Belajar Sejarah

Sejak memasuki grade 3, selain memakai CLE kami menambahkan pelajaran sejarah sebagai salah satu materi yang dipelajari oleh Jonathan. Setelah mencari rekomendasi dari group yang diikuti, akhirnya pilihan jatuh ke Story of The World. Sesuai namanya, pelajaran sejarah ini mempelajari sejarah dunia.

Sesuai namanya, Story of The World isinya dalam bentuk cerita

Kemarin, topik yang dipelajari adalah mengenai Shamsi Adad, seorang diktator di kerajaan Assyrian. Pelajaran sebelumnya mengenai Hammurabi yang memerintah di Babylonia. Kedua kerajaan tersebut berada di Mesopotamia. Perbedaan dari Hammurabi dan Shamsi Adad ini dari cara mereka menjadi raja. Pertanyaan yang menarik dari akhir pelajaran adalah: siapakah raja yang lebih baik Hammurabi atau Shamsi Adad?

Ilustrasi dari proyek Undraw

Sebelum bisa menjawab siapa yang lebih baik, saya harus mereview lagi pelajaran mengenai Hammurabi ke Jonathan. Waktu saya sekolah, mungkin pernah dengar nama Hammurabi, tapi saya belum pernah dengar nama Shamsi Adad. Kemungkinan lain, pernah belajar tapi udah lupa hahaha. Salah satu benefit menghomeschool adalah kembali membuka pelajaran supaya bisa mengajar anak, setidaknya kalau belum pernah belajar mengenai ini, saya jadi belajar.

Hammurabi dikenal sebagai raja yang memperkenalkan penggunaan peraturan yang tertulis dan dijadikan acuan dalam mengambil keputusan hukuman. Peraturan yang ditetapkan Hammurabi dituliskan dan dijadikan acuan kalau terjadi pelanggaran di kerajaan Babylonia. Beberapa peraturannya menurut saya agak terlalu kejam karena hukumannya bisa berupa potong lidah atau tangan selain bayar denda. Tapi ya mungkin begitulah cara yang berhasil dilakukan di masa itu.

Berbeda dengan Hammurabi, Shamsi Adad memerintah secara diktator dengan cara kekerasan. Cita-citanya menjadi penguasa alam semesta dengan cara menaklukan lewat perang. Cara perangnya juga kadang-kadang cukup licik, bukan cuma perang dengan pasukan yang banyak, tapi dengan strategi dan meracuni lawan supaya daerahnya bisa diakuisisi. Kalau ada yang tidak menaati perintahnya langsung saja dibunuh. Caranya ini bisa membuat kerajaan Assyrian menjadi cukup luas, tapi akhirnya ketika dia sudah tua, kerajaanya bisa diambil alih oleh Hammurabi dari kerajaan Babylonia.

Kesimpulannya mana yang lebih baik, punya aturan yang jelas (walaupun mungkin aturannya tidak selalu terasa fair tapi ya ada aturan) dibandingkan dengan pemerintahan yang tidak ada aturan yang tertulis dan semua tergantung pada 1 individu. Perintah dari individu ini sifatnya mutlak dan tak terbantahkan, kalau dia sudah bersabda dan tidak dituruti maka orang yang ga nurut ini dihukum mati, kalau orang Medan bilang “sukak-sukaknya aja”. Kalau orang yang memerintah hatinya baik sekalipun tetap saja pola pemerintahan di mana hanya 1 orang yang punya suara ini hasilnya pasti kurang baik.

Untuk menjelaskan kenapa yang satu lebih baik dari yang lain (walaupun tidak ideal), saya dan Joe gak langsung bilang si A lebih baik tapi kami tanya ke Jonathan mana yang menurut dia lebih baik dan apa alasannya.

Dulu bagi saya, pelajaran sejarah ini membosankan dan hapalan mati. Saya ingat ujiannya saya ngapalin isi buku catatan dan gurunya mempertanyakan hampir semua isi buku catatan. Jadi dalam 2 jam saya harus memindahkan isi catatan yang saya hapal mati hahaha. Bedanya dengan pelajaran sejarah yang kami pakai ini, Jonathan bisa belajar dengan mendengarkan audio book sambil membaca bukunya. Setelah mendengarkan ceritanya, selanjutnya ada kegiatan menjawab pertanyaan memastikan anaknya denger dan ngerti, lalu mencari lokasi yang disebutkan dalam peta. Sekarang ini kebanyakan masih sekitar ancient world Egypt, Mesopotamia dan sekitarnya.

