Sekolah Ideal?

Tahun ajaran baru di Thailand untuk sekolah dengan kurikulum Thai baru saja dimulai minggu ini. Sedangkan untuk sekolah Internasional, tahun ajaran baru akan dimulai nanti sekitar akhir Juli atau awal Agustus. Di kalangan teman-teman saya di Indonesia juga sepertinya mulai sibuk dengan pendaftaran tahun ajaran baru. Ada yang anaknya lulus SD dan akan masuk SMP. Ponakan saya juga ada yang akan masuk SMP dan SMA. Melihat obrolan mengenai pencarian sekolah membuat saya berpikir sendiri dengan berbagai pendapat tentang sistem sekolah.

Sebenarnya apa sih yang dicari orangtua dari sebuah sekolah? kenapa sebuah sekolah bisa lebih populer daripada sekolah yang lain? Kenapa sekolah ada yang mahal dan ada yang mahal banget? Kenapa sekarang ini ada kecenderungan memasukkan anak sekolah swasta walau untuk cari biayanya orangtua harus banting tulang mencari duitnya? Di Chiang Mai sini misalnya, kenapa ada banyak sekali sekolah Internasional, bilingual dan sekolah swasta? Memang ada banyak expat tinggal di sini, tapi siswa sekolah Internasional bukan hanya anak-anak expat, anak Thai juga banyak, dan sekolah Internasionalnya menurut saya terlalu banyak hehehe.

Sebagai orangtua yang pernah galau mencari sekolah, ada beberapa hal yang dipertimbangkan sebelum mendaftarkan anak ke sebuah sekolah. Berikut ini merupakan opini saya dan sedikit komentar dengan keadaan sekolah yang saya amati di sini maupun seandainya kami tinggal di Indonesia.

Sekolah itu idealnya:

  • Tidak jauh dari rumah: dengan begini anak bisa dilatih untuk pergi dan pulang sendiri kalau sudah agak besar. Saya ingat dari kelas 1 SD saya jalan kaki sendiri ke sekolah. Jalannya tidak melewati jalan besar, jadi orangtua saya tidak perlu kuatir. Kelas 3 SD, kami pindah rumah, saya harus naik bemo atau becak. Saya sudah bisa antar adik saya naik bemo ke sekolah karena walaupun agak jauh tapi tidak terlalu jauh juga. Ketika SMP, sekolahnya agak lebih jauh dari SD saya, tapi saya bisa naik angkutan sendiri dan pernah juga naik sepeda ke sekolah. Saya ingat, kadang-kadang saya jalan kaki untuk menghemat ongkos, dan jatah ongkosnya jadi uang jajan hehehe.
  • Uang sekolah tidak mahal: saya dan kakak saya semua sekolah di sekolah negeri dari SD, SMP, SMA. Orangtua saya bukan orang kaya yang banyak pilihan untuk menyekolahkan kami di sekolah swasta. Uang sekolah negeri pastinya lebih murah daripada sekolah swasta. Sekarang ini kabarnya sekolah negeri infrastrukturnya tidak seragam, jadi banyak juga orang yang memilih sekolah negeri yang “populer”. Di Thailand sini, saya kurang tahu mengenai sekolah negeri, tapi sekolah swastanya juga ada banyak tingkatan, mulai dari yang biasa saja sampai yang mahal banget. Karena kami bukan orang lokal, kami mencari sekolah yang punya kurikulum dalam bahasa Inggris, pilihannya hanya ada di sekolah Internasional. Sekolah internasional pilihannya ya mahal atau mahal banget.
  • kualitas pendidikannya bagus, kurikulum dan guru-gurunya tidak sering berganti-ganti: untuk hal ini biasanya diketahui dari kualitas alumni sekolah tersebut. Kalau di sini misalnya, ada teman saya yang ingin sekali anaknya masuk sekolah dasar tertentu karena dia ingin anaknya jadi dokter, dan lulusan sekolah yang dia inginkan itu banyak yang sukses termasuk jadi dokter. Sekolah menjadi populer dan dianggap bagus karena lulusannya melanjutkan ke sekolah populer berikutnya.
  • pekerjaan rumah tidak banyak: ini sih beda-beda ya tiap orang tua, tapi kalau saya sih pengennya anak itu gak usah bawa pulang kerjaan sekolah, biar di rumah bisa main aja yang banyak, apalagi misalnya kayak di sini jam sekolahnya aja udah dari pagi sampe sore, kalau pulang ada PR untuk tiap pelajaran, kasian anaknya.
  • kegiatan ekstrakurikuler: ini juga tergantung orangtuanya, banyak orangtua yang mendaftarkan anaknya berbagai kegiatan sepulang dari sekolah ataupun di akhir pekan. Rasanya kalau kami tidak homeschool, saya harapkan Jonathan belajar art, bahasa Thai, music, pendidikan jasmani semuanya cukup di sekolah saja dan bisa memilih 1 kegiatan saja di akhir minggu. Dulu waktu saya SMP, saya ingat saya cuma ikut kursus bahasa Inggris 3 kali seminggu, itupun kursusnya dekat rumah. Waktu SD saya gak ikut kursus apapun, SMA saya ikut bimbingan belajar setelah kelas 3 SMA dan sebelumnya gak ikut kursus apapun.
  • beban akademis yang seimbang: untuk anak usia TK ya diberi beban anak TK, jangan terlalu banyak akademis. Anak TK itu sepatutnya ya banyakan bermainnya daripada duduk mengerjakan workbook. Untuk anak SD, diajari mulai dari membaca sampai ketika lulus SD mulai bisa berpikir menyelesaikan permasalahan. Untuk anak SMP ya mulai lebih meningkat beban akademisnya, tapi bukan berarti pekerjaan rumah seabrek-abrek. SMA saya ingat semakin banyak beban akademis, apalagi sudah menjelang ujian memasuki perguruan tinggi. Tapi itupun karena anak sudah semakin dewasa, mereka sudah makin mengerti prioritas antara belajar atau berorganisasi.
  • lingkungan teman-temannya yang baik-baik: anak-anak itu terbentuk bukan hanya di rumah, tapi juga dari lingkungan sekolah. Banyak cerita anak tidak mau sekolah karena dinakalin teman atau sering berantem di sekolah, tapi ya saya sendiri ingat waktu SD saya pernah dicakar oleh teman saya karena awalnya perang mulut saat dia menyebut nama bapak saya dengan tidak sopan. Saya tidak tahu kondisi saat ini, tapi dulu itu salah satu cara memancing kerusuhan adalah mencari tahu nama bapak orang lain, lalu diucapkan dengan tidak hormat (entah siapa yang memulai seperti ini).

