Masa Liburan Sekolah di Chiang Mai

Tahun ajaran akademik di Chiang Mai dimulai sekitar pertengahan bulan Mei sampai Oktober, lalu anak-anak sekolah akan libur sekitar sebulan dan term ke-2 mulai November sampai Maret. Lalu anak sekolah di sini akan libur sekitar 2 bulan, jadi pas Liburan Songkran alias Tahun Baru Thailand di pertengahan April, sekolah itu sudah pasti libur.

Biasanya liburan Songkran orang Thailand berkumpul bersama keluarga atau jalan-jalan sekeluarga untuk liburan musim panas. Di saat libur sekolah, arus lalu lintas juga lebih kosong dari biasanya, karena tentunya tidak ada kesibukan antar jemput anak ke sekolah. Tapi kan Songkran itu cuma beberapa hari, sedangkan liburan sekolah itu 2 bulan. Anak-anak liburan sekolah ngapain aja dong?

Satu hal yang saya perhatikan berbeda dengan di Indonesia jaman saya sekolah dulu, masa liburan di sini itu banyak kegiatan di sekolah yang disebut summer camp atau holiday camp. Jangan bayangkan camp itu kegiatan menginap, camp ini sebenarnya gak beda dengan kegiatan sekolah, tapi ya tentunya lebih banyak mainnya, gak harus pakai seragam dan gak ada pekerjaan rumah.

Kegiatan camp yang ditawarkan sekolah-sekolah ini biasanya merupakan alternatif buat orangtua yang ga bisa cuti untuk pergi liburan ke luar kota. Saya perhatikan, untuk orangtua yang anaknya masih kecil, camp ini walau harganya lebih mahal dari uang sekolah biasanya, tapi jadi solusi untuk menitipkan anak daripada anaknya main gadget aja seharian.

Untuk homeschoolers seperti kami, kegiatan camp ini merupakan waktunya untuk sosialisasi dan sekalian sebagai hari “liburan mama dari mengajar” hehehe. Minggu lalu Jonathan dan Joshua saya ikutkan salah satu camp selama 5 hari. Setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Mereka cukup senang karena mendapatkan banyak teman baru dan kegiatan yang berbeda dari biasanya. Buat Jonathan, dia senang karena libur dari mengerjakan tugas sekolah, buat Joshua ya pengalaman kalau sekolah seperti apa.

Kegiatan camp nya ngapain aja sih? ya biasanya mereka sosialisasi dengan anak-anak lain, masak-masak, eksperimen science, bikin craft bareng, dan tentunya melatih anak-anak punya keteraturan. Untuk anak seumuran Joshua, mereka bahkan dikasih kesempatan tidur siang setelah jam makan siang.

Kegiatan camp yang diadakan sekolah-sekolah sifatnya tidak wajib diikuti dan mereka menerima umum yang bukan murid di sekolah tersebut. Biasanya setiap minggu akan dibuat tema yang berbeda-beda. Anak-anak bisa daftar hanya 1 minggu atau ikut full. Kalau liburnya sebulan, misal mau ikut full harganya akan lebih murah dibanding ambil perminggu. Kegiatan camp ini win-win sih, anak-anak happy, orangtua yang bekerja bisa tetap bekerja, orangtua yang biasanya ngadepin anak 24 jam jadi bisa istirahat sejenak hehehe.

Dulu waktu Jonathan ikut kelas aerial silk dan piano, ada juga kegiatan camp seperti ini. Pilihannya bisa setengah hari ataupun dari jam 9 sampai jam 3 sore. Di tempat les gambar Jonathan juga sekarang ini ada minggu kraft khusus. Biasanya les nya sekali datang itu 2 jam, untuk kegiatan membuat craft ini, 1 sesi nya 3 jam dan setiap hari.

Karena sudah ada yang mengumpulkan informasi summer camp ini, saya gak akan tuliskan detail apa saja camp yang ada. Silakan kunjungi blog family guide in Chiang Mai untuk melihat ada apa saja kegiatan camp di tahun 2019 ini.

Kalau di Indonesia ada gak ya kegiatan liburan begini yang diisi dengan berbagai hal yang menarik untuk anak-anak? Kalau dulu sih jaman saya sekolah, udah jelas gak ada, tapi sekarang kan udah beda jamannya dengan dulu. Kalau dulu libur sekolah gak butuh camp, tinggal main ama anak tetangga seharian, nah kalau sekarang gimana?

