Cerita Homeschooling Kami

Salah satu manfaat dari homeshooling yang kami rasakan adalah, anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Seperti sekolah biasa, saya menetapkan jam sekolah setiap harinya dan ada jadwal mingguan. Jam sekolah kami setiap hari selesai sarapan lalu mandi, sekolah dimulai sampai jam 12 siang. Kalaupun belum selesai, bisa dilanjutkan sampai jam 1.30 lalu tidur siang. Dalam prakteknya, ada hari-hari di mana bangun kesiangan lalu tidak bisa menyelesaikan target harian sebelum makan siang. Saya juga menetapkan jadwal hari libur, tapi ya hari libur inipun bisa digeser kalau memang ada keperluannya.

Chiang Mai sekarang ini sedang dingin terutama di pagi hari. Sore hari udaranya cukup enak, matahari bersinar tapi suhu udara tidak terlalu panas. Cuaca yang sangat bagus untuk lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah. Biasanya, kalau memang ada janji main bareng temen di playground, jadwal belajar bisa digeser ke sore dan malam hari, atau ya diliburkan saja hari itu.

Anak-anak lebih suka belajar tanpa meja

Jonathan biasanya saya suruh mengerjakan pekerjaanya di meja makan (yang tentunya sudah dibersihkan selesai sarapan). Dulunya saya siapkan meja belajar di ruang terpisah, tapi karena Joshua juga sering pengen ikut-ikutan sama Jonathan, meja makan menjadi solusi karena lebih besar dan bisa duduk sama-sama. Tapi kadang-kadang mereka juga lebih senang menulis sambil tiduran, atau menulis di atas sofa. Karena Joshua sebenarya belum mulai kegiatan sekolah formal, saya bebaskan saja Joshua menulis di mana dia mau, tapi belakangan Jonathan juga ikutan maunya nulis bukan di meja yang disarankan.

Hari ini, suhu udara di pagi hari berkisar 17 – 19 derajat Celcius. Bangun pagi merupakan tantangan tersendiri hahaha. Udara yang dingin juga membuat daya tahan tubuh menurun. Enaknya ya bangun jangan pagi-pagi banget. Hari ini, Jonathan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sekolahnya sesuai jadwal. Karena tidur siang lebih penting, pekerjaan sekolah dilanjutkan setelah bangun tidur.

Sebelum melanjutkan pelajaran, anak-anak main di trampolin dan perosotan dulu. Setelah puas bermain, saya ambil meja untuk Jonathan mengerjakan pekerjaanya di luar rumah. Joshua ga mau kalah, dia juga mau ikut-ikutan belajar menulis.

Joshua gak butuh meja untuk menulis, dia lebih suka tiduran di lantai. Saking asiknya menulis, dia bergeser dari arah perosotan sampai arah trampolin. Jonathan bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya lebih cepat dari biasanya walau di luar banyak gangguan. Mungkin besok-besok bisa di coba untuk lebih sering belajar di luar seperti ini hehehe.

Kalau di kirim ke sekolah, mungkin kesempatan untuk belajar di luar seperti ini tidak banyak, dan ada kecenderungan anaknya bakal main doang dan ga mau disuruh ngerjain pelajarannya. Kalau berdua doang begini, tadi bisa main cukup lama tapi tidak lama banget, dan waktu saya suruh menyelesaikan pekerjaan sekolah yang ditinggal tidur siang, Jonathan langsung mengerjakan tanpa tawar menawar karena sudah puas bermain.

Kegiatan Homeschooling kami sekarang ini sudah berjalan dengan speed seperti biasa. Kalau semester lalu kami mengikuti co-op di hari Senin, semester ini kami mengikuti kegiatan group homeschool yang diadakan setiap hari Selasa. Bedanya, semester ini group homeschoolnya ada gurunya, jadi saya bisa meninggalkan anak-anak di sana dan harapannya saya jadi bisa punya me-time.

Hari Selasa lalu, Joshua masih nangis-nangis waktu saya tinggal walaupun ada Jonathan juga di sana. Tapi ya akhirnya dia diam juga walaupun belum mau mengikuti kegiatan yang dilakukan bersama. Sebenarnya, memang Joshua belum perlu diberikan kegiatan belajar terstruktur, karena dia itu super rajin belajar sendiri hehehe. Saya mengirim dia ke grup homeschool supaya dia punya teman bermain dan mengasah kemampuan sosialnya. Besok hari Selasa lagi, semoga saja Joshua sudah lebih enjoy dan gak nangis-nangis waktu saya tinggalkan.

