Pengenalan Geometri: Pattern Blocks dan Tangram

Ada banyak permainan anak-anak yang mengajarkan anak untuk mengenal bentuk dan menyusun gabungan bentuk yang ada menyerupai bentuk lain yang lebih besar. Permainan ini sebenarnya secara tidak langsung merupakan pengenalan geometri 2 dimensi kepada anak-anak. Ada 2 mainan yang belakangan ini sedang disukai Joshua, yaitu pattern block dan tangram.

Sebelum kenal tangram, Joshua sudah mengenal menyusun puzzle pattern block dan puzzle magnet kayu yang dibeli sejak jaman Jonathan kecil. Pattern block ini ada banyak kepingan dengan berbagai bentuk. Pattern block pertama yang dia mainkan ada 6 bentuk dengan 6 warna, bentuk segitiga hijau, bujursangkar oranye, jajaran genjang berwarna biru, belah ketupat berwarna coklat muda, trapesium merah dah heksagon kuning.

Cara bermain pattern block ini biasanya anak diminta untuk meletakkan kepingan yang sesuai dengan cetakannya. Dulu saya rajin mencari template dari internet, print dan laminating. Karena bentuk dan warna yang menarik, anak-anak senang menyusun kepingan block yang ada di atas cetakan. Permainan ini membutuhkan banyak kepingan bentuk, dan biasanya jadi pekerjaan ektra untuk membereskannya hehehehe.

sumber: https://www.prekinders.com/pattern-blocks/

Selain mainan pattern block ini, kami juga punya mainan varian pattern block bentuknya berbeda. Mainan ini juga dari bentuk lingkaran, setengah lingkaran, persegi panjang, busur dan segitiga. Bedanya, mainan ini dalam kotak kayu dan bermagnet. Biasanya diberikan kartu berupa gambar yang bisa diikuti anak-anak untuk membentuk gambar besarnya. Joshua sudah menyukai mainan ini sejak dia masih belum berumur 3 tahun. Kalau dulu mainnya belum terlalu bisa mengikuti kartu yang ada, sekarang dia mulai suka mengikuti contoh yang ada.

Belakangan ini, Joshua tertarik dengan Tangram. Awalnya dia kenal tangram dari permainan OSMO Tangram. Tanpa diajarin, dia bisa mengikuti apa yang harus dilakukan dengan aplikasi OSMO Tangram. Dia bisa bermain cukup lama mengikuti berbagai bentuk mulai dari yang sederhana yang tidak menggunakan semua kepingan, sampai ke bentuk yang menggunakan 7 kepingan tangram.

OSMO Tangram ini memberi petunjuk di awal mulai dengan warna apa, dan diletakkan di sebelah mana kepingan warna lain. Kalau misalnya Joshua salah meletakkan dan harus membalik kepingan, aplikasi OSMO nya juga memberi tahu. Bisa dilihat sekilas OSMO Tangram di video YouTube berikut:

Tangram (Hanzi: 七巧板; Pinyinqīqiǎobǎn; harfiah: ‘tujuh papan ketrampilan’) adalah sebuah permainan teka-teki transformasi yang terdiri dari tujuh keping potongan, disebut tans, yang disatukan untuk membentuk pola. Tujuan dari permainan ini adalah untuk membentuk pola tertentu (hanya diberi garis bentuk atau siluet) menggunakan ketujuh potongan, yang mungkin tidak tumpang tindih. Permainan ini dianggap telah diciptakan di Tiongkok semasa Dinasti Song, dan kemudian di bawa ke Eropa oleh kapal dagang pada awal abad ke-19. Ia menjadi sangat populer di Eropa saat itu untuk sementara waktu, dan kemudian populer lagi semasa Perang Dunia I. Permainan ini merupakan salah satu permainan teka-teki transformasi yang paling populer di dunia. Seorang psikolog Tiogkok menyebut tangram sebagai “tes psikologi paling awal di dunia”, walaupun orang membuatnya untuk hiburan dan bukan untuk analisis.

Wikipedia: Tangram

Kemarin, dia menemukan mainan tangram baru yang bisa membentuk angka dan huruf selain bentuk-bentuk yang selama ini dia cobakan di OSMO. Dia mengikuti petunjuk menyusun tangram yang terdiri dari 7 kepingan bentuk menjadi bentuk huruf dan angka sesuai dengan contoh yang diberikan. Dan dia mulai berusaha mengingat menyusun kepingan tangram menjadi angka dan huruf tanpa melihat kartunya.

membentuk huruf E

Kelebihan dari puzzle tangram ini dibandingkan dengan puzzle bentuk yang dia mainkan sebelumnya adalah, kepingannya hanya ada 7. Membereskan 7 keping mainan tentunya jauh lebih gampang dibandingkan membereskan banyak kepingan mainan. Dari 7 keping ini bisa menjadi berbagai bentuk. Favorit Joshua tentunya membentuk huruf dan angka.

Sambil bermain Joshua juga seperti presenter yang menyebutkan apa bentuk dan warna yang dia pegang. Lalu juga menyebutkan di sisi mana dia harus letakkan warna yang lain. Lalu setelah selesai dia akan memberi tahu ke saya atau papanya sambil berkata: look, this is A. Sayangnya, kalau divideokan dia malah jadi diam, jadi saya tidak bisa menunjukkan video dia sedang bermain tangram.

