DIY Workshop di McDonald’s

Hari ini Jonathan ikutan workshop di Mc Donald’s bareng anak-anak grup homeschooling Thai. Ceritanya beberapa minggu lalu saya kepikiran gimana caranya ya biar Jonathan punya teman berlatih ngobrol Thai, soalnya tetangga rumah kami anaknya sudah agak besar dan jam keluar rumahnya jarang bareng dengan Jonathan. Hasil dari nanya ke temen yang ikutan co-op tapi orang Thai, saya disarankan gabung ke grup homeschooling orang Thai. Tadinya agak ragu-ragu karena sampai sekarang baca bahasa Thai buat saya itu masih sering malasnya daripada memaksakan diri baca. Tapi ya masa sih anak disuruh belajar, sendirinya ga maju-maju belajar baca Thainya. Akhirnya sayapun masuk FB group yang isinya semua pake bahasa Thai.

Gak berapa lama bergabung, saya baca pengumuman mengenai workshop ini. Ada 3 paket harga yang ditawarkan, dan harganya seperti kita beli paket burger untuk di makan sendiri. Saya penasaran, kira-kira workshopnya ngapain aja ya? karena saya lihat anak-anak yang daftar workshop, rata-rata antara 5 dan 6 tahun. Saya pikir, ga mungkin dong mereka diajak goreng-gorengnya di McD.

Hari ini, sekitar jam 11 siang kami sudah tiba di lokasi workshop. Pertama kami harus daftar, memilih paket mana yang ingin dikerjakan dan bayar di tempat. Sembari menunggu semua yang sudah daftar sebelumnya hadir, anak-anak diberi kertas dan crayon untuk mewarnai. Beberapa anak langsung mewarnai dengan tekun.

Sekitar jam 11.20, anak-anak diminta berbaris berdasarkan ketinggian. Anak-anak dibagi dalam 2 grup, mereka akan diajak untuk tour melihat dapurnya Mc Donald. Sayangnya bagian yang ini saya dan orangtua lainnya ga ikutan, jadi ga tahu persisnya ada apa saja di dapurnya Mc Donald. Setiap kelompok di minta untuk berbaris memegang bahu teman di depannya dan berjanji untuk tidak memegang benda-benda di dapur dan tekun mendengarkan. Salah satu bagian yang saya sempat lihat, di bagian Mc Cafe nya, ada lemari es dan juga mesin untuk susu, minuman pepsi dan lain-lain.

Kalau dari cerita Jonathan, mereka juga masuk ke ruangan freezernya, dan juga dijelaskan mengenai proses menerima proses drive thru. Kataya dijelaskan ada sensor untuk mengetahui ada mobil yang datang memesan. Anak-anak di bawa keluar untuk melihat titik drive thrunya. Bagian ini Jonathan kemungkinan sudah hapal, karena beberapa kali kami mampir beli drive thru walau itu sekedar beli ice cream cone hehehe. Saya juga lihat anak-anak diberi penjelasan mengenai mesin kasirnya. 

Sekitar jam 11.50, anak-anak dimnta kembali duduk dan diberikan video mengenai Mc Donald di Thailand. Sebelum memulai workshop menyusun burger, mereka diberi kuis berdasarkan video yang ditonton dan diberi hadiah bukut tulis kecil apabila menjawab dengan benar. Di luar dugaan saya, walaupun videonya menggunakan audio bahasa Thai, tapi karena ada informasi tertulis dalam bahasa Inggris, Jonathan cukup mengingat beberapa fakta, dan berhasil menjawab pertanyaan pertama mengenai tahun berapa Mc Donald masuk ke Thailand. Saya dan beberapa orang tua lain ga nyimak bagian yang itu, dan Jonathan duluan angkat tangan dan menjawab 1985.

Ada yang unik dengan cara memberi kuis di sini. Anak-anak di minta untuk mendengarkan pertanyaan dan memegang kupingnya selama pertanyaan diajukan. Lalu siapa yang tahu jawabannya dipersilahkan mengangkat tangannya. Mungkin cara ini bukan cara baru, tapi buat saya, hal ini baru dan masuk akal. Dengan memegang kupingnya, kita yakin anak-anak  memasang kuping mendengarkan pertanyaan. 

Setelah beberapa pertanyaan diajukan, akhirya sampai juga ke bagian workshop yang dinanti-nantikan yaitu mempersiapkan burger. Saya jadi baru tau juga bagaimana mereka menyusun burger dan membungkusnya. Pertama sisi atas roti burger adala sisi yang diberikan saus tomat dan saus paprika. Lalu susun sayuran selada dan tomat di atas saus tadi. Bagian daging burger di letakkan di sisi bawah burger, lalu di tangkupkan ke sisi yang sudah ada sayuran dan tomat. Berikutnya untuk melipat bungkusan burger, letakkan burger di tengah dalam keadaan terbalik dan kertas dengan orientasi portait, lalu sisi kertas yg dekat ke kita di lipat ke bagian atas burger. Lalu burger di balikkan sambil melipat kertas. Setelah burger tiak terbalik lagi dan berada di tengah kertas, sisi kanan dan kiri kertas bisa dilipat ke bagian bawah burger.  Dan selesailah sudah mempersiapkan burger dan siap untuk disajikan.