Kurikulumnya ini sebenernya bisa untuk kelas 3 sampai high school, ada 4 volume dan kami baru mulai di volume 1. Beberapa homeschoolers bahkan menggunakan kurikulum ini berulang (jadi setelah selesai 4 volume mereka mulai lagi dari volume pertama). Kalau rajin, ada kegiatan craft nya dijelasin di bukunya, tapi untuk sekarang ini kami memilih ga mengerjakan craftnya dulu tapi sekarang cukup kegiatan mewarnainya saja heheh.

Mewarnai tokoh dalam buku SOTW

Rencananya kalau menemukan buku pelajaran sejarah Indonesia, kami juga akan kenalkan sejarah Indonesia ke Jonathan. Untuk sekarang kami cuma kasih tau sedikit mengenai kehidupan papa mamanya jaman dulu dan bedanya dengan dia sekarang sebagai cerita pengantar tidur. Atau juga dia ingat perang Diponegoro itu 1825 – 1830 karena pernah disampaikan sebagai joke. Jonathan juga tau kalau Indonesia mendapatkan kemerdekaannya setelah perang melawan Belanda dan Jepang sedangkan Thailand tidak pernah dijajah.

Jonathan senang mendengarkan cerita-cerita dan cukup bisa lama ingat akan fakta-fakta yang kami sampaikan. Dia juga kami ajarin siapa Presiden Indonesia sekarang ini. Pelajarannya kadang agak random, karena waktu kasih tau soal Indonesia dipimpin presiden, dia akan bertanya kenapa Thailand ada Raja dan Indonesia nggak ada? Nah jadilah penjelasannya soal jenis-jenis pemerintahan yang ada. Kalau ada yang punya rekomendasi pelajaran sejarah Indonesia silakan komen ya.

Menjelang Homeschool Tahun ke-2

Sejak awal bulan Juni, Jonathan sudah selesai mengerjakan semua materi kelas 2 yang kami pakai. Kami memakai kurikulum Christian Light Education. Ada 10 buku masing-masing untuk pelajaran Math, Reading dan Language Art (Grammar, Phonics, Penmanship dan creative writing). Ada 5 buku masing-masing untuk Science, Bible dan Social Studies. Untuk tahun pertama menjalani homeschool, bisa dibilang kami menyelesaikan semuanya cukup cepat, mengingat kami mulai tanggal 30 October 2017 dan selesai 5 Juni 2018.

Tahun pertama kami jalani tanpa perencanaan yang banyak. Saya ga merencanakan jadual secara detail. Untungnya kurikulum yang kami pakai sudah dibagi 1 unit pelajaran per hari, semua instruksi juga jelas dan karena 1 unit hanyak beberapa halaman, Jonathan ga butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Biasanya saya akan membuat jadwal per minggu. Setiap akhir pekan saya membaca cepat bahan untuk minggu depan, apakah kira-kira ada topik baru yang sulit dan butuh saya jelaskan.

Kurikulum yang kami pakai berupa workbook. Untuk tiap unit, dikenalkan sebuah topik baru, diberikan contoh soal dan jawabannya, lalu review beberapa topik sebelumnya. Setiap topik akan direview beberapa kali. Untuk pelajaran social studies dan Bible diberikan dalam bentuk cerita. Pelajaran yang butuh waktu agak lama buat Jonathan selesaikan Language Art, terutama untuk bagian creative writing dan penmanship. Untuk pelajaran lain, 1 pelajaran biasanya dia selesaikan rata-rata 30 menit, kecuali kalau dia lagi ga fokus dan mikirin mainan lain.

Beli beberapa buku waktu ada diskon di asiabooks.com

Sejak menghomeschool Jonathan, saya mengikuti beberapa group homeschooling, terutama yang memakai kurikulum yang sama. Saya jadi tahu, kalau di negara tertentu mereka harus melaporkan jumlah hari sekolah dalam setahun dan juga scope materi pelajaran yang mereka pelajari tahun tersebut. Untuk level high school (SMA) nantinya mereka harus menghitung kredit mata pelajaran. Bagian yang ini saya belum baca banyak karena saya mau fokus untuk kebutuhan saat ini saja. Lanjutkan membaca “Menjelang Homeschool Tahun ke-2”

Memulai Homeschooling

Setelah memutuskan mau homeschooling, kami gak langsung terjun bebas. Homeschooling ini menuntut orangtua untuk belajar lagi, karena kami gak punya pengalaman mengajar anak kecil. Belajar seluk beluk dunia homeschooling terutama memutuskan mau seperti apa style homeschooling kami.

Mulai dari mana?