Mana yang lebih baik, main OSMO Tangram atau Tangram biasa? Untuk tahap awal, main OSMO Tangram (dimana displaynya ada di iPad) dengan petunjuk apa yang harus dilakukan jika kita salah meletakkan kepingan, cukup membantu dia belajar bermain Tangram. Gambar yang ada dalam aplikasi juga membuat lebih sedikit lagi hal yang harus di bereskan. Sisi negatifnya, ya OSMO Tangram tetap saja membutuhkan iPad, kadang-kadang anak bisa terdistract dan malah jadi main yang lain dan bukan OSMO Tangram lagi.

Template yang bisa ditiru dengan tangram ini juga ada banyak di internet. Banyak juga yang menjual kepingan tangramnya tanpa kartu-kartu, tapi anehnya gambaran yang diberikan untuk ditiru kadang-kadang warnanya tidak sama dengan warna kepingannya dan ini bisa membingungkan untuk anak yang baru belajar tangram. Joshua tapi sudah bisa mengikuti walaupun contoh yang diberikan warnanya tidak sama dengan kepingannya.

menyusun angka 1 tanpa kartu contoh

Bermain tangram dan pattern block ini salah satu bentuk bermain sambil belajar, pelajaran yang didapatkan antara lain:

  • kesempatan untuk mengenalkan bentuk (segitiga, bujursangkar, belah ketupat, heksagon, jajaran genjang, dan lain-lain)
  • belajar warna (setiap keping biasanya punya warna yang berbeda)
  • melatih kemampuan spasial, mereka bisa mengerti hubungan bentuk yang satu dengan yang lain dan membaliknya jika dibutuhkan
  • membantu anak melihat gambaran besar dari bentuk-bentuk yang disusun, terutama untuk anak yang belajar secara visual.
  • bisa digunakan untuk mengenalkan kongruensi, kesamaan dan juga simetri.
  • dan tentunya seperti kegunaan bermain puzzle lainnya, bermain ini bisa membantu melatih kemampuan problem solving pada anak.

Kalau lagi kehabisan ide mau ajak anak main, bisa dicoba dibikin mainan Tangram ini. Saya yakin ada banyak template untuk membentuk kepingan tangram selain template bentuk-bentuk yang ingin disusun dari tangram ini.

Lagu-lagu Badanamu

Pertama kali saya tahu mengenai Badanamu ini, saya hanya tahu lagu-lagu dari YouTubenya saja. Karakter animasi Bada merupakan tokoh seperti bear yang berbulu putih tebal dan ekor yang sangat pendek. Konon setelah baca-baca tokoh Bada ini animasi dari seekor anjing pomeranian. Karakter Bada ini punya banyak teman-teman seperti Mimi, Abby, Punk, Curly, dan Jess.

Gambar dari pinterest: https://www.pinterest.com/badanamu/badanamu-friends/?lp=true

Niat menuliskan mengenai Badanamu ini sudah dari dulu, tapi sudah beberapa kali saya tunda, karena ternyata Badanamu ini bukan cuma lagu saya tapi merupakan sebuah program edukasi lengkap dan bahkan menjual buku juga selain lagu-lagu yang ada di YouTube. Saya kaget juga membaca kalau mereka kantor utamanya ada di Seoul, USA dan China. Saya pikir wah bisa buat belajar bahasa Korea juga, eh tapi ternyata fokus mereka mengajarkan dalam bahasa Inggris saja. Karena saya belum jadi juga mencoba aplikasi ataupun menjadi member dari Badanamu Club, saya tidak bisa bercerita banyak mengenai program lengkap mereka. Sekarang ini saya akan menuliskan kenapa kami menyukai lagu-lagu dari Badanamu (apalagi sekarang bisa dengar di Apple Music juga).

Kami ketemu lagu-lagu Badanamu ini secara gak sengaja. Sejak Joshua suka mendengar berbagai lagu ABC, phonics dan counting, kadang-kadang dia suka menunjuk ke lagu yang direkomendasikan oleh YouTube. Begitu mendengarkan lagu-lagunya, saya langsung suka. Ada beberapa alasan kenapa saya jadi suka dengan lagu Badanamu ini.

  • karakternya lucu dan menggemaskan
  • musicnya enak didengar dan bikin bersemangat
  • liriknya (ini penting) juga cukup banyak mengajarkan hal positif untuk anak-anak
  • ada program phonics juga, mengenalkan bunyi setiap huruf dalam alphabet
  • ada program membaca juga, dan sepertinya ini salah satu yang bikin Joshua bisa cepat membaca
  • ada program mengenalkan emosi juga
  • ada nursery rhymes juga

Bukan cuma Joshua, saya dan Joe juga suka mendengarkan lagu-lagu dari Badanamu ini. Bahkan kalau pagi-pagi, saya pasang lagu ini buat memberi semangat menyiapkan sarapan pagi.

Coba dengarkan lagu ini:

Rise and Shine

Liriknya sebagai berikut:

Rise and Shine
CHORUS
Wake up now.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day! (x2)
VERSE 1
If you make your bed and brush your teeth.
Fold your clothes nice and neat.
Eat your breakfast, eat your greens.
Your momma won’t complain about a thing.
CHORUS
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.
Rise and shine.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day!
VERSE 2
If you comb your hair, rinse your face.
Scrub your toes and wash your feet.
Take a shower and soap with suds.
Your momma will give you so much love.
CHORUS
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.
Wake up now.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day! (x2)
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.