Mungkin karena umur anak-anaknya masih kecil-kecil, mereka tidak diajak untuk mengiris sayur, tomat ataupun memanggang roti dan patty untuk burgernya. Semua hal-hal tersebut sudah dipersiapkan oleh pegawai Mc Donald nya. Dipikir-pikir, hal sederhana begitu saja anak-anak sudah senang ya. Melihat bagaimana dapurnya dan belajar mempersiapkan burger sambil memai celemek dan topi chef. Dan diakhir, tentu saja makan burger yang mereka persiapkan plus french friesnya. Kegiatan workshop diakhiri foto bersama dan pemberian sertifikat.

Selesai workshop, tentunya anak-anak bermain-main di ruangan bermain yang ada di Mc Donald. Jonathan cukup enjoy dengan kegiatan hari ini, pulang ke rumah jam 2 siang dia langsung tidur siang. Senangnya lagi, karena dia bisa dapat beberapa teman baru. Beberapa keluarga homeschool Thai cukup bisa berbahasa Inggris. Saya sih tadi ngobrol pake bahasa Thai, kalau obrolannya ga rumit-rumit amat, saya masih bisalah ngerti mereka ngobrolin apaan hehehe. 

Cukup positif dengan pengalaman bareng homeschoolers Thai hari ini. Kegiatannya menarik, gak mahal, semua happy dan saya senang dapat beberapa teman baru untuk kembali mengasah bahasa Thai saya yang sudah lama ga bertambah vocabularynya. Semoga lain kali ada kegiatan lainnya yang juga cocok untuk Joshua dan mereka bisa berlatih bahasa Thainya juga.

Sensory Play

Di group homeschooling term ini, saya kebagian ngajar kelas sensory play untuk anak umur 3 dan 4 tahun. Sebenarnya ada banyak sekali ide-ide yang bisa di lihat di internet, tapi umumnya ide yang ada itu banyak yang settingnya lebih cocok di rumah, karena habis main akan berantakan sekali. Akhirnya setiap minggunya cari ide yang ga terlalu berantakan dan kira-kira ga terlalu lama mempersiapkannya. 

Sesuai namanya, kelas sensory ini intinya bermain-main yang menstimulasi sensori/panca indra anak. Jadi bisa berupa mainan yang menstimulasi indra peraba (telapak tangan dan kaki), indra pengecap (lidah), indra penglihatan (mata) dan indra penciuman (hidung) dan indra pendengaran (kuping). Kalau mau tahu lebih banyak mengenai stimulasi sensory dan permainan untuk sensory ini bisa di google, hasilnya sebenarnya hal-hal yang sering kita mainkan sehari-hari.

Berikut ini beberapa kegiatan yang kami lakukan. Sejauh ini ada 10 kali pertemuan. Tiap pertemuan berlangsung selama 50 menit. Jumlah murid dalam kelas berkisar antara 5 sampai 8 anak. Untungnya saya dibantu oleh 2 orang tua lainnya, jadi kalau ada anak yang ga tertarik dengan kegiatan yang saya persiapkan, mereka tetap bisa diperhatikan dan gak mengganggu kelas.

Mainan dengan squishy bag. Persiapannya malam sebelumnya tepung dicampur air di kasih warna, terus dimasukkan ke dalam ziploc. Selain tepung berwarna ini di masukkan googly eyes atau beads warna warni. Anak-anak senang disuruh mencari-cari googly eyes atau beads dan juga cukup senang menggeser-geser isi dari ziplocnya yang tentunya sudah diamankan dengan lakban di pinggirannya supaya isinya ga keluar. Sayangnya kelas ini saya ga foto sama sekali. Idenya saya dapat dari wesbsite ini.

Salah satu kesempatan, saya minta anak-anak tracing telapak tangannya. Lalu kami bantu memberikan lem dan mereka bisa menempelkan pom pom untuk menghias tangan masing-masing. Saya instruksinya mereka tracing 1 tangan saja, tapi anak-anak itu ada yang minta untuk ditracing 2 tangan.

tracing tangan lalu dihias pom pom

Salah satu kegiatan yang juga anak-anak senang adalah mencicipi buah. Waktu itu saya bawa buah mangga, pepaya dan pisang yang sudah saya potong-potong dari rumah. Mereka yang biasanya berlari-larian ga selalu mau dengarin saya duduk manis nunggu giliran disuapin buah hahaha. Ada anak yang suka hanya buah tertentu, ada juga yang suka semua buah, tapi sebelum mereka makan, tentunya saya tanya dulu warnanya apa dan baunya bagaimana, baru ditanyakan rasanya apa.

Salah satu sesi kelas, saya ajak anak-anak bikin butterfly dari cetakan tangan. Anak-anak menghias kupu-kupu dengan washi tape. Bagian yang ini gabungan antara sensory peraba dan penglihatan karena washi tapenya ada bermacam patternnya selain mengkilat-kilat.