Kami mulai dengan banyak mencari informasi yang terkait dengan homeschooling dari berbagai sumber, diantaranya:

  • bertanya ke teman-teman yang sudah lebih dulu menghomeschool anaknya
  • cari informasi di internet
  • gabung dengan komunitas homeschooler online dan offline

Sebagai orangtua harus rajin mencari berbagai hal yang sesuai dengan kondisi keluarga dan gaya belajar anak. Orangtua juga harus memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sebagai orangtua harus menentukan/memutuskan mau seperti apa homeschoolingnya.

Saya akui saya pusing dengan berbagai istilah yang ditemukan mengenai homeschool. Ada banyak sekali metode dan pendekatan untuk melakukan homeschooling, ada yang melakukannya secara tradisional seperti memindahkan sekolah ke rumah (jam sekolah tertentu dan jadwal hari sekolah dan libur yang sudah ditentukan di awal tahun ajaran), ada yang memilih untuk membebaskan anak dari beban kurikulum dan hanya mengajarkan apa yang menjadi minat anaknya (unschooling), ada yang ikut kelas online bayar maupun gratis, ada yang mempelajari secara mendalam topik tertentu dengan unit studies. Ada yang mengikuti metode Charlotte Mason, Classical Conversation atau Montessori. Dan banyak istilah lainnya yang selanjutnya bisa di baca di wikipedia mengenai homeschooling.

Setelah menyadari kalau keunikan homeschooling adalah tidak ada yang saklek di sana. Kita selalu bisa sesuaikan menurut kebutuhan anak dan kita tidak harus mengikuti metode atau kurikulum tertentu saja. Sebagai orangtua, kita bisa memilih dan membuat sendiri kurikulum dan materi yang ingin diajarkan ke anak. Orangtua dan anak yang menentukan apakah belajar secara terstruktur atau tidak ada struktur sama sekali. Ada yang memilih untuk belajar tanpa struktur, tapi ada juga yang memilih tetap terstruktur dan tentunya bisa di gabungkan juga semi terstuktur. Sekarang ini bahkan ada beberapa lembaga penyedia jasa homeschooling yang menerima murid secara offline seminggu hanya beberapa hari.

Pertanyaan yang paling sering jadi pertimbangan juga: nanti ijasah anak bagaimana? Untuk sekarang ini , ijasah bisa didapatkan dengan mengikuti ujian persamaan, tergantung di mana kita berada dan kemana tujuan kita. Ada banyak layanan online untuk mengetahui apakah anak kita layak untuk disebut di kelas tertentu. Di negara tertentu ujian tahunan ini merupakan kewajiban homeschooler, tapi akhirnya semua kembali lagi menjadi keputusan orangtua. Keunikan homeschooling adalah, kita tidak terikat dengan kelas anak, karena bisa saja anak usia 8 tahun mempelajari materi yang advanced kalau memang dia sudah mampu dan mengerti.

Beberapa penyedia jasa kurikulum juga menyediakan konsultasi untuk homeschooler untuk menjawab pertanyaan yang mungkin saja orang tua kurang mengerti, atau mereka juga mengadakan kelas tutorial online dan sampai memberikan diploma yang terakreditasi yang nantinya bisa jadi modal untuk memasuki perguruan tinggi. Kami sendiri belum memikirkan sejauh ini, apakah kami hanya akan sementara homeschooling atau akan terus homeschooling sampai anak siap memasuki perguruan tinggi. Sudah banyak orang yang menghomeschool anaknya dan kemudian anaknya masuk perguruan tinggi tanpa ijasah dari sekolah, tapi cukup dengan ujian penerimaan di perguruan tinggi tersebut dan dari bukti yang disiapkan orangtua kalau dia sudah mempelajari hal-hal dasar yang dibutuhkan.

Memilih kurikulum

Sebelum menentukan kurikulum, kita harus tau model belajar anak kita seperti apa dan apa yang menjadi target kita. Ada yang mengasah kemampuan anak di bidang art saja karena melihat anaknya sangat tertarik dengan art, ada juga yang memberikan semuanya dan minat anaknya baru akan kelihatan belakangan.  Ada anak yang suka mempelajari sesuatu secara mendalam dan tidak bosan untuk mengerjakan topik tersebut berulang-ulang (mastery), dan ada juga anak yang lebih suka dikenalkan konsep baru setiap harinya, kerjakan sedikit soal latihan untuk konsep baru dan sisanya mereview konsep yang sudah diajarkan sebelumnya (spiral).