Kalau cuaca lagi bagus seperti sekarang, dan anak-anak akur bermain dan gak susah waktu di suruh mengerjakan pekerjaan sekolah, rasanya kegiatan homeschool terasa jauh lebih menyenangkan. Semoga saja ada lebih banyak hari-hari seperti ini daripada hari-hari di mana anak sulit konsentrasi dan saya harus bawel baru kerjaan selesai hehehehe.

Pilot Frixion Ballpoint dan Marker

Pilot Frixion ini merupakan jenis pulpen dan marker yang bisa dihapus. Awalnya tahu jenis pulpen ini waktu membeli Elfin Book (buku yang bisa dilap pakai lap basah berkali-kali). Setelah sekian lama, akhirnya menemukan kalau bisa beli ballpoint dan markernya di Lazada Thailand. Ada juga pilihan kalau mau membeli isinya saja.

ballpoint dan markers Pilot Frixion

Bedanya pulpen yang dibeli sekarang dengan yang sudah pernah dibeli sebelumnya hanya soal tutupnya saja. Kalau sebelumnya ketika memakai pulpen sering sekali mencari-cari tutupnya di mana, nah karena yang ini ballpoint yang sistem click, jadi tidak ada tutup yang hilang. Untuk menghapusnya juga bisa langsung gunakan bagian belakang pulpen, atau ya kalau ditulisnya di ElfinBook bisa langsung dilap basah seperti biasa.

Pilot Frixion Marker dan Ballpoint

Untuk markernya, tutupnya masih model di lepas seperti sebelumnya. Tujuan dibeli marker, supaya nulis di Elfin Book bisa lebih banyak pilihan warna. Selain itu tujuan utamanya tentu saja untuk dipakai Joshua. Selama ini, setiap kali Joshua dikasih buku baru, dia akan mengisi 1 halaman dengan 1 huruf besar dan 1 huruf kecil, dilengkapi dengan gambarnya dan dia mulai mewarnai juga. Dalam waktu singkat, seluruh halaman sudah diisi.

Rencananya dengan memberikan ElfinBook plus marker, kalaupun bukunya penuh, nantinya bisa dengan mudah dihapus saja. Sebelumnya dicobakan memakai pulpennya, tapi karena cara memegang pulpen belum benar, Joshua selalu susah untuk menulis dengan pulpen Pilot Frixion. Dengan dibelinya marker ini, Joshua jadi lebih mudah menulis di Elfin Book. Dengan menulis di buku yang bisa dihapus, tentunya gak buang-buang buku lagi kan. Ujung-ujungnya hemat di kantong juga ramah lingkungan karena ga buang-buang kertas.

Pegang pulpennya belum bisa dikoreksi, jadi lebih mudah menulis pakai marker

Sebenarnya ada banyak warna marker dan juga pulpennya. Tergoda mau beli segala warna, tapi dipikir-pikir lebih baik beli secukupnya. Awalnya mau beli dari aliexpress atau dari situs yang mengirim dari luar Thailand. Tanpa sengaja, ketemu iklan shopee di FB. Karena belum pernah belanja di Shopee, kami mencari dari Lazada Thailand saja. Cuma menunggu beberapa hari, pulpennya sudah sampai di rumah. Kadang-kadang iklan yang muncul di FB ada gunanya juga hehehe.

Mungkin bertanya-tanya berapa harganya? Kemarin ada banyak variasi harga. Tapi yang kami beli untuk marker 6 warna harganya 300 baht, untuk ballpoint 3 warna harganya 285 baht. Ada lagi selain pulpen dan marker, yaitu highlighter, tapi saya gak beli karena ga merasa butuh.

Saya kurang tahu, apakah pemakai pilot Frixion ini aware dengan kemampuan menghilangnya tulisan dengan produk ini apabila kepanasan selain basah. Kalau buat saya, utamanya ya untuk menulis di ElfinBook saja. Kalau misalnya untuk menulis diary, bisa-bisa kalau salah nyimpan bukunya, lalu bukunya kepanasan, daaan kita ga bisa baca lagi pas mau membaca ulang tulisan kita.

