Catatan Elektronik, Pokemon, dan Satellite Receiver

Posting ini sekedar catatan beberapa oprekan beberapa waktu terakhir ini. Topiknya: elektronik (beberapa komponen elektronik yang saya beli), Pokemon (baik versi lama maupun Pokemon Go), dan Satellite Receiver baru saya.

Kadang saya melihat posting lama di blog ini, kadang saya banyak menulis dan kadang jarang sekali menulis. Di bulan ketika jarang menulis, saya kadang lupa apa yang dikerjakan bulan itu, jadi sekarang saya coba rangkum beberapa minggu terakhir.

Elektronik

Saya kadang iseng menambah lampu atau mekanisme lain di mainan Jonathan. Menambahkan suara biasanya merupakan hal yang repot. Beberapa waktu lalu waktu iseng browsing AliExpress, saya menemukan bahwa ada banyak chip melodi, gonggongan anjing, sirine yang dijual dengan sangat murah (1.0-1.7 USD untuk 5-10 chip, jadi harga per chipnya cuma 0.1-0.2 USD). Penggunaan chip ini juga sangat mudah: butuh power (3.0-4.5 VDC), saklar (untuk mentrigger mematikan/menyalakan suara), speaker (langsung saja ke speaker 8 ohm, tanpa perlu sirkuit amplifier apapun). Sebagian chip perlu sebuah transistor tambahan sebagian hanya butuh sebuah resistor.

Lanjutkan membaca “Catatan Elektronik, Pokemon, dan Satellite Receiver”

Kesan pertama CHIP dan PINE64

Posting ini hanya sekedar review singkat, kesan pertama memakai CHIP dan PINE64. Semoga di lain waktu bisa saya buat posting baru yang lebih detail.

Di hari pertama kerja setelah liburan, saya disambut oleh dua paket yang tiba di kantor: Pine64 dan CHIP. Kedua benda ini sudah saya preorder lama sekali. CHIP saya pesan di Cyber monday 30 November 2015, dan PINE64 saya pesan 20 Maret 2016.

CHIP

Saya pertama kali mendengar CHIP dari Kickstarter yang fenomenal (2 juta dollar), tapi masih agak ragu mendukungnya karena agak mengkhawatirkan. Tapi akhirnya karena penasaran saya beli juga di Cyber Monday. Di Cyber Monday ada diskon CHIP, tadinya 9 USD menjadi 8 USD, jadi saya memesan dua dengan ongkos kirim 6 USD, jadi totalnya 22 USD untuk dua CHIP. Saat ini saya cek di website getchip.com harganya 9 USD belum termasuk kabel composite (5 USD), case (2 USD) dan ongkos kirim. Ketika saya menerima CHIP, di dalamnya sudah termasuk ada kabel composite dan case yang sudah dipasang, jadi saya benar-benar beruntung memesan jauh hari.

20160711_145513

Secara singkat CHIP ini adalah sebuah SBC berukuran mini dengan built in bluetooth, WIFI, NAND flash, USB, dengan RAM 512 MB. SOC yang dipakai benda ini adalah Allwinner R8. Tidak ada slot SD/MicroSD card di CHIP, dan tidak ada konektor Ethernet. Saat ini hanya ada satu model CHIP.

Karena sudah memiliki built in flash storage, maka kita tidak perlu mendownload atau mencari image lalu menuliskannya ke SD Card. Begitu dibuka, kita bisa mencolokkan CHIP ke monitor dan langsung bisa diboot dengan power dari micro USB.

Kendala pertama untuk CHIP adalah: konektor output built in hanya composite, sedangkan monitor komputer saya hanya bisa VGA, HDMI, dan DP. Sebenarnya ada board terpisah untuk menampilkan output CHIP via konektor VGA atau HDMI, tapi harganya mahal untuk VGA harganya 10 USD, dan untuk HDMI harganya 15 USD, lebih mahal dari CHIP itu sendiri. Karena saya pelit, saya tidak membeli keduanya.

Untungnya saya ingat kalo masih punya TV kecil yang tadinya dipakai di mobil (sekarang yang di mobil sudah diganti yang agak besar).

