Garlic Salt

Sejak beberapa tahun terakhir ini, bumbu wajib yang tersedia di dapur pemalas (saya) ya si Garlic Salt. Komposisinya sesuai namanya bawang putih dan garam. Awalnya Joe iseng nyobain, mungkin karena dia tau kalau saya sering malas ngupas bawang putih. Bumbu yg paling banyak saya pakai memang bawang putih, kadang-kadang saja saya tambahkan bawang merah untuk beberapa masakan. Dan sekarang garlic salt ini jadi andalan banget kalau mau masak bakwan/bala-bala, tahu goreng, nasi goreng, sup, sayur bening dan kemarin baru diajarin mertua buat bikin peyek.

Di Chiang Mai ini, kami sering kumpul-kumpul warga Indonesia. Masing-masing membawa makanan yang dimasak/beli, terus makan sama-sama. Kalau lagi super rajin saya bikin tempe bacem, tapi jurus andalan akhir-akhir ini ya bikin bakwan. Sejak ketemu garlic salt, bikin bakwan jadi jauuuh lebih mudah. Kemudahannya yang paling terasa ga butuh ngupas bawang putih, ga perlu ngulek, dan ya tinggal iris-iris dan campur deh. Setiap kali masak rasanya udah banyak, sejauh ini laris manis walaupun bentuknya ukurannya ga seragam hehehe.

Bakwan resep mertua memang bumbunya cuma bawang putih, garam dan merica. Jadi ya sayurnya diiris tipis (wortel, kol dan daun bawang), campurkan dengan garlic salt dan bubuk merica secukupnya (ga perlu gilingan deh), kasih air dan tepung terigu sampai adonannya pas buat digoreng. Oh ya, kalau mau bakwannya crunchy, bisa ditambahkan telur juga. Dulu saya hanya pakai telur untuk bakwan jagung, tapi belakangan ini karena Jonathan bilang dia lebih suka bakwan yang pakai telur, bakwan sayur juga saya pakai telur. Kalau bakwan sayur yang dijual di pinggir jalan kemungkinan besar sih ga pakai telur resepnya.

Penjelasan soal kekentalan adonan ini kira-kira kalau kalau kita tuang pakai sendok adonannya ga akan terlalu sulit lepas dari sendok dan ga terlalu gampang juga lepas dari sendok. Kalau ditanya takarannya, saya ga pernah nakar, semuanya main tuang aja sampai adonannya pas (lain kali kalau rajin mungkin bikin video buat penjelasan seberapa pas haha).

Ada banyak merk garlic salt yang dijual di Chiang Mai, tapi yang paling cocok pakai Garlic Salt McCormick (eh ini bukan lagi promosi ya). Pernah nyobain merk lain karena lebih murah, tapi ternyata gampang menggumpal dan akhirnya kebuang ga jadi dipakai.

Gara-gara mau bikin tulisan ini, jadi ngegoogle garlic salt McCormick dan baru ngerti kalau misalnya ada resep meminta 1 siung bawang putih dan kita cuma punya garlic powder (bukan garlic salt), perbandingannya 1 siung itu sama dengan 1/8 garlic powder.

Resep lain contoh kegunaan garlic salt ini yang juga sering saya pakai untuk goreng tahu, biasanya sebelum tahu digoreng supaya ada rasanya saya rendam tahu dengan air dicampur garlic salt beberapa menit, tiriskan airnya baru digoreng deh. Kalau lagi buru-buru saya ga rendam air, tapi kasih sedikit garlic salt terus di ratain deh ke permukaan tahu. Tapi pernah juga pake metode ini tahunya jadi keasinan hahahaha.

Resep lainnya yang sering jadi andalan buat bikin nasi goreng butter buat sarapan. Bumbunya paling gampang pake garlic salt dan butter, kecap asin dan kecap manis (kadang-kadang ga pake kecap manis). Kalau punya bacon makin mantap rasanya, untuk sayurannya biasanya saya pakai seperti sayuran bakwan (wortel, kol dan daun bawang iris tipis). Kalau lagi ga punya sayuran, atau Joshua lagi picky banget ga mau makan kalau ada sayurannya, ya saya masak nasi goreng tanpa sayuran, tapi ke dalam nasi gorengnya dicampurkan telur juga langsung.

Intinya ya semua masakan yang resepnya pakai bawang putih, bisa digantikan dengan garlic salt ini. Untuk takarannya ya kira-kira seperti memakai garam juga, kalau terlalu sedikit hambar kalau kebanyakan bisa keasinan juga. Beberapa kali pertama saya juga sering salah takar, bikin bakwan rasanya kurang sip hehehe. Kalau udah sering pakai, nanti lama-lama jadi tau deh takarannya.

Tempe

Tempe (atau Tempeh kalo ditulis dalam bahasa Inggris) adalah makanan khas dari pulau Jawa. Di Chiang Mai ini kami makan tempe goreng baru dua kali. Yang pertama waktu beli di Bangkok (salah satu jemaat di gereja ada yang jual tempe), dan yang kedua kali adalah minggu ini waktu Risna berhasil bikin tempe sendiri (dari kedele + laru). Di Chiang Mai ini nggak ada yang jualan tempe, jadi karena malas dan mahal pergi ke Bangkok, Risna memutuskan untuk membuat tempe sendiri. Petunjuk pembuatannya bisa dibaca di blog masakan Risna. Sebenarnya kemarin waktu pulang liburan, Risna sudah berguru ke ibuku mengenai cara membuat tempe, tapi belum sempat dipraktikkan di Indonesia. Nah karena kurang yakin, kami mencari dulu info di Internet mengenai tempe ini.

Ternyata banyak sekali resource di Internet mengenai tempe. Artikel wikipedia mengenai tempe ternyata cukup bagus. Ada perusahaan di belgia yang menjual ragi tempe (tempeh starter kit). Ada beberapa buku berbahasa Inggris (yang tidak dikarang oleh orang Indonesia) yang membahas tempe. Dan bahkan tempe sudah banyak ditemui di Eropa dan Amerika untuk para vegetarian sebagai pengganti daging. Bahkan ada artikel di Motherearth dari tahun 1977 yang membahas mengenai cara membuat tempe.

Selain artikel-artikel berbahasa Inggris, kami juga menemukan sebuah file PDF menarik dari website SMK 1 Nabire mengenai langkah lengkap pembuatan tempe, bahkan juga ragi tempe. Penjelasannya lengkap, dilengkapi gambar dan dasar teori. Contoh teori misalnya: tahukah kamu kalau jamur yang tumbuh di tempe itu berbeda-beda di berbagai wilayah? sehingga rasa tempe pun berbeda meski yang paling terkenal adalah Rhizopus oligosporus. Sekarang saya mengerti kenapa Ibu saya selalu bilang kalau tempe Jakarta dengan tempe Solo rasanya beda (di Solo jamurnya adalah R. oryzae dan R. stolonifer, di Jakarta Mucor javanicus, Trichosporum pullulans dan Fusarium sp.).

Setelah lama nggak makan tempe, sekarang jadi semakin menyadari bahwa tempe itu makanan yang sehat, enak, dan ternyata tempe sudah dihargai di seluruh dunia.