Hello November!

Bulan Oktober kemarin, saya diserang kemalasan menulis blog. Awalnya sih mikir ah besok aja nulisnya, lalu lama-lama jadi keterusan ngebesokin hehehe. Hari ini, di awal bulan November, mari kita mulai dengan semangat baru menulis lagi walaupun mungkin cerita hari ini merupakan pengulangan dari cerita sebelumnya dan isinya sekilas info tentang Chiang Mai di awal November.

Beberapa minggu lalu, saya posting kalau musim dingin diumumkan akan mulai dari 17 Oktober 2019 yang diawali dengan kiriman hujan badai dari negeri tetangga. Nah memang sempat tuh hujan badai, angin kencang menyeramkan sampai beberapa kali pemadaman listrik, tapi musim dinginnya ternyata masih malu-malu datangnya. Untungnya juga hujannya tidak setiap hari seperti yang diperkirakan.

Jadi, di bulan Oktober, setelah beberapa hari dingin karena hujan, sisanya ya masih panas terik menyengat (padahal udah senang duluan musim dinginnya datang lebih awal). Baru hari ini nih terasa perubahan hawa yang signifikan di pagi hari. Tadi pagi, rasanya berat banget untuk bangun dan malah cari-cari selimut. Saya cek berapa derajat sih ini, ternyata memang kisaran 17-18 derajat celcius. Pantesan aja ya rasanya masih enak nyambung tidur.

jam segini 18 derajat, males bangun rasanya

Sebelum menuliskan cerita lebih panjang soal musim dingin di Chiang Mai, saya iseng mencaritahu tahun lalu seperti apa ya kondisinya. Eh ternyata tahun lalu juga mulai dingin di awal November, ini tulisannya bisa dibaca di sini.

Nah untuk lebih meyakinkan lagi, apakah November ini benar-benar akan dingin, atau cuma ‘teaser’ doang dinginnya seperti di bulan Oktober lalu, saya cek juga nih bagaimana kira-kira prakiraan cuaca 10 hari ke depan di Chiang Mai.

wah ada kemungkinan hujan

Biasanya, musim dingin itu bukan karena hujan, tapi kenapa prakiraan tahun ini akan ada hujan ya? Tapi sebenarnya ada baiknya juga hujan turun, jadi udaranya tidak terlalu kering dan tidak banyak debu. Dengan adanya hujan begini juga artinya menunda kemungkinan orang-orang bakar sampah atau sisa panen yang kering yang mengakibatkan musim polusi datang lebih awal. Secara keseluruhan suhu udara di pagi hari lumayan dingin, artinya bisa hemat AC di saat tidur hehehe. Musim dingin begini juga waktu yang tepat untuk jalan-jalan di luar ruangan (semoga hujannya gak banyak-banyak).

Ketika memeriksa prakiraan cuaca begini, saya jadi teringat dulu kalau lagi nonton berita, saya gak pernah memperhatikan bagian orang yang membawakan prakiraan cuaca. Saya pikir mereka cuma mengada-ada dan belum tentu benar, terus juga gerakannya waktu melaporkan terasa aneh. Terus jadi ingat, di beberapa film yang saya tonton, pembawa berita prakiraan cuaca ini suka dianggap reporter kelas belakang oleh pembaca berita utama, dan diceritakan kalau pembawa acara prakiraan cuaca itu cuma dikasih layar hijau dan bukan gambaran sebenarnya. Padahal ya, prakiraan cuaca ini ada ilmunya dan bukan asal-asal kayak ramalan horoskop hehehe.

Saya tidak ingat sejak kapan saya rajin meriksa prakiraan cuaca, mungkin sejak di Chiang Mai. Padahal dulu rasanya ya tiap hari sama saja, mau hujan atau panas terik ya terima aja kedatangan si cuaca. Memang sih kadang-kadang prakiraan ini tidak selalu tepat, tapi sekarang ini terasa berguna untuk tahu misalnya siap-siap payung supaya gak kehujanan atau keluarin selimut tebal supaya ga kedinginan di pagi hari.

