Festival Makanan Vegetarian di Thailand

Sejak datang ke Chiang Mai, kami diberitahu kalau setiap tahunnya ada yang namanya festival makanan vegetarian di Thailand, biasanya dalam 9 hari akan banyak tukang jualan makanan yang mengkhususkan menjual makanan vegetarian dan bisa dilihat dengan tanda bendera kuning bertuliskan เจ (dibaca: je ) yang artinya makanan vegetarian.

Tanda makanan vegetarian (sumber: wikipedia)

Festival makanan vegetarian (เทศกาลกินเจ) ini diadopsi dari Nine Emperor Gods Festival, di mana dalam 9 hari yang berlangsung dalam bulan ke-9 dari kalendar Lunar Cina, mereka tidak akan makan daging dan hanya makan makanan vegetarian.

Untuk tahun ini, festival makanan vegetarian ini berlangsung dari tanggal 29 September sampai 7 Oktober 2019. Informasi lebih lengkap bisa dibaca-baca di link ini.

Kalau liat begini, sosis dan bakso mana percaya ini vegetarian
Menu makanannya ya seperti makanan non vegetarian juga
Melihat yang ini saya lapar hehehe…

Selain tempat jual makanan dadakan, biasanya restoran yang besar juga menyediakan menu khusus karena banyak orang yang memilih untuk makan vegetarian selama festival ini. Tapi walaupun banyak yang berjualan makanan vegetarian, makanan biasa yang dengan daging juga tetap ada dijual seperti biasa. Jadi jangan sampai salah pilih dank kalau mau beli makanan vegetarian pastikan saja menunya ada tulisan dengan tanda kuning dan 2 huruf berwarna merah.

Makanan vegetarian identik dengan makanan sehat
Penampilannya sama aja deh dengan menu makanan biasa

Tadi kami iseng nyobain makanan cemilan vegetarian, enak juga loh ternyata. Terus Joe juga coba pesen makanan yang katanya pakai “vegan chicken” alias ayam palsu. Terlihat mirip daging ayam, tekstur juga mirip, tapi rasanya tetep daging ayam lebih enak buat saya hahaha…

Festival makanan vegetarian ini kesempatan mencoba berbagai kuliner yang berbeda dari biasanya. Selain makanan untuk dimakan dengan nasi, ada banyak juga cemilan yang menggoda (lupakan diet). Jadi kalau yang lagi diet, jangan mentang-mentang katanya makanan vegetarian lebih sehat jadi malah makan kebanyakan ya hehehe.

Indomie Seleraku

Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan, cuma iseng aja.

Beberapa waktu lalu, di FB muncul foto Indomie yang saya post beberapa tahun lalu. FB juga menyebutkan post itu sebagai post saya yang paling banyak dikomen pada tahun itu. Sebenarnya yang komentar ga banyak amat, tapi saya jadi iseng baca lagi komen-komen orang mengenai Indomie.

Beberapa garis besar dari komentar yang masuk adalah:

  • Ga bagus makan mi instan termasuk Indomie
  • Lebih enak Mi Ayam Bawang daripada Indomie Kari Ayam
  • Udah lama ga makan Indomie

Sejak merantau di Thailand, Indomie sudah menjadi makanan langka buat saya. Saya pernah juga menyimpan Indomie sampai kadaluarsa karena ga begitu pengen makannya. Pernah terpikir kalau kami tidak begitu rindu dengan makanan Indonesia dan mencukupkan dengan apa yang ada di Thailand. Tapi dengan adanya anak-anak, dan mencicip ulang rasa Indomie, ternyata kami jadi kembali mencari Indomie dan merasa perlu berpesan dibawakan kalau ada yang datang haha. Dari semua kontroversi mengenai mi instan, sebenarnya mi instan ini sudah membantu banyak orang, seperti dituliskan di posting ini. Satu-satunya rasa yang kami bawa atau pesan untuk di bawa ke sini itu Indomie kuah rasa Kari Ayam. Untungnya selera saya dan Joe sama, jadi gak repot buat bawa berbagai rasa.