Nah, kalau untuk kami, sekarang ini tahapannya anak kami 1 di usia sekolah dasar dan 1 bahkan belum perlu untuk mulai masuk TK. Setelah melakukan pencarian sekolah di sini, karena tidak menemukan yang ideal akhirnya pilihan kepada homeschooling. Apakah homeschooling paling ideal? untuk saat ini ya begitulah.

Lalu, setelah menemukan sekolah yang ideal, apakah ada jaminan anak akan jadi sukses? Kalau menurut saya, ini semua kembali ke anaknya juga. Sekolah yang ideal tidak menjamin apapun. Sekolah ideal ini hanyalah harapan semata. Dalam kenyataanya, tidak semua orang bisa mendapatkan kondisi ideal. Banyak juga yang akhirnya harus bersekolah di sekolah yang jauh dari rumah, atau pekerjaan rumah yang banyak ataupun ketemu teman yang kurang baik. Tapi ya orangtua selalu berharap menemukan yang ideal, dengan harapan kalau sekolahnya bagus, gak mahal, dekat dari rumah, nantinya anaknya bisa berhasil di kemudian hari. Semua orangtua pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Belajar Piano dengan App

Note: tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman belajar piano menggunakan aplikasi Simply Piano dari JoyTunes, saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Sejak Jonathan belajar piano di kursus, sebenarnya saya sudah ikut-ikutan belajar piano. Tapi saya gak punya kemampuan memainkan musik sama sekali. Dari dulu takut sama not toge (not balok), dan cuma kenal do re mi karena pernah ikut paduan suara di gereja. Saya gak bisa juga mencari tau lagu itu seperti apa kalau belum pernah dengar sebelumnya, jadi bisa dibilang saya menghapalkan nadanya setelah diajarkan.

Tahun lalu, setelah piano-pianoan yang dipakai Jonathan hancur karena dicongkelin Joshua, akhirnya kami membeli piano digital yang jumlah tuts nya sudah sama dengan piano mekanis. Karena udah ada piano beneran, saya pikir sekalian saja saya belajar piano, masa sih gak bisa.

Awalnya sih, saya belajar dari buku-buku latihan piano Jonathan, terus gak sengaja nemu aplikasi Simply Piano ini. Aplikasi ini memberikan beberapa pelajaran pertama gratis, selanjutnya kalau mau meneruskan latihan ya harus bayar berlangganan. Berlangganannya mulai dari 279 baht/bulan atau 3250 baht/tahun. Kami memilih langsung langganan setahun, karena untuk mengirim Jonathan kursus saja biayanya pastinya lebih mahal dari itu.

preview aplikasi simply piano

Beberapa bulan pertama, saya cukup rajin latihan sekitar 30 menit sehari. Saya belajar banyak chord dan juga beberapa lagu populer. Ada pengenalan piano klasik, jazz, dan blues juga. Tapi karena kesibukan saya jadi lupa meneruskan berlatih lagi.