Lagi nulis ini, dikirimin foto Sunset sama temen yang tinggal di Condo dengan pemandangan sungai Ping (jadilah sunsetnya terlihat indah ya). Buat yang baca sampai akhir, nih bonus hari ini: sunset di hari pertama November di Chiang Mai.

foto dari @dna12
foto dari @dna12
foto dari @dna12

Kalau kamu gimana, suka melihat prakiraan cuaca gak setiap harinya?

Gempa Di Chiang Mai

Hari ini hampir bolos nulis karena ga ada ide, eh tau-tau ada gempa. Sebenarnya saya ga merasakan, tapi banyak yang bertanya apakah merasakan. Waktu saya cek di internet, ternyata memang ada gempa dengan kekuatan 4.1 SR di Chiang Mai setelah beberapa menit sebelumnnya gempa di Myanmar dan kemarin di Pai yang mana masih daerah yang berdekatan dengan Chiang Mai.

sumber: http://www.earthquake.tmd.go.th/en/local.html

Gempa hari ini bukan yang pertama kalinya yang terasa di Chiang Mai selama kami di sini. Saya ingat awal kami tinggal di Chiang Mai sempat ada beberapa kali gempa kecil, tapi pusatnya dari negara tetangga. Gempanya cukup besar jadi terasa sampai ke Chiang Mai dan kejadiannya siang-siang dan kami ada di kantor. Pas ada goyangan gempa, awalnya mikir apa pusing karena kebanyakan liat layar, terus waktu yakin itu gempa sebelum panik eh gempanya sudah berhenti.

Terus pernah juga tanggal 24 Maret 2011 gempanya malam-malam dan rumah kami waktu itu masih di apartemen lantai 18 dan udah ada Jonathan tapi masih bayi. Gempanya lumayan besar 6.9 SR pusatnya di Myanmar dan agak lama, tanpa mikir panjang Joe gendong Jonathan dan saya menyusul di belakang turun lewat tangga 18 lantai. Sampai bawah, ketemu banyak orang yang juga wajah panik gitu. Tapi untungnya waktu itu gempanya gak lama berhenti. Setelah menenangkan diri dengan sesama penghuni yang panik, akhirnya balik ke unit masing-masing. Kembali ke unit perasaan masih tetap waspada. Oh ya, kenapa bisa ingat tanggalnya? karena waktu itu ditulis di blog Jonathan hehhehe.

Setelah kejadian itu, ada juga beberapa kali merasakan gempa selama tinggal di apartemen, tapi entah kenapa kami sering tidak merasakannya. Terus pernah sekali merasakan sedikit, terus cuma berdoa aja gempanya gak lama dan tetep diam aja di dalam rumah (sambil siap-siap lari kalau gak berhenti juga sih). Untungnya biasanya gempanya berhenti sebelum kami panik hehe.

Nah pernah juga saya ingat pengalaman gempa setelah pindah ke rumah biasa dan bukan di apartemen lagi. Waktu itu Joe di kantor dan saya cuma berdua sama Jonathan (Joshua belum ada). Waktu merasakan gempa, entah kenapa malah panik dan buru-buru gendong Jonathan keluar rumah. Jonathannya malah heran, lagi main kok digendong keluar rumah. Tapi ya abis dikasih tau ada gempa, pertanyaanya tambah panjang apa itu gempa dan malah pengen rasain lagi haahha.

Hari ini, barusan ini saya bersyukur sih gak merasakan gempanya. Soalnya tadi itu udah siap-siap tidur (kamar tidur di lantai 2). Kalau pas merasakan gempanya, kemungkinan besar saya akan panik dan harus turun dan keluar rumah. Joshua udah berat banget, gak mungkin juga digendong turun kan hehehe.

Sekarang ini ada perasaan sedikit kuatir apakah masih akan ada gempa susulan (dan berdoa tidak ada gempa susulan di sekitar sini). Tapi ya namanya alam tidak bisa kita yang mengatur. Jadi daripada cemas kuatir dan jadi gak bisa tidur, mending berdoa sebelum tidur supaya apapun yang terjadi tetap dalam lindunganNya.