IMG_0920

Karena hanya memiliki satu port USB host, maka saya memakai hub agar bisa memakai mouse dan keyboard sekaligus. Sebenarnya benda ini memiliki bluetooth, jadi teorinya bluetooth mouse dan keyboard bisa dipakai, tapi karena saat ini saya tidak punya keduanya, saya pakai USB saja.

Sebenarnya ada cara lain untuk mengakses CHIP ini, yaitu via USB di komputer, CHIP akan dianggap sebagai serial port dan bisa kita akses dari program terminal yang bisa mengakses serial port seperti Putty, Minicom, Screen dsb. Saya ingin menghubungkan ke monitor karena penasaran seperti apa GUI-nya dan seperti apa proses bootnya.

ttylogin.png

Ukuran NAND flash-nya memang hanya 4GB, tapi yang dipakai OS hanya 528 MB, jadi cukup untuk menyimpan banyak hal tanpa perlu storage external. Kebanyakan SBC lain tidak memiliki built ini NAND (misalnya Raspberry Pi). Di satu sisi memiliki built in NAND ini sangat praktis: tidak perlu download image untuk bisa memulai, tidak perlu membeli SD Card terpisah, performanya lebih bagus dibandingkan SD Card. Tapi di lain pihak memiliki SD Card juga ada kelebihannya: mudah berganti OS (hanya perlu menukar SD Cardnya), kapasitasnya bisa kita beli sesuai keinginan kita.

Built in WIFI dan Bluetooth menurut saya akan sangat berguna untuk berbagai proyek. Salah satu yang kepikiran oleh saya adalah mengubah keyboard apapun menjadi bluetooth keyboard (misalnya mechanical keyboard biasa supaya jadi bluetooth enabled). Port micro USB di board ini sebenarnya adalah port OTG, jadi teorinya benda ini juga bisa mengemulasikan device USB apa saja.

Beberapa hal sudah saya lihat tapi belum dicoba, misalnya untuk melakukan flash ulang kita bisa menggunakan browser Chrome (ada API bagi Chrome Extension untuk bisa mengakses USB sehingga ini dimungkinkan). Ada juga konektor untuk batere dan ada sirkuit built in sehingga baterenya akan dicharge ketika kita mencolokkan micro USB ke CHIP.

Secara singkat, CHIP ini cocok sekali untuk menambahkan kapabilitas IOT pada benda lain. Harganya murah, ukurannya kecil, sudah ada konektivitas bluetooth dan WIFI, dan bahkan bisa menggunakan batere dengan sirkuit charging yang sudah built-in. Secara umum CHIP mendapatkan review yang positif dari banyak pihak, dan cukup cocok untuk pemula. Cocok untuk pemula di sini maksudnya: cara mulai memakainya mudah, komunitasnya cukup besar dan baik.

Kelemahan CHIP adalah jika kita butuh sesuatu yang ekstra maka harganya akan menjadi cukup mahal. Contoh: jika butuh ingin dihubungkan ke TV melalui HDMI maka kita perlu menambah 15 USD lagi. Jika ingin dihubungkan ke beberapa USB maka perlu hub (contohnya jika storage tidak cukup maka perlu USB disk atau USB Card reader + memory card-nya).

Jika keperluannya untuk menonton film atau sebagai media center, maka pasti butuh HDMI, jadi harganya minimal 9 USD (chip) + 15 USD (HDMI adapter) = 24 USD. Dengan 11 USD ekstra Anda bisa membeli Raspberry Pi terbaru dengan RAM 1 GB dan sudah quad core, memiliki WIFI dan Bluetooth, dan memiliki 4 port USB.

Saya sedang mempelajari lebih lanjut dan mempertimbangkan apakah akan membeli PocketCHIP atau tidak (saat ini sedang promo, 49 USD, harga biasanya 69 USD). PocketCHIP ini adalah casing berupa layar dan keyboard CHIP yang bisa dikantongi. Benda ini cukup unik karena SBC yang lain tidak menawarkan solusi seperti ini.

