Gara-gara Virus Corona

Tulisan ini sekedar catatan yang saya amati disekitar saya sehubungan dengan wabah baru virus Corona.

Sebelum mengetahui adanya virus ini, di Chiang Mai sudah banyak sekolah yang meliburkan kelasnya karena adanya beberapa murid yang sakit Influenza. Influenza ini bukan batuk pilek biasa dan gejalanya mirip juga dengan virus Corona.

Influenza ini sudah ada vaksinnya, tapi supaya ampuh, kita harus divaksin setiap tahun (yang mana akhirnya kebanyakan orang tidak selalu melakukannya termasuk kami). Apakah dengan banyaknya kasus Influenza di sekolah, semua orang memperhatikan untuk cuci tangan dengan sabun? yang saya lihat, semua seperti biasa, yang rajin cuci tangan ya cuci tangan, yang cuek ya cuek.

Sejak akhir tahun 2019, tingkat polusi di Chiang Mai sudah memburuk. Beberapa orang sudah mulai menggunakan masker ketika keluar rumah (termasuk Joe dan Jonathan). Tapi ya kebanyakan masih cuek. Anak-anak batuk pilek juga ketika dingin menyerang, tapi perasaan ya biasa saja.

Continue reading “Gara-gara Virus Corona”

Hari Anak Thailand 2020

Hari ini, 11 Januari 2020, dirayakan sebagai Hari Anak di seluruh Thailand. Perayaan Hari Anak ini selalu diadakan di hari Sabtu minggu ke-2 bulan Januari setiap tahunnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak kegiatan di seluruh mall ataupun tempat wisata. Karena setiap tahunnya (termasuk tahun lalu) kami hampir selalu ke mall, dan mengalami macet di jalan, tahun ini kami mencari tempat yang tidak seramai mall.

Sebenarnya agak dilema untuk berangkat ke hari anak hari ini. Kegiatan di luar sepertinya masih ada polusi, tapi ya kegiatan di mall juga sama saja karena mall tidak ada filternya. Sebelum berangkat, melihat angka AQI nya menengah, ya agak tenang untuk berkegiatan di luar rumah.

masih aman lah ya buat jalan-jalan

Dari berbagai tempat yang biasanya cukup fun buat anak-anak, kami memilih ke Hidden Village Chiang mai. Terakhir ke sana itu tahun lalu bulan Januari. Tapi ternyata harga tiketnya sudah naik dalam setahun. Tempatnya sih semakin ramai dan banyak tambahan dinosaurusya.

Karena hari ini hari Anak, hari ini tiket masuk untuk anak-anak sampai dengan tinggi 130 cm digratiskan. Untuk orang dewasa, yang seharusnya membayar 100 baht diberikan harga khusus 80 baht. Khusus hari anak, harga orang asing disamakan dengan harga lokal. Biasanya harga orang asing lebih mahal dari orang lokal, jadi hari ini kesempatan yang baik mendapat harga tiket masuk lebih murah dari biasanya.

berangkaaaaat

Tadinya kami pikir, tempat ini akan relatif sepi. Ya dibandingkan mall, memang masih lebih sepi, tapi dibandingkan kunjungan ke sana sebelumnya, tempatnya terlihat ramai sekali. Tempat parkirnya juga lumayan ramai. Selain tempat-tempat kegiatan yang berbayar, mereka juga mengadakan panggung dan membagi-bagi hadiah buat anak-anak yang datang.

Mulai dari pintu masuk, sudah terlihat ada keramaian. Kami yang datang ke sana sudah kesiangan (dari rumah jam 12), langsung menuju restoran Barn Steak House buat makan hehehe. Kali ini makan buffet lagi, untungnya harganya tetap sama dengan tahun lalu: dewasa 259 baht, dan anak-anak 129 baht. Untuk minuman harus beli lagi, tapi makanannya bisa pesan berkali-kali.

Yang berbeda dengan tahun lalu adalah: makanannya terasa lebih fresh, mungkin karena kami makannya siang hari dan banyak pengunjung, jadi mereka selalu menambakan yang baru. Sebenarnya ada spaghetti, ayam goreng, salad dan buah juga, tapi tadi saya lupa foto hehehe.