Mingggu berikutnya saya bawa balon, balonnya saya isi pompom lalu ditiup. Balon lainnya diisi dengan biji kacang hijau, ada juga balon yang saya isi garam. Lalu mereka membanding-bandingkan bunyinya. Di akhir kelas, mereka mainan balon yang saya tiup. Sayangnya karena minggu berikutnya ada salah satu orangtua yang alergi latex, jadilah dilarang bawa balon ke kegiatan homeschooling.

Pernah juga saya bawa bola-bola dari rumah, niatnya bola itu ditempelkan ke kertas contact. Kertas ini seperti stiker besar yang ukurannya sekitar 50 cm x 1 m. Tapi anak-anak ternyata ga suka dengan sensasi yang terlalu sticky. Saya pernah juga coba tempelkan beberapa pompom di atas kertas stiker, lalu anak-ana diminta jalan di atasnya, sebagian besar anak menolak dan menghindari berjalan diatas kertas stiker.

menempelkan bola di kertas stiker

Kelas yang bikin semua aktif berpartisipasi itu bermain playdough, pinginnya setiap minggu kasih main playdough biar ga capek ngajar hahaha. Tapi masalahnya selesai bermain playdough ini effort untuk bershinnya banyak. Apalagi kalau kita ga perhatikan, tau-tau playdoughnya udah nempel ke karpet di sana. Mainnya mereka seru, bersihinnya setelah main ga seru buat gurunya hahaha.

Ada lagi kegiatan yang anak-anak suka, mewarnai dengan cat air. Untuk mencegah potensi berantakan, mewarnainya di dalam ziploc. Idenya print gambarnya, masukkan ke dalam ziploc beserta warna yang ingin dicampurkan. Anak-anak disuruh meratakan catnya sesuai dengan gambarnya. Setelah selesai tunggu kering lalu gunting mengikuti gambar. 

Minggu lalu saya ingat, kami bermain lomba meniup pompom. Jadi awalnya saya ajarkan anak-anak meniup udara dan merasakan tiupannya di tangannya. Lalu kalau sudah bisa, saya ajak mereka meniup pompom ke arah tertentu. Lalu setelah mereka bisa, saya ajak mereka meniup pom pom nya pakai sedotan, dan mereka bisa berlomba siapa yang bisa meniup pom pom paling jauh.

Kelas yang paling menarik perhatian anak-anak itu hari ini, saya ajak anak-anak memasukkan pom pom, biji kacang hijau, biji kacang merah, sedotan, googly eyes,  pipe cleaner, beras dan garam dimasukkan ke dalam botol. Lalu botolnya ditutup dan mereka bisa memutar botolnya dengan pelan untuk mencari googly eyes, atau mencari beads, atau memperhatikan pom pom di dalam botol. Atau mereka bisa juga membuat botol itu seperti alat musik yang kalau di goyangkan mengeluarkan bunyi gemerisik.

botol sensory

Saya ga selalu bisa memoto kegiatan kelas sensory ini, karena ya ga selalu yang direncanakan berhasil sesuai harapan, dan ada juga masalah privasi jadi ga bisa juga upload foto anak-anak lain di kelas yang bukan anak saya. Foto-foto akan saya lengkapi nanti, karena beberapa foto tersebar dalam beberapa bulan ini. 

Text-to-Speech untuk mainan

Joshua sangat menyukai huruf dan angka. Di usianya sekarang (3 tahun) dia sangat suka alfabet. Dia bisa menyebut nama alfabet dalam bahasa Inggris dan Indonesia, bisa mengingat urutan alfabet  dari depan ke belakang dan sebaliknya, bisa menuliskan semua huruf besar dan kecil. Selain itu Joshua juga suka alfabet Thai, dalam sekitar 2 minggu dia sudah mengingat nama semua 44 konsonan dan cara menuliskannya.

Mainan ini bisa mengucapkan kata-kata tertentu, misalnya APPLE, BALL, dsb

Setelah suka alfabet, Joshua suka belajar membaca dan juga menulis, termasuk juga mengetik di komputer. Dia sangat senang dibelikan mainan tablet alfabet di atas. Mainan di atas disertai beberapa buku, di buku itu ada kata-kata yang bisa “diketikkan”, dan setelah selesai  kata itu akan diucapkan oleh tablet tersebut.

Sayangnya jumlah kata-kata yang tidak banyak dan Joshua sudah bosan dengan semuanya. Kadang dia berusaha mengeja kata tertentu tapi tidak keluar suaranya. Tadinya kepikiran untuk membongkar benda itu dan memodifikasi supaya support lebih banyak kata, tapi sepertinya repot dan akan butuh waktu lama.