Kurikulum yang kami pilih CLE (Christian Light Education) merupakan kurikulum dengan pendekatan spiral yang sudah cukup lengkap dan menyediakan layanan homeschool plus yang memberikan diploma untuk pesertanya. Tentunya orangtua yang harus aktif mengirimkan hasil kuis dan test tiap bulannya dan laporan mengenai jumlah hari sekolahnya, lalu akan diverifikasi oleh CLE dan mereka akan mengeluarkan diploma.

Untuk sekarang ini kami belum mendaftarkan program homeschool plus karena kami belum merasa membutuhkan diploma untuk Jonathan. Jonathan bisa mengerjakan buku latihannya dengan mandiri dan dia bisa bertanya kepada kami kalau ada konsep baru yang dia tidak mengerti.

Pelajaran yang kami beli dari CLE untuk kelas 2 ini adalah: Math, Language Art, Reading, Social Studies, Science dan Bible. Dalam 1 tahun ajaran ada 10 buku latihan yang harus dikerjakan dan masing-masing berisi 13 unit latihan, 2 kali kuis  dan 1 test. Jonathan mengerjakan 1 unit sehari untuk setiap pelajaran. Biasanya setiap minggu ke-1 dan ke-2 akan ada kuis di hari Jumat, dan minggu ke-3 ada review dan Test. Kalau rata-rata 1 buku dikerjakan dalam 1 bulan, dibutuhkan waktu kira-kira 10 bulan untuk menyelesaikan 1 tahun ajaran. Karena kami kemarin mulainya akhir Oktober, saya pikir kami akan ketinggalan banyak dari tahun ajaran sekolah umumnya. Ternyata sekarang ini kami sudah di buku terakhir dan sudah menjelang Test buku terakhir.

Mengatur Jadwal Sekolah

Homeschool yang kami lakukan cukup fleksibel. Tapi untuk membiasakan diri punya jadwal yang teratur setiap harinya, kami tentukan kalau jam mengerjakan pelajaran cukup pagi hari sebelum makan siang. Lalu setelah jam makan siang, Jonathan bisa tidur siang, baca buku atau kegiatan les art, bahasa Thai, piano atau Taekwondo.

Setiap hari Jonathan harus mengerjakan 1 unit dari 3 sampai 4 pelajaran. Kalau ada kegiatan dipagi hari, kadang-kadang dikerjakan siang dan sore hari. Kami juga membuat jadwal libur, biasanya mengikuti jadwal Joe libur kantor atau kalau ada yang datang berkunjung ke Chiang Mai. Selama beberapa bulan ini, tidak setiap hari sekolah itu mulus. Kadang-kadang faktor cuaca dan kesehatan juga mempengaruhi mood Jonathan dalam mengerjakan soal latihannya.

Kalau saya ditanya sejauh apa saya merencanakan jadwal pelajaran Jonathan? saya biasanya merencanakan setiap sabtu/minggu untuk pelajaran 1 minggu ke depan. Buku Teaching Guide sangat membantu dalam mempersiapkan bahan dan juga memeriksa hasil pekerjaan Jonathan. Ada orangtua yang mempersiapkan jadwal langsung untuk sepanjang tahun ajaran. Saya awalnya coba untuk menjadwalkan beberapa bulan sekaligus, tapi biasanya selalu ada yang meleset jadi saya mencoba untuk lebih fleksibel supaya ga jadi stress.

Homeschool preschool?

Selama Jonathan belajar, Joshua biasanya akan mengganggu dan pengen ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sekali materi homeschool untuk anak usia prasekolah, tapi saat ini saya belum berencana memberikan materi pelajaran terstruktur untuk Joshua. Biarkan saja dulu dia puas bermain, kalaupun dia tertarik dengan alphabet, angka, perkalian dan penjumlahan, saya anggap itu semua for fun saja. Sekarang ini Joshua sudah bisa mengeja semua kata yang dia liat, bahkan dia seperti sudah bisa ingat bacaan dari beberapa kata, tapi saya dan Joe belum berencana memberikan pelajaran khusus membaca untuk dia.

Tantangan dalam homeschool

Tantangan sekolah di rumah biasanya adalah bagaimana bisa konsisten dalam mengatur jadwal sekolah. Bagaimana supaya anak tetap termotivasi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Bagaimana supaya anak tetap punya teman bermain dan ga merasa kesepian di rumah. Bagaimana supaya anak menyukai belajar dan ga merasa terpaksa dalam mengerjakan pelajarannya. Kami pemula dalam homeschool ini, tapi seiring berjalan waktu, semua tantangan pasti ada jalan keluarnya. Nanti di postingan berikut saya akan tuliskan bagaimana contoh hari-hari sekolah kami.