Selesai makan, baru deh mulai bagian jalan-jalannya. Waktu kami tanya Joshua mau main di playground atau lihat dinosaurus? Joshua dengan mantap menjawab: mau lihat dinosaurus. Tapi sampai dalam tempat dinosaurusnya, dia ternyata menuju tempat main bouncy house yang selalu dimainkan kalau ke sana. Tempat itu bayar lagi sih, 20 baht untuk 20 menit per anak, tapi ya cukup fun buat ngabisin energi yang di makan tadi hehe.

Setelah main bouncy house, kami jalan keliling melihat-lihat dinosaurus. Walau sudah berkali-kali melihat dinosaurus, saya belum bisa hapal sebagian besar nama-namanya. Supaya ingat, saya coba foto-foto dan tuliskan lagi namanya di sini.

Dilophosaurus
Carnotaurus
Brachiosaurus

Melihat Maiasaura dan T.Rex, jadi ingat ada salah satu scene di serial The Flash (Season 2, Episode 21), ibunya membacakan buku ke Flash waktu kecil dengan judul Runaway Dinosaur.

The Runaway Dinosaur

Once there was a little dinosaur called a Maiasaura, who lived with his mother.

One day, he told his mother, “I wish I were special like the other dinosaurs. If I were a T. rex, I could chomp with my ferocious teeth!”

Tyrannosaurus rex alias T.rex

“But if you were a T. rex,” said his mother, “how would you hug me with your tiny little arms?”

“I wish I were an Apatosaurus,” said the little dinosaur, “so with my long neck I could see high above the treetops.”

“But if you were an Apatosaurus,” said his mother, “how would you hear me in the treetops when I told you I love you?”

“What makes you so special, little Maiasaura?” said his mother.

“Is it your ferocious teeth or long neck or pointy beak? What makes you special is out of all of the different dinosaurs in the big, wide world, you have the mother who is just right for you and who will always Love you.”

Maiasaura

Buku ini diilhami dari buku The Runaway Bunny

Sebenarnya ada lebih banyak lagi dinosaurus lainnya, tapi sayangnya gak ada Apatosaurus.

ada patung-patung lain selain dinosaurus, yang pasti ini bukan apatosaurus hehe

Karena Joshua sudah mengantuk, kami pulang sekitar jam 4 sore. Tadinya berencana untuk keluar rumah lagi malam harinya, tapi sayangnya Joshua ternyata demam dan batuk-batuk. Mungkin karena tadi udaranya terlalu panas dan belakangan ini dia tidur siangnya kurang teratur.

Keputusan untuk tidak ke mall hari ini sudah cukup tepat. Kami tidak kena macet. Tapi ternyata perkiraan tempatnya agak sepi tidak sepenuhnya benar. Memang hari anak di Thailand sepertinya hari di mana semua anak wajib di bawa keluar rumah, jadi tidak akan ada tempat yang sepi hehehe.

Perayaan Natal 2019 di Chiang Mai

Dibandingkan di Indonesia dulu, perayaan Natal yang diikuti selama di Chiang Mai ini tidak banyak. Kalau di Indonesia, dari sejak awal Desember sudah ada banyak perayaan Natal. Semakin banyak organisasi/komunitas yang diikuti, semakin banyak pula perayaan Natal yang perlu dihadiri. Saya ingat waktu masih di Medan, ada perayaan di gereja, ada di sekolah, ada Natal gabungan, belum lagi kadang-kadang ngikut perayaan Natal kantor orangtua saya (ini sih gak selalu ikutan hehehe).

Untung udaranya tidak sedingin minggu lalu

Di Thailand, hari Natal 25 Desember itu bukan hari libur. Biasanya, setiap tahunnya, acara yang kami usahakan datang itu adalah kebaktian malam Natal (24 Desember jam 11 malam), dan Joe ijin dari kantor untuk bisa mengikuti Kebaktian Natal 25 Desember di pagi harinya. Setelah Jonathan lahir, acara perayaan Natal yang kami ikuti bertambah 1: Carols by Candlelight.