PINE64

Device berikutnya yang saya test adalah PINE64. SBC ini muncul di kickstarter dan cukup sukses (1.7 juta USD terkumpul). Review awalnya cukup negatif, tapi saya sudah terlanjur pesan. Alasan utama membeli benda ini adalah karena saya ingin bereksperiman dengan assembly ARM64 (board yang lain waktu itu masih sangat mahal). Dari jumlah yang dikumpulkan di kickstarter (yang artinya banyak orang memiliki benda ini), saya berharap bisa terbentuk komunitas yang kuat seperti Raspberry Pi.

Sebagai catatan: saat ini meski belum didukung resmi, Raspberry Pi 3 sudah bisa menjalankan Linux ARM64. Jadi jika ingin sekedar belajar ARM64, Raspberry Pi3 juga bisa dipakai.

Ada beberapa opsi PINE64, memorinya bisa 512 MB, 1GB atau 2GB, dan apakah kita ingin ekstra WIFI/Bluetooth (semuanya memakai SOC Allwinner A64). Versi 1G dan 2GB memiliki ethernet gigabit (keduanya ini disebut juga PINE A64+). Karena tujuan saya ingin belajar di sisi software, saya pilih RAM terbesar yaitu 2GB, dengan harga 29 USD (RAM yang terkecil 512 MB cuma 15 USD). Saya beli juga modul WIFI/Bluetooth (+10 USD), karena mungkin nanti berguna. Ongkos kirimnya cukup mahal: 12 USD ke Thailand.

20160711_101658

Ketika saya membuka kotaknya, kesan pertama saya adalah: wow besar sekali ukurannya, lebih besar dari SBC lain yang saya punya. Dengan ukurannya yang besar, jelas ini kurang cocok untuk IOT, lebih cocok di taruh di atas meja sebagai server, media player atau desktop. Ternyata opsi WIFI/BT diberikan dalam bentuk board yang perlu kita pasang (sangat mudah, tidak mungkin terbalik).

IMG_0921

Untuk testing, saya mendownload Debian tanpa desktop. Saya tidak berharap akan langsung sukses mengingat review awal cukup jelek, tapi ternyata booting bisa lancar dan langsung muncul pesan boot di layar via konektor HDMI. Ini berbeda dengan ketika saya mencoba Orange Pi, kadang booting berhasil tapi tidak tampil apa-apa di layar walau bisa diakses via jaringan.

pine64

Saya baru mencoba benda ini sebentar sekali, jadi belum bisa berkomentar banyak. Kesan pertama: benda ini cepat, konektornya ada banyak selain baris konektor kompatibel dengan PI, ada baris konektor ekstra yang diberi nama Euler, ada konektor headphone, IR Receiver dan bahkan bisa memakai batere seperti CHIP juga.

Sesuai dengan tujuan utama: untuk mengetes software Arm64 bit, saya bisa dengan mudah mengcompile dan mendebug hello world seperti pada umumnya di platform lain.

arm64

Ada banyak yang belum saya test di PINE64 (dan saya tidak tahu apakah akan segera saya test atau tidak). Contoh hal-hal yang bisa ditest: Android di PINE64, memutar video di Pine64, GPIO, dsb. Yang jelas untuk saat ini saya hubungkan saja benda ini ke jaringan supaya bisa saya akses dan pelajari kapan saja.

Harga kemalasan (beberapa dollar saja)

Tulisan ini bukan tentang diskusi filosofis mengenai harga kemalasan, tapi mengenai harga komponen elektronik dari China yang begitu murah yang dalam satu hal membuat orang jadi malas, tapi dalam hal lain membuat orang jadi rajin.

Waktu belajar elektronik sekitar 2007, harga berbagai kit elektronik masih mahal. Beberapa tahun kemudian, Arduino mulai populer (terutama yang UNO), tapi masih sedikit clonenya, dan harganya yang resmi masih sekitar 30-65 USD/board belum termasuk ongkos kirim. Arduino jadi sekedar alat belajar dan prototyping, tidak untuk implementasi akhir. Ketika ingin men-deploy yang sudah kita buat, biasanya kita akan memprogram sebuah chip Atmega yang dibeli terpisah untuk menghemat karena harga sebuah chip Atmega hanya beberapa dollar saja, apalagi jika yang kita buat itu tidak terlalu penting, misalnya komponen mainan.

