KidBright32 dan KBX

Kalau United Kingdom punya Micro bit, maka Thailand punya KidBright32. KidBright32 dikembangkan oleh NECTEC (National Electronics and Computer Technology Center) organisasi pemerintah Thailand dan diproduksi oleh perusahaan lokal Thailand Gravitech). Usaha ini didukung perusahaan lain, misalnya perusahaan Maker Asia membuat extension berupa case dan peripheral tambahan yang diberi nama KBX (KidBright32 Extension).

Di posting sebelumnya saya sudah membahas Micro bit, di sini saya membahas KidBright32 dan ditutup dengan apakah mungkin Indonesia membuat board serupa.

KidBright32

KidBright32 menggunakan ESP32 sebagai prosessornya. ESP32 ini merupakan chip dari China yang pernah saya bahas di posting lain. Sedangkan Microbit memakai chip NRF52 dari Nordic Semiconductor, perusahaan Norwegia. NRF52 hanya memiliki fitur Bluetooth dan komunikasi radio proprietary, sedangkan ESP32 memiliki fitur Bluetooth dan WIFI. Harga KidBright32 sekitar 600 baht (19 USD), tidak beda dengan harga Micro Bit .

Seperti Micro bit, KidBright32 juga memiliki IDE Visual drag drop yang bernama KidBright IDE yang bisa dipakai di Linux/Windows/OSX. Berikut ini video yang dirilis oleh NECTEC untuk memperkenalkan KidBright (video bahasa Thai dengan subtitle bahasa Inggris).

Sebagian besar fitur KidBright32 ini sama dan bahkan lebih dari Micro Bit.. Memori lebih besar, bisa WIFI (bagus untuk belajar IOT), dan LED yang dipakai lebih besar (dua buah matris 8×8, jadi ada 128 led, sedangkan micro bit hanya 25).

Micro bit sudah cukup dikenal dan ada banyak aksesori tambahan, tapi KidBright32 juga tidak kalah. Berbagai sensor dan hardware tambahan sudah tersedia dan bisa dibeli di : https://www.kidbright.io/shop. Beberapa contoh sensor yang tersedia: proximity (kedekatan), detak jantung dan barometer.

KBX dan kbide

Sifat KidBright32 ini terbuka dan bisa dikembangkan lebih lanjut. Salah satu hasil pengembangannya adalah board KBX. Board ini memiliki case, LCD, Micro SD, USB host (supaya bisa memakai keyboard atau gamepad USB), dan juga tombol ekstra. Saya baru mengenal board ini ketika menemani Jonathan untuk ikut pelatihan gratis pemrograman hardware dasar di Chiang Mai Maker Club.

Selain membuat KBX, Maker Asia juga membuat kbide, versi lebih canggih dari KidBright IDE. Software kbide ini open source dan bisa berjalan di Windows, Mac, maupun Linux.

IDE-nya bukan sekedar meniru persis editor Micro Bit, banyak fungsi tambahan yang menurut saya lebih menarik. Berbagai fungsi tingkat lanjut di sediakan di mode visual, seperti:

  • Melakukan koneksi ke WIFI
  • Melakukan time synchronization dengan NTP
  • Menampilkan gambar (bahkan dari IDE-nya kita bisa mengakses kamera USB/kamera laptop, supaya kita bisa memfoto sesuatu untuk ditampilkan di device)
  • Mengucapkan kata-kata (terbatas, hanya yang ada di dalam kamus)
  • Memainkan nada (dengan editor yang bagus)
  • Memainkan MP3
  • Melakukan koneksi dengan protokol MQTT

Sebagai produk Thailand, salah satu kelebihannya adalah support terhadap bahasa Thai. Contoh paling sederhana adalah pada fungsi teks yang bisa menampilkan teks bahasa Thai dan disertakan juga berbagai font Thai.

Dengan hardware ekstra, harga KBX tentunya lebih mahal dari harga KidBright biasa, tepatnya harganya sekitar 60 USD (1990 THB). Dengan adanya koneksi Wifi dan sinkronisasi waktu dari NTP serta fitur buzzer, Jonathan bisa dengan cepat membuat Jam meja dengan alarm. Di malam hari jamnya diletakkan di samping tempat tidurnya.

Dari hasil mencoba-coba hardware dan softwarenya, saya merasa cukup kagum. Ini proyek yang serius, bukan sekedar meniru BBC Micro bit. Design hardwarenya bagus dan softwarenya juga dibuat dengan serius. Softwarenya masih terus dikembangkan (ini bisa dilihat di aktivitas github Maker Asia).