Christmas Pageant 2019

Acara Carols by Candlelight ini biasanya jatuh sekitar hari Jumat, minggu Advent ke-2. Acaranya di mulai sore hari jam 7 malam. Udara dingin di kota Chiang Mai tidak menghalangi banyak orang untuk menghadiri acara ini. Format acaranya sangat berbeda dengan acara di Indonesia. Setiap tahun akan ada drama Natal yang sudah disesuaikan dengan jaman, pemerannya juga sebagian masih sambil baca karena biasanya cuma ada 1 kali latihan akhir.

Banyak anak-anak yang jadi malaikat, gembala dan domba

Acaranya outdoor di lapangan golf. Sangat jauh dari kekhusukan ibadah Natal tapi ya tetap berkesan. Anak-anak banyak yang berlari-larian dan mereka bisa ambil peran jadi malaikat, gembala ataupun jadi domba. Karena format acara musical, jadi seperti menonton drama musical di mana percakapannya berupa lagu.

Holy Family 2019

Ciri khas dari drama Natal ini adalah: mereka menggunakan bayi beneran diletakkan di palungan sebagai bayi Yesus. Waktu Jonathan masih bayi, dia juga pernah merasakan jadi bayi Yesus ditidurkan di palungan di malam yang dingin hehehe. Kami orangtuanya otomatis jadi Yosef dan Maria. Setiap tahun, selalu ada bayi yang lahir berdekatan dengan perayaan Natal ini. Tentunya bayinya bukan bayi yang baru lahir banget juga ya, Jonathan waktu itu berumur kira-kira sebulan dan masih agak banyak tidur.

Tahun-tahun sebelumnya Jonathan pernah ikutan jadi malaikat dan Joshua masih terlalu kecil untuk ikutan. Tahun ini karena kami terlambat datang, semua kostum sudah dipakai oleh anak-anak yang datang terlebih dahulu jadi mereka gak ikutan dalam dramanya.

Orang majus dan Unta

Satu hal yang juga selalu ada setiap tahunnya adalah: unta yang di bawa orang majus. Nah unta ini diperankan oleh orang juga tentunya. Terlihat lucu dari jauh. Joshua melihat unta langsung komentar :”look, there’s a camel!”. Tapi waktu acara hampir berakhir dan unta mendekati, si Joshua malahan agak malu-malu gitu. Mungkin dia heran, kenapa kaki unta pakai sepatu? Hehehe…

Untanya pakai sepatu? hahaha…

Selain acara Carols by Candlelight, masih akan ada beberapa rangkaian acara kegiatan Natal tahun ini di gereja yang kami ikuti. Tanggal 22 Desember 2019 akan ada acara Christmas Tea dan Christmas Service. Biasanya kita diminta untuk membawa sedikit kue-kue untuk saling berbagi. Acara kebaktian gereja juga dimulai lebih awal dari biasanya. Lalu tanggal 24 Desember, ada kebaktian malam Natal yang di mulai jam 11 malam. Biasanya akan selesai sekitar jam 12 untuk menyambut hari Natal nya. Lalu tanggal 25 Desember jam 10 pagi ada kebaktian Hari Natal.

Siapa tahu ada orang Indonesia yang sedang berencana untuk berlibur Natal di Chiang Mai dan butuh informasi soal kebaktian Natal, semoga informasi ini bisa berguna. Kalau kebetulan baca tulisan ini untuk tahun-tahun berikutnya, bisa coba cari informasinya di situs gerejanya langsung untuk mengetahui kegiatan Natal yang diadakan setiap tahunnya.

Musim Dingin di Chiang Mai 2019

Sejak pertengahan Oktober 2019, Chiang Mai dinyatakan telah memasuki musim dingin. Tapi walaupun waktu itu diperkirakan kalau tahun ini akan lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya, setiap harinya hampir tidak berbeda dengan musim panas. Sepanjang Oktober dan November masih ada hujan – tapi udara tidak terlalu dingin, AC masih menyala setiap harinya.