Fast forward tiga tahun yang lalu: clone Arduino UNO sudah sampai titik harga 9.9 USD. Dan setahun belakangan ini bahkan bisa didapatkan dengan harga sekitar 3 USD saja termasuk ongkos kirim.

Sekarang harga clone Arduino udah murah banget. Satu board harganya 2.87 USD dengan ongkir 1.37 USD. Ongkir ini per…

Posted by Yohanes Nugroho on Wednesday, January 28, 2015

Sekarang malas sekali memprogram chip microcontroller jika hanya ingin memakainya di rumah, pakai saja langsung Arduino Uno-nya, lalu beli lagi yang baru. Jika butuh yang ukuran lebih kecil (misalnya mungkin karena ingin dimasukkan mainan, sedangkan Uno terlalu besar) maka kita bisa membeli versi Pro Mini, yang harganya sekitar 17 USD untuk 10 board. Untuk produksi massal, tentunya microcontroller saja tanpa board akan tetap lebih murah dan reliable. Lanjutkan membaca “Harga kemalasan (beberapa dollar saja)”

Sebulan memakai printer 3D

Sesuai dengan niat saya sebelumnya, saya menuliskan update setelah sebulan memakai 3D printer.

Hardware

Beberapa minggu pertama printer 3D saya letakkan di luar kamar saya karena kamar ngoprek saya sudah terlalu penuh. Akhirnya saya merapikan kamar saya selama liburan, dan sekarang sudah bisa masuk kamar. Karena posisinya sudah tetap, saya mensetup OctoPrint di Raspberry Pi saya dengan kamera. Ketika membeli, saya hanya diberi dua filamen: PLA merah dan ABS hitam, saya sudah memesan dan menerima filamen PLA putih.

Saya sudah mengidentifikasi masalah utama printing sebelumnya dengan PLA: underextrusion (ini tidak terjadi di filamen ABS yang saya miliki). Ini akhirnya saya selesaikan dengan kombinasi software (mengeset kecepatan print agar lebih rendah) dan mengolesi filamen dengan minyak goreng. Saya agak curiga filamen merah yang diberikan paketnya agak bermasalah karena kelembaban. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, rollnya (bagian hitamnya) pecah di tengah, jadi mungkin plastiknya tidak kedap udara. Menurut yang saya baca, filamen PLA tidak bisa disimpan lama di tempat yang lembab. Percobaan dengan filamen PLA putih yang baru tidak butuh minyak dan hasil printnya lebih bagus dengan setting yang sama.

Karena poros spool PLA merah pecah, saya memprint penahan supaya spool ini bisa dipakai tanpa harus menguraikan filamen secara manual (tadinya saya tahan dengan benda yang ada di sekitar, tapi ribet jika perlu digeser).

penahanpenahan1

Lanjutkan membaca “Sebulan memakai printer 3D”

Raspberry Pi

Saat ini saya punya banyak sekali benda yang bisa saya oprek. Sekarang saya cuma mau cerita salah satu di antaranya: Raspberry Pi (RPI). Raspberry Pi adalah komputer kecil dengan harga relatif murah (35 USD). Saat ini saya punya 6 Raspberry Pi, 3 di antaranya versi 1 (RPI1) dan 3 yang lain versi 2 (RPI2), keduanya model B. Ada juga model A, tapi saya jelaskan nanti.

RaspberryPi-1

Harga 35 USD tersebut hanya RPI-nya saja, untuk bisa memakainya kita butuh beberapa hal lain. Hal paling penting yang harus dibeli adalah SD Card (untuk RPI1) dan Micro SD Card (untuk RPI2). Ukuran card minimal 8 GB (sebenarnya kalo mau rajin mencari OS alternatif, 4 GB juga cukup). Kita bisa menginstall OS sendiri, atau juga bisa membeli SD Card yang sudah jadi (sudah terinstall OS di dalamnya).