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya: jadi pilot Frixion ini cuma berguna kalau mau menulis di buku yang tahan basah? Jawabnya tidak, bisa saja kita pakai untuk dibuku mana saja, asal kita aware kalau bukunya kepanasan ada kemungkinan tulisannya suatu hari akan menghilang. Kalau tujuan kita memang ingin membuat catatan sementara dan justru berkeinginan supaya tulisan itu akan hilang setelah beberapa waktu, penggunaan pulpen ini akan sangat berguna. Setelah kita ingin menghapus isinya, kita bisa biarkan bukunya di mobil kepanasan. Biasanya panasnya mobil itu cukup panas untuk membuat tulisan menggunakan pilot Frixion dari buku biasa menghilang.

Oh ya, kenapa beli pulpen banyak kalau Joshua pakai marker? karena ballpoint merahnya buat saya koreksi kerjaan homeschool Jonathan. Yang biru dan yang hitam buat saya dan Jonathan pakai. Jonathan menulis jurnalnya juga menggunakan pulpen Pilot Frixion.

Awalnya waktu dia mau nulis, dia ga menemukan pinsilnya, jadi saya kasihlah pulpen yang ada di dekat saya yang kebetulan adanya pulpen Pilot Frixion. Nah ternyata karena ujung pulpennya cukup kecil, tulisan Jonathan bisa lumayan rapih, selain itu kalau dia salah menulisnya masih bisa dihapus dan ditulis ulang dengan cukup bersih. Tentunya saya ga boleh lupa untuk memfoto tulisan Jonathan di jurnalnya secara berkala, buat jaga-jaga kalau bukunya tiba-tiba kena panas matahari dan isinya hilang.

Kembali ke Rutinitas

Hari Senin kami mulai hari sekolah di rumah kami setelah liburan hampir 1 bulan di Indonesia. Berbeda dengan kegiatan sekolah biasanya, saya memberi tugas sekolah 1 pelajaran saja pada hari pertama dan 2 pelajaran pada hari ke-2. Rencananya baru minggu depan kami akan melakukan kegiatan homeschool secara penuh.

Kegiatan belajar di luar rumah juga sudah dimulai, tadi Jonathan sudah pergi ke kelas Kumon, tapi rencananya kelas Art baru dimulai minggu depan. Mengembalikan kegiatan ke rutin sebelumya bisa saja langsung semuanya sekaligus seperti halnya kalau belajar di sekolah, tapi saya ingin membangun mood sedikit demi sedikit supaya suasana belajarnya bisa tetap menyenangkan buat Jonathan.

Joshua tracing tulisan Thai

Joshua gak mau kalah, walau ga disuruh dia kembali sibuk dengan menulis di white board, menyanyikan berbagai math fact ataupun alphabet. Dia juga ingin mewarnai dan melatih kemampuan tracing huruf Thai selain huruf biasa. Untuk Joshua, saya tetap belum berikan pelajaran khusus, biasanya saya bebaskan dia mau mengerjakan apa dan malahan saya ajakin main mainannnya daripada belajar terus menerus.

Setelah berlibur lama di Indonesia, Joshua bisa menghitung dalam bahasa Indonesia sampai dengan 30 (tiga puluh), kadang-kadang masih gak mengerti cara Joshua mengenai pola urutan dari angka ataupun bagaimana dia menghapalkan berbagai fakta matematika. Sekarang ini Joshua menghapalkan tabel perkalian sampai perkalian 5 dalam bahasa Inggris dan mulai berusaha untuk mengucapkannya juga dalam bahasa Indonesia.

Ngomong-ngomong, waktu kami tiba di Chiang Mai beberapa hari lalu, udara tidak sedingin musim dingin, malahan cenderung panas. Eh tau-tau hari ini dari pagi udaranya dingin dan hujan. Belakangan ini memang cuaca di Chiang Mai agak aneh, ada hujan di musim dingin dan kadang juga ada hujan di musim panas. Untungnya musim hujan jadinya tidak selalu hujan dan sehari-harinya matahari selalu ada walau di musim hujan.

Kalau udara lagi dingin dan hujan rasanya agak enggan untuk melakukan kegiatan keluar rumah. Mudah-mudahan musim dinginnya kembali normal dalam arti hawa dingin dengan matahari yang cerah sehingga bisa enak jalan-jalan keluar rumah.

Sekarang ini saya harus menuliskan lagi jadwal harian kegiatan sekolah Jonathan yang baru. Ada beberapa hal yang ingin dipindahkan harinya untuk menambahkan kegiatan yang baru. Rasanya setelah terbiasa dengan beberapa hal di hari yang sama, untuk memindahkan kegiatan ke hari lain kadang-kadang gak mudah juga, apalagi kalau kegiatan itu mempengaruhi pengerjaan pelajaran sekolah.