Setiap kali dekat saya, Joshua akan minta ikutan ngetik di keyboard saya, dan kadang kalau saya sedang bekerja, saya biarkan dia memakai Pinebook , Raspberry Pi atau Laptop yang kebetulan ada di samping saya sekedar untuk mengetik di editor teks atau LibreOffice. Tiap kali mengetik sesuatu dia akan meminta perhatian saya sambil mengucapkan apa yang baru diketiknya: “papa, APPLE”

Supaya lebih seru, saya buatkan web app kecil  dengan JS dan PHP untuk mengucapkan kata yang baru dia ketik. Pengucapannya memakai fitur dari Google Translate. Tampilannya sangat sederhana: masukkan teks dan tekan enter, suaranya akan keluar. Joshua sudah mengerti memakai backspace untuk menghapus karakter yang sudah diketik.

Sebenarnya aplikasi ini tidak butuh server, bisa langsung tembak ke URL Google translate, tapi saya agak khawatir bisa kena rate limit atau ban temporer, atau bahkan protokolnya berubah sama sekali. Jadi saya buatkan sisi server untuk mengontak Google untuk mengucapkan kata-kata, dan menyimpan ke disk dan berikutnya jika kata yang sama diminta lagi maka akan diambil dari disk. Andaikan Google mengubah URL/protokolnya, nanti bisa diganti dengan Text-to-speech offline atau dari layanan lain.

Tampilan program

Kode program baik untuk sisi server maupun client hanya beberapa baris, tapi cukup menghibur Joshua selama beberapa bulan terakhir ini. 

Dan ini kode servernya

Kode singkat tersebut tentunya bisa ditambahi banyak fitur, tapi saat ini masih takut terlalu membingungkan untuk Joshua. Misalnya saya terpikir untuk menambahkan fitur warna pada teks karena dia suka menuliskan nama tokoh Paw Patrol dengan warna yang sama dengan warna pakaian mereka (Marshall merah, Chase biru, dst).

Untuk yang belum tahu: Google sebenarnya punya API text to speech yang resmi, tapi lebih rumit. Untuk sekedar mainan, cara “menembak” URL Google translate sudah cukup, tapi jika ingin dipakai untuk proyek serius, sebaiknya pakailah API-nya yang berbayar. 

Co-op Homeschool di Chiang Mai

Sejak hari Senin lalu, Jonathan dan Joshua ikutan co-op homeschool di Chiangmai. Co-op ini merupakan cooperative dari beberapa keluarga yang menghomeschool anaknya. Di tiap tempat bisa berbeda-beda, tapi ini cerita untuk kami yang di Chiangmai.

Kami mengikuti co-op berbahasa Inggris. Saya kurang tau apakah ada Co-op berbahasa Thai dan udah jelas ga ada bahasa Indonesia hehehe. Pesertanya tidak dibatasi hanya orang asing tapi wajib bisa berbahasa Inggris. Persyaratan lainnya salah satu dari orangtua wajib berpartisipasi mengajar kelas sesuai dengan perencanaan yang dilakukan sebelumnya.  Jadi co-op ini bukan jenis drop-off anak dan bayar guru. Berbeda dengan sekolah, pertemuan setiap Senin ini hanya dilakukan 2 term dalam setahun dan masing-masing term dibagi 3 bulan. Hal ini dilakukan karena banyak juga keluarga homeschooling yang pulang ke negeri asalnya berbulan-bulan, jadi ya tidak terikat harus berada di Chiang Mai sepanjang tahun.

Manfaat dari kegiatan ini selain buat sosialisasi anak homescholer juga untuk para orangtua berkumpul berbagi keahlian mengajarkan yang tidak bisa diajarkan ortu yang lain. Kadang-kadang bisa juga untuk pelengkap kurikulum yang dipakai. Dulu saya ikutan co-op waktu Jonathan masih 3 tahun. Waktu itu niatnya untuk belajar soal homeschool. Memang banyak sekali pertanyaan mengenai memulai homeschooling yang akhirnya terjawab sejak gabung di sana, tapi waktu itu kami ga jadi meneruskan homeschool karena menemukan sekolah yang cukup ideal dengan apa yang kami cari. Jonathan juga anaknya sangat social, jadi kami berpikir memberikan kesempatan buat dia merasakan sekolah.

Tahun ini awalnya kami hampir ga kebagian slot untuk ikutan di co-op. Memang ada batasan jumlah murid perkelas dan jumlah keluarga yang bisa bergabung supaya semua bisa berjalan dengan baik. Tapi beberapa bulan sebelum term dimulai, saya diberitahu ada keluarga yang anaknya kira-kira seumuran Jonathan dan Joshua tiba-tiba harus pulang ke negeri asalnya jadi ada slot yang terbuka. Keluarga tersebut awalnya mengusulkan untuk mengajar sensory class untuk nursery-preschool jadi saya ditanyakan apakah bersedia mengajar kelas itu atau malah mau ngajar kelas Kindergarten yang juga ada slot guru kosong. Karena pengalaman dulu Jonathan ga bisa ditinggal di kelas, saya cari aman saja ngajar kelas di mana Joshua akan ditempatkan alias nursery/preschool.

Contoh kegiatan

Pertemuan co-op berlangsung dari jam 9 pagi sampai sekitar jam 1 siang. Ada 3 sesi kelas yang bisa dipilih tiap murid. Saya kebagian ngajar jam ke-2. Tapi karena namanya co-operative, maka setiap orang harus datang lebih awal untuk persiapan kelas dan juga ikut untuk clean up sebelum bubar. Pertemuan ini menyewa tempat yang ada playgroudnnya, jadi anak-anak bisa bermain di playground juga walaupun mainannya ga banyak.