Cerita Tahun Baru 2019

Sejak bolos nulis setelah Natal lalu, rencana untuk update cerita liburan setiap hari jadi makin buyar. Ternyata menulis setiap hari dalam suasana liburan itu agak sulit, apalagi kalau banyak kegiatan di luar rumah seharian, atau kalau anak-anak kurang sehat. Walaupun hari ini sudah hari ke-6 di tahun 2019, masih boleh dong ucapi Selamat Tahun Baru 2019 buat para pembaca blog kami.

Supaya gak lupa, saya mau menuliskan tentang cerita sejak awal 2019 sampai kami pulang ke Chiang Mai. Kalau di update tiap hari mungkin ceritanya akan lebih panjang lagi, tapi ya tulisan ini seperti ringkasan saja hehehe.

Malam Tahun Baru banyak petasan dan kembang api di sekitar rumah eyang. Bahkan lebih banyak dari kembang api dibandingkan di lokasi rumah kami sekarang di Chiang Mai. Untungnya gak sampai bikin Joshua bangun. Jonathan yang tadinya sudah tidur, malah senang terbangun lihat kembang api. Pemandangannya tidak seperti melihat dari condo lantai 18, tapi ya lumayanlah karena kami melihatnya dari lantai rumah eyang.

Tanggal 1 Januari, mama saya datang dari Medan. Senang rasanya karena di bawain kue buatan mama seperti yang biasanya disuguhkan di rumah ketika hari tahun baru di Medan. Walaupun kami ga jadi ke Medan, jadinya merasakan suasana Medan di Jakarta.

Yay, kue tahun baru asli masakan mama saya

Tanggal 2 Januari, dapat kesempatan ketemu dengan beberapa saudara dari bapak saya yang tinggal dan berkunjung di Jakarta. Karena sekarang sudah ada 3 generasi, walaupun pertemuan hanya singkat, terasa sangat meriah. Jadi teringat masa kecil dulu kalau lagi tahun baru di Siantar, wow lebih ramai lagi orang-orangnya. Pertemuannya sangat singkat karena Jonathan kurang enak badan dan perjalanan dari Grand Indonesia ke Depok bakal memakan waktu lebih dari 1 jam dan kalau kemalaman sampainya kami khawatir Jonathan tambah sakit lagi.

Foto dulu sebelum makan dan nyemil-nyemil bareng

Tanggal 3 Januari, karena Jonathan masih belum sehat maka kami ga pergi jauh-jauh. Saya cuma anterin mama saya untuk ketemu inangudanya (adik dari mamanya mama saya) yang rumahnya ada deket rumah eyang. Kami pergi ke sana naik Grab dan cuma 15 menit, lalu pulangnya eh dianterin sama Tulang dan gantian deh berkunjung ke rumah eyangnya Jona.

Dianterin sambil kunjungan balasan oleh tulang dan oppung Citanduy Depok

Tanggal 4 Januari, hari terakhir liburan kami. Karena Jonathan masih kurang begitu semangat makan dan terlihat lemas, kami putuskan saya dan anak-anak di rumah eyang saja. Joe pergi sendiri karena ada undangan ke BSD. Siang harinya, kakak saya datang ke rumah eyang. Eh ternyata kakak saya sampai malam ngobrol di rumah Eyang dan ya karena malam terakhir di Jakarta jadilah gak terasa ngobrol sampai malam, apalagi adiknya Joe juga datang dan jadilah makin ramai obrolannya.

Makin malam makin rame

Tanggal 5 Januari, kami pulang ke Chiang Mai. Oppung ikut ke Chiang Mai, yay senangnya. Kami berangkat dari rumah Eyang sekitar jam 10 pagi. Jadwal berangkat jam 1.30 dan tiba di Bangkok jam 5.10 sore. Setelah melewati imigrasi, kami kembali ke ruang tunggu untuk penerbangan berikutnya. Untungnya semua penerbangan sesuai jadwal. Kami berangkat dari Don Mueang jam 7.30 malam dan tiba di Chiang Mai jam 8.30 malam. Karena harus mengambil bagasi ke terminal internasional padahal mendarat di terminal domestik, lalu kembali ke terminal domestik untuk naik taksi, kami baru tiba di rumah menjelang pukul 10 malam.