Kadang saya terpikir, jam homeschooling kami yang udah sangat singkat saja masih bikin saya bingung atur jadwal untuk pelajaran di luar rumah seperti art, piano, bahasa Thai dan taekwondo, gimana ya dulu kami mengatur jadwalnya Jonathan waktu masih ke sekolah Senin sampai Jumat dari pagi sampai sore. Gak heran dulu setiap Sabtu dan Minggu, waktu kami tersita untuk mengantar Jonathan ke berbagai kegiatannya. Sekarang ini setiap Sabtu dan Minggu kami bisa berekreasi bersama-sama atau sekedar bermalas-malasan di rumah (family time).

Ternyata, memiliki rutin itu lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk mengatur anak-anak di bandingkan mode liburan yang kegiatannya berbeda setiap harinya. Dengan adanya rutin yang sama, lebih mudah juga menyuruh anak tidur siang (sekalian ikutan tidur siang kalau perlu).

Salah satu kelebihan dari sekolah di rumah yang di rasakan saat ini, ada fleksibilitas untuk mengubah rutin yang ada kalau dibutuhkan, dan kalau misalnya terasa jenuh atau ada kegiatan khusus, jadwal bisa disesuaikan sewaktu-waktu hehehe. Misalnya seperti sekarang ini, lagi ada oppung yang datang ke Chiang Mai, kami bisa saja sewaktu-waktu meliburkan kegiatan sekolah dan menggantikannya di hari lain hehehe. Kalau ke sekolah mana bisa seperti itu.

Kalau anak punya rutin tertentu, otomatis saya juga rutinnya makin jelas. Kalau anak bisa tidur lebih awal, saya juga jadi bisa punya waktu buat menuliskan blog asalkan idenya sudah ada hehehe.

Review Homeschooling Grade 3 Term 1

Mulai besok, saya memutuskan untuk meliburkan kegiatan homeschooling Jonathan. Pelajaran kelas 3 yang sudah dimulai sejak bulan Juli dengan jadwal mengerjakan workbook 4 hari seminggu berhasil menyelesaikan lebih dari target materi yang direncanakan semula. Rencananya term ke-2 akan dimulai setelah kembali dari Indonesia. Liburan panjang dulu kayak sekolah-sekolah juga kan ada liburan panjang hehehe.

Kegiatan homeschool grade 3 ini lebih banyak dikerjakan Jonathan secara mandiri. Kegiatannya masih seperti sebelumnya dimulai jam 9 pagi dan selesai sebelum jam 12 siang. Hari tertentu bisa selesai jam 1.30 karena paginya ada kegiatan les piano 1 jam di luar rumah. Dibandingkan tahun sebelumnya, sekarang ini jadwalnya sudah semakin jelas dan saya juga berusaha mencetak jadwal mingguan untuk Jonathan. Kami masih cukup fleksibel, tapi biasanya saya upayakan kalau tidak terpaksa kami tetap kerjakan semuanya dipagi hari.

Kenapa dipagi hari? biar siang hari bisa istirahat atau main-main atau kalau ada kegiatan luar rumah gak harus mikirin harus segera pulang supaya menyelesaikan pekerjaan sekolah. Kadang kalau terpaksa ya bisa juga diliburkan dadakan hahaha. Dengan kegiatan 4 hari sekolah 1 minggu dan rata-rata 3 jam sehari, rasanya Jonathan punya banyak waktu untuk membaca dan beristirahat. 

Dari target kurikulum yang kami pakai, berikut ini jumlah pelajaran yang sudah selesai:

  • Math 5 buku dari 10 buku
  • Reading 5 buku dari 10 buku
  • Language Arts 5 buku dari 10 buku
  • Bible 3 buku dari 5 buku
  • Science 5 buku dari 10 buku
  • Social Studies 4 buku dari 6 buku

Pelajaran Bible dan Social Studies semester depan bisa lebih cepat selesai. Tapi ada juga beberapa rencana yang tidak berlanjut. Awalnya kami ingin juga melakukan pelajaran ekstra dengan papa di malam hari, pelajaran story of the world dan science in the beginning. Tapi karena papanya lagi banyak kerjaan, dan basically pelajaran dari CLE sudah ada social studies dan science, maka kami putuskan menunda melanjutkan 2 buku itu. Rencananya nanti kalau ada waktu di term ke-2 kami akan lanjutkan pelajaran dengan 2 buku tersebut.