Kesan setelah 2 kali ke co-op. Awalnya sangat mudah meninggalkan Joshua, karena dia senang liat mainan yang ga biasa dia mainkan di rumah, tapi minggu berikutnya dia mulai aware kalau saya akan ninggalin dia di kelas pertama dan ke-2, dia akan berupaya menarik tangan saya dan ga mengijinkan saya keluar. Tapi ya pas kelas yang saya ajar, dia juga ga selalu berpartisipasi dan malah lebih sering ke sana kemari. Karena ini memang kelas untuk umur di mana anaknya ga bisa duduk diam, saya juga sengaja merencanakan beberaa kegiatan yang flexible dan tidak mewajibkan semua anak harus duduk mendengarkan. Mereka boleh sambil lompat-lompatan asal ga berbahaya.

Buat catatan, minggu pertama saya kasih kegiatan lompat-lompat kertas mengikuti print gambar kaki dan squishy bag. Sangkin hecticnya saya ga ambil foto sama sekali. Minggu ke-2 saya beri kegiatan membaca buku were going on a bear hunt sambil menirukan gerakannya, menempelkan pompom ke trace tangan dan bermain dengan pipe cleaner: membentuk seperti balon, bunga atau kupu-kupu. Oh ya, saya juga membawa mangga, nenas dan pepaya yang sudah dipotong-potong untuk dicicipin (sensory lidah). Anak-anak paling happy disuruh makan buah walaupun ada yang cuma suka pepaya dan ada yang cuma suka nenas selain ada juga yang suka semua buah. Untuk minggu depan belum tau mau dikasih kegiatan apa, biasanya ada banyak ide di internet, saya pilih sesuai dengan apa yang ada di rumah dan ga repot menyiapkannya.

Belajar Sejarah

Sejak memasuki grade 3, selain memakai CLE kami menambahkan pelajaran sejarah sebagai salah satu materi yang dipelajari oleh Jonathan. Setelah mencari rekomendasi dari group yang diikuti, akhirnya pilihan jatuh ke Story of The World. Sesuai namanya, pelajaran sejarah ini mempelajari sejarah dunia.

Sesuai namanya, Story of The World isinya dalam bentuk cerita

Kemarin, topik yang dipelajari adalah mengenai Shamsi Adad, seorang diktator di kerajaan Assyrian. Pelajaran sebelumnya mengenai Hammurabi yang memerintah di Babylonia. Kedua kerajaan tersebut berada di Mesopotamia. Perbedaan dari Hammurabi dan Shamsi Adad ini dari cara mereka menjadi raja. Pertanyaan yang menarik dari akhir pelajaran adalah: siapakah raja yang lebih baik Hammurabi atau Shamsi Adad?

Ilustrasi dari proyek Undraw

Sebelum bisa menjawab siapa yang lebih baik, saya harus mereview lagi pelajaran mengenai Hammurabi ke Jonathan. Waktu saya sekolah, mungkin pernah dengar nama Hammurabi, tapi saya belum pernah dengar nama Shamsi Adad. Kemungkinan lain, pernah belajar tapi udah lupa hahaha. Salah satu benefit menghomeschool adalah kembali membuka pelajaran supaya bisa mengajar anak, setidaknya kalau belum pernah belajar mengenai ini, saya jadi belajar.

Hammurabi dikenal sebagai raja yang memperkenalkan penggunaan peraturan yang tertulis dan dijadikan acuan dalam mengambil keputusan hukuman. Peraturan yang ditetapkan Hammurabi dituliskan dan dijadikan acuan kalau terjadi pelanggaran di kerajaan Babylonia. Beberapa peraturannya menurut saya agak terlalu kejam karena hukumannya bisa berupa potong lidah atau tangan selain bayar denda. Tapi ya mungkin begitulah cara yang berhasil dilakukan di masa itu.

Berbeda dengan Hammurabi, Shamsi Adad memerintah secara diktator dengan cara kekerasan. Cita-citanya menjadi penguasa alam semesta dengan cara menaklukan lewat perang. Cara perangnya juga kadang-kadang cukup licik, bukan cuma perang dengan pasukan yang banyak, tapi dengan strategi dan meracuni lawan supaya daerahnya bisa diakuisisi. Kalau ada yang tidak menaati perintahnya langsung saja dibunuh. Caranya ini bisa membuat kerajaan Assyrian menjadi cukup luas, tapi akhirnya ketika dia sudah tua, kerajaanya bisa diambil alih oleh Hammurabi dari kerajaan Babylonia.