tetap jadi favorit Indomie Kari Ayam

Beberapa tahun terakhir, Indomie Goreng sudah bisa dibeli di Chiang Mai. Awalnya ketemu di swalayan yang banyak menjual makanan impor, tapi belakangan ini sudah ada di hampir semua swalayan bahkan di mini market seperti 7 Eleven. Harganya? rasanya lebih mahal dibanding harga beli di Indonesia. Harga 1 bungkus Indomie goreng rasa original itu berkisar antara 16 – 18 baht. Kalau beruntung, kadang-kadang ada sale di 7 Eleven harganya jadi tinggal 10 baht saja. Ada juga indomie goreng dalam cup, harganya 27 baht. Walau tergolong mahal dibanding mi instan lokal, harga Indomie ini masih lebih murah daripada harga mi ramen korea yang harganya mulai dari 40 baht.

Setelah Indomie Goreng rasa original, belakangan muncul juga Indomie goreng Hot and Spicy, dan rasa Barbecue Chicken Flavor. Untuk 2 rasa yang agak pedas ini anak-anak kurang bisa makannya, jadi kami jarang beli.

Nah bulan Agustus lalu, kami menemukan varian baru dari Indomie goreng yang di jual di Chiang Mai. Indomie rasa Salted Egg alias telur asin. Untuk rasa ini saya kurang suka, akhirnya Joe yang makan sendiri (belinya emang cuma sedikit buat coba).

Mi Goreng Rasa Telur Asin

Mi goreng rasa telur asin ini saya nemunya baru di Rimping saja. Harganya 18 baht sebungkusnya (sekitar 8400 rupiah).

Di Chiang Mai ada yang jual telur asin, dan ada Lays rasa telur asin juga. Joe iseng makan mi goreng telur asin pakai telur asin dan Lays rasa telur asin. Abis itu dia bilang pusing hahaha, kayaknya karena semua terlalu asin.

Triple telur asin

Nah hari ini waktu saya ke 7 Eleven, nemu lagi varian baru dari Indomie goreng di Chiang Mai, kali ini rasa Soto. Karena belum di coba, jadi belum bisa kasih komentar, walaupun agak disayangkan kenapa sih yang masuk malah mi goreng semua. Soto itu seharusnya berkuah dong ah. Tadi beli Indomie Mi Goreng rasa Soto 1 bungkusnya 18 baht, kalau Mi Goreng rasa Original 16 baht. Kemungkinan sih berikutnya beli lagi hanya kalau lagi diskon saja hahaha. Di Indonesia berapa ya sekarang harga 1 bungkus Indomie goreng?

Sebenarnya ada banyak sekali mi instan masuk ke Thailand dan dijual di Chiang Mai. Kami juga kadang-kadang iseng mencoba berbagai mi instan lokal ataupun yang dari korea. Sejauh ini anak-anak cuma mau makan Indomie Mi Goreng rasa Original, dan Indomie kuah Kari Ayam (kalau lagi punya). Iya kami memang kasih anak-anak makan mi instan juga, tapi tentunya gak setiap hari ataupun setiap minggu.

Saya tidak tahu kenapa Indomie di Thailand semuanya kategori mi goreng, padahal mi ramen korea ataupun Jepang ada juga mi kuahnya. Semoga berikutnya varian Indomie yang masuk Thailand rasa Kari ayam.