Rise and Shine, Badanamu

Jonathan aja kalau bangun pagi malas-malasan di kasih lagu ini langsung jadi semangat hehehe. Joshua sih dikasih lagu apa aja bakal semangat. Dan kalau dilihat dari liriknya, ini seperti versi lain dari lagu bangun tidur ku terus mandi jaman saya masih kecil hehhee. Ada bagian merapihkan tempat tidur juga dan ya abis itu semua baru deh main.

Lagu berikutnya yang saya juga sekarang pakai untuk mengajarkan Joshua sikat gigi, cuci muka dan sisiran judulnya Brush brush brush.

Brush brush brush

Lirik lagunya:

VERSE 1
I wanna be clean,
So I brush my teeth.
Up and down,
And underneath.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I brush my teeth
Because it’s good for me.
Good for me!
Brush brush brush! X 4
VERSE 2
I wanna be clean,
So I wash my face.
Up and down,
And all over the place.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I wash my face
Because it’s good for me.
Good for me!
Wash wash wash! X 4
VERSE 3
I wanna be clean,
So I brush my hair.
Side to side,
And up in the air.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I brush my hair
Because it’s good for me.
Good for me!
Brush brush brush! X 4

Brush brush brush, Badanamu

Joshua sampai sekarang masih suka males kalau diajarin sikat gigi, tapi kalau saya kasih sikat gigi sambil nyanyiin lirik lagu ini, dia jadi mau disikat giginya. Setelah sikat gigi setelah itu cuci muka. Selesai mandi nyanyiin bagian sisir rambut. Semua dalam 1 lagu hehehe.

Nah ini lagu berikut (yang terakhir akan saya share di sini), lagu tentang semua adalah pemenang.

Everyone is a Winner

1, 2, 3, 4, whoa, here we go
It’s time to play
Time to play
1, 2, 3, 4, whoa, here we go
It’s time to play
Time to play the games
CHORUS
And everyone is a winner
Even if you lose sometimes
So let’s try our best to deliver
Let’s have the time of our lives
The first game up
To try to win the cup
Is a three-legged race
So try to stay up
But if you fall, I will pick you up
And carry you across the goal line
(CHORUS)

The second game up
To try to win the cup
Is a tug-of-war
So don’t give up
But if you fail, don’t get upset
I will help you on your feet again
(CHORUS) x2

Everyone is a Winner, Badanamu

Bagus-bagus kan liriknya, ini lagu bukan cuma buat anak kecil, tapi ya buat orang dewasa juga rasanya masih enak buat didengar. Bahkan kadang-kadang kata Joe, beat nya lagu Badanamu ada juga yang seperti lagu party (padahal gak pernah tuh pergi ke party yang pake lagu-lagu disko hahaha).

Lagu-lagu Badanamu di Apple Music

Sekarang ini, lagu-lagu Badanamu jadi lagu yang hampir setiap hari kami dengarkan dari Apple Music. Lagu-lagu Project Pop dan Korean minggir dulu deh ya hehehe. Kami senang menemukan ini dalam bentuk musicnya saja karena artinya bisa diperdengarkan tanpa menambah screentime ke anak-anak.

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Badanamu ini bukan hanya lagu saja, di YouTube channelnya juga bisa dilihat ada pelajaran menggambar karakter yang ada dalam Badanamu. Kalau dari websitenya saya lihat mereka juga ada app nya. Kalau gak ingat ongkos kirim, saya tertarik beli buku-bukunya juga hahaha. Tapi untuk sekarang sepertinya cukup lagu-lagu di Apple Music dan YouTube saja. Kalau suatu hari kami memutuskan untuk mencoba appsnya pasti akan saya tulis reviewnya.

Buku: Aku Belajar Tapi Gak Sekolah

Buku karya anak-anak yang belajar di rumah

Beberapa waktu lalu, seorang teman di FB membagikan informasi mengenai buku ini. Sebagai keluarga yang juga memilih jalan sekolah di rumah ini, saya langsung tertarik untuk membacanya, apalagi karena buku ini ditulis bukan oleh orangtuanya, tapi oleh anak yang menjalani kehidupan bersekolah di rumah. Buku ini ditulis oleh 20 anak berusia antara 10 – 17 tahun yang bergabung dalam sebuah komunitas homeschool, dibimbing oleh 3 orang mentor yang menghomeschool anak-anaknya selain juga berkarya di bidangnya. Buku ini juga menjadi salah satu hasil karya belajar menulis yang merupakan kegiatan homeschool mereka di komunitas homeschool Klub Oase.

Komunitas untuk keluarga yang bersekolah di rumah ini sangat dibutuhkan, bukan saja untuk anak bersosialisasi, tapi juga untuk orangtua bertukar ide dan pengalaman. Tahun lalu saya sempat bergabung dengan komunitas lokal di sini, tapi komunitasnya terlalu besar dan akhirnya saya merasa terlalu melelahkan. Tahun ini saya memilih komunitas yang lebih kecil di mana anak-anak bertemu sekali seminggu dengan kegiatan bermain dan belajar bersama.

Buku ini cukup tebal, lebih dari 300 halaman. Tapi karena ceritanya tidak bersambung kita bisa memilih mau baca cerita siapa terlebih dahulu dengan memilih dari daftar isinya.

Tulisannya dikelompokkan menjadi 5 kategori. Mulai cerita awal perjalanan memilih homeschool, bagaimana kegiatan sehari-hari anak homeschool, bagaimana mereka bersosialisasi, apa saja naik turunnya kegiatan homeschoolers dan apa yang menjadi cita-cita mereka.