Sampai awal Desember, siang hari masih panas sampai 33 derajat celcius

Musim dingin merupakan musim yang dinanti-nantikan di Chiang Mai. Sampai dengan minggu lalu, saya sering mendengar orang-orang mengeluhkan musim dinginnya kok masih panas. Matahari sore juga masih menyengat sampai di atas 35 derajat. Saya termasuk salah satu yang selalu bilang: mana ini musim dinginnya ga sampai-sampai.

Tanggal 7 Desember jam 7 pagi, mulai dingin
Tanggal 7 Desember jam 10 malam, semakin dingin

Selama beberapa tahun di Chiang Mai, sebenarnya sudah biasa kalau musim dingin gak selalu datang tepat waktu. Saya ingat, 2 tahun lalu, sampai malam tahun baru rasanya masih biasa saja. Januari ke Februari baru deh mulai dinginnya, itupun dinginnya hanya sekitar 2 minggu dan tidak terlalu dingin.

Tahun ini, ternyata prakiraannya benar. Sejak beberapa hari lalu, udara cukup dingin dan suhu terendahnya mencapai 9 derajat celcius. Di Doi Inthanon, tempat wisata di mana ada titik tertinggi di Chiang Mai, suhu udara malah sampai minus 1 derajat celcius. Embun pagi sudah bukan berupa tetesan air lagi, tapi menjadi seperti es. Semakin dingin Doi Inthanon, semakin banyak juga orang pengen jalan-jalan ke sana untuk merasakan dinginnya udara di bawah nol derajat celcius. Kalau kami sih cukuplah dengan udara dikisaran belasan derajat celcius saja, terlalu dingin juga bikin pusing kepala biasanya.

Banyak orang yang anggap enteng dengan musim dingin kali ini dan berpikir kalau dinginnya masih akan biasa saja. Mungkin kalau baru datang dari negeri bersalju, suhu harian 15 derajat celcius itu biasa ya. Tapi untuk yang biasa dengan suhu harian 30 derajat celcius, penurunan suhu ini langsung terasa sampai ke tulang-tulang hehehe. Saya perhatikan beberapa orang masih berani pakai celana pendek dan baju lengan pendek. Tapi ya mungkin saja belum keburu beli baju hangat atau punya persediaan lemak tebal untuk menghangatkan badan haha.

Beberapa hari ini, udaranya cukup dingin walaupun kami menutup semua pintu dan jendela. Karena tidak punya pemanas, yang bisa dilakukan adalah memakai baju yang cukup tebal dan selimut ketika tidur. Udara dingin begini, tentunya hemat air juga karena mandi cukup 1 kali sehari hahaha.

Musim dingin di Chiang Mai juga ditandai dengan banyaknya bunga bermekaran di pegunungan sekitar Chiang Mai. Musim dingin identik dengan musim jalan-jalan. Udara adem, biarpun banyak jalan kita tidak akan berkeringat. Selain jalan-jalan melihat keindahan alam, bulan Desember juga banyak kegiatan berlangsung di Chiang Mai. Acara maker party yang kami kunjungi kemarin hanya salah satu dari berbagai acara pameran, bazaar, fair, market maupun sale yang sedang berlangsung di Chiang Mai. Kegiatan sejenis ini biasanya akan banyak berlangsung sampai bulan Februari.

kualitas udara kurang bagus

Biasanya, musim dingin itu langitnya cerah dan bersih. Tapi saya perhatikan beberapa hari ini langitnya kurang bersih. Dan ternyata sepertinya entah dari mana asalnya, kualitas udara tidak terlalu bersih. Mungkin karena tidak ada hujan sama sekali, beberapa orang mulai membakar sampah kering.

Kalau dari prakiraannya, udara dingin begini hanya sampai pertengahan minggu ini. Setelahnya udara dingin hanya di malam hari, tapi siang hari udaranya bisa mencapai 30 derajat celcius ke atas lagi.

dingin akan berlalu

Biasanya sih kalau sudah merasakan yang dingin banget, baru deh gak bertanya-tanya lagi mana musim dinginnya. Walaupun nantinya udara siang bisa di atas 30 derajat celcius, biasaya udara sore dan malam maupun pagi menjelang siang cukup menyenangkan untuk berjalan-jalan.