Bisakah Indonesia membuat hal serupa?

Membuat development board yang ditujukan untuk anak-anak butuh diperlukan pengembangan hardware dan software. Kenapa kita tidak mengimpor saja benda ini? ada beberapa alasan kenapa kita perlu membuat sendiri:

  • Harga barang jadi biasanya lebih mahal, apalagi jika ditambah dengan berbagai aksesorinya
  • Kita tetap perlu membuat dokumentasi dan manual dalam bahasa Indonesia dan juga menerjemahkan softwarenya dalam bahasa Indonesia (di Thailand masalah bahasa sangat penting, bahkan semua film didub dalam bahasa Thai)
  • Kita bisa menyesuaikan dengan kondisi Indonesia, misalnya menambahkan sensor yang berguna untuk otomasi pertanian atau mungkin memakai panel surya karena sinar matahari melimpah di Indonesia

Board populer pertama yang ditujukan untuk belajar pemrograman hardware adalah Arduino. Dulu Arduino bisa dirakit sendiri karena komponennya sedikit dan jenis komponennya through hole. Dengan teknologi through hole, komponen dimasukkan menembus lubang PCB dan disolder di sisi lain.

Memakai komponen dengan teknologi through-hole

Tapi sekarang jumlah komponen through hole semakin sedikit, dan kebanyakan komponen sekarang memakai teknologi surface mounted (SMT). Dalam teknologi SMT, komponen elektronik diletakkan di atas PCB dan diberi pasta solder, lalu dipanaskan. Untuk memanaskan ini bisa memakai oven (oven kue juga bisa, tapi sebaiknya khusus, jangan dipakai lagi untuk masak kue karena walau sudah bebas timbal, masih ada kemungkinan ada uap berbahaya) atau memakai hot air soldering station. Pada produksi masal, biasanya ini dilakukan secara otomatis dengan mesin.

Contoh board dengan teknologi SMT, chip hanya “menempel” di atas PCB

Karena sulitnya merakit board modern, sebaiknya ini dilakukan oleh perusahaan khusus, sehingga anak-anak bisa langsung memakainya. Harga berbagai komponen (chip, resistor, dsb) sudah relatif murah, tapi kebanyakan masih perlu impor. Indonesia sudah mampu membuat PCB sendiri dan merakit komponennya.

Alternatif lainnya adalah kita menyusun berbagai modul, jadi tidak menyusun chip dan berbagai komponen pasif. Saat ini sudah ada banyak modul kecil dengan berbagai fungsionalitas (sensor udara, transmitter dan receiver infrared, LED, dsb) yang harganya murah (beberapa USD, bahkan ada yang hanya beberapa sen). Modul modul ini bisa disolder ke sebuah board besar.

Software untuk memprogram boardnya bisa dibuat dengan relatif mudah dengan menggunakan berbagai library yang sudah ada, atau melakukan forking terhadap IDE lain yang sifatnya open source. Bagian sulitnya adalah membuat hardware dan software yang bisa berjalan mulus. Hal lain yang penting adalah dokumentasinya.

Jadi sebenarnya bisa saja Indonesia membuat board serupa dengan BBC atau KidBright. Kesulitan pengembangan hardware dan softwarenya tidak terlalu tinggi. Pertanyaannya adalah: apakah kita memang sudah memfokuskan ke sana atau belum.

Joshua dan Pattern Blocks

Joshua sudah lama suka main pattern blocks, tapi selama ini, dia selalu menyusun huruf-huruf dan angka-angka saja. Belakangan ini, dia mulai suka menyusun bentuk-bentuk lain selain huruf.

Awalnya, dia melihat buku Pattern Animals Puzzles for Pattern Blocks yang saya beli bekas sejak Jonathan juga masih kecil. Di dalam buku ini, pattern yang ada mengikuti alphabet. Jadi Joshua susun dulu huruf A, lalu dia ikuti Alligator, lalu huruf B diikuti dengan menyelesaikan Bear dan seterusnya. Setelah mengikuti sampai huruf F, Joshua jadi mau mengerjakan pattern blocks yang bukan hanya huruf-huruf saja dan bukan berdasarkan urutan huruf.

