Review App: Foldify – Create, Print, Fold!

Aplikasi Foldify ini merupakan aplikasi yang tersedia di Appstore untuk ipad dan iphone. Kami membelinya sudah lama sekali, sejak Jonathan masih kecil dan Joshua belum ada. Kalau dari kategorinya, foldify ini untuk umur 9+, tapi sebenarnya untuk latihan mewarnai, menggunting dan melipat ya bisa dari umur berapa saja.

contoh-contoh template yang tersedia

Beberapa bentuk sudah tersedia dan diwarnai. Kita bisa print dan gunting, lalu dilipat dan dimainkan. Bentuk-bentuk tersebut ada versi kosongnya juga yang bisa kita print untuk diwarnai di kertas sebelum digunting dan dilipat, atau bisa mewarnai dengan aplikasinya juga.

Bentuk-bentuk yang masih “kosong”

Kalau kita memilih template yang kosong untuk diwarnai, kita akan mendapatkan bentuk 3 dimensi sebelum digunting dan dilipat. Dari halaman ini kalau langsung kita print, maka anak-anak bisa mewarnai dikertas. Tapi kalau kita ingin mewarnai dengan aplikasi, ketika kita mewarnai di sisi kanan, gambaran 3dimensinya akan langsung terlihat efek dari warna yang kita berikan.

template untuk diwarnai

Bentuk yang sudah kita warnai bisa kita upload, kirimkan ke e-mail, share di FB dan twitter ataupun simpan ke galeri foto.

pilihan untuk share hasil foldify

Kalau kita ingin langsung mengeprint ke kertas juga bisa, dengan catatan kalau ipadnya terkoneksi langsung ke printer. Kami sekarang ini masih memilih untuk simpan sebagai PDF dan kirimkan e-mail PDF nya. Ipad yang digunakan joshua sengaja tidak diinstal banyak hal, termasuk koneksi ke printernya.

pilihan untuk mencetak

Seperti halnya dengan mainan yang lain, ketika menemukan aplikasi baru, Joshua akan selalu memulai dengan ABC dan 123. Dia rajin sekali menyusun huruf-huruf dan memilih warna. Biasanya tidak semua kami cetak. Beberapa yang dicetak kami ajak dia untuk gunting dan lipat. Untuk urusan gunting dan lipat, sampai sekarang masih belum terlalu bisa.

Ukuran dari foldify yang dihasilkan juga bisa diatur. Kalau diperhatikan huruf-huruf yang sudah kami cetak, gunting dan lipat ada yang kecil dan besar.

Jonathan dulu lebih suka memilih bentuk-bentuk yang bisa dimainkan seperti bus. Pernah juga kami membuat pohon natal kecil dari 3 limas segi empat yang diwarnai hijau.

Sekarang ini, pembuat aplikasi foldify ini juga mengembangkan foldify dengan menambahkan beberapa template animal. Tapi karena harus beli lagi terpisah, kami belum membelinya. Aplikasi yang sudah dibeli dengan harga $3.99 USD ini masih cukup dimainkan dan belum perlu membeli yang berikutnya.

Untuk yang ingin melihat bagaimana contoh foldify bekerja, bisa dilihat di video-video yang ada di YouTube

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=j-1j_oc7HF8
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=gG6KGWbTM1c

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, apakah ada aplikasi sejenis versi androidnya? sayangnya sejauh ini kami belum menemukannya. Kalau ada yang tahu aplikasi sejenis foldify untuk android, silakan berbagi informasinya di komentar ya. Aplikasi ini cukup menyenangkan buat anak-anak, sekaligus bisa untuk mengajarkan bentuk 3 dimensi juga.

Joshua dan Osmo (Newton, Coding, Coding Jam, Detectives dan Pizza Co)

Sejak Joshua main OSMO lagi dan tidak menunjukkan tanda bosan, kami memutuskan untuk melengkapi mainan OSMO kami. Beberapa yang belakangan di beli Osmo Coding Jam, Osmo Detectives dan Osmo Pizza Co. Sebelumnya Joe memprint sendiri untuk Pizza Co nya, tapi jadinya susah menyimpannya. Dengan alasan supaya mainnya lebih enak, akhirnya kami beli juga.

Khusus untuk Osmo Newton, kami tidak membeli creative boardnya tapi hanya menggunakan white board kecil yang ukurannya mirip dengan creative board.

Tulisan ini sekilas review sekaligus biar ingat apa yang sekarang sering dimainkan Joshua.

OSMO Newton

Osmo Newton ini sebenarnya mainnya agak rumit. Jadi kita diminta untuk membuat garis supaya bola yang jatuh terpantul lagi mengikuti hukum Newton. Joshua tapi senang bikin aturan sendiri mengumpulkan bola kecilnya dan somehow dia bisa sampai level 30 an.