Waktunya untuk mempersiapkan rencana tujuan jalan-jalan setiap akhir pekan, dan juga tujuan liburan akhir tahun.

Hello November!

Bulan Oktober kemarin, saya diserang kemalasan menulis blog. Awalnya sih mikir ah besok aja nulisnya, lalu lama-lama jadi keterusan ngebesokin hehehe. Hari ini, di awal bulan November, mari kita mulai dengan semangat baru menulis lagi walaupun mungkin cerita hari ini merupakan pengulangan dari cerita sebelumnya dan isinya sekilas info tentang Chiang Mai di awal November.

Beberapa minggu lalu, saya posting kalau musim dingin diumumkan akan mulai dari 17 Oktober 2019 yang diawali dengan kiriman hujan badai dari negeri tetangga. Nah memang sempat tuh hujan badai, angin kencang menyeramkan sampai beberapa kali pemadaman listrik, tapi musim dinginnya ternyata masih malu-malu datangnya. Untungnya juga hujannya tidak setiap hari seperti yang diperkirakan.

Jadi, di bulan Oktober, setelah beberapa hari dingin karena hujan, sisanya ya masih panas terik menyengat (padahal udah senang duluan musim dinginnya datang lebih awal). Baru hari ini nih terasa perubahan hawa yang signifikan di pagi hari. Tadi pagi, rasanya berat banget untuk bangun dan malah cari-cari selimut. Saya cek berapa derajat sih ini, ternyata memang kisaran 17-18 derajat celcius. Pantesan aja ya rasanya masih enak nyambung tidur.

jam segini 18 derajat, males bangun rasanya

Sebelum menuliskan cerita lebih panjang soal musim dingin di Chiang Mai, saya iseng mencaritahu tahun lalu seperti apa ya kondisinya. Eh ternyata tahun lalu juga mulai dingin di awal November, ini tulisannya bisa dibaca di sini.

Nah untuk lebih meyakinkan lagi, apakah November ini benar-benar akan dingin, atau cuma ‘teaser’ doang dinginnya seperti di bulan Oktober lalu, saya cek juga nih bagaimana kira-kira prakiraan cuaca 10 hari ke depan di Chiang Mai.

wah ada kemungkinan hujan

Biasanya, musim dingin itu bukan karena hujan, tapi kenapa prakiraan tahun ini akan ada hujan ya? Tapi sebenarnya ada baiknya juga hujan turun, jadi udaranya tidak terlalu kering dan tidak banyak debu. Dengan adanya hujan begini juga artinya menunda kemungkinan orang-orang bakar sampah atau sisa panen yang kering yang mengakibatkan musim polusi datang lebih awal. Secara keseluruhan suhu udara di pagi hari lumayan dingin, artinya bisa hemat AC di saat tidur hehehe. Musim dingin begini juga waktu yang tepat untuk jalan-jalan di luar ruangan (semoga hujannya gak banyak-banyak).

Ketika memeriksa prakiraan cuaca begini, saya jadi teringat dulu kalau lagi nonton berita, saya gak pernah memperhatikan bagian orang yang membawakan prakiraan cuaca. Saya pikir mereka cuma mengada-ada dan belum tentu benar, terus juga gerakannya waktu melaporkan terasa aneh. Terus jadi ingat, di beberapa film yang saya tonton, pembawa berita prakiraan cuaca ini suka dianggap reporter kelas belakang oleh pembaca berita utama, dan diceritakan kalau pembawa acara prakiraan cuaca itu cuma dikasih layar hijau dan bukan gambaran sebenarnya. Padahal ya, prakiraan cuaca ini ada ilmunya dan bukan asal-asal kayak ramalan horoskop hehehe.

Saya tidak ingat sejak kapan saya rajin meriksa prakiraan cuaca, mungkin sejak di Chiang Mai. Padahal dulu rasanya ya tiap hari sama saja, mau hujan atau panas terik ya terima aja kedatangan si cuaca. Memang sih kadang-kadang prakiraan ini tidak selalu tepat, tapi sekarang ini terasa berguna untuk tahu misalnya siap-siap payung supaya gak kehujanan atau keluarin selimut tebal supaya ga kedinginan di pagi hari.