Lalu dia melihat pattern block magnetic yang sangat tipis dan terkadang sulit memegangnya karena tipisnya. Awalnya, saya tidak berikan untuk dia mainkan, karena terlalu tipis, dan toh sudah ada pattern block magnetic yang lebih tebal dan mudah dipegang. Tapi beberapa hari ini, dia selalu meminta magnetic pattern blocks: The Farm sambil menunjuk lemari tempat saya menyimpannya.

Mainan ini dibeli sejak Jonathan umur 3 tahun-an (gambar dari Amazon)

Hari ini, selesai mandi dan makan sore, dia ingat lagi dan minta main pattern block The Farm. Akhirnya saya menyerah dan mengijinkan dia main, dengan syarat habis main harus dirapikan dan tidak boleh dilempar-lempar kepingan mainannya. Belakangan ini Joshua suka melempar mainan ke kolong-kolong kursi, jadi saya perlu mengingatkan dia supaya tidak repot mengambil kepingan tipis dari kolong kursi.

Karena pola yang diberikan di dalam kotak mainan ada nomornya, dia mengikuti berdasarkan nomor. Lumayan juga dia main beberapa jam hari ini.

Waktu Joshua melihat buku petunjuknya, dia malah jadi pengen mengikuti contoh membuat heksagon dengan menggunakan trapesium, diamond dan segitiga.

Sebenarnya, pola yang ada di buku pattern animals jauh lebih sulit daripada The Farm. Tapi Joshua senang aja main The Farm, serasa menemukan mainan baru. Waktu saya coba bujuk dia untuk menyusun pola The Farm dengan kepingan pattern block yang lama, dia tidak mau dan bersikeras menggunakan kepingan yang tipis. Tapi ternyata dia menepati janji dengan tidak melempar-lempar kepingannya dan menyimpan kembali semuanya setelah selesai main.

Mudah-mudahan berikutnya dia tetap mau menyusun pattern blocks yang berupa puzzle bentuk-bentuk lainnya dan bukan terus menerus ABC atau angka saja.

BBC micro:bit

BBC Micro Bit (kadang ditulis “micro:bit”) adalah hardware open source yang dibuat oleh BBC (British Broadcasting Corporation) untuk mengajarkan pelajaran komputer di United Kingdom. Board ini sudah dirilis tahun 2016 dan sudah saya beli tidak lama setelah diluncurkan. Baru sekarangsaya tulis karena Jonathan baru mulai tertarik belajar ini.

Case kittenbot dan micro:bit

Micro bit ini ditargetkan untuk umur 11 tahun ke atas (walau lebih muda juga bisa), jadi sebenarnya memang baru cocok untuk usia Jonathan yang sekarang 9 tahun. Micro bit ini ukurannya sekitar setengah kartu kredit, ada dua tombol (plus satu tombol reset), konektor micro USB, dan 25 LED. Ada accelerometer (bisa jadi input dengan gerakan) dan juga magnetometer (bisa menjadi kompas), ada juga sensor temperatur (tapi kurang akurat karena built in).

img
Sumber gambar: https://tech.microbit.org/hardware/

Micro bit juga bisa dihubungkan ke handphone dengan Bluetooth Low Energy (BLE). Dua micro bit juga bisa berkomunikasi dengan radio (yang ini protokolnya proprietary, berdasarkan Gazell dari Nordic). Micro bit bisa dihubungkan ke banyak hardware, tapi sebelumnya saya jelaskan dulu tentang sisi softwarenya.

Micro bit dalam case Kittenbot

Software dan pemrograman

Resminya Micro bit bisa diprogram dengan browser memakai editor blok atau menggunakan Micropython dengan mengunjungi https://microbit.org/code/ . Tapi benda ini juga bisa diprogram dengan C, C++, BASIC, ADA, Rust, Swift, Forth dan mungkin masih banyak lagi.

Editor blok resmi memiiliki simulator, sehingga kita bisa langsung mencoba bahkan tanpa perlu hardwarenya. Perhatikan gambar board micro bit di kiri, gambar tersebut interaktif, kita bisa menekan tombol A, tombol B, atau keduanya.

Editor block bisa menerjemahkan kode langsung ke JavaScript. Kita juga bisa menulis kode Javascript dan jika tidak terlalu kompleks akan bisa otomatis diterjemahkan jadi bentuk blok. Javascript yang terlalu rumit akan muncul sebagai blok teks. Berikut ini contoh terjemahan otomatis dari blok ke Javascript.