Sejak beberapa waktu lalu Jonathan pindah tempat kursus piano yang lebih dekat rumah. Gurunya ibu-ibu tua baik hati. Waktu dia tahu saya kadang-kadang ikutan belajar dari buku Jonathan, dia bersedia mengajari saya tanpa bayaran tambahan. Wow, ini sih rejeki jangan ditolak. Jadi sekali seminggu, ketika saya antar Jonathan kursus, dia belajar sekitar 40 menit, saya diajari 15 – 20 menit. Sisanya ya saya diharapkan berlatih sendiri di rumah.

Kelemahan saya dalam bermain piano adalah: saya tidak benar-benar membaca not dalam sheet music nya. Jadi saya menghapal cuma kunci C, dan G untuk tangan kanan, dan kunci C dan F untuk tangan kiri. Selanjutnya saya cuma membaca naik turunnya not tanpa benar-benar membaca not tersebut. Kalau notnya tidak berurutan, saya sering jadi gelagapan sendiri ngitung dalam hati ini not apa dan jari mana hahaha.

Setelah sekian lama melupakan aplikasi ini, saya jadi kepikiran lagi untuk mulai berlatih lagi setiap harinya. Di aplikasi ini ada menu untuk latihan 5 menit sehari. Masa sih gak bisa nyediain waktu 5 menit sehari. Awalnya mulai 5 menit, kalau gak ada gangguan siapa tahu bisa diteruskan jadi 30 menit latihan sehari.

menu latihan 5 menit sehari dari aplikasi simply piano

Harusnya dengan latihan setiap hari, saya bisa sekalian menghapalkan not dari lembaran musik piano. Harapannya sih digabungkan dengan belajar dari guru piano Jonathan, saya jadi beneran bisa main piano, bukan cuma tahu do-re-mi saja hehehe.

Ada banyak aplikasi belajar piano sejenis simply piano ini, tapi saya gak bisa komentar untuk yang lain, karena kami berlangganannya cuma yang ini. Oh ya, langganan simply piano bisa diinstal di beberapa device Android maupun iOs, jadi selain saya, Jonathan juga bisa memakai aplikasi ini. Joshua juga sudah mulai niru-niru tapi belum benar-benar mau mencoba mengikuti instruksi meletakkan jarinya hehehe.

Namanya belajar, tidak ada yang instan, harus terus menerus melatih diri. Mungkin akan ada yang heran, ngapain belajar piano sekarang? belajar piano itu buat saya sih untuk relaksasi. Rasanya ketika bisa memainkan sebuah lagu, enak aja gitu dengarnya berulang-ulang. Kalau lihat di YouTube, banyak orang belajar setelah dewasa, dengan komitmen belajar setiap hari, dalam waktu setahun mainnya udah jagoan. Saya sih gak muluk-muluk, gak harus jagoan, asal bisa mainin piano untuk mengiringi Joshua nyanyi atau untuk nyanyi bersama keluarga saja udah cukuplah hehehehe.

Review: Kumon Thai

Catatan: Tulisan ini merupakan review mengenai belajar membaca dan menulis bahasa Thai di Kumon Thailand, saya tidak dibayar untuk tulisan ini.

Sejak Homeschool, Jonathan saya ikutkan kelas Kumon Thai sebagai bagian dari belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Awalnya saya tahu Kumon itu untuk Matematika dan Bahasa Inggris saja, eh ternyata ada juga untuk pelajaran bahasa Thai.

Setelah ikutan tes, Jonathan mulai dari level paling awal Word Building Block (7A) dan sekarang sudah sampai level Sentence Building Block (B I) dalam waktu 2 tahun. Lama? ya nggak juga, karena setiap level itu diulang sampai anaknya bisa lulus testnya untuk naik level. Jadi dipastikan anaknya memang sudah mampu untuk naik level.

Belajar bahasa Thai dengan metode Kumon ini lebih cocok untuk Jonathan dibandingkan ikut kelas kursus grup ataupun privat. Kelas Kumon Thai ini menjadi bagian dari homeschool kami, nilainya juga bisa diperoleh setiap kali dia ada ujian kenaikan level.