Kesimpulannya mana yang lebih baik, punya aturan yang jelas (walaupun mungkin aturannya tidak selalu terasa fair tapi ya ada aturan) dibandingkan dengan pemerintahan yang tidak ada aturan yang tertulis dan semua tergantung pada 1 individu. Perintah dari individu ini sifatnya mutlak dan tak terbantahkan, kalau dia sudah bersabda dan tidak dituruti maka orang yang ga nurut ini dihukum mati, kalau orang Medan bilang “sukak-sukaknya aja”. Kalau orang yang memerintah hatinya baik sekalipun tetap saja pola pemerintahan di mana hanya 1 orang yang punya suara ini hasilnya pasti kurang baik.

Untuk menjelaskan kenapa yang satu lebih baik dari yang lain (walaupun tidak ideal), saya dan Joe gak langsung bilang si A lebih baik tapi kami tanya ke Jonathan mana yang menurut dia lebih baik dan apa alasannya.

Dulu bagi saya, pelajaran sejarah ini membosankan dan hapalan mati. Saya ingat ujiannya saya ngapalin isi buku catatan dan gurunya mempertanyakan hampir semua isi buku catatan. Jadi dalam 2 jam saya harus memindahkan isi catatan yang saya hapal mati hahaha. Bedanya dengan pelajaran sejarah yang kami pakai ini, Jonathan bisa belajar dengan mendengarkan audio book sambil membaca bukunya. Setelah mendengarkan ceritanya, selanjutnya ada kegiatan menjawab pertanyaan memastikan anaknya denger dan ngerti, lalu mencari lokasi yang disebutkan dalam peta. Sekarang ini kebanyakan masih sekitar ancient world Egypt, Mesopotamia dan sekitarnya.

Kurikulumnya ini sebenernya bisa untuk kelas 3 sampai high school, ada 4 volume dan kami baru mulai di volume 1. Beberapa homeschoolers bahkan menggunakan kurikulum ini berulang (jadi setelah selesai 4 volume mereka mulai lagi dari volume pertama). Kalau rajin, ada kegiatan craft nya dijelasin di bukunya, tapi untuk sekarang ini kami memilih ga mengerjakan craftnya dulu tapi sekarang cukup kegiatan mewarnainya saja heheh.

Mewarnai tokoh dalam buku SOTW

Rencananya kalau menemukan buku pelajaran sejarah Indonesia, kami juga akan kenalkan sejarah Indonesia ke Jonathan. Untuk sekarang kami cuma kasih tau sedikit mengenai kehidupan papa mamanya jaman dulu dan bedanya dengan dia sekarang sebagai cerita pengantar tidur. Atau juga dia ingat perang Diponegoro itu 1825 – 1830 karena pernah disampaikan sebagai joke. Jonathan juga tau kalau Indonesia mendapatkan kemerdekaannya setelah perang melawan Belanda dan Jepang sedangkan Thailand tidak pernah dijajah.

Jonathan senang mendengarkan cerita-cerita dan cukup bisa lama ingat akan fakta-fakta yang kami sampaikan. Dia juga kami ajarin siapa Presiden Indonesia sekarang ini. Pelajarannya kadang agak random, karena waktu kasih tau soal Indonesia dipimpin presiden, dia akan bertanya kenapa Thailand ada Raja dan Indonesia nggak ada? Nah jadilah penjelasannya soal jenis-jenis pemerintahan yang ada. Kalau ada yang punya rekomendasi pelajaran sejarah Indonesia silakan komen ya.

Menjelang Homeschool Tahun ke-2

Sejak awal bulan Juni, Jonathan sudah selesai mengerjakan semua materi kelas 2 yang kami pakai. Kami memakai kurikulum Christian Light Education. Ada 10 buku masing-masing untuk pelajaran Math, Reading dan Language Art (Grammar, Phonics, Penmanship dan creative writing). Ada 5 buku masing-masing untuk Science, Bible dan Social Studies. Untuk tahun pertama menjalani homeschool, bisa dibilang kami menyelesaikan semuanya cukup cepat, mengingat kami mulai tanggal 30 October 2017 dan selesai 5 Juni 2018.

Tahun pertama kami jalani tanpa perencanaan yang banyak. Saya ga merencanakan jadual secara detail. Untungnya kurikulum yang kami pakai sudah dibagi 1 unit pelajaran per hari, semua instruksi juga jelas dan karena 1 unit hanyak beberapa halaman, Jonathan ga butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Biasanya saya akan membuat jadwal per minggu. Setiap akhir pekan saya membaca cepat bahan untuk minggu depan, apakah kira-kira ada topik baru yang sulit dan butuh saya jelaskan.

Kurikulum yang kami pakai berupa workbook. Untuk tiap unit, dikenalkan sebuah topik baru, diberikan contoh soal dan jawabannya, lalu review beberapa topik sebelumnya. Setiap topik akan direview beberapa kali. Untuk pelajaran social studies dan Bible diberikan dalam bentuk cerita. Pelajaran yang butuh waktu agak lama buat Jonathan selesaikan Language Art, terutama untuk bagian creative writing dan penmanship. Untuk pelajaran lain, 1 pelajaran biasanya dia selesaikan rata-rata 30 menit, kecuali kalau dia lagi ga fokus dan mikirin mainan lain.

