingin menyewa travel untuk pergi ke Bandung, tapi ternyata sudah penuh di hari sebelum lebaran, dan kebanyakan tutup di hari lebaran. Jadi akhirnya saya menyetir ke Bandung (ini juga diceritakan di posting terpisah).

Di rumah Eyang saya sempat mengajari Jonathan bermain api dan korek api. Ini sebenarnya sesuatu yang mau saya ajarkan dari dulu, tapi selalu lupa beli koreknya. Terakhir kali ingat pas musim panas di Chiang Mai dan waktu itu banyak kebakaran, jadi saya tunda lagi.

Hari Jumat kami membuat foto keluarga bersama. Terakhir kali foto keluarga, Joshua masih di dalam perut mamanya.

IMG_8308

Di hari Sabtu, Risna bertemu dengan teman-teman SMA-nya, sementara saya, Jonathan dan keluarga Yosi menonton film Finding Dory.

20160709_133710

20160709_154737

Kami kembali ke Chiang Mai hari Minggu pagi, diantar oleh keluarga Yosi. Kami agak khawatir karena di malam Minggu Joshua agak demam dan sempat muntah. Tapi Puji Tuhan Joshua hanya cranky sedikit di awal perjalanan. Sepanjang Jakarta Singapore dia tidur. Ketika transit kami biarkan dia merangkak berkeliaran. Di penerbangan terakhir dia agak bosan, tapi ada anak yang hampir seusianya di kursi dekat kami, jadi dia agak terhibur.

IMG_0887

Di sepanjang perjalanan berangkat dan kembali, Jonathan senang sekali karena biasanya pesawat yang dia naiki kecil (single aisle) sedangkan yang ini besar (double aisle). Dia juga senang sekali membaca instruksi keselamatan yang ada di tiap pesawat. Saya selalu diminta untuk memfoto supaya bisa dilihat lagi di rumah.

Liburan kali ini sangat melelahkan, penuh dengan perjalanan panjang, tapi kami bersyukur Joshua dan Jonathan tetap sehat. Kami tadinya sangat khawatir Joshua akan sakit, apalagi dengan perjalanan jauh dengan mobil (beberapa kali), dan juga mengunjungi sangat banyak tempat.

Kami bersyukur bisa tiba kembali di Chiang Mai dengan selamat, dijemput oleh Office Manager kami. Kami juga bersyukur rumah sudah dibersihkan oleh Asisten Rumah Tangga yang sudah dipesankan sebelumnya. Berbagai hal sudah dibereskan juga (tagihan listrik, air), tukang rumput juga sudah dipanggil untuk membereskan rumput. Bahkan dia sudah membelikan telur karena dia tahu kami akan sarapan itu. Kami juga bersyukur karena listrik, air, dan Internet semuanya berjalan lancar ketika tiba di rumah.

 

Jalan-jalan ke Bandung

Karena rencana ke Bandung sebelumnya dibatalkan, kami mencari hari lain untuk ke Bandung. Setelah mengecek bahwa kebanyakan travel tidak beroperasi di hari lebaran, dan yang beroperasi juga sudah penuh, maka saya memutuskan nekat menyetir ke Bandung.

20160705_143026

Meskipun di Chiang Mai kami memiliki mobil dan menyetir sendiri, tapi saya merasa tidak nyaman menyetir di Indonesia plus SIM Indonesia saya sudah expired lama sekali, cuma punya SIM Thailand. Tapi karena tidak ada yang bisa menyetir untuk kami, dan menduga bahwa jalanan akan lancar, maka kami memutuskan untuk berangkat pada Selasa 5 Juli, siang hari jauh sebelum jam takbiran. Katanya SIM Thailand juga bisa dipakai di ASEAN jadi saatnya untuk mencoba itu. Kami juga cukup percaya Google Maps akan mengantar kami melalui jalur akurat dan bebas macet.

20160705_165455

Untungnya dugaan kami benar, lalu lintas sangat lancar dan kami bisa tiba di Caringin (tempat adik Risna/tulangnya Jonathan) cukup sore. Saya serahkan urusan menyetir di kota Bandung ke Lae untuk check in hotel lalu mencari makan malam. Kami menginap di SHEO hotel di Cimbeluit.

IMG_0645

Ketika kami check in di hotel, ada masalah dengan showernya. Walau di malam lebaran, mereka bisa membetulkan masalahnya dalam waktu singkat. WIFI di hotel ini kecepatannya tinggi, sayangnya di dalam kamar signalnya sangat lemah.

Esok harinya kami berenang. Di kolam renangnya ada dua katak. Mungkin karena hari lebaran, tidak ada yang bertanggung jawab membersihkan kolamnya.