Cara belajar di Kumon Thai mulai dari awal yang kami jalani ini sebagai berikut:

  • pertama anak akan di nilai level bahasa Thai nya sampai mana. Karena waktu itu Jonathan sempat sekolah di sekolah yang full berbahasa Inggris, kemampuan bahasa Thai Jonathan yang pernah ada waktu kecil menghilang. Jadi dia harus mulai dari awal lagi (level 7A)
  • anak akan diminta untuk mengerjakan lembar kerja setiap harinya (5 hari seminggu) dan 2 hari seminggu mengerjakannya di kumon center.
  • pekerjaan anak harus dikerjakan tidak lebih dari 30 menit dan anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri.
  • lembar kerja yang diberikan sekitar 10 lembar (2 sisi per lembar), jika waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dinilai lebih dari 30 menit, maka pemberian lembar kerja bisa dikurangi per hari nya.
  • lembar kerja yang sudah dikerjakan akan dikoreksi oleh instruktur kumon di kumon center, kalau ada yang salah, anak diminta untuk memperbaiki sampai tidak ada yang salah.
  • tidak ada hari libur dalam mengerjakan lembar kerja, hal ini untuk membangun kebiasaan rutin setiap harinya, lagipula mengerjakan kumonnya tidak memakan waktu lama.
  • instruktur kumon merupakan orang yang sudah mendapat pelatihan khusus, mereka membantu anak dengan memberikan petunjuk dan bukan memberikan jawabannya langsung.
  • dalam 1 level, akan ada pengulangan set lembar kerja beberapa kali sampai anak dinilai bisa lulus untuk test naik ke level berikutnya.
  • lamanya anak berada dalam 1 level tergantung dari masing-masing anak, dan bukan dari ukuran berapa bulan. Ketika anak lulus test naik level, akan ada laporan berapa kali lembar kerja level tersebut diulangi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk anak itu menjalani level tersebut.
Level kumon Thai mulai dari bawah ke atas

Metode Kumon ini cocok untuk Homeschool karena:

  • Mulai dari yang paling mudah dan tingkat kesulitannya meningkat sesuai dengan kemampuan anak, jadi anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri (self study)
  • Anak terbiasa dengan rutin harian mengerjakan kumon, kalaupun hari libur, anak tetap diberikan lembaran kerja untuk dikerjakan.
  • Umumnya dengan kebiasan berlatih sedikit setiap hari, anak akan lebih maju daripada level yang dipelajari di sekolah.
  • Ketika di kumon center, anak belajarnya bukan dalam setting kelas besar, tapi gurunya mengajar tiap anak 1 demi 1. Setiap anak diajar secara khusus sesuai dengan tingkatannya, dengan begini anak tidak perlu merasa ketinggalan dari teman-temannya. Kalau ada bagian yang tidak dimengerti bisa ditanyakan langsung.
  • Materi diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak, tidak ada anak yang harus stress karena tidak mengerti ketika mengerjakan.
  • Waktu pengerjaan lembar kerja yang dibatasi tidak lebih 30 menit, untuk menghindari anak merasa bosan mengerjakan lembar kerjanya.

Bagaimana dengan kumon matematika dan bahasa Inggris? nah ini saya ga bisa banyak kasih opini, karena Jonathan tidak kami daftarkan untuk 2 pelajaran tersebut. Kemampuan matematika dan bahasa Inggris Jonathan saat ini lebih dari cukup, jadi kami tidak merasa perlu untuk menambah pekerjaan sekolahnya.

Dari cerita salah seorang teman kami yang anaknya ikut kumon Math. Anaknya yang awalnya ketinggalan dalam pelajaran Matematika, sekarang ini sudah melebihi kemampuan pelajaran Math di sekolah. Efeknya ya tentunya anak jadi gak takut buat belajar matematika. Anaknya juga setiap hari mengerjakan kumon tanpa disuruh oleh orangtuanya di rumah.

Dulunya, saya juga agak meragukan metode Kumon, tapi ternyata keraguan saya karena saya gak kenal Kumon. Sayangnya di tempat Jonathan ikut Kumon, kelas Kumon ini khususnya untuk anak sekolah, bukan seperti tempat kursus bahasa Thai, jadi saya gak bisa merekomendasikan misalnya ada orang dewasa ingin belajar baca tulis Thai dengan metode Kumon ini hehehe.

Manfaat Ikut Komunitas Spesifik

Dahulu kala (duh kayak mau nulis dongeng) saya mengikuti banyak sekali miling list alumni. Mulai alumni SMA, alumni Kuliah, alumni angkatan dan grup-grup besar lainnya. Bergabung di komunitas online dengan terlalu banyak orang ternyata tidak cocok untuk saya. Bukan saya gak suka bergabung dalam sebuah komunitas, tapi sekarang ini saya menyadari kalau saya lebih suka gabung dengan komunitas yang spesifik.

Sekarang ini, komunitas online yang saya ikutin di Facebook grup ataupuan WhatsApp Grup lebih sedikit dan lebih terarah topiknya, antara lain: komunitas merajut, komunitas menulis, komunitas homeschooling dengan kurikulum yang sama dan juga ga ketinggalan komunitas penggemar kdrama hahaha. Oh ya saya bergabung juga di komunitas orang Indonesia di Chiang Mai karena jumlah kami hanya sedikit di sini dan tentunya supaya gampang kalau ada yang butuh info seputar Chiang Mai.