Mencoba Grab Food di Chiang Mai

Layanan Grab Car sebenarnya sudah ada cukup lama di Chiang Mai, seperti halnya di Indonesia, layanan taksi online ini juga membuat banyak protes dari angkutan taksi merah (rot daeng) dan tuktuk. Tapi belakangan ini saya perhatikan ada banyak layanan baru selain layanan Grab Car.

berbagai layanan baru dari Grab di Chiang Mai

Hari ini kami mencoba untuk memesan makanan dari restoran Korea dekat rumah melalui layanan Grab Food. Sebelum ada Grab Food, layanan delivery makanan sudah ada Food Panda dan Meals on Wheels. Kami pernah mau memesan menggunakan Meals on Wheels, tapi entah kenapa harga makanannya lebih mahal daripada harga menu makan di restorannya. Untuk layanan Food Panda, saya belum pernah mencoba karena belum instal aplikasinya dan malas daftar haha. Untuk harga makanan di Grab Food, harganya sama dengan harga menu yang pernah saya foto hehehe.

lumayan kalau ada promosi free delivery hehehe

Untuk layanan Grab Food, saya bisa memakai aplikasi yang sama dengan memesan Grab Car. Saya perhatikan, jumlah restorannya cukup banyak, jam buka nya juga cukup jelas, dan yang paling penting memang restoran yang kami sering datangi itu ada di daftar. Rejeki lagi, ternyata hari ini lagi ada promosi free delivery kalau pemesanan di atas 80 baht. Oh ya, hari ini kebetulan ada teman lagi ajak anak-anak main bareng di rumah, jadi pesan makanannya tentunya bisa agak lebih banyak hehehe.

dipilih-dipilih ada jjajangmyeon, gimbab, eolkeun soondubu jjigae, tteokbokki dan tentunya kimchi

Setelah pesan-pesan, masukkan kode promosi untuk pengiriman gratis, bisa santai nunggu makanan datang sambil biarin aja anak-anak main. Emang enak ya kalau tau mau milih menu apa dan restoran itu bisa dipesan online. Gak terasa kurang dari 30 menit makanan sudah tiba di rumah.

Layanan antar makanan ini ada plus minusnya. Plusnya kita gak perlu keluar rumah, bisa pilih makanan tidak berlebihan, bisa pesan lebih awal sebelum jam makan yang biasanya sibuk, ngasih makan anak-anak juga lebih santai. Minusnya: ada banyak bungkusan makanannya yang akhirnya jadi sampah plastik (tidak ramah lingkungan), kita harus cuci piring selesai makan (ah ini sih gak seberapa dibandingkan kalau anak rewel di restoran), kadang-kadang waktu tunggunya kalau terlambat pesan bisa jadi tambah lama dan kalau ternyata yang di pesan kurang banyak, gak bisa nambah pesanan hehehe.

Iseng-iseng liat aplikasi Grab, ternyata sekarang ada banyak pilihan transportasi selain Grab Car. Ada Grab Bike (ojek), Grab Rod daeng (taksi merah khas thailand), Grab TukTuk (ini sejenis bajaj di Jakarta), dan bisa sewa Van segala kalau rombongan besar.

Saya tidak tahu kapan ada kesempatan mencoba segala transportasi yang lain, selama ini saya hanya memakai Grab Car kalau mobil lagi masuk bengkel saja. Kapan-kapan kalau ada kesempatan atau kebutuhan menggunakan jasanya akan saya tuliskan.

Kumpul Indonesia di Chiang Mai 2019

Hari ini ceritanya setelah sekian lama di tahun 2019 ini, orang Indonesia di Chiang Mai ngumpul lagi. Seperti biasa, ngumpulin lengkap itu tidak mudah, selalu ada yang lagi mudik dan atau tugas luar. Terakhir ngumpul itu waktu sosialisasi pemilu yang diadakan panitia pemilu, tapi gak lama, karena biasanya kalau bawa anak-anak ketemuan yang bukan di rumah itu anak-anak ga betah berlama-lama.

komunitas Indonesia Chiang Mai, Juni 2019

Komunitas Indonesia di Chiang Mai ini sangat dinamis dan sering berganti datang dan pergi, tapi silaturahmi tetap terjalin. Kebetulan beberapa waktu lalu, salah satu alumni Indo-CM berencana napak tilas ke sini setelah 3 tahun tak berkunjung ke Chiang Mai, nah kebetulan juga kan baru lebaran nih, dan kebetulan lain Joshua juga baru ulang tahun tanggal 6 lalu. Karena sudah ada beberapa alasan, ya jadilah saya mengajak teman-teman berkumpul dadakan. Ajakan ngumpulnya disambut dengan cepat dan senangnya karena banyak juga beberapa anggota baru yang baru menemukan kami karena baca blog ini hehehe.