Sebagai orang yang menghomeschool anaknya, saya bisa mengerti apa yang dirasakan anak-anak itu. Bagian awal mula homeschool itu ada yang menjadi keputusan orangtua, dan tidak sedikit juga menjadi keputusan anak itu sendiri. Tapi siapapun yang memutuskan dan apapun alasan mulainya, dari cerita mereka saya bisa melihat mereka semua merasa bersyukur belajar di rumah. Mereka juga menjadi anak-anak yang bisa belajar mandiri dan belajar bertanggung jawab mulai dari perencanaan kegiatan mingguan, menetapkan target dan sampai pelaksanaanya termasuk aktif dalam kegiatan-kegiatan pameran hasil karya.

Setiap keluarga punya alasan dan inginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Di dalam buku ini saya lihat banyak anak yang memutuskan/meminta untuk dihomeschool karena merasa beban berat di sekolah, dan juga tidak lepas dari adanya bullying. Saya sendiri tidak pernah dibully waktu sekolah, tapi jangan-jangan tanpa sadar saya yang membully teman saya, karena saya ingat waktu saya SD ada teman yang membagi uang jajannya ke saya tanpa saya minta supaya dia bisa nyontek PR saya (waktu itu saya kelas 1 SD dan ya belum mengerti kalau sebaiknya saya tidak menerima uang dari teman dan tidak memberi contekan PR).

Sedikit hal yang mengganggu dalam buku ini. Saya kadang bingung ketika anak yang sama menulis tentang hal yang berbeda. Di satu bagian dia bercerita sedang persiapan ujian masuk universitas tertentu, di bagian lain dia bercerita kalau dia sudah melupakan target masuk universitas yang itu. Mungkin ada baiknya juga kalau ceritanya dikelompokkan berdasarkan anaknya. Jadi misalnya si A bercerita mulai dari awal dia homeschooling bagaimana, lalu bagaimana kegiatan hariannya, bagaimana dia bersosialisasi, bagaimana roller coaster yang dia hadapi dan apa harapan dia 20 tahun mendatang. Jadi pembaca bisa lebih dapat gambaran misal si A ini hobinya menggambar dan berapa banyak sehari dia menggambar dan apakah 20 tahun ke depan dia berharap berkarya dari gambarnya atau mau kuliah lalu menjadi pengajar gambar.

Sebenarnya, di semua tulisan ada jelas anak mana yang menulis dan di halaman belakang buku ada profil anak tersebut, tapi karena saya bukan tipe yang bisa dengan cepat mengingat nama dan fakta tentang masing-masing anak (dan ada 20 anak), kadang-kadang jadi bingung dan harus baca buku bolak -balik untuk mengingat lagi ini anak yang mana yah.

Menurut saya, buku ini perlu dibaca oleh orang-orang dalam kategori berikut:

  • anak sekolah yang merasa beban sekolah sangat tinggi
  • anak sekolah yang merasa bosan dengan rutinitas sekolahnya
  • anak sekolah yang punya minat untuk pelajaran tertentu
  • orangtua yang selalu merasa stress setiap musim ulangan umum anaknya
  • orangtua yang tertarik dan pingin tahu apa itu homeschool
  • siapa saja yang selalu meragukan kerabatnya yang menghomeschool anak-anaknya

Saya senang sekali membaca buku ini, kami baru melakukan homeschool sekitar 2 tahun, masih banyak pertanyaan dan keraguan setiap tahun ajaran baru, tapi dari membaca pengalaman anak-anak yang sudah dihomeschool baru 2 tahun sampai sudah 8 tahun, semuanya bahagia dengan pilihan homeschool. Mereka juga terlihat menjadi anak yang kreatif dan juga bisa belajar mandiri. Saya gak meragukan kalaupun mereka nantinya memilih kuliah demi mendapat ijasah dengan alasan memperluas pilihan ketika dewasa, mereka tidak akan punya kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman kuliah dan tidak ada masalah mengikuti kegiatan belajar di tingkat universitas. Bahkan mereka bisa lulus dengan cepat karena mereka terbiasa belajar mandiri.

Kalau kamu termasuk yang mempertanyakan anak homeschool ngapain aja dan apa bedanya dengan sekolah formal, dan juga mempertanyakan bagaimana nanti ijasahnya, nah coba deh baca buku ini untuk melihat lebih dekat kegiatan anak-anak homeschool. Menurut saya, mereka gak akan kurang kesempatannya di masa depan dari anak-anak yang dikirim ke sekolah biasa, malahan kalau dilakukan dengan benar, anak-anak homeschool ini bisa lebih berhasil karena mereka sudah lebih terlatih untuk fokus dengan apa yang mereka suka dan mencari tahu bagaimana melakukan sesuatu dengan benar.

Saya berharap komunitas homeschool di Indonesia juga semakin banyak. Siapa tahu suatu saat kami harus kembali ke Indonesia, jadi kami bisa bergabung dengan komunitas lokal yang ada.

Buku-Buku Homeschool Term Depan

Hari ini pak pos datang pagi-pagi ke rumah, nganter paket buku Homeschool CLE term yang akan datang. Kami pesan dari tanggal 26 Maret 2019 lalu dan baru sampai hari ini. Sengaja sih mesannya dari sekarang, karena pengalaman kalau mesannya berdekatan dengan pergantian tahun ajaran, semua orang juga lagi mesan dan mereka lebih lama lagi memproses orderannya.