Lanjutkan membaca “Raspberry Pi”

Arduino

Sekitar 4 tahun yang lalu saya menulis tentang hobi baru saya: elektronik. Sejak Jonathan lahir, hobi tersebut mulai agak saya tinggalkan, karena butuh waktu untuk hobi ini. Misalnya untuk menyolder butuh ketenangan, dan Jonathan tidak boleh dekat-dekat karena berbahaya. Sekarang ini saya kebanyakan melakukan hal-hal kecil, seperti misalnya menambah serial bluetooth module di router.

Waktu memulai hobi saya (2009), Arduino sudah mulai terkenal, buat yang belum tahu apa itu arduino, bisa dibaca di artikel wikipedia ini. Atau jika malas, silakan lihat video singkat perkenalan Arduino ini:

Di tahun 2009 (waktu saya memulai hobi saya) menurut saya harga Arduino masih terlalu mahal, lebih dari 30 USD (sampai 65 USD untuk arduino mega), belum termasuk ongkos kirim. Itu baru harga board utama, belum termasuk shield dan modul-modulnya. Sebagai perbandingan, harga satu chip mikrokontroller hanya sekitar 20-30 ribu rupiah, dan komponen lain (kristal, voltage regulator, kapasitor, dsb) harganya juga relatif murah. Selama beberapa bulan belajar, mungkin dana yang saya keluarkan jika dirupiahkan sekitar 2 juta rupiah. Menurut saya itu tidak banyak, mengingat biaya untuk kursus apapun sekarang ini minimal ratusan ribu rupiah.

Saya senang waktu pertama kali belajar, saya menyolder sendiri tiap komponen, dan mengerti bagaimana tiap komponen bekerja, tapi sekarang saya ingin bereksperimen dengan cepat karena waktu saya tidak banyak (lebih banyak bermain dengan Jonathan). Sekarang saya lihat harga Arduino resmi sudah turun, ditambah lagi ada banyak sekali clone Arduino yang diproduksi Cina, harganya juga jauh lebih murah, 2-4x lebih murah.

Misalnya harga Arduino UNO yang saat ini dijual resmi dengan harga 20 EURO (27 USD), belum termasuk ongkos kirim yang cukup mahal ke asia (Thailand/Indonesia) yaitu 10 EURO (13.5 USD), tapi di AliExpress, clonenya di jual dengan harga 9.9 USD saja (sudah termasuk ongkos kirim). Arduino mega yang resminya 39 EURO (52 USD) dijual dengan harga 16 USD. Demikian juga dengan modul/shield tambahan, misalnya shield ethernet yang lebih dari 29 EURO (39 USD), dijual dengan harga 9 USD.

Tentunya ada perbedaan kualitas, misalnya Arduino yang resmi ROHS compliant (Restriction of Hazardous Substances compliant, tidak memakai timbal dan logam berbahaya lain), tapi yang buatan Cina saya kurang tahu apakah compliant atau tidak. Mengingat timah solder yang saya pakai dulu juga memakai timbal, saya tidak merasa ini sebagai kemunduran. Jika nanti Jonathan ingin saya ajari elektronik, saya akan membeli Arduino yang bebas timbal dan logam berbahaya lain, tapi untuk saat ini, yang ini sudah cukup.

Membuat komponen elektronik dengan Arduino memang tidak akan semurah melakukan semuanya sendiri secara manual, tapi jika waktu Anda terbatas, coba tengok Arduino. Dulu memang banyak yang melecehkan Arduino karena banyak pemula yang bangga membuat proyek sederhana yang harusnya bisa dikerjakan dengan lebih murah. Contohnya bangga bisa membuat LED berkedip dengan Arduino, padahal itu bisa dilakukan dengan IC 555 tanpa microcontroller sama sekali (dan harga IC555 hanya sekitar seribu rupiah). Banyak orang takut bahwa jika orang diperkenalkan Arduino, ilmu mereka tidak akan bertambah (jadi malas belajar). Sekarang ini mulai banyak orang profesional yang menerima Arduino dan menjadikanya alat untuk prototyping cepat.