Ibu guru yang pernah ngajar bahasa Indonesia di Chiang Mai untuk orang Thai.

Seperti biasa, kumpul-kumpul itu tentu tidak lengkap tanpa makan bersama. Nah senangnya di sini kalau ngumpul Indonesia artinya kesempatan makan makanan Indonesia. Masing-masing membawa apa yang bisa dimasak, lalu makan bersama. Senangnya lagi, kali ini warga baru Indonesia di Chiang Mai rajin masak dan bawain banyak masakan walaupun rumahnya jauh dari kota hehehe. Jadi hari ini makanan melimpah, dan saya masaknya seperti biasa cuma bakwan hehehe. Oh ya sekarang di Chiang Mai jadi ada 2 orang yang rajin masak rendang deh, yay.

Hari ini lupakan diet deh, semuanya sedap, lebih sedap lagi karena bisa ngobrol tanpa mikir terjemahan. Kumpul begini pengennya sih sering-sering, apa daya masing-masing punya kesibukan masing-masing jadi ya gak bisa sering-sering juga.

Oh ya, walau gak ada di foto, sebelum makan, pada minum mangga smoothies dulu, mumpung masih musim mangga. Selesai makan, setelah agak turun makanannya kita tiup lilin ulang tahun Joshua deh. Tiup lilin ini cuma alasan, sebenarnya biar bisa makan kue es krim coklat aja hehehe.

Senang deh bisa kumpul-kumpul begini. Anak-anak juga senang bisa main bareng dan tadi sih kedengarannya pada akur aja mainnya hehehe. Ibu-ibu senang bisa ngobrol santai karena ada pemuda pemudi baik hati yang jagain anak-anak pas main hehehe. Jonathan juga senang karena udah lama juga nih gak rame-rame begini. Terakhir ngumpul di rumah ini ya tahun lalu pas eyangnya di sini dan rayain ulang tahun Joshua hehehe. Mudah-mudahan sisa tahun 2019 ini masih bisa sering-sering ketemu dengan teman-teman Indonesia, apalagi kabarnya akan ada beberapa orang baru yang datang ke Chiang Mai (yay).

Oh ya, kalau ada yang ketemu tulisan kami ini, sedang tinggal di Chiang Mai dan ingin terhubung dengan orang Indonesia lain di Chiang Mai, bisa kontak kami lewat FB Page. Komentar di blog kadang-kadang tidak selalu ada notifikasinya, kalau kirim pesan di FB Page biasanya langsung bisa kami ketahui. Untuk yang rencana cari kerja di Chiang Mai, kami tidak bisa membantu karena kami juga pekerja biasa di sini. Untuk yang mau jalan-jalan ke Chiang Mai, kami belum tentu bisa menjawab semua pertanyaanya tapi ya kalau bisa dijawab akan kami jawab. Informasi seputar Chiang Mai juga sudah ada banyak di blog ini, bisa coba di cari dulu sebelum bertanya.

Makanan Halal, Bulan Puasa dan Lebaran di Chiang Mai

Malam ini saya hampir bolos nulis karena lagi gak ada ide mau nulis apa. Akhirnya keluar jurus bertanya dengan teman-teman di grup dan jadilah sesi tanya jawab agak random. Tapi jurus ini memang jurus paling ampuh untuk memaksa saya menulis hehehe.