Mengajak Jonathan Membaca

Sejak bisa membaca, Jonathan senang membaca berbagai buku. Buku yang dia paling senang model buku Usborne yang ada lift the flapnya. Berikutnya dia mulai suka membaca komik. Kami berusaha mengenalkan dia untuk membaca buku tanpa gambar (chapter book), awalnya dia bilang kurang suka dan ceritanya ga menarik.

Bulan Januari 2018, saya berusaha melatih Jonathan untuk membaca buku setiap hari 1 selama 10 menit, saya ikuti kegiatan challenge Read Aloud yang ada di internet tentunya dengan memberi reward buku yang dia pilih sendiri.  Walaupun  dia sudah bisa baca, waktu membacakan bersuara, kadang-kadang dia belum bisa berhenti ketika ada titik ataupun tanda baca lainnya. Dia cenderung membaca seperti kereta api yang tidak ada jeda walau ada titik koma. Semua diterobos aja gak berhenti sampai ganti halaman. Tentunya jadi tidak enak mendengarkannya dan saya harus mendampingi membacanya.

Buku yang saya berikan untuk dia baca selama sebulan Januari beraneka ragam. Kadang saya suruh dia membaca dongeng sebelum tidur yang cuma beberapa halaman, buku lift the flap, komik dan saya mulai kasih chapter book yang isinya berupa kumpulan cerita lepas dan membacanya tidak lebih dari 10 menit.

Seperti umumnya anak-anak, Jonathan ga suka dan bersungut-sungut ketika saya suruh baca. Tapi lama kelamaan, tanpa sepengetahuan saya, dia sering membaca tak bersuara sendiri  tanpa disuruh. Akhirnya saya menyerah memaksa dia membaca bersuara dan membiarkan saja dia memilih apa yang dia mau baca (lebih baik dia membaca daripada main game atau nonton TV doang). Untuk mengecek apakah Jonathan mengerti yang dia baca, kami ajak dia ngobrol dan menanyakan siapa tokohnya, bagian mana ceritanya yang dia suka atau tidak suka, siapa tokohnya dan apa peristiwa yang terjadi dalam buku yang dia baca.

Awalnya saya memberikan buku yang banyak direkomendasikan homeschoolers dengan kategori living books. Dia bilang bukunya tidak menarik dan mungkin dia belum mendapatkan klik dalam membaca buku. Kami juga berusaha memberi reward untuk memotivasi Jonathan membaca. Katanya Jonathan pengen punya uang buat dikumpulin dan nantinya dibelikan sesuatu, jadi kami setuju, kalau dia baca 1 chapter book akan kami berikan 10 baht. Kalau bukunya lebih tebal lebih dari 100 halaman nantiya bisa dikasih lebih.

Setelah mencoba memberikan berbagai chapter book dengan hasil yang ga terlalu signifikan (kadang dibaca kadang nggak), suatu hari Joe memberikan buku cerita yang mengajarkan pemrograman BASIC terbitan lama, seri Micro Adventure. Dalam buku ini, disertakan juga beberapa listing program BASIC yang bisa dicoba disalin dan dijalankan di komputer. Ternyata buku ini merupakan buku yang memberi klik untuk Jonathan menyukai membaca chapter book.

Sejak awal April atau Mei, dia sudah membaca 7 dari 10 serial Micro Adventure. Selain serial ini, dia juga membaca berbagai buku lainnya termasuk belakangan ini dia baca buku Harry Potter 1 dan 2 dalam hitungan beberapa hari saja. Untuk beberapa buku kami beri reward boleh menonton film dari buku itu. Sejauh ini Jonathan sudah menonton: Captain Underpants, Charlie and The Chocolate Factory dan Harry Potter pertama.

Saya mencoba catch up dengan Jonathan membaca buku-bukunya, tapi sejauh ini saya masih ketinggalan banyak hehehe. Jonathan sering bertanya “what is your favorite part in this book?” setelah selesai membaca buku yang dia tahu kami sudah baca (misalnya Harry Potter). Kecepatan membaca dia melesat seperti tak terbendung dan sekarang dia bahkan mulai membaca buku-buku kategori living books yang dulu dia bilang ga suka.