Kalau dipikir-pikir, saya lebih suka tidak merasakan gempa ketika gempa terjadi. Perasaan kuatir dibandingkan perasaan panik itu lebih bisa dikendalikan perasaan kuatir. Namanya panik, kadang-kadang bikin kuatirnya lebih berkepanjangan dan berhalusinasi sendiri berasa-rasa goyang padahal gak ada apa-apa. Kalau cuma dikasih tau: eh ada gempa tadi, berasa gak? bisa jawab enteng: nggak berasa (dalam hati berdoa semoga ga ada susulan). Tapi ya bisa lebih tenang.

Kalau pembaca gimana? lebih suka merasakan gempa atau tidak merasakan?

Beli Baju Bekas? Kenapa Tidak

Sebenarnya namanya jual beli baju bekas bukan hal yang baru dan bukan cuma ada di Chiang Mai. Dari jaman dulu di Medan, saya sering dengar tentang MonZa alias Mongonsidi Plaza. Tempat penjualan baju-baju bekas (yang konon didatangkan dari luar negeri) dan berlokasi di jalan Mongonsidi. Lalu di Bandung juga ada namanya CiMol (Cibadak Mall) yang di jual di jalan Cibadak. Tapi dulu, saya belum pernah berkesempatan mendatangi tempat-tempat tersebut. Kabarnya, kalau mau mencari baju-baju winter (misalnya mau berpergian ke negeri bermusim dingin), biasanya berbelanja di penjualan baju bekas itu bisa dapat baju winter bergaya dengan harga sangat miring. Tapi karena pada dasarnya saya tidak hobi belanja dan tidak punya kegigihan buat mencari bahkan di tempat yang jual sale 90 persen sekalipun, jadi saya tidak pernah berniat mengunjugi toko baju bekas tersebut.

Oh ya jadi ingat, kalau di Bandung saya pernahnya ke toko BaBe (Barang Bekas) yang menurut saya beberapa barang bekasnya masih tergolong agak mahal. Tapi ya mereka sepertinya memang menyeleksi barang bekas jualannya. Dulu juga pernah ke sana jaman udah lulus kuliah sih, tapi tetep aja semangat memilihnya gak terlalu tinggi hehehe.

baju-baju begini 1 nya 20 baht
kalau yang ini buat saya, 30 baht saja

Setelah tinggal di Chiang Mai, awalnya saya hanya mengincar kebutuhan bayi dan mainan, jadi saya bergabung dengan grup-grup jual beli barang bekas. Setelah anak-anak besar, saya perhatikan banyak juga ibu-ibu yang menjual baju anaknya yang sudah tidak muat lagi. Bukan cuma baju, semua kebutuhan anak yang masih bagus dan bisa dijual biasanya mereka jual lagi. Tindakan jual beli barang yang sudah tidak dipakai lagi ini sebenarnya ada bagusnya, jadi kita tidak langsung serta merta menambahi sampah di muka bumi ini. Kalau meminjam istilah Marie Kondo, sesuatu yang sudah tidak spark joy lagi buat kita mungkin masih mendatangkan kebahagiaan buat orang lain. Jadi ya, kalau masih ada yang mau beli bisa kita jual dan digunakan untuk membeli kebutuhan berikutnya. Atau kalau ada yang kita tahu butuh, bisa kita berikan juga secara gratis.

Setelah sebelumnya saya memperhatikan fenomena banyakan toko yang menjual barang bekas dari Jepang, sekarang ini saya menemukan ada banyak sekali toko yang menjual baju bekas. Saya kurang tahu baju-baju ini asalnya dari mana, tapi kalau melihat dari jumlahnya yang sangat banyak dan ukurannya yang juga mulai dari anak-anak sampai orang besar, kemungkinan baju-baju tersebut bukan dari dalam Thailand.

Toko baju bekas ini ada berbagai model. Ada yang sudah mereka pilih dan digantung sehingga kita memilihnya cukup mudah. Toko ini sudah membagi-bagi kategori bajunya mulai dari harga 5 baht sampai dengan beberapa ratus baht. Untuk bahan baju dan celana dari jeans yang bermerk biasanya dikategorikan secara khusus dengan harga “khusus” juga. Tapi bisa dipastikan yang harganya sangat murah tidak akan lebih bagus model, warna dan kualitasnya dibandingkan dengan yang mereka kategorikan 60 baht atau bahkan 100 baht. Tempat yang menjual dengan gantungan ini biasanya ada kamar cobanya segala. Toko mereka ada banyak kipas anginnya, tapi biasanya ya tetap saja panas hehehe.

