Jonathan Belajar Membaca Bahasa Indonesia

Jonathan sudah hampir 9 tahun. Sampai sekarang belum pernah saya kasih pelajaran khusus untuk membaca bahasa Indonesia. Harapannya memang dia bisa belajar sendiri hehehe. Hari ini bangun tidur siang saya menemukan buku pelajaran membaca bahasa Indonesia yang kami beli beberapa tahun lalu. Ternyata, anak kalau sudah bisa bahasa Indonesia lebih mudah membaca bahasa Indonesia tanpa diajari. Tapi tentunya beberapa kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari akan lebih sulit dibacanya.

Bukunya untuk umur 4 – 6 tahun

Menurut tulisan di sampulnya, buku ini untuk umur 4 – 6 tahun. Tapi untuk anak yang selama ini hanya bisa baca bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya cuma dengan kami orantuanya, tidak ada salahnya dicoba suruh baca untuk mengetahui juga pemahamannya terhadap kata-kata dalam bahasa Indonesia.

gak pakai lama belajar bacanya

Beberapa kata yang dia tidak mengerti tapi bisa menebak itu misalnya: paman, bibi, sawah, ladang, desa. Jonathan tidak pernah manggil orang dengan paman dan bibi, adik-adik Joe dia panggil om dan tante, sedangkan dari keluarga saya panggilnya pakai panggilan batak hehehe. Kakek dan nenek saja perlu saya jelaskan lagi, karena dia manggilnya eyang boy dan eyang girl.

Beberapa kata yang dia sulit baca itu seperti: berdesakan, kendaraan dan umumnya kata dengan bunyi ng dan ny yang menggunakan akhiran. Beberapa kata dia selalu baca menggunakan bunyi e yang tajam. Lucunya baca lirik lagu pelangi-pelangi, dia tau bunyi e dalam kata “pelangi”, tapi selalu salah menyebut kata “pelukis” dengan bunyi e yang tajam, lalu kesulitan membaca kata “agung” dan “gerangan”. Kata-kata tersebut memang jarang kami gunakan dalam percakapan sehari-hari. Saya tidak pernah bertanya: “kenapa kamu sedih, ada apakah gerangan?” hihihihi.

Buku “Metode Ini Ibu Budi” dulu kami beli karena judulnya menarik. Kami pikir, dulu kami belajar membaca dengan keluarga Budi, jadi ya bisa sekalian cerita ke Jonathan bagaimana dulu kami belajar membaca. Walaupun ternyata anggota keluarga Budi dalam buku ini bukan Wati dan Iwan seperti buku jaman dulu hehehe.

Saya pikir Jonathan akan mulai membaca dengan mengeja, ternyata dia bisa langsung membacanya walau perlu diperbaiki sedikit di sana sini. Mungkin karena dia sudah mengenal bunyi alfabet bahasa Indonesia dan karena sejak homeschool dia sudah lebih banyak berbahasa Indonesia di rumah. Beberapa kata masih terasa aneh di kuping waktu dia baca hehehe.

Belajar membaca bahasa apapun memang pada akhirnya butuh latihan. Lebih baik lagi kalau mengerti dengan kata yang dibaca. Waktu pulang ke Indonesia, kami pernah membeli beberapa buku bilingual Inggris – Indonesia, tapi biasanya Jonathan akan langsung membaca bagian bahasa Inggrisnya. Mungkin saatnya membuat jam khusus untuk pelajaran latihan membaca bahasa Indonesia untuk menambah kosa kata dan memperlancar membaca bahasa Indonesia.

Joshua dan Global Art

Kalau dulu pernah cerita soal Jonathan belajar di Global Art. Sekarang Joshua sudah kami ikutkan juga. Awalnya masih agak ragu-ragu mendaftarkannya karena di rumah saja kalau diajakin mewarnai masih sulit dan ujung-ujungnya malah nulis ABC lagi.