Bagaimana dengan nilai akademiknya? Dari hasil test yang dilakukan setiap pelajaran ke-5, ke-10 dan ke-16 (dalam 1 buku ada 16 pelajaran), rata-rata nilainya masih diatas 90. Walau nilai akademik masih bagus, masalah fokus belajar Jonathan masih kurang bagus. Kadang-kadang saya masih harus selalu mengingatkan dia supaya ga bengong, terutama di hari-hari di mana ada libur kejepit, pasti deh fokusnya bubar jalan lagi.

Tulisan Jonathan masih kurang bagus dibandingkan dengan anak seumurnya. Walau begitu, secara umum tulisannya sudah semakin baik, terutama kalau dia ga buru-buru menuliskannya. Mengikuti instruksi kadang masih suka terlewat, misalnya beberapa problem matematika dia masih skip kerjakan. Pengerjaan latihan speed drill matematika untuk persoalan pengurangan juga masih kurang baik. 

Pelajaran yang paling dia sukai sekarang ini Reading, Bible dan Social Studies karena bisa dikerjakan dengan sangat cepat. Untuk pelajaran math dia bisa mengerti konsep baru dengan cepat. Sejauh ini dia sudah mempelajari tabel perkalian sampai perkalian 12 dan mulai dikenalkan dengan konsep pembagian. 

Pelajaran diluar buku CLE, dia masih ikut kelas piano, taekwondo, kumon bahasa Thai dan kelas menggambar di Global Art. Term 1 ini juga kami mengikuti co-op selama 3 bulan dan dia belajar Beginning Gymnastic, What’s in the Bible dan Fun Science. Pelajaran yang paling dia suka di co-op itu Fun Science, karena setiap kali mereka mengadakan percobaan yang buat dia sangat menarik.

Dipikir-pikir, dengan jadwal homeschooling sekarang ini, Jonathan belajar cukup banyak. Yang kurang itu teman hahaha. Rencananya untuk tahun depan, saya akan masukkan Jonathan ke sebuah program di mana dia bisa bertemu dengan orang yang sama setiap minggunya. 

Kehidupan homeschooling kami juga sekarang ini masih sangat santai. Bangun tidak buru-buru, tidur malam tetap tidak lebih dari jam 10. Siang bisa istirahat. Setiap jumat sore bisa jalan-jalan ke park. Sabtu atau minggu masih bisa ke zoo atau jalan ke tempat lain sama papa. Rencana untuk menambah jadwal berenang belum juga dilaksanakan karena di tempat Jonathan dulu belajar berenang sedang tidak ada guru bahasa Inggrisnya. Saya mencoba mengajar sendiri, tapi dia lebih suka main-main kalau berenang dibandingkan belajar berenang.

Secara berkala kami masih tanyakan ke Jonathan apakah dia mau kembali ke sekolah supaya punya banyak teman (dengan jadwal harus bangun pagi, tidur awal, kemungkinan ada banyak PR). Tapi sejauh ini jawabannya masih sama: mau sekolah di rumah saja. Ah senangnya besok liburan homeschooling, artinya sayanya juga libur mengajar dan ingetin dia kerjain kerjaan sekolahnya hehehee.

Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight

Buku ini salah satu yang saya beli di Big Bad Wolf kemarin. Saya belum pernah membaca tentang seri ini, sekilas dari judulnya sepertinya menarik, Space Taxi. Buku yang saya beli bundle 4 buku jadi 1 seharga 140 baht, tergolong sangat murah mengingat harga buku baru untuk chapter books biasanya sekitar 200-350 baht di toko buku Asiabooks. Judulnya Space Taxi, dibagian belakang bukunya ada klaim menyertakan fakta ilmiah juga. Saya pikir, karena Jonathan cukup suka membaca mengenai hal-hal yang terkait mengenai luar angkasa, buku ini akan menarik minatnya untuk membacanya.  

4 buku jadi 1 seharga 140 baht

Satu hal yang bikin saya suka dengan buku ini adalah: tulisan di dalamnya menggunakan font yang cukup besar. Saya tidak perlu kacamata saya untuk membacanya haha. Di dalamnya juga ada beberapa ilustrasi yang cukup membantu imajinasi untuk menikmati buku ini. Cerita dalam buku ini mengenai seorang anak bernama Archie Morningstar yang berumur 8 tahun 8 bulan 8 hari yang untuk pertama kalinya ikut papanya bekerja di malam hari. Papanya bekerja sebagai supir taxi dan jam kerjanya berbeda dengan jam kerja biasa, jadi ini seperti pengalaman pertamanya juga untuk boleh bergadang di malam hari hahaha.