Lebih Fokus

Kalau jumlah anggotanya terlalu banyak dan tidak ada topik khusus, saya tidak bisa mengikuti setiap percakapan yang ada dan topiknya terlalu kemana-mana, sedangkan kalau komunitas dengan topik tertentu, biasanya pembahasannya gak akan terlalu jauh meluas dan melebar, walaupun kadang-kadang dalam grup menulis bisa jadi pembahasannya resep soto atau topik kdrama hahaha. Tapi sebenarnya topik tersebut masih berhubungan dengan dunia menulis, karena biasanya pencetusnya ada yang menulis soal resep, dan jadilah membahas gimana menulis resep yang menarik dan mudah dibaca. Bisa juga kalau ada yang menulis review soal film, jadilah yang lain merespon misalnya gimana menulis review yang menarik tanpa spoiler.

Lebih Produktif

Manfaat yang paling terasa bergabung dengan komunitas menulis sekarang ini saya bisa menulis setiap hari. Kadang-kadang ada rasa kehabisan topik karena tidak menemukan hal menarik untuk ditulis, tapi dengan obrolan yang ada di grup, biasanya jadi tetap bersemangat menggali ide-ide yang ada dan mengusahakan untuk tetap berlatih menulis setiap harinya.

Komunitas homeschooling juga memberikan perasaan senasib kalau membaca ada orangtua yang berkeluh kesah misalnya anaknya hari itu agak banyak melamun. Ada kalanya juga komunitas homeschooling memberikan ide bagaimana mengajarkan suatu topik tertentu yang sepertinya sulit untuk dimengerti. Ketika melihat anak-anak homeschool sukses menyelesaikan sampai jenjang sekolah menengah dan melanjutkan ke perguruan tinggi dengan beasiswa, disitu perasaan lelah menghomeschool tergantikan menjadi perasaan optimis.

Komunitas merajut lain lagi ceritanya, saya bergabung dengan komunitas lokal yang bertemu sekali seminggu. Nah minggu lalu akhirnya saya bisa datang ke pertemuannya, setelah sekian lama menunda memulai saya jadi lebih bersemangat dan memulai untuk merajut lagi. Rencananya saya akan tetap datang setiap minggu supaya semangatnya gak hilang lagi hehehe.

Belajar hal-hal baru

Dalam komunitas menulis yang saya ikuti, ada banyak alasan kenapa teman-teman saya itu menulis. Dari berbagai alasan, tentunya ada yang sudah lebih lama berkutat di dunia menulis dan ada yang angin-anginan seperti saya. Dari komunitas menulis ini saya mendapatkan banyak hal baru seputar dunia menulis. Mulai dari terminologi, tips praktis dan juga informasi kalau mau ikutan lomba menulis (walau yang ini belum kepikiran untuk ikutan).

Di komunitas homeschool, saya juga banyak belajar dari orang yang sudah lebih dulu menghomeschool anak-anaknya. Belajar mulai cara memilih kurikulum, merencanakan jadwal belajar, bagaimana nantinya mempersiapkan laporan nilai. Di komunitas homeschool yang saya ikuti, tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Kalau misalnya ada orangtua yang bingung kenapa pertanyaan jawabannya A dan tidak mengerti membaca penjelasan di kunci jawaban, anggota yang lain siap memberikan masukan dan bahkan link ke youtube kalau ada.

Di komunitas merajut, saya yang sudah lama gak baca-baca soal merajut juga jadi kembali diingatkan dengan berbagai terminologi merajut. Kadang-kadang bahkan jadi tau ada teknik spesifik yang saya belum pernah ketahui sebelumnya.

Bertukar Informasi Spesifik

Untuk hal ini sih setiap komunitas pastinya ada pertukaran informasi. Tapi dengan komunitas spesifik, tentunya informasinya lebih menarik untuk kita dibanding dengan informasi umum yang bisa di baca di situs berita. Kita bergabung ke komunitas spesifik karena kita menaruh minat terhadap topik spesifik tersebut otomatis informasi yang ada akan lebih menarik untuk kita.

Bebas Politik dan Flame War

Nah ini yang paling penting. Dulu sering kali dalam komunitas besar, ada saja yang suka mengirimkan berita politik ataupun memulai penghinaan (flame war) yang akhirnya bikin ribut. Hal ini gak pernah terjadi dalam komunitas spesifik. Setidaknya tidak terjadi dalam komunitas yang saya ikuti. Ada aturan tertulis ataupun tidak, biasanya anggota komunitas spesifik tidak suka memposting hanya untuk memancing keributan. Semua anggota fokus dengan topik yang diminati bersama.