Model tempat penjualan lainnya dikategorikan tapi kita masih harus memilih dari tumpukan. Kategorinya ya baju anak, baju dewasa, celana jeans, bahkan kadang ada baju renang. Nah biasanya tempatnya ini sangat besar dan panas. Mereka juga kadang ada bagian yang sudah digantung, tapi entah kenapa toko model ini sangat berdebu. Tapi kalau kita sabar, kita bisa menemukan baju-baju yang masih bagus dengan harga murah. Mereka biasanya menjual harga per potong 30 – 50 baht, tapi kalau beli 10 potong bisa jadi 100 baht – 300 baht. Diskonnya lumayan ya hahaha.

Ceritanya karena belakangan ini saya mendapatkan teman yang rajin dan gigih memilih, saya jadi sering ikut-ikutan ke toko baju bekas. Hasilnya, setiap kali menemukan baju-baju buat anak-anak dengan harga 10 potongnya 200 baht itu rasanya senang sekali. Kaos sejenis, kalau beli baru, dengan harga sale pun bisa mulai dari 250 baht. Kemarin juga pernah menemukan celana uniqlo dengan harga 60 baht, terasa mahal kalau dibandingkan kaos 20 baht, tapi kalau dibandingkan dengan harga beli celana baru di uniqlo dengan kualitas yang sama seharga 350 baht tentunya 60 baht itu jadi murah dong ya.

kalau beli baru paling murah 250 baht, ini harganya 20 baht saja 1 nya.

Tapi namanya memilih barang bekas ini untung-untungan juga. Berdasarkan pengalaman beberapa kali ke toko baju bekas, berikut ini tips yang bisa saya berikan:

  • perginya bareng temen, lebih baik kalau temannya gak punya selera baju yang persis sama biar ga rebutan hahaha. minimal bisa diskusi dan saling memeriksa apakah bajunya ada cacatnya atau kurang bagus
  • harus punya waktu lebih untuk memilih, kalau cuma punya waktu sedikit biasanya gak akan bisa menemukan yang bagus
  • karena namanya beli barang bekas, teliti sebelum membeli, gak perlu beli banyak-banyak, yang penting yang dibeli itu memang yang masih bagus dan harganya masih masuk akal
  • biasanya saya akan memeriksa deretan harga yang murah dulu dan tidak akan mencari barang yang diatas 100 baht, karena kalau harganya 100 baht-an pasti banyak godaanya dan bisa-bisa jadi kalap borong.
  • kalau perginya barengan teman ke tempat baju yang ada diskon untuk per 10 potong, bayarnya barengan biar dapat potongan harganya hehehe.
  • kalau memang gak menemukan yang cocok, jangan dipaksakan beli, masih banyak toko baju bekas lainnya yang bisa dikunjungi.

Oh ya, saya juga menemukan beberapa toko baju bekas ini juga ternyata ada facebook page nya segala. Mereka rajin sekali mengupdate foto baju yang baru akan dijual keesokan harinya. Jadi bisa juga kita follow aja tuh halaman FB nya, kalau memang keliatan dari foto ada yang menarik, bisa langsung deh kunjungi tokonya. Tapi ada kemungkinan barang-barang bagus yang di foto dan dipajang di FB itu yang masuk ke kategori agak mahal. Namanya juga usaha ya hehehe. Saya kurang tahu berapa menguntungkannya bisnis jualan baju bekas ini, yang jelas belakangan ini saya perhatikan ada semakin banyak tokonya jadi kemungkinan cukup menguntungkan ya.