Walaupun sudah lelah, tapi rasanya senang sekali sampai di rumah. Untungnya udara di Chiang Mai tidak terlalu dingin. Cukup dinginnya untuk tidak meyalakan AC, tapi ya tidak sampai menggigil kedinginan.

Sejak beberapa hari sebelum pulang, Joshua dan Jonathan sepertinya sudah rindu Chiang Mai. Joshua sudah beberapa kali menyebut-nyebut Central Airport Plaza, ini adalah mall yang dekat rumah dan sering kami datangi untuk sekedar makan dan bermain berbagai permainan gratisan yang disediakan di mall tersebut. Jonathan juga sepertinya sudah rindu Chiang Mai, dia gak terlalu selera makan beberapa hari terakhir, dan beberapa kali menyebutkan pengen pulang ke Chiang Mai.

Hari ini 6 Januari 2019, sepulang gereja kami ke Central Airport Plaza untuk makan dan sedikit bermain. Joshua makan dengan lahap dan Jonathan yang sudah beberapa hari susah makan semakin membaik makannya. Selesai makan, kami naik kereta api gratisan. Turun dari kereta api, seperti biasa Joshua pergi ke tempat bermain lego gratisan. Senang rasanya melihat anak-anak langsung adaptasi kembali dengan kota Chiang Mai.

Makan malam di mall sesuai permintaan anak-anak (dan saya yang malas masak)

Pepatah bilang daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Tapi sepertinya buat anak-anak, peribahasanya tidak berlaku, karena mereka lahir dan besarnya di negeri orang.

Liburan di Indonesia sudah berakhir, tapi rasanya akan butuh waktu untuk mengembalikan rutinitas kegiatan homeschooling. Rencana awal, tanggal 7 Januari kami sudah akan memulai kegiatan homeschooling, tapi sepertinya, saya perlu menyusun ulang jadwal kegiatan sekolah dengan menambah porsi kegiatan sekolah sedikit demi sedikit selama minggu pertama. Alasannya karena saya juga masih dalam mode liburan haahaha. Saya juga perlu kembali dengan rutinitas sehari satu tulisan.

Selamat Natal 2018

Selamat Natal 2018 buat kita semua. Tahun ini kami merayakan Natal di Depok. Terakhir kali Natalan di Indonesia juga di Depok rasanya tahun 2007. Sudah hampir lupa suasana natalan di Depok, tapi ya kebiasaanya ternyata belum berubah.

Tahun ini kami ga ke gereja tanggal 25 Desember. Tadi pagi hujan dan sorenya anak-anak masih tidur. Pertimnbangan lain, besok kami akan ke gereja untuk menghadiri kebaktian babtisan salah satu ponakan, jadi ya besok aja ke gerejanya hehehe. Akhirnya sejak sampai di Indonesia, untuk pertama kalinya kami bisa di rumah saja di hari Natal ini.

Kebiasaan hari Natal di lingkungan rumah eyangnya Jonathan masih sama dengan belasan tahun silam. Sejak pagi eyang girl (eyang ti) udah sibuk menyiapkan suguhan makanan berat untuk tamu yang akan datang. Siang hari adik-adik Joe datang berkumpul di rumah sekalian kesempatan anak-anak main bareng. Dan sore hari, tetangga yang tidak merayakan Natal datang berkunjung ke rumah untuk sekedar mengucapkan selamat merayakan Natal dan menikmati suguhan makan malam yang disiapkan eyang.

Dulu di Medan, saya ingat kebiasaanya berbeda dengan di Depok. Tamu-tamu datang ke rumah itu bukan hari Natal, tapi setelah Tahun Baru. Saya gak tahu sekarang ini gimana di Medan. Setahu saya, mama saya masih menyiapkan suguhan kue-kue kering untuk tamu yang datang mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru.

Kalau di Chiang Mai, hari Natal itu bukan hari libur kerja. Jadi biasanya Joe akan ijin setengah hari supaya bisa ke gereja. Kalau di Indonesia hari Natal itu hari libur, dan gereja-gereja dipadati jemaat yang mau beribadah, karena kebanyakan orang yang jarang gereja sekalipun akan bela-belain buat ibadah Natal. 

Di Chiang Mai, walaupun hari Natal tidak libur, tapi hari Natal itu bukan hanya milik orang beragama Kristen. Setiap tahunnya selain banyak hiasan dan lagu-lagu Natal di Mall, tetangga rumah yang punya pohon cemara juga menghias pohonnya seperti hiasan pohon Natal. Hari Natal ini sudah jadi budaya, seperti halnya juga Loy Kratong yang awalnya merupakan kegiatan berdoa buat umat Budha, tapi diadaptasi menjadi hari yang diramaikan bersama (dan bukan hari libur juga).