Osmo Newton pakai whiteboard biasa
lagi milih mau main apa
Continue reading “Joshua dan Osmo (Newton, Coding, Coding Jam, Detectives dan Pizza Co)”

Aplikasi Wattpad untuk Hobi Menulis dan Baca

Apa sih Wattpad? Wattpad ini sejenis social media untuk orang-orang yang mencari bahan bacaan ataupun suka menuliskan cerita. Bedanya dengan social media lain apa? Biasanya orang membuka wattpad dengan 2 tujuan: mencari bacaan atau menuliskan cerita.

Bacaan jenis apa? cerita seperti apa? Bisa apa saja. Cerita pendek, cerita bersambung, kumpulan cerita, ataupun artikel nonfiksi. Banyak penulis pemula yang memulai menulis di wattpad dalam bentuk cerita bersambung. Biasanya tulisan yang sudah diterbitkan di wattpad bisa di baca oleh pengguna wattpad lainnya. Kalau ternyata banyak yang suka mengikuti ceritanya, bisa jadi di saat tulisan selesai sudah ada penerbit yang bersedia menerbitkannya. Novel Metropop Resign! yang saya tuliskan kemarin juga salah satu buku yang awalnya dituliskan di wattpad.

Beberapa contoh kategori cerita, masih banyak kategori lainnya

Biasanya cerita-cerita yang belum selesai itu bisa kita komentari. Kalau kita mengikuti suatu cerita, kita bisa set supaya mendapatkan notifikasi ketika penulis menambahkan bagian baru dari ceritanya. Tapi banyak juga cerita yang tak kunjung selesai dan pembaca hanya bisa kecewa.

Saya tahu mengenai aplikasi ini sudah lama. Dulu cuma iseng mencoba membaca cerita yang direkomendasikan oleh aplikasi. Cerita kita bisa direkomendasikan kalau mendapat banyak respon dari pengguna lain berupa jumlah pembaca, ataupun menambahkan cerita kita ke daftar bacaan mereka. Untungnya cerita yang saya ikuti itu akhirnya selesai juga dan kabarnya dijadikan buku dengan menambahkan 1 bab baru setelah bab yang diterbitkan di wattpad. Setelah bukunya diterbitkan dalam bentuk fisik, tulisan di wattpadnya juga dihapus.

Daftar buku yang kita baca

Kebanyakan cerita bisa dibaca dengan gratis, tapi ada juga cerita yang untuk membacanya kita harus membayar. Saya belum pernah mencoba membaca cerita yang harus bayar jadi kurang tahu detailnya. Tapi kalau dilihat dari jumlah pembacanya, wow banget ada yang sampai dibaca 3 juta pengguna lainnya.

Cerita yang banyak dibaca orang bisa direkomendasikan ke pengguna lain

Salah satu contoh cerita nonfiksi yang saya temukan ketika iseng mencari hari ini ternyata buku tentang belajar bahasa Korea. Menurut penulisnya, dia hanya mengumpulkan tulisannya dari berbagai sumber dan kredit tetap ke penulis asli. Mungkin ini kira-kira sama dengan yang saya lakukan menulis seri belajar bahasa Thai di blog ini. Hmmm apa saya juga ikutan memindahkan sebagian ke wattpad ya hehehe.

Wattpad ini bisa diakses melalui browser dan ada aplikasinya juga untuk android dan iphone. Kalau kita sudah install aplikasi ini di HP kita, kita bisa mendownload cerita yang ingin kita baca ataupun menuliskan cerita kita secara offline juga.

Apakah wattpad ini hanya untuk orang yang suka menulis? kalau menurut saya wattpad ini justru lebih banyak pembacanya daripada penulis. Tapi ya cerita di wattpad ini banyak juga fanfiction dari cerita film atau buku yang ada. Kalau suka membaca berbagai cerita dan punya banyak waktu untuk itu, bisa juga coba cari-cari bacaan di wattpad. Kalau gak puas dengan akhir sebuah cerita juga bisa saja menuliskan versi cerita sendiri di wattpad hehehe.

Tapi seperti halnya dengan media sosial lainnya, tulisan yang kita tulis di wattpad ini bisa jadi suatu hari akan hilang kalau layanannya ditutup dan kita tidak punya salinannya. Dengan alasan ini, untuk sekarang saya memilih menulis di blog ini saja dulu. Mungkin kapan-kapan kalau sudah mulai bisa menulis fiksi bisa mencoba untuk menulis di sana.

Oh ya, kalau kamu rajin menulis di wattpad, bisa tulis di komentar supaya bisa dikunjungi.