Lanjutkan membaca “Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight”

DIY Workshop di McDonald’s

Hari ini Jonathan ikutan workshop di Mc Donald’s bareng anak-anak grup homeschooling Thai. Ceritanya beberapa minggu lalu saya kepikiran gimana caranya ya biar Jonathan punya teman berlatih ngobrol Thai, soalnya tetangga rumah kami anaknya sudah agak besar dan jam keluar rumahnya jarang bareng dengan Jonathan. Hasil dari nanya ke temen yang ikutan co-op tapi orang Thai, saya disarankan gabung ke grup homeschooling orang Thai. Tadinya agak ragu-ragu karena sampai sekarang baca bahasa Thai buat saya itu masih sering malasnya daripada memaksakan diri baca. Tapi ya masa sih anak disuruh belajar, sendirinya ga maju-maju belajar baca Thainya. Akhirnya sayapun masuk FB group yang isinya semua pake bahasa Thai.

Gak berapa lama bergabung, saya baca pengumuman mengenai workshop ini. Ada 3 paket harga yang ditawarkan, dan harganya seperti kita beli paket burger untuk di makan sendiri. Saya penasaran, kira-kira workshopnya ngapain aja ya? karena saya lihat anak-anak yang daftar workshop, rata-rata antara 5 dan 6 tahun. Saya pikir, ga mungkin dong mereka diajak goreng-gorengnya di McD.

Hari ini, sekitar jam 11 siang kami sudah tiba di lokasi workshop. Pertama kami harus daftar, memilih paket mana yang ingin dikerjakan dan bayar di tempat. Sembari menunggu semua yang sudah daftar sebelumnya hadir, anak-anak diberi kertas dan crayon untuk mewarnai. Beberapa anak langsung mewarnai dengan tekun.

Sekitar jam 11.20, anak-anak diminta berbaris berdasarkan ketinggian. Anak-anak dibagi dalam 2 grup, mereka akan diajak untuk tour melihat dapurnya Mc Donald. Sayangnya bagian yang ini saya dan orangtua lainnya ga ikutan, jadi ga tahu persisnya ada apa saja di dapurnya Mc Donald. Setiap kelompok di minta untuk berbaris memegang bahu teman di depannya dan berjanji untuk tidak memegang benda-benda di dapur dan tekun mendengarkan. Salah satu bagian yang saya sempat lihat, di bagian Mc Cafe nya, ada lemari es dan juga mesin untuk susu, minuman pepsi dan lain-lain.

Kalau dari cerita Jonathan, mereka juga masuk ke ruangan freezernya, dan juga dijelaskan mengenai proses menerima proses drive thru. Kataya dijelaskan ada sensor untuk mengetahui ada mobil yang datang memesan. Anak-anak di bawa keluar untuk melihat titik drive thrunya. Bagian ini Jonathan kemungkinan sudah hapal, karena beberapa kali kami mampir beli drive thru walau itu sekedar beli ice cream cone hehehe. Saya juga lihat anak-anak diberi penjelasan mengenai mesin kasirnya. 

Sekitar jam 11.50, anak-anak dimnta kembali duduk dan diberikan video mengenai Mc Donald di Thailand. Sebelum memulai workshop menyusun burger, mereka diberi kuis berdasarkan video yang ditonton dan diberi hadiah bukut tulis kecil apabila menjawab dengan benar. Di luar dugaan saya, walaupun videonya menggunakan audio bahasa Thai, tapi karena ada informasi tertulis dalam bahasa Inggris, Jonathan cukup mengingat beberapa fakta, dan berhasil menjawab pertanyaan pertama mengenai tahun berapa Mc Donald masuk ke Thailand. Saya dan beberapa orang tua lain ga nyimak bagian yang itu, dan Jonathan duluan angkat tangan dan menjawab 1985.

Ada yang unik dengan cara memberi kuis di sini. Anak-anak di minta untuk mendengarkan pertanyaan dan memegang kupingnya selama pertanyaan diajukan. Lalu siapa yang tahu jawabannya dipersilahkan mengangkat tangannya. Mungkin cara ini bukan cara baru, tapi buat saya, hal ini baru dan masuk akal. Dengan memegang kupingnya, kita yakin anak-anak  memasang kuping mendengarkan pertanyaan. 