Lain padang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Walaupun mungkin berbeda-beda cara orang di berbagai tempat merayakan hari Natal, tapi saya sekali lagi ingin mengucapkan selamat Natal buat kita semua yang merayakannya dan selamat menyambut tahun baru 2019.

Istana Anak-Anak TMII

Foto di depan Istana Anak-anak

TMII singkatan dari Taman Mini Indonesia Indah. Dulu taunya ya tempat melihat versi kecil dari Indonesia. Untuk masuk ke area TMII dikenakan biaya 25000/orang. Di dalam TMII ada berbagai tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Rasanya sehari tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat di dalam TMII.

Peta Taman Mini Indonesia Indah

Hari ini kami menghabiskan waktu hampir 5 jam cuma di bagian Istana Anak-Anak yang ada di TMII. Secara keseluruhan tempat ini cukup menyenangkan buat anak-anak bermain. Tiket masuk tidak mahal (10000 rupiah per orang) dan ada berbagai permainan ekstra dengan tambahan bayaran antara 5000 – 15000 rupiah. Kalaupun memilih untuk tidak menaiki wahana apapun, ada banyak area playground gratis dan panggung pertunjukan yang tidak bayar lagi.

Di dalam area Istana anak-anak ada beberapa toko yang berjualan makanan, cemilan, minuman dan es krim dengan harga di bawah harga mall. Sebelum pintu masuk juga ada beberapa jualan makanan dan minuman. Saya perhatikan, beberapa miniatur rumah daerah juga disulap menjadi tempat makan.

Beberapa penjual makanan sebelum pintu masuk Istana Anak-Anak.

Sebelum masuk ke dalam, saya pikir, kenapa ya gak dijual tiket terusan TMII, jadi kita bisa main apa saja sepuasnya tanpa harus mikirin bayar ini itu lagi. Tapi setelah kami menghabiskan 5 jam untuk 1 tempat, saya mengerti kalau dengan cara sekarang ini kita tidak harus bayar mahal, anak-anak bisa bermain sepuasnya. Kami hanya perlu membayar beberapa mainan saja di dalam Istana Anak-anak, karena walaupun ada beberapa wahana mini seperti di dunia fantasi dengan harga murah, anak-anak tidak tertarik menaikinya. Kalau anak tidak tertarik, tentu saja kita gak menawarkan hahaha.

Dari pengalaman hari ini, kami masih pengen ke TMII lagi tapi mungkin buat liburan berikutnya. Sedikit hal yang agak mengganggu saya ketika di Istana Anak-Anak ya, masalah asap rokok dan sampah. Saya tahu kalau ini masih masalah umum di Indonesia, tapi saya agak sedih melihat tempat bermain anak-anak di mana orangtuanya membuat anak-anak menjadi perokok pasif.

pengunjung ramai sekali

Untuk masalah sampah, kalau dulu mungkin masalahnya kurangnya tempat sampah. Hari ini saya perhatikan kalau tempat sampah sudah cukup banyak, tapi sepertinya mungkin masalah kebiasaan orang yang terlalu banyak datang ini bukan tipe orang yang biasa membuang sampah pada tempatnya kali ya. Kadang saya herannya ada tempat sampah sangat dekat, tapi ada saja yang meninggalkan sampahnya di dekat tempat sampah itu. Padahal tinggal 1 langkah lagi mungkin dia bisa memasukkan sampahnya ke dalam tempatnya.

Dipikir-pikir, daripada bermain ke playground mall, main ke tempat ini lebih puas bermain dan gak merobek kantong hehehe. Tadi udaranya juga cukup baik, matahari bersinar tapi ada angin yang berhembus memberikan rasa adem. Ramalan cuaca akan hujan, tapi ternyata gerimisnya datang setelah kami sudah di jalan pulang. Harapannya semoga tempat ini harganya kalaupun naik ga banyak naiknya, tapi ya perawatannya juga semakin baik dan siapa tahu dikemudian hari ada larangan merokok di kawasan bermain Istana Anak-anak ini.