Toko 20 Baht di Chiang Mai

Baru-baru ini teman saya bercerita kalau dia menemukan toko serba 20 Baht, tokonya 3 lantai dan full AC, tokonya juga menyediakan minuman gratis di lantai 3 buat orang yang mungkin udah capek keliling dan naik tangga. Saya pikir: kok bisa ya mereka menjual benda seharga 20B, sedangkan makanan saja 1 porsi skrg ini paling murah 30 baht.

minuman gratis di lantai 3

Sebelum ke sana, saya langsung menuduh dalam hati: pasti yang dijual barang-barang jelek dan gak berkualitas. Ada yang bilang ada harga itu tidak berbohong. Ada harga ada rupa. Jadi ya, apa yang bisa diharapkan dari benda seharga 20 baht?

Jam dinding 20 baht, lumayanlah berfungsi baik dan lucu

Tapi walaupun saya udah berpikir benda 20 baht itu kurang berkualitas, saya tetap saja penasaran pengen lihat apa saja sih yang dijual sampai 3 lantai? Ternyata saya gak sepenuhnya benar. Ada juga benda-benda 20 baht yang sepertinya cukup masuk akal dibeli di sana daripada beli dengan harga lebih mahal.

Kemarin itu, saya beli sendal jepit untuk Jonathan yang sejauh ini dipakai masih baik-baik saja. Sendal jepit sejenis kalau beli di toko lain pastinya tidak ada yang jual lebih murah dari 20 baht. Selain itu saya beli jam dinding kecil bergambar penguin. Sekilas jam dindingnya plastiknya memang tipis, tapi masih menunjukkan jam dengan benar sampai sekarang. Terakhir beli jam dinding dengan ukuran yang sama itu di toko 60 baht. Pernah juga beli jam dinding dengan harga lebih dari 100 baht, tapi tak lama kemudian jarum jamnya bermasalah dan selalu tiba-tiba jadi terlambat jamnya walaupun baterenya baru diganti.

Selain sendal jepit dan jam dinding, saya juga beli tudung saji plastik, tempat sendok dan juga celengan plastik yang bisa dibuka bawahnya. Sejauh ini, benda-benda tersebut masih baik dan bahan plastiknya juga tidak terlalu jelek. Saya perhatikan kalau di toko lain, untuk barang sejenis mereka akan menjual di atas 40 baht.

Saya perhatikan di toko itu juga di jual berbagai aksesori HP. Nah saya coba lihat 1 dudukan HP untuk mobil, beneran deh barangnya gampang rusak hehehe. Sepertinya untuk kabel charger, earphone, ataupun screen guard dan casing HP, kualitas 20 baht nya tidak bisa diandalkan. Jadi saya pastikan tidak beli di situ.

Toko itu juga menjual gelas keramik, bukan cuma 1 nya 20 baht, tapi beberapa gelas dijualnya 2 seharga 20 baht. Ada beberapa benda lain yang dijualnya juga lebih dari 1 seharga 20 baht.

Jadi toko itu ada apa saja? macam-macam. Ada baju, kacamata hitam, celana pendek, mainan anak-anak dari plastik (sebagian besar kurang bagus kualitasnya), boneka, obeng, peralatan dapur, bahkan kosmetik juga ada. Biasanya kosmetiknya berupa sample yang di dalam sachetan. Tapi ada juga sih lipstik, pensil alis, maskara, bedak compact, shampo, masker muka dengan harga 20 baht itu. Saya tidak tahu kualitas dari kosmetik yang dijual. Beberapa merk yang dijual samplenya cukup pernah dengar, tapi beberapa merk saya belum pernah tau. Yang jelas saya ga beli kosmetik karena selain saya gak makai banyak kosmetik, saya juga gak beranilah membeli yang tidak pernah saya pakai sebelumnya.

Jadi kira-kira menarik gak toko itu untuk dikunjungi? Ya menarik aja, tapi perlu teliti sebelum membeli. Walaupun rasanya 20 baht itu murah, tapi kalau belinya banyak padahal gak butuh ya jadinya mahal. Saya pakai prinsip, kalau gak butuh gak akan beli. Kalau butuhpun biasanya beli kalau memang kualitasnya terlihat cukup bagus. Kalau memang kualitasnya jelek, ya mendingan beli yang lebih mahal dari 20 baht tapi kualitasnya lebih baguslah ya.