Jadi sejak 3 minggu lalu, dicobalah bawa Joshua ke Global Art. Untuk anak umur Joshua (4 tahun) program yang diberikan ada 2 pilihan: 1 kali seminggu atau 2 kali seminggu dengan durasi setiap pertemuan maksimum 1 jam. Sebelum masuk juga diberikan sejenis assesment dulu untuk melihat apakah anaknya sudah bisa ikutan kelas atau tidak.

Awalnya, tentu saja karena Joshua belum kenal gurunya, agak sulit mengarahkan dia untuk mengerjakan tugasnya. Tapi tanpa disuruh, Joshua kadang-kadang langsung mengerjakan lembar assesment lalu beralih ke lembar lain untuk menulis ABC hehehe. Tapi akhirnya kembali lagi dan menyelesaikan assesmentnya.

Kami daftarkan Joshua seminggu belajar 1 kali 1 jam saja. Ini juga biar dia belajar mendengarkan instruksi dari guru sekalian melatih motorik halusnya untuk memegang alat tulis yang benar. Sebenarnya Joshua sudah bisa menulis dengan bagus, tapi cara pegang pensilnya masih gak benar dan kalau diteruskan nantinya dia yang akan kesulitan sendiri.

Setelah di asesment, akhirnya Joshua mulai kelas pertamanya. Di Global Art ini untuk tiap tingkatan ada kurikulum yang harus diikuti anak. Jadi untuk umur 4 tahun biasanya diajarkan untuk menarik garis dan menggambar bentuk. Lalu nanti mewarnainya. Sebenarnya, Joshua udah sering mewarnai bentuk, tapi selalu ya masih keluar garis dan atau kalau ada bentuk di dalam bentuk lainnya, dia suka main tabrak aja semua diwarnai hanya 1 warna yang sama. Tapi dengan kesabaran gurunya, sambil dikasih selingan nulis ABC, jadi juga dia mewarnai bentuk.

Minggu ke-2 dia menggambar telapak tangan, mewarnai tangan kecil dan tangan besar dengan warna yang berbeda. Masih dia kerjakan dengan sangat cepat, sehingga dia punya waktu untuk menuliskan huruf A sampai Z di kertas lain dengan menggunakan kuas cat air.

Gak mau mewarnai buku, maunya bikin huruf aja

Hari ini minggu ke-3, dari rumah dia semangat sekali mau ke global art. Saya pikir, oke deh dia udah mulai suka mewarnai. Ternyata….jreng jreng, dia cuma mau menulis huruf A sampai Z besar dan kecil. Gurunya bilang, menarik garis untuk gambar bulan sabit dan bintangnya aja dia ga mau ikutin. Tapi ya gurunya masih berusaha ikuti maunya, di setiap lembaran dia tulis huruf besar A dan huruf kecil a, lalu gurunya gambar objek berawalan huruf a – apple. Terus gurunya suruh warnai tuh applenya. Dia ga mau hahahaha.

Jadi hari ini dia berhasil menyelesaikan kartu huruf A sampai Z yang dia tuliskan huruf besar dan kecil, lalu setiap kartu diberi ilustrasi oleh gurunya dengan gambar yang berawalan huruf tersebut. Itu kertas sebenarnya bukan bagian dari kurikulum, tapi gurunya sengaja bikin kertasnya udah dipotong dari bekas kerjaan anak lain yang udah dipotong ukuran flashcard gitu dan kartu-kartunya disatukan dengan benang. Gurunya kreatif ya, jadikan anaknya senang punya kartu huruf mainan baru hehehe.

Rencananya kalau ada waktu, minggu ini saya akan ajakin Joshua untuk mewarnai tiap objek yag sudah digambarkan oleh gurunya. Tapi ya kalau dia tidak mau apa boleh buat. Mungkin memang dia lebih suka huruf dan angka daripada mewarnai. Atau ya cari materi mewarnai huruf-huruf terus mamanya aja yang memaksakan diri jadi guru hihihi.