Lagi nulis ini, dikirimin foto Sunset sama temen yang tinggal di Condo dengan pemandangan sungai Ping (jadilah sunsetnya terlihat indah ya). Buat yang baca sampai akhir, nih bonus hari ini: sunset di hari pertama November di Chiang Mai.

foto dari @dna12
foto dari @dna12
foto dari @dna12

Kalau kamu gimana, suka melihat prakiraan cuaca gak setiap harinya?

Gempa Di Chiang Mai

Hari ini hampir bolos nulis karena ga ada ide, eh tau-tau ada gempa. Sebenarnya saya ga merasakan, tapi banyak yang bertanya apakah merasakan. Waktu saya cek di internet, ternyata memang ada gempa dengan kekuatan 4.1 SR di Chiang Mai setelah beberapa menit sebelumnnya gempa di Myanmar dan kemarin di Pai yang mana masih daerah yang berdekatan dengan Chiang Mai.

sumber: http://www.earthquake.tmd.go.th/en/local.html

Gempa hari ini bukan yang pertama kalinya yang terasa di Chiang Mai selama kami di sini. Saya ingat awal kami tinggal di Chiang Mai sempat ada beberapa kali gempa kecil, tapi pusatnya dari negara tetangga. Gempanya cukup besar jadi terasa sampai ke Chiang Mai dan kejadiannya siang-siang dan kami ada di kantor. Pas ada goyangan gempa, awalnya mikir apa pusing karena kebanyakan liat layar, terus waktu yakin itu gempa sebelum panik eh gempanya sudah berhenti.

Terus pernah juga tanggal 24 Maret 2011 gempanya malam-malam dan rumah kami waktu itu masih di apartemen lantai 18 dan udah ada Jonathan tapi masih bayi. Gempanya lumayan besar 6.9 SR pusatnya di Myanmar dan agak lama, tanpa mikir panjang Joe gendong Jonathan dan saya menyusul di belakang turun lewat tangga 18 lantai. Sampai bawah, ketemu banyak orang yang juga wajah panik gitu. Tapi untungnya waktu itu gempanya gak lama berhenti. Setelah menenangkan diri dengan sesama penghuni yang panik, akhirnya balik ke unit masing-masing. Kembali ke unit perasaan masih tetap waspada. Oh ya, kenapa bisa ingat tanggalnya? karena waktu itu ditulis di blog Jonathan hehhehe.

Setelah kejadian itu, ada juga beberapa kali merasakan gempa selama tinggal di apartemen, tapi entah kenapa kami sering tidak merasakannya. Terus pernah sekali merasakan sedikit, terus cuma berdoa aja gempanya gak lama dan tetep diam aja di dalam rumah (sambil siap-siap lari kalau gak berhenti juga sih). Untungnya biasanya gempanya berhenti sebelum kami panik hehe.

Nah pernah juga saya ingat pengalaman gempa setelah pindah ke rumah biasa dan bukan di apartemen lagi. Waktu itu Joe di kantor dan saya cuma berdua sama Jonathan (Joshua belum ada). Waktu merasakan gempa, entah kenapa malah panik dan buru-buru gendong Jonathan keluar rumah. Jonathannya malah heran, lagi main kok digendong keluar rumah. Tapi ya abis dikasih tau ada gempa, pertanyaanya tambah panjang apa itu gempa dan malah pengen rasain lagi haahha.

Hari ini, barusan ini saya bersyukur sih gak merasakan gempanya. Soalnya tadi itu udah siap-siap tidur (kamar tidur di lantai 2). Kalau pas merasakan gempanya, kemungkinan besar saya akan panik dan harus turun dan keluar rumah. Joshua udah berat banget, gak mungkin juga digendong turun kan hehehe.

Sekarang ini ada perasaan sedikit kuatir apakah masih akan ada gempa susulan (dan berdoa tidak ada gempa susulan di sekitar sini). Tapi ya namanya alam tidak bisa kita yang mengatur. Jadi daripada cemas kuatir dan jadi gak bisa tidur, mending berdoa sebelum tidur supaya apapun yang terjadi tetap dalam lindunganNya.