Oh ya, ternyata toko 20 baht ini bukan cuma ada di 1 lokasi. Ternyata ada beberapa toko 20 baht di Chiang Mai, tapi yang saya kunjungi baru yang 1 ini saja. Lokasinya juga cukup dekat dengan tempat wisata yang sering jadi tujuan turis datang ke Chiang Mai.

Toko Barang Bekas (dari Jepang) di Chiang Mai

Sejak beberapa tahun lalu, dapat info ada toko barang bekas dari Jepang di Chiang Mai. Tadinya sih mikir, ngapain juga ya mereka beli barang bekas dari Jepang 1 kontainer penuh, terus di jual di Chiang Mai, apa ada yang beli? Terus awalnya iseng-iseng lihat Facebooknya, eh kok banyak mainan ya. Jadilah penasaran dan mendatangi gudang penjualan barang bekas itu.

Awalnya cuma tahu 1 tempat saja, waktu itu ke sana bawa Joshua masih belum 2 tahun, jadi kadang-kadang ke sana sambil gendong. Namanya gudang, tempatnya padahal berdebu dan ya agak panas. Tapi ya begitulah, kan alasannya ke sana mau nyari mainan buat anak juga, jadi anak masih balita juga di bawa aja ke sana hahaha.

Setelah beberapa lama, mungkin karena tergolong ‘sukses’, toko barang bekas dari Jepang ini ada beberapa tempat. Barang-barangnya gak cuma mainan, tapi juga ada stroller bayi, kursi makan, baby gate, baju, sepatu, tas, elektronik, alat olahraga, piring dan gelas keramik, alat masak teflon, setrikaan, dan furniture seperti lemari kayu bahkan piano. Untuk mainan anak-anak mereka jualnya per kilo, jadi kalau beli mobil-mobilan yang ringan, beli mainan perkilo ini termasuk murah, untuk furniture kami gak pernah beli, dan saya gak pernah nanya.

Beberapa tempat agak rapi jualannya, mereka pilihin dan kasih label harga. Terus dikasih diskon lagi kalau beli lebih dari sekian ratus baht. Beberapa tempat benar-benar seperti gudang. Kalau beli mainan, kita harus cek sendiri apakah cukup lengkap atau menyesal kemudian.

Waktu baru nemu tempat beli ini, kami cukup banyak beli mainan di sana, bahkan Joe bahagia banget nemu mainan Sega yang rencananya dioprek tapi akhirnya gak sempat ngoprek tapi udah dimainin. Terus ada juga beberapa mainan yang cukup lama dimainin anak-anak dan akhirnya bosan. Ada juga mainan untuk belajar baca Jam atau belajar bilangan pecahan. Waktu beli Jonathan belum bisa baca jam analog dan belum belajar pecahan. Eh tapi waktu belajar, Jonathan gak butuh alat peraga udah langsung bisa hehehehe.

Karena punya anak 2, kadang-kadang kami beli mainan agak ‘boros’, alasannya: nanti kan bisa dipakai berdua. Jadi ya waktu nemu toko bekas, serasa nemu toko mainan (padahal ya itu, tokonya banyak jual yang lain selain mainan).

Setelah beberapa kali mengunjungi toko bekas, kamipun merasa udah gak ada yang menarik lagi. Saya kadang-kadang masih lihatin FB nya sih kalau lagi iseng. Sekarang ini anak-anak udah makin jelas maunya main apa, jadi kami udah gak terlalu butuh ke toko bekas Jepang itu.

Hari ini, ada teman yang dulu juga sering saya ajak lihat-lihat toko bekas dari Jepang, ngajakin saja buat lihat-lihat lagi. Karena udah lama gak ke sana, jalannya aja udah lupa hahaha. Nama tokonya juga beda-beda dan hampir lupa. Akhirnya tadi nyari dulu di daftar halaman FB yang pernah dilike buat nyari petunjuk jalan ke tokonya hehhehe.

Supaya gak lupa, saya akan tuliskan juga di sini 3 toko yang kami kunjungi hari ini.

Toko HugJang Japan Shop

ร้านฮักจัง โกดังสินค้านำเข้าจากญี่ปุ่น

Toko ini ada 2 bagian, display yang udah dirapihin dan dalam ruangan ber AC, dan bagian yang di luar yang setengah rapi tanpa AC (tapi ada atapnya).