Joshua dan Puzzle Spelling

Suatu pagi, tiba-tiba Joshua meminta mainan spelling. Saya pikir, spelling yang mana? udah lama dia mainnya domino dan tangram, kenapa juga tiba-tiba minta spelling. Terus dia jelasin: puzzle spelling. Dia berusaha membongkar-bongkar kotak penyimpanan karena dia tau aja mainan yang lama tidak terlihat itu artinya masuk kotak penyimpanan.

mainannya dikeluarkan semua dari kotak sebelum disusun

Jonathan bilang: dia minta daftar spelling aku kayaknya. Jadi di buku pelajaran Jonathan setiap harinya ada daftar spelling, pernah juga kami minta Joshua yang bacain daftar spellingnya ke Jonathan. Tapi itu beberapa minggu lalu. Jadi aneh juga dia tiba-tiba minta spelling.

Akhirnya saya ingat mainan puzzle spelling yang memang sudah lama saya simpan jauh-jauh, karena terakhir dimainkan itu cuma dikeluarkan dari kotaknya tapi tidak dimainkan. Setiap saya bereskan, akan dia keluarkan lagi dari kotaknya, dan lagi-lagi gak dimainkan.

Saya keluarkan mainannya dan tanya: spelling puzzle yang ini? Dia langsung semangat ambil tapi meminta saya yang mainkan spellingnya. Lah gimana sih, minta mainan tapi nyuruh.

langsung kerjain beberapa kata

Akhirnya saya bilang: ini mama susun begini, Joshua yang cari gambar dan kata yang mau dieja. Kalau dulu, saya akan serahkan puzzlenya yang tinggal disusun jadi 1 kata/gambar. Tapi kali ini saya hanya buka semua gambar ke arah atas dan suruh dia yang cari gambar dan kata yang bisa disusun.

kata yang udah selesai disusun berdekatan

Awalnya semangat mencari beberapa kata. Dia ambil beberapa huruf, sambil menyebutkan nama huruf dan bagaimana bunyi huruf itu. Lalu setelah dia susun dia akan sebut kata yang dibentuk. Waktu menyusun kata ‘cake’, dia sempat ragu apakah di bacanya bunyi kek atau cek dan minta persetujuan dari saya mana bunyi yang benar. Saya bilang c-a-k-e itu dibaca bunyinya kek. Lalu dia mengulangi mengeja per huruf dan menyebut kata yang dibentuk.

Setelah menyusun beberapa kata, dia bosan dan berusaha ambil mainan lain. Saya bilang: kalau mau main yang lain, puzzlenya disimpan dulu. Tapi dia bilang jangan disimpan, dia mau main. Tapi ya gitu berulang beberapa kali. Nyari mainan yang ga ada dan tetap gak saya kasih hehehe.

Karena saya harus masak, saya tinggal dia main sendiri. Saya bilang: Joshua susun semua puzzlenya ya, kalau sudah selesai baru boleh main yang lain. Nah pas saya selesai makan, dan dia mungkin sudah mencium aroma makanan terhidang di meja makan, dia datang ke dapur dan bilang: Mama, I’m done with puzzle spelling. I want to eat now.

Saya awalnya pikir done itu ya artinya dia bosen aja dan ga mau main lagi. Eh ternyata, done itu beneran dia selesaikan semuanya hehehe. Padahal tadi gayanya malas-malasan gitu ngerjainnya setelah beberapa kata.

Saya ajak dia membaca kata-kata yang dia susun. Dan setelah itu saya tanya: mau main lagi? dia bilang: No, I want to eat now. Hehehe lapar ya ngerjain spelling puzzle aja.

Karena dia selesai mengerjakan semua puzzle spelling, saya puji dia dan bilang dia boleh makan lebih awal (biasanya makan siang nunggu papanya datang).

Kadang-kadang, mainan yang bikin berantakan seperti spelling ini saya malas memberikannya, karena butuh waktu buat membereskannya dan lebih sering dibiarkan saja dan ga terus dimainkan. Tapi kalau dikasih mainan spelling app terus-terusan, jadinya anaknya main gadget mulu dong.

selesai tanpa bantuan saya hehehe

Jadi ya tak mengapalah sesekali kasih mainan ini dan siap-siap beberes setelahnya hehehe. Dengan mainan puzzle begini, anak bukan cuma belajar spelling, tapi dia bergerak juga dan mencari gambar mana yang bisa menjadi kata.