Reverse Engineering Aplikasi iOS

Sudah lama saya menuliskan tentang reverse engineering Android tapi sampai saat ini belum menuliskan untuk iOS. Tulisan ini akan memperkenalkan cara reverse engineering aplikasi iOS dengan berbagai pendekatan. Tujuan utamanya di sini adalah untuk pentesting. Reversing untuk tujuan lain (misalnya Tweak development) sebagian akan sama, tapi masih butuh usaha dan tool ekstra dan hanya akan saya bahas sekilas.

Mesin macOS dan XCode

Memiliki mesin macOS akan sangat membantu dalam reverse engineering. Mesin ini bisa fisik asli dari Apple (Macbook, MacMini atau yang lain), mesin tidak resmi (Hackintosh), atau bahkan Virtual Machine. Pengunaan utamanya adalah untuk menjalankan Xcode terbaru dan iTunes.

Sebenarnya ini tidak 100% wajib, karena kebanyakan tool bisa berjalan di OS Lain. Misalnya di Linux saya memakai libimobiledevice untuk menginstall IPA, membaca log dari device, dsb. Tapi biasanya jika ada iOS baru, berbagai tool di luar OS X akan berhenti bekerja sampai beberapa hari atau bulan, menunggu developernya memahami apa yang diubah Apple dan bagaimana memperbaikinya.

Continue reading “Reverse Engineering Aplikasi iOS”

Belajar Piano dengan App

Note: tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman belajar piano menggunakan aplikasi Simply Piano dari JoyTunes, saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Sejak Jonathan belajar piano di kursus, sebenarnya saya sudah ikut-ikutan belajar piano. Tapi saya gak punya kemampuan memainkan musik sama sekali. Dari dulu takut sama not toge (not balok), dan cuma kenal do re mi karena pernah ikut paduan suara di gereja. Saya gak bisa juga mencari tau lagu itu seperti apa kalau belum pernah dengar sebelumnya, jadi bisa dibilang saya menghapalkan nadanya setelah diajarkan.

Continue reading “Belajar Piano dengan App”

Joshua dan Osmo

Osmo ini dulu dibeli sebagai hadiah ulang tahun Jonathan yang ke-6. Joe pernah menuliskan reviewnya di sini. Mainan Osmo ini mainan di iPad, tapi ada mainan fisiknya.

Sejak tahun lalu, Joshua sudah tertarik pingin ikutan mainan Osmo kalau melihat Jonathan main. Tapi karena dia belum bisa dibilangin untuk rapihkan setelah main, dan mainan ini banyak bagian kecil-kecilnya, saya jarang kasih Joshua main. Mainan Osmo ini sudah lama tidak dimainkan juga dengan Jonathan. Supaya tidak hilang begitu saja, mainan ini saya simpan agak jauh dan memang jadinya agak lupa.

Beberapa hari ini Joshua ingat lagi dengan Osmo, memang belakangan ini kami kasih kesempatan Joshua main iPad lagi. Awalnya dia tertarik dengan mainan Osmo Number. Joshua ini kalau main, seringnya gak mau diajarin, dia suka aja bikin cara main sendiri. Harusnya mainnya itu di depan ipadnya. Bisa untuk belajar penjumlahan ataupun perkalian. Tapi Joshua bikin sendiri mainannya dengan kepingan-kepingan Osmo Numbers. Misalnya bisa dilihat di gambar.

Sebelum sampai ke susunan seperti di gambar, dia menyusun mulai dari 1, lalu 1+1 = 2, dan seterusnya. Kadang-kadang saya heran, kok ya dia sabar banget ya mainan begini hahaha.

Continue reading “Joshua dan Osmo”

Kesan kembali memakai iOS

Selama beberapa tahun terakhir saya memakai iOS hanya untuk pentesting (dan juga ikut pelatihan iOS security di Hong Kong). Tadinya meskipun punya iPad dan iPhone, keduanya usianya cukup tua (keduanya > 5tahun). iPhone 5S sudah terasa sangat lambat, sementara iPad lebih sering dipakai untuk main oleh Joshua (dan sesekali oleh saya jika ada pentest aplikasi iPad). Sebelum iPhone 5S saya memakai iOS di iPod touch dan iPod touch 2nd generation.

Bulan Januari saya membeli iPhone XR (ini yang termurah yang mendukung prosessor A12) dan bulan ini saya membeli iPad (yang biasa bukan yang mini ataupun Pro). Pembelian iPhone tujuannya untuk pentesting (dan sudah terpakai), sementara iPad untuk membaca buku dan melihat materi Coursera (sekaligus hadiah untuk diri sendiri sudah menyelesaikan 6 Course di Coursera).

Continue reading “Kesan kembali memakai iOS”