Buku-buku CLE ini kami pesan dari situsnya langsung, dikirim dari Amerika dengan ongkos kirim sebesar 20 persen dari harga bukunya. Ongkos kirim internasional ini flat rate, dan dibandingkan dengan kurikulum lainnya, CLE ini yang paling murah ongkos kirimnya. Tapi kami memilih kurikulum ini bukan karena masalah ongkos kirimnya saja, tapi karena kurikulumnya juga sudah teruji dan dipakai lebih dari 30 tahun. Dari pengalaman memakai kurikulum ini sejak Jonathan kelas 2 dan tahun ini akan selesai kelas 3, kami cukup puas dan melihat Jonathan cukup bisa mengerjakan pelajarannya dengan mandiri.

Ayo tebak, buku sebanyak ini harus bayar berapa? buku-buku ini untuk kebutuhan Jonathan kelas 4 semester pertama, kami juga beli buku petunjuk untuk guru supaya saya gampang ngecek kerjaan Jonathan dan juga buku untuk Joshua kalau dia sudah siap untuk mulai kegiatan sekolah di rumahnya. Buku untuk Joshua ini untuk preschool dan TK, jadi bisa dipakai untuk 2 tahun ke depan, tapi ya rencananya sih saya hanya akan memberikan Joshua pekerjaan kalau dia memang mau melakukannya. Saya belum berniat serius menghomeschool Joshua, biar dia puas main-main dulu.

Jonathan senang banget melihat buku-buku semester depan sudah datang, padahal buku untuk kelas 3 sekarang ini masih di buku 9 pertengahan. Kalau semua lancar, paling awal Juni baru selesai semuanya. Tapi ya namanya homeschooling, bisa aja kalau Jonathan lagi semangat dia dibujukin mempercepat selesainya dengan iming-iming biar bisa libur lebih awal hehehe. Masalah kapan akan memulai semester berikut juga tergantung Jonathan, bisa libur cuma 2 minggu, bisa juga libur 1 bulan kalau mau sebelum mulai pelajaran kelas 4.

Tadi Jonathan langsung ambil buku bacaannya, dari dulu dia paling senang membaca cerita-cerita dalam buku pelajaran Reading. Terus dia komen, loh kok Readingnya cuma sampai buku ke – 5? Nah jadi ceritanya kelas 4 itu pelajaran terstuktur membacanya dikurangi, dalam 1 tahun cukup 5 buku saja (biasanya 10), nah pelaksanaanya terserah apakah 5 buku itu dibagi jadi 2 semester atau mau 1 semester selesaikan 5 buku dan semester depannya kasih buku-buku lain atau pelajaran bebas.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, ngapain buku Preschool dan TK buat Joshua udah dipesen sekarang, padahal belum berencana memulai program sekolah di rumah untuk Joshua. Ya, saya pengen lihat aja isinya. Sekarang ini Joshua kemampuan akademisnya sebenarnya sudah seperti anak SD kelas 1, dia udah bisa membaca banyak kata (bahasa Inggris) baik dengan cara sight words ataupun dengan mengeja. Joshua juga sudah mulai mengerti operasi penjumlahan dan pengurangan dan sangat rajin berlatih sendiri. Tapi saya pingin dia dapat dasar yang benar, belajar hal-hal sederhana mulai dari menarik garis lurus dengan cara memegang pensil yang benar. Jadi ya, saya gak akan memburu-buru dia untuk bisa melakukan semua dengan benar, tapi gak ada salahnya mempersiapkan supaya nantinya bisa memulai sedikit demi sedikit.

Nah kembali ke pertanyaan pertama, udah ada yang berhasil nebak harga buku-buku yang kami beli ini? Harganya tentunya lebih murah dari uang sekolah Internasional. Total belanja dengan ongkos kirim cuma 262.50 USD. atau sekitar 3,7 juta rupiah. Mahal? ya nggak dong, itu kan buat 2 anak, yang satu untuk 1 semester (6 bulan), dan anak 1 lagi untuk 2 tahun pelajaran. Biaya bayar gurunya yang mahal, emaknya kudu sedia waktu buat 2 anak hehehe.

Rincian pesanan

Tadinya kami berniat untuk memesan buku pelajaran Jonathan sekalian untuk 1 tahun, tapi gak jadi karena gak ada tempat nyimpannya juga di rumah. Lagipula, entah kenapa ada perasaan senang aja pas nerima buku-buku homeschool ini. Jadi saya ingin membagi kesenangan saya menjadi 2 kali menerima buku dan bukan cuma sekali hehehhe. Nanti kalau sudah mulai pelajaran kelas 4, pesanan untuk semester berikutnya biasanya akan jauh lebih murah, karena gak perlu beli buku untuk Joshua lagi dan juga buku untuk gurunya sudah digabung dalam pembelian yang sekarang.

Buku: Prayer for a Child

Buku Prayer for a Child merupakan buku klasik yang pertama kali terbit tahun 1944 tapi masih menarik untuk dibacakan sampai sekarang. Ditulis oleh Rachel Field dan setiap halamannya berisi ilustrasi gambar oleh Elizabeth Orton Jones.

Kami membeli buku ini dari Amazon waktu Jonathan masih kecil. Buku ini merupakan salah satu buku terpanjang yang dihapal Jonathan sebelum dia bisa membaca dan merupakan salah satu buku rutin yang dibaca sebelum tidur. Saya ingat, waktu kami pulang ke Indonesia buku ini juga kami bawa untuk bacaan sebelum tidur. Setelah Jonathan lancar membaca, dia mulai tertarik membaca buku lain dan buku ini kami simpan untuk adiknya.