Review: Edutainment Storybots

Source Wikipedia

Storybots ini salah satu tontonan anak-anak yang awalnya gak sengaja ditemukan di Youtube, dan ternyata sekarang ada di Netflix juga. Sudah agak lama sebenarnya Jonathan dan Joshua suka menonton acara ini, tapi dulu saya tidak ingat menuliskannya. Sekarang ini mereka minta lagi untuk menonton acara ini waktu lihat saya buka Netflix. Saya juga lebih suka memasang di Netflix karena di YouTube terkadang terlalu banyak iklannya.

Apa sih storybots itu? Ini cerita edukasi tentang animasi 5 bots yang bernama Beep, Bing, Bang, Boop, dan Bo. Mereka tinggal dalam komputer tapi berkelana ke banyak tempat untuk menjawab pertanyaan ataupun mengajarkan berbagai hal dengan lagu-lagu yang bikin anak-anak makin betah nontonnya.

It’s a Great big World with a lot to know

let’s follow Beep, Bing, Bang,
Boop, and Bo

We Might go to outer space or ride in a truck
we might visit a farm hear the chicken Cluck Cluck Storybots!

theme song Storybots

Perhatikan juga lagu dari ask storybots berikut ini:

Lagu pembuka ask storybots

Storybots
Living inside computer parts
The Storybots
Helping kids get super smart

They love to learn (they love to learn)
And adore adventure
And answering questions is their business and pleasure

There’s a whole department whose only task
Is to answer anything we ask
So lets see if team 341B
Can solve another mystery

The Storybots
Meet Beep and Bing, Bang, Boop, and Bo
Just ask them what you wanna know
Just ask the Storybots

And when they get a stumper that demands investigation
Its to the outer world on a hunt for information

Storybots
Got a question? Got lots?
If something’s got ya baffled
Worry not
Just ask the Storybots
Just ask the Storybots

Seperti halnya dengan serial number jacks, film edukasi ini tidak hanya berupa animasi, tapi terkadang disisipkan ke dunia nyata juga. Topik yang dibahas dalam story bots ini juga terkadang mulai hal sederhana seperti lagu-lagu ABC, bentuk dan warna,dinosaurus, luar angkasa sampai membahas mau jadi apa kalau sudah besar nanti, atau kenapa kita gak boleh makan manis setiap saat. Tontonan yang disajikan dalam waktu 20 menit ini cukup menarik buat Joshua dan Jonathan.

Bentuk animasi dari tokoh dalam storybots menurut saya terlalu biasa, tapi dialog dan hal-hal yang mereka bahas cukup menarik, lucu dan lagunya juga enak didengar bahkan untuk kita orang dewasa. Memang menurut wikipedia acara ini untuk anak 3 – 8 tahun, tapi sepertinya sampai orang dewasa juga bisa belajar sesuatu dari acara edukasi ini.

Yang menarik ketika tadi kami pasang episode tentang profesi dan pertanyaan mau jadi apa kalau besar nanti. Mereka menyebut berbagai pekerjaan termasuk software engineer dan menjelaskan apa itu software engineer. Jonathan bisa dengan cepat bilang: papa kan juga software engineer yang suka bikin program komputer. Saya dan Joe hanya senyum-senyum aja dengarnya hehehe. Mereka bahkan membuat semua pekerjaan terdengar sangat keren.

Saya suka dengan cara storybots ini memperkenalkan berbagai hal ke anak-anak. Walaupun sudah hampir semua episode ditonton, anak-anak gak bosan untuk melihat kembali atau sekedar mendengarkan lagu-lagunya.

Jonathan dan Buku Harry Potter

Rasanya baru tahun 2018 lalu saya mulai mengenalkan chapter books ke Jonathan, dan baru tahun lalu dia mulai kenal buku Harry Potter, eh hari ini dia menyelesaikan membaca semua buku Harry Potter sampai buku ke-7 The Deathly Hallows.