Kalau dipikir-pikir, saya lebih suka tidak merasakan gempa ketika gempa terjadi. Perasaan kuatir dibandingkan perasaan panik itu lebih bisa dikendalikan perasaan kuatir. Namanya panik, kadang-kadang bikin kuatirnya lebih berkepanjangan dan berhalusinasi sendiri berasa-rasa goyang padahal gak ada apa-apa. Kalau cuma dikasih tau: eh ada gempa tadi, berasa gak? bisa jawab enteng: nggak berasa (dalam hati berdoa semoga ga ada susulan). Tapi ya bisa lebih tenang.

Kalau pembaca gimana? lebih suka merasakan gempa atau tidak merasakan?

Beli Baju Bekas? Kenapa Tidak

Sebenarnya namanya jual beli baju bekas bukan hal yang baru dan bukan cuma ada di Chiang Mai. Dari jaman dulu di Medan, saya sering dengar tentang MonZa alias Mongonsidi Plaza. Tempat penjualan baju-baju bekas (yang konon didatangkan dari luar negeri) dan berlokasi di jalan Mongonsidi. Lalu di Bandung juga ada namanya CiMol (Cibadak Mall) yang di jual di jalan Cibadak. Tapi dulu, saya belum pernah berkesempatan mendatangi tempat-tempat tersebut. Kabarnya, kalau mau mencari baju-baju winter (misalnya mau berpergian ke negeri bermusim dingin), biasanya berbelanja di penjualan baju bekas itu bisa dapat baju winter bergaya dengan harga sangat miring. Tapi karena pada dasarnya saya tidak hobi belanja dan tidak punya kegigihan buat mencari bahkan di tempat yang jual sale 90 persen sekalipun, jadi saya tidak pernah berniat mengunjugi toko baju bekas tersebut.

Oh ya jadi ingat, kalau di Bandung saya pernahnya ke toko BaBe (Barang Bekas) yang menurut saya beberapa barang bekasnya masih tergolong agak mahal. Tapi ya mereka sepertinya memang menyeleksi barang bekas jualannya. Dulu juga pernah ke sana jaman udah lulus kuliah sih, tapi tetep aja semangat memilihnya gak terlalu tinggi hehehe.

baju-baju begini 1 nya 20 baht
kalau yang ini buat saya, 30 baht saja

Setelah tinggal di Chiang Mai, awalnya saya hanya mengincar kebutuhan bayi dan mainan, jadi saya bergabung dengan grup-grup jual beli barang bekas. Setelah anak-anak besar, saya perhatikan banyak juga ibu-ibu yang menjual baju anaknya yang sudah tidak muat lagi. Bukan cuma baju, semua kebutuhan anak yang masih bagus dan bisa dijual biasanya mereka jual lagi. Tindakan jual beli barang yang sudah tidak dipakai lagi ini sebenarnya ada bagusnya, jadi kita tidak langsung serta merta menambahi sampah di muka bumi ini. Kalau meminjam istilah Marie Kondo, sesuatu yang sudah tidak spark joy lagi buat kita mungkin masih mendatangkan kebahagiaan buat orang lain. Jadi ya, kalau masih ada yang mau beli bisa kita jual dan digunakan untuk membeli kebutuhan berikutnya. Atau kalau ada yang kita tahu butuh, bisa kita berikan juga secara gratis.

Setelah sebelumnya saya memperhatikan fenomena banyakan toko yang menjual barang bekas dari Jepang, sekarang ini saya menemukan ada banyak sekali toko yang menjual baju bekas. Saya kurang tahu baju-baju ini asalnya dari mana, tapi kalau melihat dari jumlahnya yang sangat banyak dan ukurannya yang juga mulai dari anak-anak sampai orang besar, kemungkinan baju-baju tersebut bukan dari dalam Thailand.