Sekarang ini saya ikut komunitas kalau berasa manfaatnya saja. Kalau komunitas tidak ada manfaatnya dan hanya bikin rusuh, rasanya gak ada waktu buat membacanya. Kalau komunitas kdrama apa dong manfaatnya? ya itu sih buat tukar cerita aja kalau udah sama-sama nonton bahas bagus dan kurangnya apa, kalau belum nonton biar tau bagus tidaknya buat ditonton hehehe.

Review App: Code-a-pillar

Tulisan ini membahas aplikasi gratis Code-a-pillar yang tersedia gratis untuk Android dan iOS. Catatan: tulisan ini opini pribadi, dan saya tidak dibayar untuk menuliskannya.

Selain main Tangram, sekarang ini Joshua suka main game Code-a-pillar dari Fisher Price. Namanya seperti itu karena aplikasinya bertujuan mengajarkan pemrograman sederhana (coding) dengan memberikan instruksi lurus, belok kanan atau belok kiri ke seekor ulat bulu (caterpillar).

Instruksi cara bermainnya diucapkan oleh ulat bulunya, Joshua bisa dengan mudah mengikutinya. Dalam waktu singkat, Joshua boisa menyelesaikan 13 level yang diberikan di dalam aplikasinya, tapi ya dia tetap senang berlatih untuk mengulangi lagi dari awal.

Joshua sudah selesai 13 level

Sekarang ini Joshua mengerti benar mana itu right (kanan) dan left (kiri) walaupun orientasi ulatnya dari berbagai arah. Kalau lurus tentunya dari dulu juga sudah tau hehehe. Selain belajar problem solving/coding, aplikasi ini juga mengajarkan untuk berhitung dan mengenali warna.

video 13 level app Code a pillar

Waktu saya mencari tahu mengenai aplikasi ini, ternyata aplikasi ini merupakan pendamping dari mainan fisik ulat bulu untuk seri belajar: Think & Learn Code-a-pillar. Mainannya terlihat lucu, karena bisa dibongkar pasang untuk menyusun instruksinya. Lalu setelah disusun, tinggal dijalankan untuk melihat hasil dari urutan instruksi yang diberikan. Untuk melihat mainannya bisa dilihat di video berikut:

sumber: https://youtu.be/iYEKD1Befg8

Dan melihat lucunya mainan ini, kami memutuskan untuk memesan mainan ini (yang pengen bapaknya kayaknya, anaknya aja gak tau ada mainannya hahahah). Sebenarnya sekalian juga buat hadiah ulang tahun Joshua yang sebentar lagi 4 tahun, siapa tahu nanti besarnya bisa jadi programmer handal kayak bapaknya hahahha. Mudah-mudahan mainannya sampai pada waktunya dan gak mengecewakan.

App nya sebenarnya sangat sederhana, tapi dengan adanya mainan fisiknya nantinya diharapkan bisa lebih banyak lagi eksplorasi yang dilakukan untuk mengarahkan caterpillarnya, dan sebenarnya code a pillar ini seperti versi lebih awal dari bahasa pemrograman Logo seperti yang ada di buku Secret Coders.

Sosialisasi Keluarga Homeschooling

Sore ini, kami mencoba hal baru untuk sosialisasi Jonathan dan Joshua. Jonathan hampir 9 tahun, tentunya lebih pengen untuk bermain dengan anak seusianya daripada main dengan adiknya yang baru mau 4 tahun. Jonathan pengen nonton Detektif Pikachu, Joshua belum bisa gak berisik di dalam bioskop, jadilah Jonathan pergi sama papanya nonton bareng teman Jonathan dan papanya juga.

Sebelum nonton, Jonathan sempat makan dan main dulu di mall sama temannya. Mereka main pakai koin tapi bisa lama banget karena menang terus. Lumayan cuma 10 baht bisa main lama hehehe, tapi ternyata akhirnya kalau kelamaan dibatasi juga waktunya. Mungkin udah sering kali ya orang main kelamaan gak habis-habis kalau tidak dibatasi waktunya.

Tadinya saya akan berdua saja dengan Joshua di rumah, eh ternyata ada teman yang punya anak usia 4 tahun dan 1,5 tahun yang mau main ke rumah, jadilah kebetulan yang pas banget. Joshua main dengan anak seumurnya juga di rumah. Mainan semua yang ada di rumah dibiarin aja berantakan biar puas hahaha. Mamanya sibuk ngobrol dan mikirin mesan makanan.

Karena Jonathan dan papanya makan di mall, saya gak masak lagi sorenya. Temen saya ngajakin pesen makanan dari restoran Indonesia yang baru buka di Chiang Mai. Sebenarnya harusnya kami bisa aja pergi makan ke restoran, tapi karena menu makanannya kayaknya belum tentu ada yang cocok untuk anak-anak dan juga lokasinya rasa susah parkir, kami memutuskan untuk mencoba pesan makanan delivery saja. Anak-anak dibikin nasi goreng dan telur dadar saja hahaha.