Chiang Mai merupakan kota di utara Thailand yang mempunyai 3 musim, ada musim dingin (November – Februari), panas ( Maret – Mei ) dan hujan (Juni – Oktober). Tapi sudah beberapa tahun ini musimnya agak bergeser, misalnya musim dingin baru mulai dingin itu menjelang akhir tahun, atau seperti sekarang masih akhir Mei tapi sudah dinyatakan musim hujan walau kenyataannya siang hari masih panas mencapai 40 derajat celcius. Musim dinginnya sih lumayan bisa antara 12 – 23 derajat celcius suhu harian, dan untungnya gak ada salju, karena buat saya dingin 15 derajat aja kepala udah pusing, apalagi kalau sampai ada salju.

Kembali ke judul, karena sekarang ini sedang bulan puasa, teman-teman banyak yang pingin tahu mengenai suasana bulan puasa di sini. Walaupun kami bukan Muslim dan tidak berpuasa, tapi karena ada beberapa teman dalam komunitas yang berpuasa, saya bisa dapat cerita dari teman-teman. Berbeda dengan di tanah air, di sini yang namanya hari besar agama itu yang diliburkan cuma untuk hari besar agama Budha. Jadi namanya Lebaran atau Natal sekalipun, walaupun di beberapa lokasi terasa suasananya, tapi tidak dijadikan libur Nasional. Setahu saya untuk Thailand bagian selatan yang dekat dengan Malaysia, mereka punya libur Lebaran tersendiri. Tapi di utara sini, bulan puasa itu terasa hanya di restoran Halal di sekitar Mesjid saja. Seperti di Indonesia, ada acara buka bersama di mesjid dan tentunya sholat taraweh. Tahun ini dapat cerita kalau ada teman sesama orang Indonesia yang selama setahun di Chiang Mai belum pernah ketemu komunitas orang Indonesia, akhirnya tanpa sengaja bertemu di masjid ketika mencari makanan untuk berbuka.

Rumah kami lokasinya dekat dengan jalan Changklan, di jalan Changklan ini ada 1 Masjid dan disekitarnya ada banyak restoran halal. Saya suka beli sup daging dari sebelah Masjid karena rasanya cukup mirip dengan sup daging di Indonesia, nah di bulan puasa ini restorannya tutup di siang hari, jadi selama bulan puasa saya gak bisa beli sup daging di sana untuk makan siang :(.

Di ujung jalan Changklan merupakan lokasi Night Bazaar. Persis di tengah Night Bazaar ada sebuah masjid lagi dan jalanan di depan masjidnya namanya Halal street. Dari nama jalannya jelas ketahuan kan di situ bisa cari makanan halal dengan mudah. Jadi kalau jalan-jalan ke Chiang Mai gak usah kuatir soal makanan halal, pastikan aja nyari penginapannya di sekitar Night Bazaar, biar gak repot nyari restoran Halal nya heheheh.

Dibandingkan dengan 12 tahun lalu, mencari makanan halal di Chiang Mai memang sudah lebih gampang. Kalau kita masukkan kata kunci halal restaurant in Chiang Mai, ada banyak informasi yang bisa didapatkan. Contohnya dari situs ini. Belakangan ini juga sudah ada acara festival makanan Halal beberapa kali di kota ini.

Selain di jalan Changklan, ada juga beberapa penginapan yang mengelola restoran halal. Nah informasi ini lengkapnya ada di teman saya. Kemarin saya diberitahu juga ada aplikasi Smart Halal untuk mengecek restoran Halal ada di mana saja di Chiang Mai, sayangnya barusan saya cek, aplikasinya tidak kompatibel lagi dengan HP saya, jadi saya tidak bisa menuliskan lebih banyak soal aplikasi itu.

Berikutnya cerita soal lebaran di Chiang Mai. Karena di sini tidak libur, biasanya teman-teman kami yang merayakan lebaran ya gak bisa mudik lama. Kalaupun mudik harus ijin khusus. Tapi kalau memang merindukan suasana lebaran, disini juga ada Sholat Ied nya kok. Selesai sholat biasanya restoran di sekitar mesjid akan mengadakan open house. Nah disitulah kesempatan untuk melupakan sejenak kalau sedang jauh dari tanah air.