Memprogram dengan browser sangat mudah: tidak perlu instalasi apapun, cukup memakai browser Chrome terbaru (jadi perlu punya komputer/laptop, bisa Windows/Linux/Mac). Transfer program ke Micro bit juga langsung dari browser.

Khusus untuk Micro bit yang dibeli beberapa tahun lalu, firmwarenya perlu diupdate dulu agar bisa diprogram via web. Cara updatenya cukup mudah, cukup colok ke komputer dan micro bit akan terdeteksi sebagai USB disk, kita cukup drag drop firmware terbaru agar berikutnya Micro bit bisa diprogram via browser.

Browser tidak harus di PC, browser ponsel juga bisa dipakai. Untuk transfer kode dari ponsel ke Micro bit, disediakan juga companion app untuk iOS dan Android. Transfer kode dilakukan via bluetooth. Jika memakai PC, kabel USB juga merupakan sumber daya listrik bagi micro bit, jika memakai HP, kita butuh kabel USB atau batere.

Tanpa hardware tambahan

Tanpa hardware tambahan apapun, sudah ada beberapa program yang bisa kita buat dengan Micro bit, misalnya:

  • kompas
  • animasi LED
  • game sederhana (bisa memakai tombol dan atau accelerometer)

Jika kita memiliki dua Micro bit, keduanya bisa berkomunikasi dengan mudah, jadi bisa dibuat berbagai aplikasi misalnya:

  • Mengirimkan pesan (misalnya kode morse)
  • game multiplayer

Kurang ide? ada banyak contoh yang diberikan di website Micro bit

Hardware Tambahan

Micro bit bisa dihubungkan ke device lain dengan alligator clip, device sederhana misalnya: LED, tombol, sensor, dsb. Selain device sederhana, sudah ada beberapa kit yang dirancang agar gampang dihubungkan ke Micro bit, di antaranya:

  • Sensor cuaca
  • Mobil-mobilan
  • Robot

Jadi Micro bit berfungsi sebagai otak untuk benda-benda tersebut. Editor blok memiliki fitur Extensions, sehingga berbagai benda tersebut bisa diprogram tetap menggunakan editor blok yang resmi tanpa perlu instalasi software tambahan.

Benda yang sudah saya belikan untuk Jonathan adalah Ring bit car v2. Mobil ini cukup mudah disusun, walau agak susah membuat kedua rodanya supaya tepat lurus. Di bawah mobil ada 2 LED Neopixel yang bisa diprogram warnanya. Dengan menggunakan dua micro bit, mobilnya bisa dijadikan mobil remote control dengan satu micro bit lain sebagai controllernya. Kita juga bisa menempelkan spidol ke mobilnya supaya mobilnya bisa “menggambar”.

Perbandingan dengan board lain

Ketika membandingkan dengan board lain, kita harus memperhatikan tujuannya. Untuk tujuan mengajari anak-anak board ini sangat bagus. Untuk mengajari orang dewasa atau mahasiswa, board lain akan lebih bagus.

Harga Micro bit sekitar 250 ribu rupiah (sekitar 18 USD). Menurut saya ini tidak terlalu murah, tapi juga tidak terlalu mahal. Jika memikirkan alternatif lain, maka ada dua hal yang bisa dibandingkan:

  • Kemudahan development (termasuk juga ketersediaan library)
  • Kelengkapan hardware dan kitnya

Alternatif yang lebih murah biasanya perlu ditambah dengan banyak modul. Contoh: board Arduino UNO bisa didapat dengan sekitar 3.5 USD, ESP8266 harganya mulai 2.5 USD dan ESP32 mulai 4 USD. Tapi semua board tersebut belum ada accelerometer, magnetometer, output LED dan tombol.

Jika ingin berhemat, maka kita harus menghabiskan waktu untuk:

  • membeli modul (accelerometer + magnetometer + led) dan kabel, serta breadboard
  • menyambungkan modul
  • mencari library yang cocok untuk modul tersebut

Untuk anak-anak yang baru belajar, micro bit ini menurut saya sudah sangat bagus. Design hardware Micro bit ini open source, siapapun boleh membuat versinya sendiri. Jika ini cukup populer, maka ada kemungkinan akan ada clone yang lebih murah (seperti Arduino UNO yang banyak clone murahnya dari China).

Untuk Anda yang tidak punya PC/Laptop, mungkin Raspberry Pi lebih cocok karena sebenarnya itu merupakan komputer mini, jadi tidak butuh komputer kecuali saat instalasi. Tapi harganya Raspberry Pi lebih mahal, dan Anda perlu mempersiapkan keyboard, mouse, SD Card, dan juga layar monitor untuk dihubungkan ke Raspberry Pi.