Toko baju bekas ini ada berbagai model. Ada yang sudah mereka pilih dan digantung sehingga kita memilihnya cukup mudah. Toko ini sudah membagi-bagi kategori bajunya mulai dari harga 5 baht sampai dengan beberapa ratus baht. Untuk bahan baju dan celana dari jeans yang bermerk biasanya dikategorikan secara khusus dengan harga “khusus” juga. Tapi bisa dipastikan yang harganya sangat murah tidak akan lebih bagus model, warna dan kualitasnya dibandingkan dengan yang mereka kategorikan 60 baht atau bahkan 100 baht. Tempat yang menjual dengan gantungan ini biasanya ada kamar cobanya segala. Toko mereka ada banyak kipas anginnya, tapi biasanya ya tetap saja panas hehehe.

Model tempat penjualan lainnya dikategorikan tapi kita masih harus memilih dari tumpukan. Kategorinya ya baju anak, baju dewasa, celana jeans, bahkan kadang ada baju renang. Nah biasanya tempatnya ini sangat besar dan panas. Mereka juga kadang ada bagian yang sudah digantung, tapi entah kenapa toko model ini sangat berdebu. Tapi kalau kita sabar, kita bisa menemukan baju-baju yang masih bagus dengan harga murah. Mereka biasanya menjual harga per potong 30 – 50 baht, tapi kalau beli 10 potong bisa jadi 100 baht – 300 baht. Diskonnya lumayan ya hahaha.

Ceritanya karena belakangan ini saya mendapatkan teman yang rajin dan gigih memilih, saya jadi sering ikut-ikutan ke toko baju bekas. Hasilnya, setiap kali menemukan baju-baju buat anak-anak dengan harga 10 potongnya 200 baht itu rasanya senang sekali. Kaos sejenis, kalau beli baru, dengan harga sale pun bisa mulai dari 250 baht. Kemarin juga pernah menemukan celana uniqlo dengan harga 60 baht, terasa mahal kalau dibandingkan kaos 20 baht, tapi kalau dibandingkan dengan harga beli celana baru di uniqlo dengan kualitas yang sama seharga 350 baht tentunya 60 baht itu jadi murah dong ya.

kalau beli baru paling murah 250 baht, ini harganya 20 baht saja 1 nya.

Tapi namanya memilih barang bekas ini untung-untungan juga. Berdasarkan pengalaman beberapa kali ke toko baju bekas, berikut ini tips yang bisa saya berikan:

  • perginya bareng temen, lebih baik kalau temannya gak punya selera baju yang persis sama biar ga rebutan hahaha. minimal bisa diskusi dan saling memeriksa apakah bajunya ada cacatnya atau kurang bagus
  • harus punya waktu lebih untuk memilih, kalau cuma punya waktu sedikit biasanya gak akan bisa menemukan yang bagus
  • karena namanya beli barang bekas, teliti sebelum membeli, gak perlu beli banyak-banyak, yang penting yang dibeli itu memang yang masih bagus dan harganya masih masuk akal
  • biasanya saya akan memeriksa deretan harga yang murah dulu dan tidak akan mencari barang yang diatas 100 baht, karena kalau harganya 100 baht-an pasti banyak godaanya dan bisa-bisa jadi kalap borong.
  • kalau perginya barengan teman ke tempat baju yang ada diskon untuk per 10 potong, bayarnya barengan biar dapat potongan harganya hehehe.
  • kalau memang gak menemukan yang cocok, jangan dipaksakan beli, masih banyak toko baju bekas lainnya yang bisa dikunjungi.

Oh ya, saya juga menemukan beberapa toko baju bekas ini juga ternyata ada facebook page nya segala. Mereka rajin sekali mengupdate foto baju yang baru akan dijual keesokan harinya. Jadi bisa juga kita follow aja tuh halaman FB nya, kalau memang keliatan dari foto ada yang menarik, bisa langsung deh kunjungi tokonya. Tapi ada kemungkinan barang-barang bagus yang di foto dan dipajang di FB itu yang masuk ke kategori agak mahal. Namanya juga usaha ya hehehe. Saya kurang tahu berapa menguntungkannya bisnis jualan baju bekas ini, yang jelas belakangan ini saya perhatikan ada semakin banyak tokonya jadi kemungkinan cukup menguntungkan ya.