Jonathan waktu 3 tahun 7 bulan

Sejak Joshua tertarik dibacakan buku, kami juga sudah membacakan buku ini berkali-kali ke Joshua. Lagi-lagi, walaupun dia dalam buku ini cukup panjang, Joshua juga bisa menghapalkannya sejak dia belum terlalu bisa membaca.

Beberapa lama buku ini sempat ditinggalkan dan baru belakangan ini dibaca lagi. Walau sekian lama gak dibaca, Joshua masih ingat dengan isi buku ini. Joshua sekarang sudah agak bisa membaca, tapi walaupun dia selalu membalik halaman seolah membaca, saya yakin sebagian besar berupa hapalan dan bukan benar-benar bisa dibaca.

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang cukup menarik dari setiap baris doanya. Kata-kata yang digunakan tidak semua sederhana, tapi cukup berima sehingga mudah diingat. Setelah membacakan beberapa kali, baru melihat gambarnya saja saya bisa ingat kalimatnya.

Joshua 3 tahun 10 bulan

Sekarang, setiap malam Joshua membaca buku ini dan meminta saya mengikuti setiap kalimat yang dia ucapkan. Kadang-kadang dia juga sambil menirukan saya yang pernah memakai buku itu untuk bermain: apa yang kamu lihat, atau mengenali objek-objek yang ada.

Secara isi doa, walaupun doa ini ditujukan penulis untuk anak perempuannya Hannah, tapi doa ini bisa juga diucapkan anak laki-laki. Bahkan bisa untuk orang dewasa sekalipun.

Doanya dimulai dengan bersyukur untuk susu dan roti (makanan), bersyukur untuk tempat tidur yang ada, bersyukur untuk mainan yang dimiliki sampai mendoakan semua anak-anak di seluruh dunia jauh maupun dekat.

Buku ini merupakan buku yang bagus untuk mengajari anak berdoa. Kita bisa mengajari anak berdoa bukan hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk semua hal kecil dan besar, mengucap syukur untuk orangtua dan saudara. Tak lupa mendoakan sesama (anak-anak lain).

Walaupun pada saat anak-anak kami membaca buku ini kemungkinan besar mereka belum mengerti sepenuhnya dengan isi doanya, tapi kami senang menemukan buku yang mengajari anak berdoa seperti ini.

Manfaat Menghomeschool Anak

Udah lama gak cerita soal homeschoolingnya Jonathan. Beberapa minggu lalu, Jonathan dan Joshua ikutan summer camp jadi kegiatan homeschoolingnya diliburkan. Campnya itu mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 3 sore. Waktu mereka ikut camp, setiap pagi jadi terasa lebih berat dari hari-hari sekolah di rumah.

Biasanya, kegiatan homeschool di rumah mulai jam 9 -an, tapi tidak ada waktu tempuh jadi ya seselesainya makan mandi baru mulai. Nah kalau kegiatannya bukan di rumah, otomatis pagi-pagi jadi harus lebih awal melakukan semuanya supaya tidak terlambat sampai ke tujuan.

Jadi terpikir, ternyata homeschooling itu jauh lebih santai daripada kirim anak ke sekolah. Selain masalah flexibilitas waktu, saya merasakan beberapa manfaat lain dari menghomeschool anak. Manfaat yang ingin saya tuliskan di sini bukan untuk anak, tapi untuk kami orangtuanya. Setidaknya ini yang kami rasakan.

Fleksibilitas

Kegiatan homeschooling kami biasanya hanya 4 hari seminggu, mulainya jam 9 pagi dan selesai jam 12 siang. Kalau Jonathan lagi agak bengong, ya kadang baru diselesaikan sekitar jam 1 siang (setelah dia selesai makan). Sekarang ini Joshua belum saya berikan pelajaran yang terstruktur, untuk Joshua setiap harinya intinya bermain dan bermain. Mau mainan mobil-mobilan, lego, playdough, piano, berantakin rumah, coret-coret di papan tulis, bebasss asalkan gak gangguin kakaknya.

Kadang-kadang, kalau ada kebutuhan, kami bisa saja meliburkan hari sekolah. Sebaliknya kalau Jonathan mau, bisa saja di akhir pekan dia mengerjakan pekerjaan sekolahnya supaya lebih cepat selesai dan bisa libur di hari lain.

Masalah fleksibilitas ini tentunya ada plus minus. Walaupun sangat fleksibel, kami tetap punya target kalau 1 tahun ajaran itu tidak lebih dari 10 bulan. Yang paling tersasa sekarang ini sih, dengan homeschooling, saya tidak repot antar jemput ke sekolah.

Ikut belajar

Ini salah satu manfaat yang paling terasa buat saya. Dulu waktu belajar bahasa Inggris, saya gak pernah tahu istilah phonics, dan berbagai istilah untuk grammar bahasa Inggris. Sekarang ini, dengan menghomeschool Jonathan, saya jadi ikut belajar dan seperti mendapat ilmu baru.

Selain pelajaran bahasa Inggris, sekarang ini saya juga jadi ikutan belajar piano. Dari dulu saya tidak pernah belajar alat musik. Menyanyipun gak terlalu hobi. Tapi sejak kami mengkursuskan Jonathan piano, ya saya juga jadi ikutan belajar dari bukunya. Sekarang ini malahan guru piano Jonathan baik hati, saya diajari tanpa biaya tambahan. Jadi bayar 1 yang belajar 2 hehehe.