Beli beberapa buku waktu ada diskon di asiabooks.com

Sejak menghomeschool Jonathan, saya mengikuti beberapa group homeschooling, terutama yang memakai kurikulum yang sama. Saya jadi tahu, kalau di negara tertentu mereka harus melaporkan jumlah hari sekolah dalam setahun dan juga scope materi pelajaran yang mereka pelajari tahun tersebut. Untuk level high school (SMA) nantinya mereka harus menghitung kredit mata pelajaran. Bagian yang ini saya belum baca banyak karena saya mau fokus untuk kebutuhan saat ini saja. Lanjutkan membaca “Menjelang Homeschool Tahun ke-2”

Memulai Homeschooling

Setelah memutuskan mau homeschooling, kami gak langsung terjun bebas. Homeschooling ini menuntut orangtua untuk belajar lagi, karena kami gak punya pengalaman mengajar anak kecil. Belajar seluk beluk dunia homeschooling terutama memutuskan mau seperti apa style homeschooling kami.

Mulai dari mana?

Kami mulai dengan banyak mencari informasi yang terkait dengan homeschooling dari berbagai sumber, diantaranya:

  • bertanya ke teman-teman yang sudah lebih dulu menghomeschool anaknya
  • cari informasi di internet
  • gabung dengan komunitas homeschooler online dan offline

Sebagai orangtua harus rajin mencari berbagai hal yang sesuai dengan kondisi keluarga dan gaya belajar anak. Orangtua juga harus memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sebagai orangtua harus menentukan/memutuskan mau seperti apa homeschoolingnya.

Saya akui saya pusing dengan berbagai istilah yang ditemukan mengenai homeschool. Ada banyak sekali metode dan pendekatan untuk melakukan homeschooling, ada yang melakukannya secara tradisional seperti memindahkan sekolah ke rumah (jam sekolah tertentu dan jadwal hari sekolah dan libur yang sudah ditentukan di awal tahun ajaran), ada yang memilih untuk membebaskan anak dari beban kurikulum dan hanya mengajarkan apa yang menjadi minat anaknya (unschooling), ada yang ikut kelas online bayar maupun gratis, ada yang mempelajari secara mendalam topik tertentu dengan unit studies. Ada yang mengikuti metode Charlotte Mason, Classical Conversation atau Montessori. Dan banyak istilah lainnya yang selanjutnya bisa di baca di wikipedia mengenai homeschooling.

Setelah menyadari kalau keunikan homeschooling adalah tidak ada yang saklek di sana. Kita selalu bisa sesuaikan menurut kebutuhan anak dan kita tidak harus mengikuti metode atau kurikulum tertentu saja. Sebagai orangtua, kita bisa memilih dan membuat sendiri kurikulum dan materi yang ingin diajarkan ke anak. Orangtua dan anak yang menentukan apakah belajar secara terstruktur atau tidak ada struktur sama sekali. Ada yang memilih untuk belajar tanpa struktur, tapi ada juga yang memilih tetap terstruktur dan tentunya bisa di gabungkan juga semi terstuktur. Sekarang ini bahkan ada beberapa lembaga penyedia jasa homeschooling yang menerima murid secara offline seminggu hanya beberapa hari.

Pertanyaan yang paling sering jadi pertimbangan juga: nanti ijasah anak bagaimana? Untuk sekarang ini , ijasah bisa didapatkan dengan mengikuti ujian persamaan, tergantung di mana kita berada dan kemana tujuan kita. Ada banyak layanan online untuk mengetahui apakah anak kita layak untuk disebut di kelas tertentu. Di negara tertentu ujian tahunan ini merupakan kewajiban homeschooler, tapi akhirnya semua kembali lagi menjadi keputusan orangtua. Keunikan homeschooling adalah, kita tidak terikat dengan kelas anak, karena bisa saja anak usia 8 tahun mempelajari materi yang advanced kalau memang dia sudah mampu dan mengerti.

Beberapa penyedia jasa kurikulum juga menyediakan konsultasi untuk homeschooler untuk menjawab pertanyaan yang mungkin saja orang tua kurang mengerti, atau mereka juga mengadakan kelas tutorial online dan sampai memberikan diploma yang terakreditasi yang nantinya bisa jadi modal untuk memasuki perguruan tinggi. Kami sendiri belum memikirkan sejauh ini, apakah kami hanya akan sementara homeschooling atau akan terus homeschooling sampai anak siap memasuki perguruan tinggi. Sudah banyak orang yang menghomeschool anaknya dan kemudian anaknya masuk perguruan tinggi tanpa ijasah dari sekolah, tapi cukup dengan ujian penerimaan di perguruan tinggi tersebut dan dari bukti yang disiapkan orangtua kalau dia sudah mempelajari hal-hal dasar yang dibutuhkan.