Nostalgia Hoka-Hoka Bento

Kemarin, waktu lagi bingung mau makan apa, tiba-tiba teringat dengan makanan yang sebenarnya bukan menu khas Indonesia. Dulu sering dikonsumsi sejak jaman mahasiswa sampai kerja. Waktu masih mahasiswa, makanan ini masuk kategori makanan mewah tapi setelah kerja, kalau ada rapat atau dinas di Jakarta, sering banget dapatnya menu makanan dari restoran Hoka-hoka Bento alias HokBen ini sampai bosan hahaha.

HokBen aka Hoka-hoka Bento

Tadi teringat lagi deh untuk memesan menu HokBen, delivery via telepon. Ternyata setelah sekian lama ga beli HokBen, ada beberapa perubahan dari penyajian HokBen ini. Dulu saya ingat, tulisan di kotak depannya masih berupa Hoka-Hoka Bento dengan logo karikaturnya lengkap dengan badan, tangan dan kaki. Sekarang, mungkin karena orang-orang sering menyebut HokBen doang untuk singkatan dati namanya, akhirnya mereka menuliskan nama HokBen doang di kotak kemasannya, dan logonya juga tinggal kepala doang. Karena penasaran, baca wikipedia, ternyata memang Hoka-hoka Bento ganti nama jadi HokBen doang sejak 2013.

Kemasan HokBen sekarang

Saya lupa, kapan terakhir kali makan di HokBen, tapi ternyata, setelah sekian lama rasanya masih tetap sama. Waktu menikmati HokBen, berasa jadi nostalgia teringat jaman doeloe. Masa mahasiswa, kalau ada yang traktir HokBen itu, rasanya mewaaaaah banget. Masa kerja, awal-awal kalau ada konsumsi rapat berupa HokBen rasanya bahagia (bahagia karena gak keluar duit lagi buat beli hahaha). Sampai akhirnya ada masa bosan dengan HokBen, karena kalau mau naik kereta api pulang dinas dari Jakarta ke Bandung atau kalau ada dinas di Jakarta, menu makanan yang sering di beli ya HokBen ini. 

Dulu saya pikir restoran HokBen ini franchise yang aslinya dimiliki orang Jepang karena menunya khas makanan Jepang. Belakangan saya ketahui kalau HokBen ini namanya aja restoran Jepang, tapi kepemilikannya ya asli Indonesia. Jadi teringat dengan restoran Jepang di Thailand yang namanya Oishi, awalnya saya pikir juga restoran asli dari Jepang, ternyata kepemilikannya asli Thailand.

Keunikan yang saya sukai dari makanan HokBen ini menurut saya nasinya lembut sehingga bisa dimakan menggunakan sumpit. Selain menu yakiniku, teriyaki, ekkado, katsu dan lain-lain, yang saya ingat dari HokBen ini juga puding coklat dan puding mangganya. Rasa puding coklatnya agak berubah, kalau dulu ada rasa rum yang agak keras, sekarang aroma rum nya sudah hilang. Tapi pada dasarnya puding coklatnya masih enak sih rasanya.

Dari harganya, menu HokBen ini buat saya sebenernya relatif mahal, tapi ya masih ga semahal makanan di mall di Jakarta. Sayangnya anak-anak cuma suka puddignya saja. Tadi Jonathan lebih memilih makan sate bumbu kacang yang dibeli eyang daripada makan menu HokBen. Lain kali kalau beli berarti bisa beli cuma buat papa mamanya doang, untuk Jonathan dan Joshua bisa dibelikan puddingnya doang hehehe. 

Jalan-Jalan ke Puncak

Hari ini ga bisa cerita banyak, soalnya ceritanya masih akan bersambung besok. Cuma mau nulis beberapa hal biar ga lupa saja. Jadi hari ini kami ngikut acara Joe dengan teman-temannya ke puncak, acaranya sejenis team building gitu. Nah, karena puncak itu lebih deket dari Depok daripada harus ngumpul jam 6 pagi di pusat kota Jakarta, kami putuskan buat berangkat sendiri.

Rencana awal sih mau berangkat pagi-pagilah, jam 7 atau jam 8 maksimum. Tapi namanya mode liburan, susah banget emang mau siap-siap lebih awal. Akhirnya tadi baru jam 9-an ready buat pesen grab car atau go car. Waktu tempuh ke Puncak itu walau deket dari Depok tapi ga semua driver mau nerima. Mesan Grab Car 2 kali, udah diterima eh dicancel sama mereka. Akhirnya mencoba memesan Go Car, dan akhirnya ada 1 yang mau nerima dan ternyata rumahnya masih sekitaran komplek rumah Eyang. Kayaknya tadinya dia udah mau pulang ke rumah setelah bermacet ria ke pusat kota dan ke Margo City. Tapi ya sepertinya emang rejeki kami (dan rejeki dia), akhirnya ada juga yang mau nganterin kami ke puncak.