Waktu dia mulai baca di awal tahun 2018 lalu, dia baca 2 buku pertama dengan cepat. Memasuki buku ke-3 dia mulai merasa ada bagian yang bikin dia takut, nah buku itu dia bacanya agak random dan dilewatkan bagian yang dia takut dan setelah itu dia berhenti. Nah setelah main game Harry Potter Wizards Unite, dia jadi suka banyak pertanyaan dan bertanya dementor itu apa, jadi kami bilang: baca lagi aja terusin bukunya, nanti itu ada di buku selanjutnya.

Minggu lalu, dia mencari lagi buku Harry Potter ke-3 dan baca tanpa melewatkan bagian dementor. Selesai buku ke-3 dia lanjut buku ke-4. Waktu belanja buku di promosi AsiaBooks tahun lalu, kami beli Harry Potter sampai buku ke-4. Selesai buku ke-4 dia minta lagi buku ke-5, akhirnya kami kasih versi kindlenya saja. Selesai baca di Kindle, dia baca buku fisik lagi. Buku ke 6 dan 7 kami masih ada karena 1 buku itu kami beli setelah di Chiang Mai dan 1 buku kami bawa dari Indonesia waktu pulang kemarin.

Sebenarnya, Jonathan bisa baca semua versi di Kindle, karena kami langganan Kindle Unlimited dan semua buku itu bisa di baca gratis dengan Kindle Unlimited, tapi Jonathan memilih buku fisik.

Setiap kali ada bagian yang menarik, dia dengan semangat mengetes kemampuan kami akan cerita Harry Potter. Saya sudah banyak lupa ceritanya, tapi Joe tentunya ga mau kalah dengan cepat menjawab setiap pertanyaan dengan bantuan Google hehehe. Momen paling lucu adalah: Jonathan membuat percakapan imajiner suatu hari anaknya akan dia suruh baca buku Harry Potter, dan mungkin dia sudah lupa, tapi dia akan menggoogle supaya tetap tau menjawab kalau lupa ceritanya. Bagian ini sepertinya dia membayangkan dia seperti papanya. Memang benar ya, anak kecil itu mencontoh orangtua, tugas kita jadi orangtua jadi role model dan hati-hati jangan sampai anak meniru bagian yang salahnya hehehe.

Jonathan kalau sudah baca agak susah disuruh yang lain. Bukunya juga akan dibawa-bawa di mobil dan dibaca di mana saja. Hari Sabtu lalu, waktu di mobil, saya heran dia terbatuk-batuk, saya pikir dia keselek. Ternyata dia menahan tangis sampai terbatuk-batuk. Saya tanya, eh kenapa nangis? Dia sedih karena Dumbledore died katanya. Aduh ya saya harusnya simpati malah jadi ketawa terbahak-bahak (bukan contoh yang baik). Setelah sampai dirumah saya ajak ngobrol kalau boleh saja sedih, tapi itu cuma cerita dan tadi mama kaget kirain ada apa sampai nangis gitu. Untungnya dia sedihnya cuma sebentar. Sekarang kalau saya tanya kamu masih sedih Dumbledorenya mati? dia bilang udah nggak lagi kok.

Setelah menyelesaikan semua buku, saya bertanya ke Jonathan dia lebih suka buku fisik atau buku di Kindle. Dia jawabnya lebih suka buku fisik, jadi gak usah tap layar dan kalau mau balik ke halaman-halaman sebelumnnya bisa mudah liat 2 halaman sekaligus. Tapi gak berapa lama kemudian dia jawab lagi, Kindle juga dia suka karena bisa dengan mudah mencari kata dan menemukannya gak harus balik-balik semua halaman dan baca ulang kata demi kata. Tapi kalau dari beberapa hari melihat dia membaca, bisa dibilang dia memang lebih menikmati baca buku fisik. Kata Joe, jadi kita memang sebaiknya tetap beli buku fisik walau ada di Kindle Unlimited. Saya sih gak masalah, tapi kadang suka bingung aja nyusun bukunya kalau rak udah kepenuhan.