Memilih kurikulum

Sebelum menentukan kurikulum, kita harus tau model belajar anak kita seperti apa dan apa yang menjadi target kita. Ada yang mengasah kemampuan anak di bidang art saja karena melihat anaknya sangat tertarik dengan art, ada juga yang memberikan semuanya dan minat anaknya baru akan kelihatan belakangan.  Ada anak yang suka mempelajari sesuatu secara mendalam dan tidak bosan untuk mengerjakan topik tersebut berulang-ulang (mastery), dan ada juga anak yang lebih suka dikenalkan konsep baru setiap harinya, kerjakan sedikit soal latihan untuk konsep baru dan sisanya mereview konsep yang sudah diajarkan sebelumnya (spiral).

Kurikulum yang kami pilih CLE (Christian Light Education) merupakan kurikulum dengan pendekatan spiral yang sudah cukup lengkap dan menyediakan layanan homeschool plus yang memberikan diploma untuk pesertanya. Tentunya orangtua yang harus aktif mengirimkan hasil kuis dan test tiap bulannya dan laporan mengenai jumlah hari sekolahnya, lalu akan diverifikasi oleh CLE dan mereka akan mengeluarkan diploma.

Untuk sekarang ini kami belum mendaftarkan program homeschool plus karena kami belum merasa membutuhkan diploma untuk Jonathan. Jonathan bisa mengerjakan buku latihannya dengan mandiri dan dia bisa bertanya kepada kami kalau ada konsep baru yang dia tidak mengerti.

Pelajaran yang kami beli dari CLE untuk kelas 2 ini adalah: Math, Language Art, Reading, Social Studies, Science dan Bible. Dalam 1 tahun ajaran ada 10 buku latihan yang harus dikerjakan dan masing-masing berisi 13 unit latihan, 2 kali kuis  dan 1 test. Jonathan mengerjakan 1 unit sehari untuk setiap pelajaran. Biasanya setiap minggu ke-1 dan ke-2 akan ada kuis di hari Jumat, dan minggu ke-3 ada review dan Test. Kalau rata-rata 1 buku dikerjakan dalam 1 bulan, dibutuhkan waktu kira-kira 10 bulan untuk menyelesaikan 1 tahun ajaran. Karena kami kemarin mulainya akhir Oktober, saya pikir kami akan ketinggalan banyak dari tahun ajaran sekolah umumnya. Ternyata sekarang ini kami sudah di buku terakhir dan sudah menjelang Test buku terakhir.

Mengatur Jadwal Sekolah

Homeschool yang kami lakukan cukup fleksibel. Tapi untuk membiasakan diri punya jadwal yang teratur setiap harinya, kami tentukan kalau jam mengerjakan pelajaran cukup pagi hari sebelum makan siang. Lalu setelah jam makan siang, Jonathan bisa tidur siang, baca buku atau kegiatan les art, bahasa Thai, piano atau Taekwondo.

Setiap hari Jonathan harus mengerjakan 1 unit dari 3 sampai 4 pelajaran. Kalau ada kegiatan dipagi hari, kadang-kadang dikerjakan siang dan sore hari. Kami juga membuat jadwal libur, biasanya mengikuti jadwal Joe libur kantor atau kalau ada yang datang berkunjung ke Chiang Mai. Selama beberapa bulan ini, tidak setiap hari sekolah itu mulus. Kadang-kadang faktor cuaca dan kesehatan juga mempengaruhi mood Jonathan dalam mengerjakan soal latihannya.

Kalau saya ditanya sejauh apa saya merencanakan jadwal pelajaran Jonathan? saya biasanya merencanakan setiap sabtu/minggu untuk pelajaran 1 minggu ke depan. Buku Teaching Guide sangat membantu dalam mempersiapkan bahan dan juga memeriksa hasil pekerjaan Jonathan. Ada orangtua yang mempersiapkan jadwal langsung untuk sepanjang tahun ajaran. Saya awalnya coba untuk menjadwalkan beberapa bulan sekaligus, tapi biasanya selalu ada yang meleset jadi saya mencoba untuk lebih fleksibel supaya ga jadi stress.

Homeschool preschool?

Selama Jonathan belajar, Joshua biasanya akan mengganggu dan pengen ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sekali materi homeschool untuk anak usia prasekolah, tapi saat ini saya belum berencana memberikan materi pelajaran terstruktur untuk Joshua. Biarkan saja dulu dia puas bermain, kalaupun dia tertarik dengan alphabet, angka, perkalian dan penjumlahan, saya anggap itu semua for fun saja. Sekarang ini Joshua sudah bisa mengeja semua kata yang dia liat, bahkan dia seperti sudah bisa ingat bacaan dari beberapa kata, tapi saya dan Joe belum berencana memberikan pelajaran khusus membaca untuk dia.

Tantangan dalam homeschool

Tantangan sekolah di rumah biasanya adalah bagaimana bisa konsisten dalam mengatur jadwal sekolah. Bagaimana supaya anak tetap termotivasi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Bagaimana supaya anak tetap punya teman bermain dan ga merasa kesepian di rumah. Bagaimana supaya anak menyukai belajar dan ga merasa terpaksa dalam mengerjakan pelajarannya. Kami pemula dalam homeschool ini, tapi seiring berjalan waktu, semua tantangan pasti ada jalan keluarnya. Nanti di postingan berikut saya akan tuliskan bagaimana contoh hari-hari sekolah kami.