This slideshow requires JavaScript.

Siangnya kami bertemu dengan Bu Inge (atau Jonathan memanggilnya Oma Inge). Setelah sulit mencari tempat makan yang buka tapi tidak terlalu padat, kami memutuskan untuk makan di Paskal Hypersquare. Jonathan semangat sekali ingin menceritakan game Human Resource Machine ke Oma Inge. Jonathan juga mendapatkan kado dari Oma Inge.

20160706_140555

Bu Inge bersemangat bercerita mengenai http://bebras.org/

Kami ingin meneruskan perjalanan ke Farmhouse Lembang, tapi ternyata lalu lintas terlalu ramai. Kami mencoba jalan pintas melewati Farmhouse dan berencana turun dari atas, tapi ternyata ada pembatas jalan yang membuat kami tidak bisa berputar. Akhirnya kami memutuskan ke Tahu Susu Lembang dan di sana ada tempat bermain.

Pertama Jonatan hanya bermain pancing ikan dengan magnet. Abang Gio jadi tertarik juga. Setelah Jonathan bosan, abang Gio tetap bermain itu.

20160706_162355

 

Jonathan ingin sekali naik kereta setiap kali melihat mainan sejenis itu meski sudah puluhan kali naik kereta gratis di Chiang Mai. Keretanya 20 rb per orang.

20160706_163856

Setelah bosan, saya bujuk dia untuk naik Flying Fox/zip line. Jonathan tidak takut sama sekali dan bisa menikmatinya. Tarif ini juga 20 rb.

IMG_0656

Berikutnya bersama saya, kami masuk ke bola yang mengapung di atas air. Tarifnya juga sama 20 rb/orang (jadi 40 rb berdua). Kami diberi 5 menit naik ini (karena oksigen terbatas), naik bola ini juga rasanya agak aneh (tekanan udaranya berbeda dari di luar).

20160706_165424

IMG_0695

Terakhir kami masuk ke taman bermain yang berbayar, tapi sangat mengecewakan. Mainannya tidak terawat dan sebagian tidak bisa dipakai.

IMG_0728

 

IMG_0747

Di hari kedua lebaran, saya menyetir lagi pulang, tapi sebelumnya mampir dulu ke rumah mbak Cepi di buah batu. Jonathan bisa langsung bermain dengan Fathan.

20160707_121957

Lalu mbak Asri dateng.

20160707_132756

Lalu diteruskan ke tempat Lae. Ada acara kecil potong rambut seperti dulu yang dilakukan pada Jonathan.

IMG_0801

Dan saya meneruskan perjalanan pulang. Lalu lintas mulai memadat, tapi belum macet. Arah sebaliknya (menuju Bandung) sudah macet panjang sampai dibuatkan contraflow.

Kami tiba kembali ke Depok dengan selamat. Selama perjalanan tidak pernah diminta SIM, jadi masih tidak tahu apakah SIM Thailand berlaku atau tidak di Indonesia.

Pantai Ancol

Ini merupakan perjalanan singkat di Jakarta. Kami hanya sekedar mencari tempat outdoor agar Jonathan dan Cathy bisa bermain bersama. Sebenarnya kami berencana ke TMII, tapi karena sudah pernah ke sana, kami memutuskan untuk pergi ke Ancol, sekedar ke pantainya bukan ke Dufan karena anak-anak belum cukup umur (dan belum cukup tinggi) untuk bisa menaiki wahana dufan.

IMG_0584

Kami mulai dengan makan di Mc Donalds dan dilanjutkan dengan membeli peralatan untuk bermain pasir (50 rb) plus bola (20 rb).

20160704_115221.jpg

Sebenarnya kita bisa meminjam tikar gratis dengan jaminan KTP, tapi karena hanya Risna, Joshua dan Opung yang menunggu, mereka mendapat tempat di tenda jadi tidak perlu menyewa tikar.

20160704_114309

Ternyata ada WIFI gratis di Ancol dan kecepatannya cukup bagus, signalnya juga kuat. Tidak perlu login/password untuk bisa menikmati WIFI-nya.

20160704_130212.jpg

IMG_0588Permainan yang dilakukan anak-anak mulanya hanya bermain pasir, tapi akhirnya mereka menceburkan diri di pantai dan bermain air.

20160704_135408

Setelah selesai bermain, kami meneruskan perjalanan ke rumah adik saya, Aris. Di jalan kami ingin membawakan Mpek-mpek, tapi ternyata di bulan puasa ini kami hanya bisa membeli yang belum digoreng (hanya setelah jam 6 sore mereka melayani yang sudah digoreng).

20160704_171113