Setelah beberapa pertanyaan diajukan, akhirya sampai juga ke bagian workshop yang dinanti-nantikan yaitu mempersiapkan burger. Saya jadi baru tau juga bagaimana mereka menyusun burger dan membungkusnya. Pertama sisi atas roti burger adala sisi yang diberikan saus tomat dan saus paprika. Lalu susun sayuran selada dan tomat di atas saus tadi. Bagian daging burger di letakkan di sisi bawah burger, lalu di tangkupkan ke sisi yang sudah ada sayuran dan tomat. Berikutnya untuk melipat bungkusan burger, letakkan burger di tengah dalam keadaan terbalik dan kertas dengan orientasi portait, lalu sisi kertas yg dekat ke kita di lipat ke bagian atas burger. Lalu burger di balikkan sambil melipat kertas. Setelah burger tiak terbalik lagi dan berada di tengah kertas, sisi kanan dan kiri kertas bisa dilipat ke bagian bawah burger.  Dan selesailah sudah mempersiapkan burger dan siap untuk disajikan.

Mungkin karena umur anak-anaknya masih kecil-kecil, mereka tidak diajak untuk mengiris sayur, tomat ataupun memanggang roti dan patty untuk burgernya. Semua hal-hal tersebut sudah dipersiapkan oleh pegawai Mc Donald nya. Dipikir-pikir, hal sederhana begitu saja anak-anak sudah senang ya. Melihat bagaimana dapurnya dan belajar mempersiapkan burger sambil memai celemek dan topi chef. Dan diakhir, tentu saja makan burger yang mereka persiapkan plus french friesnya. Kegiatan workshop diakhiri foto bersama dan pemberian sertifikat.

Selesai workshop, tentunya anak-anak bermain-main di ruangan bermain yang ada di Mc Donald. Jonathan cukup enjoy dengan kegiatan hari ini, pulang ke rumah jam 2 siang dia langsung tidur siang. Senangnya lagi, karena dia bisa dapat beberapa teman baru. Beberapa keluarga homeschool Thai cukup bisa berbahasa Inggris. Saya sih tadi ngobrol pake bahasa Thai, kalau obrolannya ga rumit-rumit amat, saya masih bisalah ngerti mereka ngobrolin apaan hehehe. 

Cukup positif dengan pengalaman bareng homeschoolers Thai hari ini. Kegiatannya menarik, gak mahal, semua happy dan saya senang dapat beberapa teman baru untuk kembali mengasah bahasa Thai saya yang sudah lama ga bertambah vocabularynya. Semoga lain kali ada kegiatan lainnya yang juga cocok untuk Joshua dan mereka bisa berlatih bahasa Thainya juga.

Sensory Play

Di group homeschooling term ini, saya kebagian ngajar kelas sensory play untuk anak umur 3 dan 4 tahun. Sebenarnya ada banyak sekali ide-ide yang bisa di lihat di internet, tapi umumnya ide yang ada itu banyak yang settingnya lebih cocok di rumah, karena habis main akan berantakan sekali. Akhirnya setiap minggunya cari ide yang ga terlalu berantakan dan kira-kira ga terlalu lama mempersiapkannya. 

Sesuai namanya, kelas sensory ini intinya bermain-main yang menstimulasi sensori/panca indra anak. Jadi bisa berupa mainan yang menstimulasi indra peraba (telapak tangan dan kaki), indra pengecap (lidah), indra penglihatan (mata) dan indra penciuman (hidung) dan indra pendengaran (kuping). Kalau mau tahu lebih banyak mengenai stimulasi sensory dan permainan untuk sensory ini bisa di google, hasilnya sebenarnya hal-hal yang sering kita mainkan sehari-hari.

Berikut ini beberapa kegiatan yang kami lakukan. Sejauh ini ada 10 kali pertemuan. Tiap pertemuan berlangsung selama 50 menit. Jumlah murid dalam kelas berkisar antara 5 sampai 8 anak. Untungnya saya dibantu oleh 2 orang tua lainnya, jadi kalau ada anak yang ga tertarik dengan kegiatan yang saya persiapkan, mereka tetap bisa diperhatikan dan gak mengganggu kelas.

Mainan dengan squishy bag. Persiapannya malam sebelumnya tepung dicampur air di kasih warna, terus dimasukkan ke dalam ziploc. Selain tepung berwarna ini di masukkan googly eyes atau beads warna warni. Anak-anak senang disuruh mencari-cari googly eyes atau beads dan juga cukup senang menggeser-geser isi dari ziplocnya yang tentunya sudah diamankan dengan lakban di pinggirannya supaya isinya ga keluar. Sayangnya kelas ini saya ga foto sama sekali. Idenya saya dapat dari wesbsite ini.