Ini foto-foto bagian luar

Harga barang di luar biasanya lebih murah daripada barang-barang yang sudah di atur dalam ruang AC. Kadang-kadang, kalau beruntung bisa menemukan mainan bagus dan murah.

Ini foto-foto beberapa barang di bagian dalam.

Toko CM- Used Products

Toko ini sebenarnya toko barang bekas Jepang pertama yang kami dulu sering kunjungi. Mainannya dulu juga banyak yang bagus-bagus. Tapi sejak lokasinya pindah ke tempat yang sekarang, rasanya tempatnya jadi super sempit karena barangnya juga sepertinya banyak yang tidak laku dan belum mencari sudah lelah duluan melihatnya hehehe.

Kemungkinan, barang-barang yang baru di upload ke FB sudah duluan diambilin orang yang rajin memantau, jadi yang tersisa itu ya barang-barang yang tidak lengkap dan atau harus diperiksa dengan teliti.

Toko Felice Chiang Mai

โกดังญี่ปุ่นมือสอง -Felice Chiang Mai

Nah toko ini yang sebenarnya tempatnya paling besar, barangnya bahkan sampai 2 lantai. Tapi mainannya paling sedikit. Mereka banyak menjual furniture seperti lemari-lemari, meja, piano dan bahkan tempat tidur lengkap dengan kasurnya. Tempat ini tidak ada AC nya dan paling banyak debunya hehehe.

Kalau mau lihat foto-foto toko ini (dan toko sebelumnya) bisa lihat di FB nya saja ya. Foto-foto yang saya sertakan di sini hanya contoh yang saya ambil hari ini. Dan kebetulan toko terakhir karena tidak ada yang menarik saya terlewat dan tidak memfoto sama sekali.

Bonus buat yang membaca sampai habis, hari ini langit Chiang Mai sangat indah. Seperti lukisan saja ya.

Kalau di Indonesia, ada gak ya toko barang bekas dari Jepang seperti ini?

Pandanglah ke Langit Biru

Hari ini, sebenarnya banyak yang pengen dituliskan. Tapi rasanya mata sudah ketarik-tarik minta istirahat. Jadi salah satu yang menarik hari ini adalah gumpalan awan putih di langit biru.

langit biru…awan putih…

Iya, hari ini salah satu hari yang cerah setelah beberapa minggu kemarin selalu mendung atau hujan sepanjang hari di Chiang Mai. Waktu keluar siang hari, untung Joe yang nyetir, jadi saya bisa foto-foto. Rasanya ingin merekam keseluruhan corak awan di langit biru.

Kadangkala, di 1 lokasi yang sama, kita bisa mendapatkan pemandangan langit yang berbeda ketika melihat ke kanan dan ke kiri kita.

Melihat langit biru jadi teringat lagu Sherina dan jadi pengen naik balon udara juga. Kebayang kalau langit di Chiang Mai aja begini indahnya di foto dari mobil, kalau melihatnya dari balon udara di atas bakal lebih indah lagi kali ya.

sumber dari Youtube

Langit biru
Awan putih
Terbentang indah
Lukisan yang kuasa
Ku melayang
Diudara
Terbang dengan balon udaraku
Oh sungguh senangnya lintasi bumi
Oh indahnya dunia

Lirik Lagu Balon Udara

Ada yang suka melihat dan memfoto langit juga gak sih selain saya?

Indomie Seleraku

Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan, cuma iseng aja.

Beberapa waktu lalu, di FB muncul foto Indomie yang saya post beberapa tahun lalu. FB juga menyebutkan post itu sebagai post saya yang paling banyak dikomen pada tahun itu. Sebenarnya yang komentar ga banyak amat, tapi saya jadi iseng baca lagi komen-komen orang mengenai Indomie.