Sebagai informasi, Raspberry juga punya versi murah yang namanya Raspberry Pi Zero (tanpa Wifi) dan Zero W (dengan Wifi). Teorinya ini harganya sangat murah (5 USD untuk Pi Zero, 10 USD untuk Pi Zero W), tapi kenyataannya ini sulit sekali dicari. Di banyak tempat hanya membolehkan kita membeli satu saja dengan harga 5 USD (jadi jika ditambah ongkos kirim, akhirnya jadi lebih mahal). Sedangkan di tempat lain, harganya dimarkup jadi sampai 20 USD.

Penutup

Micro bit ini menurut saya cukup menarik untuk mengajarkan pemrograman dasar. Dengan micro bit, programmer bisa melihat efek langsung di dunia nyata, bukan cuma di layar komputer. Harga Micro bit ini memang tidak terlalu murah, tapi alternatif lainnya juga harganya serupa atau lebih mahal.

Sebenarnya masih terbuka kesempatan membuat board yang lebih baik dan atau lebih murah. Minggu lalu saya sempat datang ke Chiang Mai Maker Club dan di sana ada pelatihan memakai board mereka, yang tidak lebih murah tapi lebih baik. Informasi mengenai board dari Thailand ini akan saya bahas di posting berikutnya.

Liburan Akhir Tahun 2019 ke Sukothai Historical Park (Part 2)

Hari ini saya mau cerita soal Sukothai Historical Park. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari pihak hotel, akan ada acara khusus untuk menjelang malam tahun baru. Park yang biasanya tutup jam 7 sore itu akan dibuka sampai tengah malam. Awalnya kami berencana mengeksplor Sukothai Historical Park ini sejak pagi, tapi karena mendengar kabar tentang acara sampai malam, kami merubah rencana untuk berangkat sore hari saja sampai agak malam.

Jadi, ngapain aja pagi harinya sebelum berangkat ke tujuan utama? Namanya juga liburan, kami bangun siang dan sarapan di hotel. Selesai sarapan, kembali ke kamar dan mandi-mandi. Eh, tau-tau udah jam makan siang hahaha. Ini namanya liburan makan tidur.

Makan siang dekat hotel

Kami makan siang di sebuah restoran dekat dari hotel. Selesai makan, kami pulang ke hotel dan tidur siang, sementara teman kami keluarga 1 nya pergi ke Sangkhalok Museum. Isi museum itu berupa kerajinan tembikar dari jaman kerajaan Sukothai. Display yang ada sarat dengan muatan sejarah. Kami tidak ikut ke museumnya dengan pertimbangan: kalau Joshua tidak tidur siang, nanti bisa rewel waktu jalan-jalan sore harinya. Museumnya tidak jauh dari hotel, teman kami berangkat ke sana dengan naik tuktuk.

naik songtew ke old city Sukothai

Sekitar jam 4 sore, kami pun berangkat ke Sukothai Historical Park. Kami naik songtew dari hotel ke old city dan membayar 300 baht sekali jalan. Songtewnya agak lebih terbuka dibandingkan dengan songtew di Chiang mai. Jalannya juga lebih ngebut dibandingkan dengan songtew yang kami tumpangi dari terminal bus ke hotel kemarinnya. Joshua agak takut dengan suara mesin songtewnya, padahal kecepatannya ya masih di bawah 80 km/jam.

Kami cukup beruntung karena sejak tanggal 28 Desember 2019, tiket masuk untuk historical park di Thailand digratiskan. Sepertinya ini dilakukan pemerintah untuk mendukung masyarakat buat berjalan-jalan. Jadi kami tidak harus membayar tiket masuknya. Kami hanya perlu membayar sewa sepeda (30 baht/sepeda) dan tiket untuk sepeda masuk (10 baht)

Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk melihat reruntuhan temple yang tersebar dalam area taman sejarah Sukothai ini. Kita bisa berjalan kaki, naik shuttle, sewa golfcart, atau menyewa sepeda. Kebanyakan orang memilih menyewa sepeda. Ada beraneka jenis sepeda tersedia, mulai dari sepeda kecil dengan roda bantu, sepeda tandem, sepeda dengan boncengan anak di depan, sepeda dengan boncengan anak di belakang, sepeda anak tanpa roda bantu dan sepeda dewasa dengan beberapa ukuran ketinggian. Ada beberapa tempat penyewaan sepeda juga, tapi semua harganya sama. Penyewaan sepeda ini akan tutup jam 7 malam, jadi sudah pasti tidak bisa menyewa sepeda sampai tengah malam (eh tapi kami juga tidak rencana sampai tengah malam sih).