Salah satu kesempatan, saya minta anak-anak tracing telapak tangannya. Lalu kami bantu memberikan lem dan mereka bisa menempelkan pom pom untuk menghias tangan masing-masing. Saya instruksinya mereka tracing 1 tangan saja, tapi anak-anak itu ada yang minta untuk ditracing 2 tangan.

tracing tangan lalu dihias pom pom

Salah satu kegiatan yang juga anak-anak senang adalah mencicipi buah. Waktu itu saya bawa buah mangga, pepaya dan pisang yang sudah saya potong-potong dari rumah. Mereka yang biasanya berlari-larian ga selalu mau dengarin saya duduk manis nunggu giliran disuapin buah hahaha. Ada anak yang suka hanya buah tertentu, ada juga yang suka semua buah, tapi sebelum mereka makan, tentunya saya tanya dulu warnanya apa dan baunya bagaimana, baru ditanyakan rasanya apa.

Salah satu sesi kelas, saya ajak anak-anak bikin butterfly dari cetakan tangan. Anak-anak menghias kupu-kupu dengan washi tape. Bagian yang ini gabungan antara sensory peraba dan penglihatan karena washi tapenya ada bermacam patternnya selain mengkilat-kilat.

Mingggu berikutnya saya bawa balon, balonnya saya isi pompom lalu ditiup. Balon lainnya diisi dengan biji kacang hijau, ada juga balon yang saya isi garam. Lalu mereka membanding-bandingkan bunyinya. Di akhir kelas, mereka mainan balon yang saya tiup. Sayangnya karena minggu berikutnya ada salah satu orangtua yang alergi latex, jadilah dilarang bawa balon ke kegiatan homeschooling.

Pernah juga saya bawa bola-bola dari rumah, niatnya bola itu ditempelkan ke kertas contact. Kertas ini seperti stiker besar yang ukurannya sekitar 50 cm x 1 m. Tapi anak-anak ternyata ga suka dengan sensasi yang terlalu sticky. Saya pernah juga coba tempelkan beberapa pompom di atas kertas stiker, lalu anak-ana diminta jalan di atasnya, sebagian besar anak menolak dan menghindari berjalan diatas kertas stiker.

menempelkan bola di kertas stiker

Kelas yang bikin semua aktif berpartisipasi itu bermain playdough, pinginnya setiap minggu kasih main playdough biar ga capek ngajar hahaha. Tapi masalahnya selesai bermain playdough ini effort untuk bershinnya banyak. Apalagi kalau kita ga perhatikan, tau-tau playdoughnya udah nempel ke karpet di sana. Mainnya mereka seru, bersihinnya setelah main ga seru buat gurunya hahaha.

Ada lagi kegiatan yang anak-anak suka, mewarnai dengan cat air. Untuk mencegah potensi berantakan, mewarnainya di dalam ziploc. Idenya print gambarnya, masukkan ke dalam ziploc beserta warna yang ingin dicampurkan. Anak-anak disuruh meratakan catnya sesuai dengan gambarnya. Setelah selesai tunggu kering lalu gunting mengikuti gambar. 

Minggu lalu saya ingat, kami bermain lomba meniup pompom. Jadi awalnya saya ajarkan anak-anak meniup udara dan merasakan tiupannya di tangannya. Lalu kalau sudah bisa, saya ajak mereka meniup pompom ke arah tertentu. Lalu setelah mereka bisa, saya ajak mereka meniup pom pom nya pakai sedotan, dan mereka bisa berlomba siapa yang bisa meniup pom pom paling jauh.

Kelas yang paling menarik perhatian anak-anak itu hari ini, saya ajak anak-anak memasukkan pom pom, biji kacang hijau, biji kacang merah, sedotan, googly eyes,  pipe cleaner, beras dan garam dimasukkan ke dalam botol. Lalu botolnya ditutup dan mereka bisa memutar botolnya dengan pelan untuk mencari googly eyes, atau mencari beads, atau memperhatikan pom pom di dalam botol. Atau mereka bisa juga membuat botol itu seperti alat musik yang kalau di goyangkan mengeluarkan bunyi gemerisik.

botol sensory

Saya ga selalu bisa memoto kegiatan kelas sensory ini, karena ya ga selalu yang direncanakan berhasil sesuai harapan, dan ada juga masalah privasi jadi ga bisa juga upload foto anak-anak lain di kelas yang bukan anak saya. Foto-foto akan saya lengkapi nanti, karena beberapa foto tersebar dalam beberapa bulan ini.