Pemandangan begini menyejukkan hati banget ya

Karena kami belum pernah ke tempat tujuan di puncaknya, ya kami bermodal ngikutin Google Map. Ternyata oh ternyata, waktu udah deket ke tujuan, si Google ngasih rute jalan yang seolah lebih dekat tapi malah ga bisa lewat mobil. Waktu masuk ke dalamnya udah merasa aneh, kok jalannya kecil banget, gak mungkin bis bisa masuk ke jalanan ini (rombongan yang lain berangkat naik bis). Dan bener aja, jalannya mentok gak bisa terus lagi. Space buat muter mobil sangat kecil, dan untuk mundur jauh sangat mustahil, karena jalannya selain kecil, pinggirannya itu kali dan ga ada pagarnya juga. Untung mas drivernya jagoan, dan berhasil muter mobil walau maju mundur beberapa kali. Kalau saya yang nyetir, rasanya udah pasti bakal nangis doang di situ nunggu ada yang nolongin buat muterin hehhee.

Setelah berhasil keluar dari jalan itu, baru deh Google Map nunjukkin jalan lain yang lebih masuk akal. Yang saya heran, driver, saya dan Joe sama-sama nyalain Google Map dari titik awal, dan semua menunjukkan jalan yang salah itu. Waktu ngobrol dengan teman yang berangkat lebih dahulu, dia juga ternyata disasarin sama Google Map juga, tapi untungnya sebelum terlalu jauh dan melhat jalanan kecil dia nanya ke penginapan yang dia lewatin di sana. Jadi dia ga sampai harus puter balik seperti kami. 

Jam 11 an, kami sampai di tujuan dan pengalaman disasarin sama Google itu bisa dilupakan. Untungnya tempat tujuannya memang indah, jadi bisa menikmati liburan di Puncak. Udara di siang hari masih agak panas, tapi di malam hari suhunya turun sampai 20 derajat. Jadi teringat dengan musim dingin di Chiang Mai deh.

Besok cerita lebih banyak lagi, karena mata udah ketarik dan tadi nyari tertidur dan hampir menyerah untuk ga menulis hari ini. Tapi demi target sehari satu setoran, jadilah bangun lagi. Ngomong-ngomong ada yang pernah dibikin nyasar oleh Google Map juga?

Pengalaman Mesen Grab Food

Ceritanya hari ini mau pesan makanan spaghetti carbonara biar Joshua ga cuma makan nasi telur dadar doang selama di Indonesia. Saya dengar pengalaman orang-orang kalau sekarang gampang pesan makanan bisa pake GrabFood aja, jadi ga usah keluar rumah atau capek menunggu makanan atau macet di jalan. Jadilah saya mencoba untuk menggunakan jasa GrabFood.

Dari dalam aplikasi, saya cari daftar restoran yang jualan carbonara, trus saya pilih yang jaraknya paling dekat dan waktu tunggu nya kurang dari 1 jam. Untuk milihnya tapi gak ada fasilitas mengurutkan berdasarkan waktu tunggu, jadi saya milihnya agak random aja dari beberapa hasil pencari pertama. Menunya terlihat menarik, harganya ga terlalu mahal, reviewnya juga ga jelek. Semuanya terlihat menjanjikan, eh driver Grab nya ga bisa nemu restorannya. Pelajaran pertama: milih restoran harus yang udah pernah tau lokasinya dan namanya ga mirip-mirip kalau di Google. Orderan pertama akhirnya saya cancel deh. Terbuang waktu 15 menit karena tadi juga agak lama milih-milih menunya dan juga nunggu jasa Grabnya mencari restorannya.

Masalah mencari restoran ini, driver grabnya katanya udah ngikutin pin map nya tapi ga nemu. Saya coba cari pake google map juga, karena pengalaman pertama, saya ga tahu kalau kita bisa melihat profil restorannya untuk tahu detail alamat restorannya. Kasian sebenarnya karena driver grabnya jadi ga dapat apa-apa, padahal udah muter-muter nyari. Akhirnya saya cancel dengan alasan restoran tidak ditemukan, saya ga tahu apakah nantinya restoran itu akan dihapus dari list grab food, atau masnya aja kurang cermat mencari. Katanya dia coba telepon ke nomor restorannya, tapi nomornya tidak aktif.