Salah satu kegiatan komunitas Indonesia di Chiang Mai juga ngumpul di hari lebaran. Nah yang ini sih ngumpulnya gak persis hari lebarannya ya, tapi biasanya pas hari Sabtu atau Minggu kita ngumpul dan masing-masing membawa masakan khas yang bisa dimasak sendiri. Acara ngumpul hari lebaran ini gak setiap tahun diadakan, tapi saya ingat ada beberapa kali diadakan. Walaupun gak selalu ada rendang dan opor ayam, tapi kebersamaan dengan teman-teman sesama orang Indonesia melepaskan rindu kampung halaman sejenak. Rencananya tahun ini akan ngumpul lagi, semoga jadi dan ada yang masakin rendang atau opor ayam hehehe.

Waffle Instan

Beberapa waktu lalu beli waffle maker, nyobain bikin pakai resep sendiri tapi kok ya gak berhasil. Nyoba pakai tepung pancake instan juga kurang sip. Waktu belanja beberapa waktu lalu melihat ada tepung waffle instan juga ternyata. Jadi ya dengan niat mencoba marilah kita masak.

Di dalam kotak ada 2 kemasan masing-masing 200 gram. Di belakang kotak ada petunjuk untuk menanbahkan 1 telur dan 120ml air untuk 200 gram tepung instan. Kalau tepung pancake instan instruksinya tambahkan susu dan telur, mungkin memang beda campuran tepungnya. Aduk-aduk sebentar, setelah rata ya masak di atas waffle maker yang sudah dipanaskan.

Awalnya saya suka gak sabar pengen lihat sudah selesai belum, padahal lampu indikator waffle makernya juga belum mati. Lama-lama jadi tau kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memasaknya. Adonan 200 gram tepung waffle instan ini hasilnya kira-kira 3 kali masak alias 6 lembar waffle. Cukuplah untuk cemilan anak-anak. Kalau lebih banyak dari itu nanti jadi cemilan papa mamanya hehehe.

Baru selesai masak, saya letkakan di meja. Belum disuruh eh tau-tau udah ada yang ambil. Tadinya saya pikir adonannya akan kurang manis, jadi mau saya olesin nutella lagi, eh tapi ternyata manisnya udah cukup dan Joshua nyemil 2 hahaha.

diam-diam nyomot habis 2 hahahaha

Sebenarnya masih penasaran pengen bikin adonan sendiri, tapi kalau harus menakar sendiri emang lebih ribet, jadi ya kalau untuk cemilan sesekali boleh juga sedia tepung waffle instan di rumah. Telur biasanya kan selalu ada juga. Lain kali mau cobain makan wafflenya pake es krim, pasti lebih nikmat lagi hahaha.

Waffle maker yang saya beli ini hasilnya juga terlalu tipis dan garisnya tidak tipis kalau dibandingkan dengan waffle maker yang bulat. Tapi ya kemaren nyoba beli waffle makernya juga karena murah hehehe. Kabarnya waffle ini bisa dicampur dengan berbagai buah ataupun sayuran di blender ke adonannya untuk menyelipkan nutrisi sayuran ke anak-anak. Tapi saya belum coba, kapan-kapan kalau sudah dicoba akan saya ceritakan lagi.

Sosialisasi Keluarga Homeschooling

Sore ini, kami mencoba hal baru untuk sosialisasi Jonathan dan Joshua. Jonathan hampir 9 tahun, tentunya lebih pengen untuk bermain dengan anak seusianya daripada main dengan adiknya yang baru mau 4 tahun. Jonathan pengen nonton Detektif Pikachu, Joshua belum bisa gak berisik di dalam bioskop, jadilah Jonathan pergi sama papanya nonton bareng teman Jonathan dan papanya juga.