Sejak menghomeschool, kami juga jadi banyak membelikan buku-buku yang berisikan informasi yang bisa menambah pengetahuan umum Jonathan. Sebelum dia baca, tentunya kami perlu mencari tahu dulu isi buku itu kira-kira apa, lalu kami juga jadi ikut membaca buku-buku seperti Secret Coder, Murderous Maths maupun Horrible Geography. Bacaan seperti itu juga sedikit banyak merefesh apa yang sudah kami ketahui dan menambah banyak fakta yang mungkin sebelumnya kami tidak pernah tahu.

Selain ikut belajar dengan semua yang dipelajari anak, saya juga jadi ikut bersemangat untuk tetap belajar hal-hal baru seperti Joe yang pengen belajar menggambar atau saya yang lagi belajar bahasa Korea.

Tahu persis perkembangan anak

Pendidikan itu dimulai dari rumah. Waktu Jonathan kami kirim ke sekolah, kami tetap memantau perkembangan dia, tapi harus diakui kadang-kadang kami jadi terlalu santai dan berpikir dia belajar di sekolah baik secara akademis, sosialisasi dan juga lifeskill.

Waktu Jonathan disekolahkan, badannya kurus, dia sering sakit dan kami sering dapat keluhan dari sekolah kalau dia tidak fokus di kelas dan mengganggu kegiatan kelas. Kami sudah menyadari soal Jonathan yang mudah teralih perhatiannya karena sekarangpun masih terjadi. Tapi setelah di homeschool dan berat badannya naik dan lebih sehat, saya baru menarik kesimpulan jangan-jangan selama ini Jonathan makannya gak bener di sekolah.

Jonathan memang lambat makannya dan hanya suka makanan tertentu, Di sekolah jam makan itu terbatas, selain itu dia pasti pengen main sama teman-temannya. Jadi ada kemungkinan hampir setiap harinya Jonathan tidak makan siang yang cukup di sekolah, dan itu juga yang membuat dia lebih mudah sakit.

Sekarang ini karena sehari-harinya di rumah, kami tahu persis apa yang dia makan dan berapa jam sehari dia tidur (malah kadang-kadang masih bisa disuruh tidur siang). Untuk masalah gampang teralih perhatian, bisa diminimalkan, karena yang mengganggu cuma Joshua hehehe.

Dengan homeschool, kami juga tau persis sampai mana level pemahaman Jonathan untuk suatu topik. Untuk lifeskill nya kami juga tahu bagian mana yang masih perlu dilatih lagi dengan memberikan dia tanggung jawab membantu saya di rumah.

Kenal dengan semua teman anak

Dengan homeschool, tidak ada yang namanya rapat orang tua guru, dan tentunya saya kenal dengan semua teman bermain Jonathan. Biasanya untuk sosialisasi pasti saya ketemu juga dengan temannya dan juga orangtua dari temannya. Kadang-kadang malah, secara gak langsung bukan cuma Jonathan yang punya teman, tapi kami juga jadi berteman dengan orangtua temannya itu.

Kalau dikirim ke sekolah, kemungkinan kita tidak kenal semua teman anak kita, kita juga belum tentu kenal dengan orangtua dari teman anak kita. Dengan mengenali teman dan keluarga temannya, kita bisa tahu seperti apa pengaruh yang diterima anak kita dari pertemanannya.

Team work dengan pasangan

Menghomeschool itu butuh komitmen. Hari-hari sekolah tidak selalu penuh dengan bunga, lebih sering penuh dengan tantangan kalau Jonathan lagi susah fokus. Saya ini bukan orang yang super sabar, kalau Jonathan lagi susah dibilangin (bukan karena dia gak ngerti pelajarannya, biasanya karena dia ngeyel saja), saya memilih berhenti pelajaran tersebut dan minta tolong Joe untuk menyelesaikan topik tersebut.

Kadang-kadang, mungkin Jonathan juga bosan liat mamanya sepanjang hari, jadi beberapa pelajaran saya minta Joe yang ajarin dan beri penilaian. Misalnya untuk creative writing (dalam bahasa Inggris), saya merasa masih kurang bisa menulis dalam bahasa Inggris, jadi saya minta Joe yang ajarin. Untuk pelajaran science, ada beberapa hal yang perlu melakukan eksperimen. Jonathan biasanya senang melakukan eksperimen ini dengan papanya, jadi ya sekalian deh saya minta Joe yang pegang pelajaran science.

Dengan menghomeschool, saya dan Joe jadi belajar bagi tugas supaya anak dapat pendidikan tapi juga tidak merasakan itu jadi beban. Kami jadi lebih sering berdiskusi untuk merencanakan apakah ada kegiatan yang perlu dikurangi atau diganti. Kami berdua mengevaluasi perkembangan anak-anak, termasuk mempertimbangkan apakah Joshua sudah perlu dikursuskan sesuatu atau tidak.

Hemat

Karena kami homeschool bukan mengirim ke lembaga homeschool dan bukan membeli kurikulum yang mahal. Pilihan homeschool ini bisa dibilang sangat murah bila dibandingkan mengirim anak ke sekolah. Kami tidak keluar biaya uang sekolah, tapi kami cukup membeli buku, buku dan buku hehehe.

Karena belajarnya di rumah, ya otomatis tidak ada biaya transport. Kalaupun ada kegiatan tambahan di luar rumah, rasanya anak yang sekolahpun sering ada kegiatan tambahannya. Faktor yang paling berasa, karena gak perlu antar jemput, ya jadinya hemat bensin deh hehehe.