Berikutnya, karena kelihatan mau hujan, mau gak mau masih lebih praktis memesan lewat GrabFood, saya masih mau mencoba peruntungan. Saya ketemu restoran lain yang juga waktu tunggunya ga sampe 1 jam. Orderan berhasil dilakukan dengan lancar, pilih-pliih menu dan dapat drivernya. Setelah driver tiba di lokasi eh ternyata menu nya katanya udah ganti *sigh*. Kayaknya restorannya jarang di order ya, jadi mereka ga gitu perduli untuk mengupdate menu makanannya. Masalahnya, saya bayarnya pake non tunai OVO, kalau ordernya ganti otomatis total harganya bakal ganti.

Karena saya ga menemukan cara mengubah pesanan via aplikasi karena kasus menunya berganti, dan saya capek ngetik via message, saya telpon deh melalui aplikasinya. Ekspektasi saya, saya akan bicara dengan driver Grab nya, ternyata yang nerima orang restorannya. Saya belum nemu cara nelpon drivernya malah. Dengan orang restorannya, saya ubah pesanan dan waktu saya bilang mau ngomong sama mas drivernya, eh malah ditutup *grmbl, mulai emosi rasanya hahaha*. Akhirnya messsage lagi ke mas drivernya, nanyain gimana tuh kalau ganti pesanan, terus kata masnya nanti dibantuin kalau dia sudah antar makanan.

Waktu makanan tiba, eh dari 4 menu yang saya pilih, yang diantar cuma 3. Kata mas drivernya, orang restorannya udah dibilangin pesanananya ada 4 tapi si restoran ngotot bilang 3. Terus harga makanan di aplikasi dan bon yang dikasih restorannya juga lebih mahal harga yang dari restorannya. Haish, ya untungnya saya belum kelaparan, dan pesanan utamanya ada, jadi ya sudahlah. Ternyata, kalau ada selisih seperti itu, yang akan membayar dulu itu drivernya, jadi walaupun pesanan via non tunai, duitnya itu masuk ke account drivernya. Jadi tadi karena pesanan dari 4 jadi 3, saya gak perlu nambah malahan masih ada kembalian. Pelajaran ke-2: lain kali pesen makanan bayar cash aja biar gampang kalau totalnya ganti karena ganti orderan (dan lebih baik memang memesan makanan di restoran yang kita sudah tau pasti letak dan menunya, biar ga kejadian lagi seperti hari ini). Untungnya, tujuan utama pembelian tercapai, Joshua sukses makannya ga pake susah dan abis dong 1 porsi sendiri, walaupun menurut saya rasanya ya biasa aja dan beda dari ekspektasi sih hehehe.

Saya pikir-pikir, biaya delivery makanan di sini 4000 rupiah itu gak sampai 10 baht, kalau di Chiang Mai, pemesanan makanan itu biayanya 40 baht (lebih 4x dari biaya delivery di sini). Saya tahu cari duit itu gak gampang, tapi saya jadi kasian dengan driver ojek online yang biaya deliverynya dihargai murah sekali di sini. Kalau andaikan tadi saya harus pergi sendiri mencari restorannya muter-muter, lalu mesen makanan menunya ga ada, dan akhirnya pulang lagi ke rumah, rasanya biayanya pastilah lebih dari 4000 rupiah. Tapi saya tahu, kalau harga deliverynya lebih dari itu, mungkin akan berkurang orang yang menggunakan jasa delivery makanan ini.

Dulu, saya ingat jasa pengiriman makanan itu biasanya dilakukan oleh restorannya. Saya jadi kepikiran, sekarang biaya delivery makanan dari restorannya langsung jadi berapa ya?, Jaman awal kerja di Bandung, dulu saya inget sering banget delivery Hoka-Hoka Bento atau Pizza Hut. Sekarang, kalau biaya deliverynya lebih dari 4000 rupiah, bisa-bisa orang memilih jasa ojek online saja untuk memesan makanan. 

Ada yang punya tips-tips lain sebelum menggunakan jasa Grab Food ini? atau ada yang tahu gimana mengubah pesanan dari aplikasi kalau drivernya udah sampai restoran dan menunya berganti?