Toko penyewaan sepeda ini letaknya di seberang jalan dari pintu masuk ke historical park. Tapi tidak usah khawatir, karena biasanya akan ada yang bantu untuk menyeberangkan. Totalnya kami menyewa 6 sepeda karena Joshua belum mau belajar naik sepeda sama sekali, untungnya Joshua mau duduk di boncengan Joe dengan tenang walau sempat hampir jatuh karena dia sering berusaha berdiri dan sepedanya hampir terangkat roda depannya (Joshua lumayan berat sih, hampir 27 kg).

Reruntuhan temple yang akan dikunjungi ini dikelilingi oleh tembok kota berbentuk persegipanjang. Panjangnya dari barat ke timur sekitar 2 Km dan dari utara ke selatan sekitar 1,6 Km. Menurut wikipedia, awalnya ada 193 reruntuhan dalam area seluas 70km persegi. Tapi yang ada di dalam tembok kota yang tersisa adalah bekas bangunan istana dan 26 kuil. Kuil terbesar yang tersisa adalah Wat Mahathat.

Selanjutnya saya akan bercerita melalui foto-foto saja ya.

Sekitar jam 7 malam, karena harus mengembalikan sepeda, kami memutuskan untuk pulang (selain udah mulai pegel duduk di sepeda hehehe). Sampai hotel, eh Joshua ngotot minta berenang sebelum mandi dan makan. Akhirnya Joe menyerah dan menemani anak-anak main air sebentar. Hasilnya memang makan malam jadi lahap dan tidur juga cepat hehehe.

ada spiderman dan avenger masuk kolam hehehe

Hari berikutnya, kami berencana pergi ke Si Satchanalai historical park sejak pagi. Kami sudah menyewa mobil dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Ceritanya dan foto-fotonya dilanjutkan di posting berikutnya saja ya.

Joshua dan Osmo (Newton, Coding, Coding Jam, Detectives dan Pizza Co)

Sejak Joshua main OSMO lagi dan tidak menunjukkan tanda bosan, kami memutuskan untuk melengkapi mainan OSMO kami. Beberapa yang belakangan di beli Osmo Coding Jam, Osmo Detectives dan Osmo Pizza Co. Sebelumnya Joe memprint sendiri untuk Pizza Co nya, tapi jadinya susah menyimpannya. Dengan alasan supaya mainnya lebih enak, akhirnya kami beli juga.

Khusus untuk Osmo Newton, kami tidak membeli creative boardnya tapi hanya menggunakan white board kecil yang ukurannya mirip dengan creative board.

Tulisan ini sekilas review sekaligus biar ingat apa yang sekarang sering dimainkan Joshua.

OSMO Newton

Osmo Newton ini sebenarnya mainnya agak rumit. Jadi kita diminta untuk membuat garis supaya bola yang jatuh terpantul lagi mengikuti hukum Newton. Joshua tapi senang bikin aturan sendiri mengumpulkan bola kecilnya dan somehow dia bisa sampai level 30 an.

Osmo Newton pakai whiteboard biasa
lagi milih mau main apa

Osmo Coding dan Coding Jam

Osmo Coding kami sudah beli sejak Jonathan 6 tahun, sekarang ada yang baru namanya Coding Jam. Prinsip mainnya sama, mainan coding juga bisa dipakai di coding jam. Bedanya coding jam ini punya lebih banyak instruksi dan kita menyusun instruksi untuk mengcompose musik.

Coding Jam
kemasannya bagusan yang lama
Osmo Coding bisa dipakai untuk Coding Jam

Kadang Joshua main bergantian antara Osmo Coding dan Coding Jam. Dia sudah mengerti instruksi dasar dari Osmo Coding dan Coding Jam. Joshua lebih suka yang coding jam, karena hasilnya bisa mendengarkan musiknya.

Osmo Detective Agency

Osmo Detective Agency ini sebenarnya seperti permainan I spy with my little eye. Jadi diberikan beberapa peta kota dan sebuah kaca pembesar. Kita diminta untuk mencari objek-objek yang ada di peta yang kita buka.