Ada 3 jasa layanan antar makanan di Chiang Mai. Meals on Wheels, Food Panda dan Grab Food. Periksa menu di Meals on Wheels, harga menunya lebih mahal 15 – 20 baht dari harga restoran. Ongkos kirim ke rumah 110 baht. Ini sih mahal banget. Tadinya udah mau berangkat aja ke sana belinya, atau gak jadi pesan di sana. Terus cek di Food Panda, ternyata karena mereka kerjasamanya baru banget, menunya belum ada. Grab Food belum ada kerjasama dengan restorannya. Akhirnya coba telpon langsung ke restorannya. Untungnya restorannya bersedia menerima pesanan lewat telepon dan dibayar via bank transfer. Tapi kami yang harus mikirin deliverynya.

Saya baru tau sekarang ada jasa Grab Express di Chiang Mai. Grab Express ini mengantarkan barang apa saja dengan motor, ongkosnya juga relatif murah, dari restoran itu ke rumah cuma sekitar 56 baht. Jadilah kami berhasil memesan makanan tanpa biaya ekstra per porsinya dan juga biaya delivery yang lebih murah. Jadi teringat dengan isi buku soal berhemat yang baru dibaca beberapa hari lalu, walaupun pesan makanan itu bukan langkah berhemat, tapi sesekali bolehlah ya memanjakan diri dengan pesan makanan dari restoran dan memikirkan mendatangkannya tanpa biaya yang terlalu mahal.

Senang rasanya bisa menikmati makanan Indonesia di rumah, gak kena macet, gak repot cari parkir, gak repot ngurusin anak di restoran, biayanya juga ga sampe berlipat ganda hehehe. Jadi juga deh malam ini makan nasi lemak, nasi kuning, rendang, kerupuk udang, sate ayam, daaaan yang gak kalah penting: sambelnya dooong!. Ada 2 jenis sambal yang dikirim, sambal terasi dan sambal bawang. Aduh itu sambalnya masih nyisa, besok tinggal goreng tempe atau masak bakwan deh buat dicocol ke sambalnya.

Kata siapa anak homeschool gak punya teman? Ini sih bukan cuma anaknya yang bersosialisasi, tapi emak dan bapaknya juga kok. Memang untuk anak homeschool, sosialiasi itu akhirnya lebih ke sosialiasi keluarga bukan cuma sosialisasi anak-anaknya doang. Oh ya, teman Joshua bukan anak homeschool sih, tapi ya mereka datang main ke rumah kan jadi temen buat Joshua hehehe.

Review App iPusnas

Saya baru tahu ada aplikasi perpustakaan digital punya perpustakaan nasional Indonesia yang bisa diakses melalui aplikasi iPusnas. Waktu ke Perpustakaan Nasional akhir tahun 2018, saya gak melihat ada informasi soal ini (dan mungkin saya aja gak perhatian), padahal kalau melihat dari website dan facebooknya, aplikasi ini sudah ada sejak Agustus 2016. Kalau kata Joe, dia pernah tau soal aplikasi iPusnas ini, tapi koleksi bukunya belum banyak dan tidak ada yang menarik, jadilah kami melupakan aplikasi ini.

Beberapa waktu lalu, dari obrolan di grup KLIP, saya jadi tertarik mencoba aplikasi ini. Saya langsung mendownload dan menginstal di HP Android saya. Ternyata sekarang buku-bukunya sudah ada banyak. Berikut ini opini saya setelah beberapa hari menggunakan aplikasi iPusnas.

Instalasi dan Pendaftaran

Aplikasi ini tersedia untuk handphone Android maupun iOs, ada versi desktop juga untuk Mac dan Windows. Jadi pilihan untuk mengakses perpustakaan cukup banyak. Instalasi di desktop Mac akan meminta kita mengatur security nya sedikit, tapi setelah itu tidak ada masalah.

Pendaftaran bisa menggunakan facebook atau alamat email. Saya sudah mencoba mendaftar dengan Facebook, dan Joe mencoba mendaftarkan dengan e-mail. Setelah pendaftaran, kita diminta lagi memasukkan kata sandi terpisah untuk aplikasi ini. Pendaftarannya sangat mudah, dalam waktu 5 menit saya sudah bisa melihat ada buku apa saja dalam koleksinya.

Peminjaman dan Pengembalian

Karena sedang kepikiran mencari buku-buku SD berbahasa Indonesia untuk Jonathan, saya mencoba untuk melakukan pencarian dengan kata kunci SD. Hasil pencariannya cukup banyak buku yang bisa bermanfaat untuk homeschool kami.