Beberapa garis besar dari komentar yang masuk adalah:

  • Ga bagus makan mi instan termasuk Indomie
  • Lebih enak Mi Ayam Bawang daripada Indomie Kari Ayam
  • Udah lama ga makan Indomie

Sejak merantau di Thailand, Indomie sudah menjadi makanan langka buat saya. Saya pernah juga menyimpan Indomie sampai kadaluarsa karena ga begitu pengen makannya. Pernah terpikir kalau kami tidak begitu rindu dengan makanan Indonesia dan mencukupkan dengan apa yang ada di Thailand. Tapi dengan adanya anak-anak, dan mencicip ulang rasa Indomie, ternyata kami jadi kembali mencari Indomie dan merasa perlu berpesan dibawakan kalau ada yang datang haha. Dari semua kontroversi mengenai mi instan, sebenarnya mi instan ini sudah membantu banyak orang, seperti dituliskan di posting ini. Satu-satunya rasa yang kami bawa atau pesan untuk di bawa ke sini itu Indomie kuah rasa Kari Ayam. Untungnya selera saya dan Joe sama, jadi gak repot buat bawa berbagai rasa.

tetap jadi favorit Indomie Kari Ayam

Beberapa tahun terakhir, Indomie Goreng sudah bisa dibeli di Chiang Mai. Awalnya ketemu di swalayan yang banyak menjual makanan impor, tapi belakangan ini sudah ada di hampir semua swalayan bahkan di mini market seperti 7 Eleven. Harganya? rasanya lebih mahal dibanding harga beli di Indonesia. Harga 1 bungkus Indomie goreng rasa original itu berkisar antara 16 – 18 baht. Kalau beruntung, kadang-kadang ada sale di 7 Eleven harganya jadi tinggal 10 baht saja. Ada juga indomie goreng dalam cup, harganya 27 baht. Walau tergolong mahal dibanding mi instan lokal, harga Indomie ini masih lebih murah daripada harga mi ramen korea yang harganya mulai dari 40 baht.

Setelah Indomie Goreng rasa original, belakangan muncul juga Indomie goreng Hot and Spicy, dan rasa Barbecue Chicken Flavor. Untuk 2 rasa yang agak pedas ini anak-anak kurang bisa makannya, jadi kami jarang beli.

Nah bulan Agustus lalu, kami menemukan varian baru dari Indomie goreng yang di jual di Chiang Mai. Indomie rasa Salted Egg alias telur asin. Untuk rasa ini saya kurang suka, akhirnya Joe yang makan sendiri (belinya emang cuma sedikit buat coba).

Mi Goreng Rasa Telur Asin

Mi goreng rasa telur asin ini saya nemunya baru di Rimping saja. Harganya 18 baht sebungkusnya (sekitar 8400 rupiah).

Di Chiang Mai ada yang jual telur asin, dan ada Lays rasa telur asin juga. Joe iseng makan mi goreng telur asin pakai telur asin dan Lays rasa telur asin. Abis itu dia bilang pusing hahaha, kayaknya karena semua terlalu asin.

Triple telur asin

Nah hari ini waktu saya ke 7 Eleven, nemu lagi varian baru dari Indomie goreng di Chiang Mai, kali ini rasa Soto. Karena belum di coba, jadi belum bisa kasih komentar, walaupun agak disayangkan kenapa sih yang masuk malah mi goreng semua. Soto itu seharusnya berkuah dong ah. Tadi beli Indomie Mi Goreng rasa Soto 1 bungkusnya 18 baht, kalau Mi Goreng rasa Original 16 baht. Kemungkinan sih berikutnya beli lagi hanya kalau lagi diskon saja hahaha. Di Indonesia berapa ya sekarang harga 1 bungkus Indomie goreng?

Sebenarnya ada banyak sekali mi instan masuk ke Thailand dan dijual di Chiang Mai. Kami juga kadang-kadang iseng mencoba berbagai mi instan lokal ataupun yang dari korea. Sejauh ini anak-anak cuma mau makan Indomie Mi Goreng rasa Original, dan Indomie kuah Kari Ayam (kalau lagi punya). Iya kami memang kasih anak-anak makan mi instan juga, tapi tentunya gak setiap hari ataupun setiap minggu.

Saya tidak tahu kenapa Indomie di Thailand semuanya kategori mi goreng, padahal mi ramen korea ataupun Jepang ada juga mi kuahnya. Semoga berikutnya varian Indomie yang masuk Thailand rasa Kari ayam.