Berikut ini daftar buku yang dia baca dalam sebulan ini sebagai catatan buat kami:

 Micro Adventure Series:
  1. Space Attack: Micro Adventure Number One by Eileen Buckholtz and Ruth Glick (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33165-5)
  2. Jungle Quest: Micro Adventure Number Two by Megan Stine and H. William Stine (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33166-3)
  3. Million Dollar Gamble: Micro Adventure Number Three by Chassie L. West (1984; ISBN 0-590-33167-1)
  4. Time Trap (Micro Adventure, No 4) by Jean Favors (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33168-X)
  5. Mindbenders (Micro Adventure, Vol. 5) by Ruth Glick and Eileen Buckholtz (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33169-8)
  6. Robot Race (Micro Adventure, Vol. 6) by David Anthony Kraft (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33170-1)
Captain Underpants novels:
  1. The Adventures of Captain Underpants (1997)
  2. Captain Underpants and the Attack of the Talking Toilets (1999)
  3. Captain Underpants and the Invasion of the Incredibly Naughty Cafeteria Ladies from Outer Space (and the Subsequent Assault of the Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds) (1999)
Roald Dahl novels:
  1. Charlie and the Chocolate Factory (1964)
  2. The Magic Finger (1966)
  3. Fantastic Mr Fox (1968)
  4. Charlie and the Great Glass Elevator (1972)
  5. George’s Marvellous Medicine (1981)
  6. Matilda (1988)
Harry Potter novels:
  1. The Philosopher’s Stone (1997)
  2. The Chamber of Secrets (1998)

Dan yang terakhir dia menyelesaikan 12 buku dalam winnie the pooh library box set

Banyak juga buku yang dia baca dalam sebulan ini, semoga ke depannya Jonathan tetap semangat membaca dan dengan rajin membaca dia bisa belajar lebih banyak hal lagi.

Mengajarkan Computational Thinking dan Coding Pada Anak-Anak

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar apa itu Computational Thinking. Sudah ada banyak materi online, bahkan kursus online dari Google juga ada. Computational Thinking adalah cara berpikir untuk menyelesaikan masalah yang diinspirasi dari cara orang menyelesaikan masalah di ilmu komputer. Computational thinking perlu dipakai untuk membuat program komputer, tapi juga bisa diaplikasikan ke berbagai bidang lain.

Computational thinking bisa dan perlu diajarkan pada orang di berbagai usia, tapi saya hanya akan berfokus pada anak-anak di posting ini.  Mungkin sebagian akan langsung berpikir: anak-anak kok diajari seperti itu, harusnya diajari seni, kreativitas, agama, sopan-santun, dsb. Pencetus istilah computational thinking pernah menyatakan ini:

I FEEL VERY DEEPLY COMMITTED TO THE IDEA that, although rationality isn’t everything, and passion and interests and faith of various sorts count as much–nevertheless, rationality is a force for the good, and the more people that are capable of rational, critical thinking–the better the world will be; the more that have access to knowledge about the rest of the world–the better the world will be.”

–Seymour Papert, Mathematician, Computer Scientist, Educator

Computational thinking menurut saya adalah life skill yang berguna untuk mempermudah hidup. Berbagai pendekatan menyelesaikan masalah dalam computational thinking bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya bagaimana menyusun buku secara terurut, bermain sudoku, bermain catur, merencanakan perjalanan, menyusun jadwal. Bahkan membaca cerita detektif dan misteri akan lebih menyenangkan jika kita memiliki cara berpikir yang logis.

Saat ini ada inisiatif internasional yang bernama Bebras yang memperkenalkan computational thinking kepada pelajar mulai sekitar kelas 3 SD sampai usia SMU. Berbeda dengan olimpiade informatika atau coding challenge yang perlu memprogram, dan olimpiade matematika yang sangat teoretis, tantangan Bebras berada di antara keduanya.

Walaupun saya tidak meminta Jonathan jadi programmer, tapi karena dia melihat saya tiap hari berada di depan komputer, ngoprek segala macam hardware, termasuk membuatkan dia berbagi mainan, dia jadi curious. Jadi pelajaran yang saya berikan pada Jonathan lebih banyak untuk menjawab keingintahuannya. Hal penting bagi saya saat ini adalah: saya tidak ingin memaksakan kemampuan Jonathan dan membebaninya dengan hal yang kompetitif.

Saya memakai layar di kiri, sambil membuka file PDF di layar kanan untuk diketik ulang oleh Jonathan di laptop kecil.