Selain meminjam buku untuk SD, saya iseng juga mencari tahu apakah ada buku belajar bahasa Thai dan bahasa Korea di koleksinya. Hasilnya ternyata ada beberapa buku Thai dan Korea. Ah andai saja buku belajar bahasa Thai ini ada 12 tahun yang lalu sebelum kami ke sini hehehe.

Aplikasi ini hanya mengijinkan kita meminjam maksimum 3 buku, dan lamanya peminjaman tiap buku itu sekitar 3 hari. Kalau kita tidak kembalikan secara manual, akan ada pemberitahuan kalau bukunya sudah habis masa peminjamanya. Kita harus menghapusnya atau ya pinjam lagi kalau masih ingin baca lagi dan masih tersedia koleksi yang bisa dipinjam. Nah kalau kita sudah selesai sebelum waktu 3 hari atau ingin meminjam buku yang lain gimana? ya kita bisa kembalikan dulu salah satu buku yang tidak ingin kita baca dan pinjam buku yang ingin kita baca.

Awalnya saya tidak menemukan bagaimana cara mengembalikan bukunya, ternyata caranya adalah: dari rak buku/bookshelf kita bisa melihat di dekat info ada titik tiga di sebelah kanan buku, nah klik di situ akan ada menu share, rekomendasi dan return. Untuk mengembalikan tentunya klik return/kembalikan. Oh ya menunya mengikuti setting handset kita, karena setting di HP saya bahasa Inggris, menunya menggunakan bahasa Inggris, kalau setting HP nya bahasa Indonesia, tentunya menunya semua dalam bahasa Indonesia.

Untuk di ipad, menu return ini tidak kelihatan. Kita bisa delete/hapus, dan tindakan menghapus buku ini sama dengan mengembalikan buku yang kita pinjam.

Tampilan Buku

Setelah sukses meminjam buku, tentunya berikutnya membaca bukunya. Awalnya saya semangat 45 untuk membacanya, tapi ternyata tampilan di HP sangat kecil dan mata saya gak kuat. Tampilannya seperti menampilkan bentuk pdf nya saja yang tidak bisa diubah ukuran besar kecil hurufnya.

Begini contoh yang terlihat di layar HP, kalau mau lebih jelas membacanya, maka saya harus memperbesar tampilan dan menggeser secara manual sambil membaca, dan tentunya sangat tidak nyaman. Idealnya membaca bukunya menggunakan tablet/ipad atau di layar komputer. Padahal harapannya bisa membaca sambil nungguin anak les pakai HP hehehe. Tapi sekarang ini untung ada tablet yang bisa dipinjam kalau lagi mau baca.

Opini setelah memakai aplikasi beberapa hari

Kelebihannya:

  • Saya senang menemukan sumber untuk membaca buku-buku bahasa Indonesia yang bisa diakses dari luar Indonesia secara gratis.
  • Koleksinya cukup lengkap, ada banyak novel berbahasa Indonesia dan buku anak-anak selain buku pelajaran dan juga buku terjemahan yang dijual di Indonesia.

Kekurangannya:

  • waktu peminjamannya kurang lama hehehehe, dan cuma boleh pinjam 3 itu terlalu sedikit (banyak maunya yah)
  • tidak ada cara memasukkan buku ke wishlist atau daftar favorit. Karena cuma boleh pinjam 3, kadang-kadang perlu tempat untuk menyimpan daftar buku yang ingin dipinjam setelah 3 buku yang dipinjam selesai dibaca.
  • Saat ini hanya bisa memasukkan ke wishlist kalau buku tidak tersedia dan kita masukkan dalam antrian ingin meminjam saja. Oh ya, setiap judul buku ada batasan jumlah yang bisa dipinjam, jadi misalnya buku itu ada 5 stok, kalau sudah ada 5 orang yang meminjam maka kita harus antri menunggu giliran untuk bisa meminjamnya ketika ada yang mengembalikan.
  • Kalau bentuk e-book readernya seperti aplikasi kindle yang bisa mengubah ukuran hurufnya, pasti lebih betah bacanya di HP.
  • Aplikasinya sering crash dan prosesnya sering terasa lambat terutama waktu meminjam dan mendownload buku ke rak buku (padahal internet di sini kencang loh, gimana lagi kalau yang akses internetnya lambat), mudah-mudahan aplikasinya masih terus menerus diperbaiki.

Walaupun masih ada rasa tidak puas memakainya, ya saya tetap bersyukur ada aplikasi ipusnas ini. Sekarang jadi harus lebih rajin lagi membaca buku, dan bisa mulai mengajarkan Jonathan juga membaca buku bahasa Indonesia.

Sedikit tambahan usulan buat iPusnas, mungkin bisa ada menu membeli buku digitalnya, jadi bisa baca bukunya lebih lama dari 3 hari. Sekalian juga membantu buat penulis promosi bukunya.