Game Puzzle Mesin Konstruksi

Jonathan suka sekali bermain puzzle di iPad dan Android. iPad ukurannya besar, dan  tablet Android yang kami miliki (Asus Transformer) juga sama besarnya. Biasanya kami membawa-bawa Playbook ke mana-mana untuk hiburan Jonathan, tapi mainan puzzle anak-anak kurang banyak di Playbook. Jadi saya memutuskan untuk membuatkan game puzzle untuk Jonathan sekaligus aplikasinya dijual.

Tema yang dipilih untuk puzzle pertama ini adalah mesin konstruksi (construction machines). Salah satu alasannya karena Jonathan suka dengan mobil-mobil mainan konstruksinya yang berwarna kuning.

Game ini sudah dirilis di Blackberry Appworld. Mungkin di masa depan akan dirilis di Ipad dan Android. Versi lite (5 Puzzle) bisa di dapat di sini dan versi fullnya (20 Puzzle) bisa dibeli di sini.

Untuk Anda yang memakai desktop dengan browser yang mendukung Flash, Anda bisa melihat demonya (versi lite di): http://yohan.es/demo/construction-puzzle/ Harap sedikit sabar, karena file SWF utamanya 3 mb.

Sebelum membahas mengenai detail implementasinya, saya berikan dulu gambaran mengenai aplikasinya. Berikut ini halaman awalnya. Di sini pengguna bisa langsung menunjuk gambar puzzle yang ingin diselesaikan.

IMG_00000130

Puzzlenya beberapa jenis. Misalnya yang standar seperti puzzle biasa seperti ini:

IMG_00000145

Sebagian sedikit lebih sulit karena tidak menampilkan garis:

IMG_00000148

 

Sebagian hanya melengkapi bagian kendaraan saja:

IMG_00000112

 

Dan sebagian melengkapi bentuk dalam sebuah scene:

IMG_00000136

Gambar-gambar puzzle ini dibeli dari VectorStock. Harga sebuah vektor di VectorStock bervariasi. Untuk standard license, sebagian besar biayanya 1 USD per file (satu file bisa cuma satu gambar, bisa juga banyak gambar), dan tidak boleh digunakan di aplikasi yang dijual (aplikasi gratis boleh, website boleh). Untuk expanded license yang mengijinkan penggunaan gambar untuk produk komersial, harganya mulai dari 25 USD per file.

Saya membeli dua file expanded license untuk aplikasi ini. Biaya VectorStock ini sangat murah dibandingkan situs lain dan hal ini membuat sebagian designer/artist kesal karena VectorStock ini membuat mereka sulit bersaing dengan situs lain. Sebagai developer, saya merasa harga ini cukup fair. File yang rumit dihargai lebih mahal di VectorStock.

Untuk masalah kode program, saya menggunakan haxenme yang baru saya pelajari baru-baru ini. Haxe memungkinkan pembuatan program cross platform dari satu source code. Game ini sebenarnya jalan di Android dan iPad (juga di browser), tapi masih butuh sedikit polesan supaya sesuai dengan ukuran layar Android  dan iPad.

Secara algoritma, game puzzle yang dibuat ini sangat sederhana, yang memakan waktu adalah membuat konten puzzlenya. Puzzle dirancang menggunakan inkscape oleh saya dan Risna. Untuk memudahkan pemotongan gambar, saya menulis program dalam Python yang akan melakukan pemotongan gambar secara otomatis (berdasarkan properti objek di inkscape). Dengan tools yang sudah saya rancang, rencananya kami akan merilis lagi beberapa aplikasi puzzle dengan tema yang berbeda-beda.

Jonathan menjadi tester utama kami. Dia sudah sangat lancar memainkan berbagai jenis puzzle di tablet lain dan semua puzzle ini bisa dimainkan oleh Jonathan. Jonathan juga menemukan beberapa bug kecil yang sudah saya perbaiki. Namanya saya cantumkan di bagian about sebagai tester Smile

register

Semoga puzzle-puzzle berikutnya bisa segera menyusul.