Topik seperti matematika dianggap sulit, tapi sebenarnya bisa dijelaskan pada anak-anak dengan banyak pengalaman sehari-hari. Hal-hal kecil seperti menghitung benda yang kita miliki, menghitung kembalian, dan menghitung waktu bisa diajarkan. Misalnya kita bisa bertanya seperti ini “kira-kira butuh 10 menit untuk pergi ke sana, jadi kita perlu berangkat jam berapa?”. Lanjutkan membaca “Mengajarkan Computational Thinking dan Coding Pada Anak-Anak”

Berbagai Alasan Memilih Homeschool

Dulu, kalau dengar misalnya artis ngaku-ngaku dia di-homeschool, saya mikirnya ah itu alesan aja tuh, paling bilang gitu biar ga ditanyain kenapa ga pernah ke sekolah. Ya, kalau diterjemahkan bebas homeschool itu sekolah di rumah, dan dulu saya belum banyak tahu kalau homeschool itu ada begitu banyak metode dan kurikulum yang tinggal dipilih sesuai dengan yang kita mau, dan homeschool itu bukan berarti anaknya terserah aja mau belajar atau nggak.

Homeschool itu anaknya tetap belajar seperti halnya anak yang dikirim ke sekolah, dan pada level tertentu bisa ikut ujian/test atau dievaluasi untuk mengetahui apakah anaknya memang pantas disebut di level yang sesuai dengan usianya. Tapi sebelum kami menjalani homeschooling, kamipun punya banyak pertimbangan dan pertanyaan yang bikin kami maju mundur.

Sejak Jonathan masih belum sekolah, kami sudah mulai sering bertemu dengan keluarga yang menghomeschool anaknya. Di Chiang Mai banyak komunitas homeschooling baik itu orang asing maupun orang Thailand. Di Indonesia saya juga mengenal teman yang memutuskan homeschool anaknya, dan setelah tau lebih banyak saya jadi kagum dengan orangtua yang komit menghomeschool anaknya.

 

Dari sejak Jonathan masih kecil, Joe dan saya sudah sepakat kalau suatu saat kami akan menghomeschool Jonathan. Kami tetap kirim Jonathan ke preschool sampai SD kelas 1 karena kami ingin dia punya kesempatan merasakan sekolah.

Banyak alasan orang menghomeschool anaknya, ada yang alasannya ga percaya dengan sistem sekolah (lihat video di atas), ada yang merasa di sekolah lebih banyak pengaruh buruk daripada baik, di Amerika sekarang ini semakin banyak orang memilih homeschooling karena banyaknya kasus penembakan massal di sekolah. Alasan lain juga misalnya karena mereka sering berpindah-pindah negara/kota karena pekerjaan,misalnya sebagai missionaris, ada juga karena tinggal di kota kecil yang tidak ada sekolah yang menurut mereka cocok untuk anaknya.

Beberapa orangtua pengen memberikan kesempatan untuk anak mengembangkan minat bakat tanpa membebani dengan pelajaran yang akhirnya cuma lewat doang. Harus diakui banyak pelajaran yang saya pelajari selama sekolah dulu tidak begitu terpakai dan banyak yang sudah lupa, andaikan butuh mengingat bisa digoogle juga sekarang ini. Alasan lain bisa juga karena faktor kesehatan anak, faktor anak kebutuhan khusus dan bisa juga masalah ekonomi. Atau seperti artis yang memang butuh waktu khusus untuk belajar karena jadwalnya tidak memungkinkan untuk belajar di sekolah biasa.

Apapun alasannya, sekarang ini homeschooling sudah menjadi satu pilihan untuk mendidik anak dan mempersiapkan mereka untuk bersaing di masa depan. Semua orangtua tentunya ingin yang terbaik untuk anak, baik itu dengan mengirimkan anak ke sekolah ataupun yang menghomeschool dengan metode yang paling tepat buat mereka. Alasan kami menghomeschool Jonathan sekarang ini sudah dituliskan Joe pada posting sebelumnya.

Seperti halnya tidak ada individu/anak yang sama dan tentunya cara belajar tiap anak juga berbeda-beda. Tidak ada satu metode yang bisa diseragamkan dalam homeschooling ini. Dengan homeschooling kita memberikan metode yang sesuai dengan cara anak belajar dan tidak seperti disekolah yang cenderung menyeragamkan banyak hal dengan berbagai standarisasi.

Kami sepakat kalau pendidikan anak itu tanggung jawab orangtua dan berasal dari rumah. Kecenderungan yang terjadi waktu kami kirim Jonathan ke sekolah adalah, kami kurang memberikan waktu untuk mengasses Jonathan dan kami pikir sekolah pasti akan memberi masukan yang sesuai dengan kondisi Jonathan. Saya jadi terlalu santai.