Saya juga lebih suka buku fisik, tapi kadang-kadang kurang rajin buat nenteng buku. Apalagi kalau sudah bawa-bawa buku, tapi ternyata gak sempat juga dibaca, jadinya mikirnya ah baca di HP aja aplikasi Kindle kan ada, waktu buka HP malah lupa buat buat aplikasinya hahaha.

Kalau kalian sukanya baca buku fisik atau buku elektronik?

Joshua 4 tahun 1 bulan

Joshua sekarang ini sudah 4 tahun 1 bulan. Kemampuan bicara Joshua sebenarnya cukup normal dalam arti dia bisa mengucapkan kalimat dengan jelas, bahkan bisa membaca. Tapi kemauan dia berkomunikasi kadang-kadang masih agak kurang untuk anak seusianya. Walau kami di rumah ngobrol dengan bahasa Indonesia, Joshua memilih untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Akhirnya daripada dia tidak mau berkomunikasi, kami pun mengikuti kemauannya dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Joshua senang belajar tapi tidak suka diajak ngobrol. Baru belakangan ini dia mulai ada kemajuan yang cukup banyak dalam hal berkomunikasi. Kalau dulu, dia tidak selalu mau menjawab kalau ditanya sesuatu. Sekarang ini dia sudah mulai lengkap dalam tanya jawab. Dia juga mulai suka menirukan kata-kata dalam bahasa Thai atau bahasa Indonesia yang dia dengar. Tapi kalau dia yang memulai percakapan, dia akan selalu menggunakan bahasa Inggris.

Kadang-kadang kalimat Joshua banyak yang menirukan dari game yang dia mainkan, tapi kadang kami kaget dengan kemampuan dia mengingat sesuatu. Misalnya beberapa waktu lalu, dia tahu kami menonton serial TV Elementary. Hari minggu kemarin, waktu saya dan Joe lagi nonton Elementary dia turun dari atas dan bertanya: “Are you watching Elementary?” padahal dia baru datang sebentar banget. Jadi sepertinya dia mengenali tokohnya dan ingat kami pernah nonton sebelumnya.

Lalu contoh lain, papanya lagi ngikutin serial Stranger Things di Netflix. Biasanya kalau kami lagi nonton, Joshua bisa cuek aja gitu mainan lego atau apalah yang ada dan gak tertarik untuk ikut nonton. Eh kemarin dia malah nangis ngeliatnya pas ada kejar-kejaran. Terus pas papanya mau nonton episode berikutnya dia bilang: “I dont want to see Stranger Things, I want to see Paw Patrol”. Nah loh, kalimatnya panjang amat ya buat yang jarang ngomong hehehe.

Sekarang Joshua juga sudah bisa memberi tahu maunya dengan jelas: “Papa let’s go up and play upstairs”. Dia paling senang main di kamar kerja papanya. Tadi sore, saya ajak turun dengan iming-iming ipad dia jawab gini: “No, I don’t want to play ipad, I want to play domino upstairs”. Terus saya bilang: “Mama mau masak di bawah, Joshua bawa aja mainannya turun”. Dia jawab: “I want to play up here”. Saya bilang lagi: “Ya udah kamu main di atas sendiri ya, mama turun”. Dia larang sambil duduk depan pintu dan bilang: “Mama don’t go, mama upstairs.”

Susunan kalimatnya mungkin belum sempurna, tapi bisa dibilang sekarang ngomongnya makin banyak dan makin jelas maunya apa. Masih banyak hal di mana dia agak keras kepala kalau ada maunya, tapi kami juga sudah bisa tahu bagaimana caranya biar dia jangan sampai nangis-nangis kalau misalnya maunya gak dituruti. Dibandingkan dengan beberapa bulan lalu, sekarang ini dia bisa dibilang makin cerewet dan makin banyak usaha berkomunikasinya.