Sebelum nonton, Jonathan sempat makan dan main dulu di mall sama temannya. Mereka main pakai koin tapi bisa lama banget karena menang terus. Lumayan cuma 10 baht bisa main lama hehehe, tapi ternyata akhirnya kalau kelamaan dibatasi juga waktunya. Mungkin udah sering kali ya orang main kelamaan gak habis-habis kalau tidak dibatasi waktunya.

Tadinya saya akan berdua saja dengan Joshua di rumah, eh ternyata ada teman yang punya anak usia 4 tahun dan 1,5 tahun yang mau main ke rumah, jadilah kebetulan yang pas banget. Joshua main dengan anak seumurnya juga di rumah. Mainan semua yang ada di rumah dibiarin aja berantakan biar puas hahaha. Mamanya sibuk ngobrol dan mikirin mesan makanan.

Karena Jonathan dan papanya makan di mall, saya gak masak lagi sorenya. Temen saya ngajakin pesen makanan dari restoran Indonesia yang baru buka di Chiang Mai. Sebenarnya harusnya kami bisa aja pergi makan ke restoran, tapi karena menu makanannya kayaknya belum tentu ada yang cocok untuk anak-anak dan juga lokasinya rasa susah parkir, kami memutuskan untuk mencoba pesan makanan delivery saja. Anak-anak dibikin nasi goreng dan telur dadar saja hahaha.

Ada 3 jasa layanan antar makanan di Chiang Mai. Meals on Wheels, Food Panda dan Grab Food. Periksa menu di Meals on Wheels, harga menunya lebih mahal 15 – 20 baht dari harga restoran. Ongkos kirim ke rumah 110 baht. Ini sih mahal banget. Tadinya udah mau berangkat aja ke sana belinya, atau gak jadi pesan di sana. Terus cek di Food Panda, ternyata karena mereka kerjasamanya baru banget, menunya belum ada. Grab Food belum ada kerjasama dengan restorannya. Akhirnya coba telpon langsung ke restorannya. Untungnya restorannya bersedia menerima pesanan lewat telepon dan dibayar via bank transfer. Tapi kami yang harus mikirin deliverynya.

Saya baru tau sekarang ada jasa Grab Express di Chiang Mai. Grab Express ini mengantarkan barang apa saja dengan motor, ongkosnya juga relatif murah, dari restoran itu ke rumah cuma sekitar 56 baht. Jadilah kami berhasil memesan makanan tanpa biaya ekstra per porsinya dan juga biaya delivery yang lebih murah. Jadi teringat dengan isi buku soal berhemat yang baru dibaca beberapa hari lalu, walaupun pesan makanan itu bukan langkah berhemat, tapi sesekali bolehlah ya memanjakan diri dengan pesan makanan dari restoran dan memikirkan mendatangkannya tanpa biaya yang terlalu mahal.

Senang rasanya bisa menikmati makanan Indonesia di rumah, gak kena macet, gak repot cari parkir, gak repot ngurusin anak di restoran, biayanya juga ga sampe berlipat ganda hehehe. Jadi juga deh malam ini makan nasi lemak, nasi kuning, rendang, kerupuk udang, sate ayam, daaaan yang gak kalah penting: sambelnya dooong!. Ada 2 jenis sambal yang dikirim, sambal terasi dan sambal bawang. Aduh itu sambalnya masih nyisa, besok tinggal goreng tempe atau masak bakwan deh buat dicocol ke sambalnya.

Kata siapa anak homeschool gak punya teman? Ini sih bukan cuma anaknya yang bersosialisasi, tapi emak dan bapaknya juga kok. Memang untuk anak homeschool, sosialiasi itu akhirnya lebih ke sosialiasi keluarga bukan cuma sosialisasi anak-anaknya doang. Oh ya, teman Joshua bukan anak homeschool sih, tapi ya mereka datang main ke rumah kan jadi temen buat Joshua hehehe.