Sejak umur 6 tahun, Jonathan sudah mulai bisa membaca, dan saya pikir wah lumayan ga harus ajarin Jonathan membaca. Berbeda dengan kebanyakan orangtua yang resah karena anaknya belum bisa baca ketika masuk SD, saya tidak pernah kuatir kalaupun Jonathan terlambat membaca, karena Joe bilang dia baru lancar membaca kelas 2 SD. Kami bersyukur Jonathan ga mengalami kesulitan belajar membaca. Untuk pelajaran matematika, Jonathan juga tidak mengalami kesulitan, dia bisa dengan cepat mengerti konsep yang baru diajarkan.

Sejak Agustus 2017 di masa bridging semester, kami memutuskan untuk menghomeschool Jonathan. Awalnya karena dia sakit dan kami minta beberapa pekerjaan dari sekolah untuk dikerjakan di rumah. Kami lihat kalau dia bisa mengerjakan dengan cepat dan setelah kerjaan sekolah selesai dia punya banyak waktu untuk istirahat. Kami tanya ke Jonathan dia mau homeschool atau tetap ke sekolah, dan dia bilang dia lebih suka belajar di rumah.

Masalah di awal, kami bisa dibilang ga punya persiapan untuk homeschooling. Kami belum memutuskan mau pakai metode mana dan kurikulum mana. Untuk mengisi kekosongan supaya ga kenapa ga belajar, kami membeli buku dan flash card brainquest dan juga buku Kumon untuk pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Sisanya kami berikan kebebasan Jonathan mau baca buku apa. Kami juga belikan beberapa buku lift the flap dari Usborne yang menarik buat dia.

Bulan Oktober akhirnya kami menemukan kurikulum yang sesuai dengan kami atas saran seorang teman. Pilihan jatuh ke kurikulum dari CLE karena materi dan cara penyajiannya sesuai dengan cara belajar Jonathan. Mengenai pertimbangan dan alasan dalam memilih kurikulum ini akan saya tuliskan di posting saya berikutnya.

Mengajarkan Basis Bilangan

Salah satu dari materi di pelajaran Language Arts adalah memahami dictionary order (lexicographical order) . Materi ini sangat mudah dimengerti, bahwa AAA muncul sebelum AAB. Beberapa latihan dalam materi ini adalah mempraktikkan mencari kata di kamus dan mengurutkan kata berdasarkan urutan kamus.

Seperti biasa, kadang Jonathan belajar di samping saya yang sedang bekerja di depan komputer. Jadi saya mencoba menguji Jonathan dengan soal sederhana, seperti, jika kita cuma punya 4 huruf dan kita urutkan berdasarkan urutan kamus, maka setelah AAAA, AAAB, AAAC adalah? jawabannya tentunya adalah AAAD. Nah setelah AAAZ berikutnya apa? saya membantu jawab dengan AABA, berikutnya Jonathan sudah tahu bahwa setelah AAZZ berikutnya adalah ABAA. Saya menggunakan Microsoft Word dengan font yang saya perbesar untuk bisa dengan cepat menjelaskan hal seperti ini.

Saya jelaskan juga bahwa sebenarnya cara kita berhitung dalam basis 10 juga seperti itu. Setelah digit terakhir (paling kanan) menjadi 9, maka berikutnya menjadi 0, dan kita menambahkan ke digit sebelumnya. Tadi ada 26 simbol untuk A-Z sedangkan untuk bilangan desimal ada 10 bilangan (0-9). Bagaimana jika kita cuma punya 0 dan 1 (biner). Saya mulai dengan 0000, apa berikutnya? gampang sekali dipahami bahwa ini menjadi 0001. Jonathan perlu berpikir sedikit untuk mengingat bahwa digit “2” tidak ada, jadi 1 kembali menjadi 0, dan digit berikutnya dinaikkan, hasilnya 0010. Berikutnya lagi kita tambah satu lagi menjadi 0011.

Sekarang saya memberi label desimal di sebelah kiri urutannya:

0 0000
1 0001
2 0010
3 0011

Dengan melihat tabel ini bisa dilihat bahwa 3 desimal sama dengan 0011 dalam biner. Saya bisa saja menjelaskan lebih lanjut mengenai cara singkat konversi dari biner ke desimal, tapi karena saya hanya menyisipkan materi di language arts maka tidak saya teruskan.

Sebenarnya masalah berhitung biner ini sudah pernah dibaca Jonathan, salah satunya dari buku Lift-The-Flap Computers and Coding.

Seperti kebanyakan buku, yang diajarkan biasanya lebih ke cara cepat konversi biner ke desimal, dan bukan mengapa cara berhitungnya seperti itu. Lanjutkan membaca “Mengajarkan Basis Bilangan”