Salah satu hal yang sampai sekarang saya masih takjub dengan kemampuan Joshua adalah kemampuan membacanya. Dia kadang-kadang suka ikutan baca subtitle dari film yang kami tonton. Entah bagaimana cara dia belajar membaca. Tadi waktu saya membacakan daftar kata spelling untuk Jonathan, Joe kasih usul, coba itu suruh Joshua baca. Eh dia bisa baca dong walau gak semua nya langsung benar.

Ada beberapa kata yang dia tidak langsung bisa. Kalau dia ragu-ragu biasanya dia baca dengan suara pelan dan agak dilama-lamain sambil mikir. Tapi kalau dia memang mengenali kata-katanya, dia bisa dengan cepat membacakannya.

Joshua membacakan daftar kata spelling untuk Jonathan

Belakangan ini dia lebih banyak berlatih ABC domino dan finger dance daripada berhitung, tapi kalau sesekali ditanyakan penjumlahan dia bisa dengan cepat mengikuti dan menjawab dengan benar.

Semoga saja kemampuan baca dan berhitungnya gak menghilang kalau nantinya sudah semakin banyak berkomunikasinya. Dan semoga semuanya semakin lancar dan bisa bercerita lebih banyak lagi termasuk dengan bahasa Indonesia juga.

Ujian Taekwondo Jonathan

Yay Sabuk Merah

Hari ini Jonathan ujian ganti sabuk taekwondo. Tidak terasa sekarang sudah sabuk merah. Sistem sabuk Taekwondo yang diikuti Jonathan mulai dari putih-kuning-kuning hijau-hijau-hijau biru – biru – biru coklat – coklat – coklat merah dan sekarang merah. Gak terasa tak jauh lagi tau-tau bakal sabuk hitam. Sistem warna sabuk ini tergantung dari klubnya masing-masing, tapi garis besarnya ya sama.

Jonathan ikut taekwondo sejak kami homeschooling sekitar 2 tahun lalu. Kelas ini menjadi bagian dari pelajaran olahraga selain untuk sosialisasi. Walau ada beberapa teman yang silih berganti, tapi ada juga beberapa teman yang seumuran dengan Jonathan dan latihan di hari yang sama. Biasanya di hari menjelang ujian ganti sabuk, semua anak akan semakin rajin latihan dan jadi lebih sering main juga sebelum pelajaran dimulai. Ujian di adakan di hari yang sama untuk semua siswa dan biasanya diadakan setiap 3 bulan.

foto bersama selesai ujian ganti sabuk

Saya tidak pernah ikutan kelas bela diri, tapi kami sengaja ikutkan Jonathan kelas bela diri. tujuan kami mengikutkan Jonathan ke kelas ini selain untuk olahraga juga untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Setiap kali ujian biasanya mereka akan diminta untuk mematahkan lembaran papan, kadang dengan cara ditendang, bisa juga dengan pukulan tangan. Setiap habis ujian, anak-anak pada bangga bisa matahin lembaran kayu.

Di kelas taekwondo mereka juga diajarkan aturan seorang yang menguasai taekwondo setiap kelas berakhir. Mereka juga diingatkan kalau apa yang mereka pelajari itu bukan untuk berantem atau menyerang orang lain. Kalau ada yang melanggar aturan atau tidak sungguh-sungguh ketika kelas berlangsung, gurunya bisa memberi teguran dan kadang disuruh pulang belakangan dengan duduk diam memikirkan kesalahannya.

Sebagian gerakan ujian yang dikirimkan gurunya

Sambil menunggu Jonathan ujian taekwondo, hari ini kami bertemu dengan keluarga Indonesia yang dulu pernah lama di Chiang Mai. Kak Lina dan keluarga kangen pengen ketemu Jonathan dan Joshua, sekalian pengen liat Jonathan yang dulunya masih baru belajar jalan tau-tau sekarang udah sabuk merah. Joshua jadi ngemall lagi deh dan main di kolam bola lagi, tapi dia malah senang karena hari ini ngemallnya dengan papa juga.

Sabtu yang sibuk dan menyenangkan, jadilah hari ini gak bisa nulis panjang-panjang hehehe.