Kaca pembesar dan peta beberapa kota
total ada 8 peta
peta dan kaca pembesar bisa dimasukkan ke kotak seperti ini

Sekarang ini Joshua sukanya hanya mencari objek di Osmo Town. Tapi nantinya kalau dia sudah mengerti, Osmo Detective Agency ini bisa sekalian untuk mengenalkan geography dan landmark yang terkenal di sebuah kota. Misalnya menemukan Eiffel Tower di Paris, Perancis.

Osmo Pizza Co.

Untuk Pizza Co ini, Joshua sebenarnya belum terlalu mengerti (karena dia gak suka makan pizza), tapi ya kami beli juga untuk mengajarkannya kalau Pizza itu enak hahaha. Selain mengenalkan pizza itu ada berbagai topping, tentunya bisa untuk mengajarkan matematika juga.

isinya paling susah diberesin

Mainan ini paling butuh waktu membereskannya karena ada banyak koin, uang kertas dan juga topping dari pizza nya. Biasanya saya hanya ijinkan main pizza kalau memang kami temenin. Kalau nggak, saya kuatir mainannya bakal banyak yang hilang.

Osmo ini salah satu mainan yang agak mahal tapi juga banyak dimainkan anak-anak dan juga berguna untuk bermain dan belajar. Sekarang ini, Jonathan sudah tidak pernah lagi main Osmo. Bukan karena Jonathan tidak mau main, tapi karena Joshua tidak ijinkan Jonathan main hahaha. Jadinya kami bilang ke Jonathan, kalau mau belajar coding, langsung aja deh belajar di komputer.

Tadinya berencana beli juga Osmo HotWheels Mindracer, tapi entah kenapa, mainan ini tidak bisa dikirim ke Thailand. Mungkin tandanya cukup dengan Osmo yang ada sekarang saja kali ya hehehe.

Oh ya, karena membeli dengan jarak beberapa tahun, kami mendapatkan kemasan yang berbeda dengan seri pertama. Kemasan Osmo yang pertama lebih bagus, kotaknya lebih kokoh dan tutupnya menggunakan magnet. Untuk yang sekarang, kotaknya lebih tipis kartonnya dan kurang praktis.

Chiang Mai Maker Party 2019

Acara maker party ini pertama kali kami kunjungi di tahun 2017. Ceritanya ada sedikit dalam posting di sini. Tahun lalu kami mengunjungi juga tapi tidak kami tuliskan, dan tahun ini untuk ke-3 kalinya kami mengunjungi acara maker party. Biasanya selalu ada yang menarik untuk anak-anak walaupun sebenarnya acaranya bukan acara anak-anak.

Hadiah buat pemenang balapan mobil AI Racing

Apa sih maker party itu? Ini acara untuk menampilkan hasil karya para pencipta (maker). Biasanya sih kebanyakan berhubungan dengan IoT, tapi tahun lalu ada juga yang berhubungan dengan seni, bahkan saya ingat ada yang berkaitan dengan benang dan kain juga.

sumber: https://www.facebook.com/events/618117872049524/

Tahun ini topiknya AI for makers. Acara puncaknya ada balap mobil-mobilan yang mana masing-masing mobil-mobilan ini diprogram dengan AI (niru self driving cars). Begitu sampai di tempat acara, Joshua dan Jonathan langsung lihat ada mobil-mobilan remote control dan gak mau pindah dari sana sampe lama. Padahal, mobil-mobilan yang mereka mainkan itu bukan termasuk mobil-mobilan yang akan diperlombakan buat balapan hehehe.

Selain mobil-mobilan remote control, di sana ada juga mainan ular tangga besar, ada mainan jenga dengan kotak karton, ada virtual reality, dan ada juga yang berusaha menjual filter udara atau pembersih lantai dengan design dan harga yang lebih murah daripada di pasaran.

Dipikir-pikir, acara ini sebenarnya acara untuk remaja atau orang dewasa, tapi ya karena ada karya-karya yang menarik buat anak-anak, mereka juga betah ikutan di sana. Setiap tahunnya, akan selalu ada workshop yang bisa diikuti oleh siapa saja. Tahun lalu saya ingat Jonathan ikutan bikin tas di cat dengan marbling art (dan tas itu masih dia pakai sampai sekarang).

Tahun ini Jonathan dan Joshua ikutan workshop untuk membuat stiker. Jadi intinya sepertinya mereka sedang memamerkan mesin pemotong yang cara kerjanya menscan gambar lalu memotong bahan yang kita masukkan. Bisa berupa kertas stiker, papan tipis, kulit ataupun kertas khusus yang bisa disetrika ke kain.

Dengan biaya 20 baht, anak-anak diberi kesempatan menggambar apa saja di kertas stiker. Lalu kertas stiker itu akan di masukkan ke mesin pemotongnya, nantinya kita bisa memperoleh banyak stiker sesuai dengan gambar yang dibikin di kertas stiker tadi.

Sebenarnya ada workshop membuat yang lain termasuk membuat tas kain, puzzle kayu ataupun tempat menggulung kabel. Tapi yang paling menarik kalau untuk anak-anak ya tentunya stiker.

ayo main ular tangga

Acara ini diselenggarakan setiap tahunnya oleh Chiang Mai Maker Club. Lokasinya persis di dekat toko benang tempat saya dulu rajin belanja benang (jaman masih rajin merajut). Kegiatan Maker Club ini ada banyak, dan mereka punya banyak mesin canggih yang bisa kita pinjam (pakai di lokasi) termasuk mesin jahit bordir, printer A3, printer 3D dan berbagai mesin canggih yang biasanya dipakai untuk design sesuatu. Setiap pulang dari maker party jadi keingat sama tumpukan benang yang juga harusnya jadi sesuatu daripada numpuk doang.

persiapan AI Racing

Kita semua punya potensi menghasilkan karya, dan kita semua adalah maker. Yuk kita bikin karya yang bisa berguna. Minimal kalau belum bisa berguna untuk dijual ke publik, kita bisa menghasilkan karya yang berguna untuk diri sendiri dan keluarga.

Joshua dan Mewarnai

Kalau sudah mulai sekali malas menulis, biasanya jadi keterusan malas nulis blog. Malasnya bertambah karena ada banyak yang pingin diceritakan, tapi gak punya energi menuliskan. Nah hari ini termasuk hari agak malas menulis. Dalam rangka mengalahkan kemalasan, baiklah menuliskan hasil mewarnai Joshua.

Sejak ikut Global Art, Joshua mulai agak rajin mewarnai di rumah. Kalau dulu, dia hanya mau menulis ABC atau 123 saja. Tapi sekarang, walau kadang harus ditemenin atau disemangati, dia mulai mau menyelesaikan 1 halaman 1 hari. Objek yang diwarnai juga bukan hanya huruf atau angka saja.

Berikut ini hasil karya Joshua di Global Art. Kegiatan mewarnai diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 jam. Sekarang dia mulai lebih mau mendengar instruksi gurunya.

Kegiatan mewarnai ini tujuan utamanya untuk melatih fine motor di jari-jari untuk menulis ataupun pegang sendok. Joshua sudah dari dulu suka menulis, tapi cara dia memegang pensil masih salah.

Saya kasih buku yang ada ABC nya, biar lebih semangat mewarnai

Sekarang ini setiap saya coba kasih contoh pegang alat tulis yang benar, tak lama kemudian dia akan tukar lagi posisi pegang alat tulisnya.

Joshua lebih sering pakai tangan kiri, tapi dia sekarang mau juga pakai tangan kanan sesekali

Sebenarnya dengan cara pegang yang sekarang, tulisan Joshua bisa terlihat rapi. Mewarnai pun dia cukup cepat. Tapi dengan cara pegang yang sekarang, ada gerakan tangan yang terbatas dan bisa jadi mempersulit dikemudian hari.

Hasil mewarnai Joshua belum terlalu rapi. Saya juga tidak pernah memaksa dia memilih warna sesuai apa yang ada di alam. Tapi Joshua selalu memilih warna matahari itu kuning, atau rumput itu hijau.

Karena Joshua sudah bisa membaca, kadang-kadang dia berusaha membaca sendiri instruksinya dan mengerjakan sendiri. Bagian mengerjakannya sih cepat, tapi bagian mewarnainya masih butuh dibujukin hehehe.

Kalau dibiarkan, kadang-kadang dia pengen mengerjakan 1 buku dari depan sampai belakang (untuk yang berkaitan dengan angka-angkanya). Tapi ya untuk bagian mewarnainya, tetap masih harus disemangati hehehe.

Semoga Joshua bisa lebih rapih lagi ke depannya mewarnainya. Semoga juga cara memegang alat tulisnya bisa lebih baik lagi.