Kesimpulan

Ketika kami memutuskan untuk homeschool Jonathan, kami sempat dilema dengan banyak hal. Apalagi kami homeschool itu awalnya bukan karena idealisme, tapi lebih karena terkondisikan. Sampai sekarang masih ada beberapa hal yang belum bisa kami jawab terutama masalah ijasah. Masalah ijasah ini ada pentingnya, tapi lebih penting lagi untuk punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian.

Fokus kami sekarang ini supaya anak-anak punya kemampuan belajar mandiri dan juga punya keahlian. Untuk ijasah kami tetap pikirkan. Kami yakin, kalau anak punya kemampuan belajar mandiri, tidak akan ada masalah untuk ambil ujian persamaan sebelum ujian untuk masuk perguruan tinggi.

Mau homeschool sampai kapan? ya selama masih lebih banyak manfaatnya dan kami mampu, kami akan tetap homeschool. Tidak semua orang cocok menghomeschool dan tidak semua anak cocok dihomeschool. Semuanya tujuannya untuk membekali anak dengan pendidikan, demi masa depan yang cerah hehehe.

Joshua dan Piano (2)

Joshua (3 tahun 10 bulan) gaya belajarnya unik, dia tidak suka diajarin berlama-lama. Kalau dia tertarik, dia yang akan minta kita berkali-kali menyanyikannya. Kalau tidak tertarik, ya dia tidak akan bisa dipaksa. Setelah bulan Februari dia belajar lagu Mary had a little lamb, dan mengerti untuk mencari do-re-mi-fa-so-la-si-do di tuts piano, saya mencoba mengajarkan dia lagu ABC (yang nadanya sama dengan twinkle-twinkle little star).

Awalnya ketika saya ajarkan, dia hanya mau menyanyikannya dan tidak mau mencoba sendiri.Dia malah menyuruh saya yang main berkali-kali. Saya suruh dia menirukan, tapi dia malah pura-pura ga melihat. Kalau saya berhenti main, dia tarik tangan saya dan letakkan di tuts piano dan bilang: lets sing it again. Setelah itu dia pergi dan bernyanyi tanpa mau mendengarkan kalau diajarin. Karena saya pikir dia tidak tertarik, ya sudah saya tidak paksa.

Beberapa hari belakangan ini, dia tertarik lagi dengan piano. Dia mulai dengan mencari d0-re-mi lagi. Saya mengajarkan lagu ABC dengan menyanyikan solmisasi (do-d0-sol-sol-la-la-do), nah Joshua ternyata ingat kata-katanya. Waktu dia menemukan piano mainan kecil (yang dibeli seharga 60 baht), dia langsung mengerti melihat ada tulisan do-re-mi nya di tutsnya. Setelah mencoba-coba sendiri beberapa kali, dia bisa 1 bait pertama.

Setelah itu saya mencoba mengenalkan mana tuts do dan sol di piano. Beberapa kali dia menolak untuk diajari. Dia memang tipe yang lebih suka coba-coba dan cari tau sendiri. Eh usahanya berhasil, kemarin dia sudah bisa membunyikan lagu ABC di piano kecilnya.

mainan piano kecil

Piano kecil ini dulu dibeli buat menghibur Joshua kalau lagi duduk di stroller. Sudah pernah diganti baterenya karena lama gak dimainkan lalu mati. Piano murahan ini cukup tahan banting, karena kadang-kadang dilempar sama Joshua kalau dia bosan. Tapi ternyata jadi berguna untuk dia transisi ke piano besar.

Setelah berhasil main di piano kecil, dia mulai mencoba meletakkan piano kecilnya didepannya, untuk dapat contekan mana do-re-mi. Terus dia coba-coba dan bisa deh akhirnya.

akhirnya bisa nyanyi ABC di piano besar

Selain berhasil memainkan lagu ABC, dia juga mencoba memainkan lagu yang biasa dia nyanyikan untuk berhitung angka yang dia pernah dengar dari youtube. Jadi Joshua memang punya kemampuan mendengarkan nada, lalu mencobakannya di piano.

mencoba sendiri lagu yang sering dinyanyikan

Sekarang ini Joshua memainkan piano masih memakai 2 jari saja, bahkan kadang-kadang hanya 1 jari. Tapi setelah dia bisa 3 lagu, dia semakin sering berlatih sendiri. Saya tidak pernah belajar piano waktu kecil, saya baru belajar piano setelah punya anak. Salah satu keuntungan dari homeschooling adalah: saya juga jadi harus ikut belajar.

Saya mencoba mengajarkan Joshua untuk menggunakan semua jarinya untuk bermain piano. Tapi sejauh ini dia belum mau. Sepertinya jari-jarinya memang belum kuat untuk menekan tuts piano.

Senang rasanya kalau anak tertarik untuk mempelajari sesuatu, walaupun sulitnya dia ga mau diajari dan jadinya suka gemes sendiri karena belajarnya jadi lama. Saya berusaha untuk bersabar dan membiarkan saja dia dengan apa maunya. Setidaknya karena hari ini dia tertarik dengan piano (selain playdough), dia tidak mencari gadget/youtube hehehe.

Setelah Joshua tertarik main piano, Jonathan yang biasanya susah disuruh berlatih jadi lebih tertarik juga untuk ikut main piano. Memang ya, kalau punya 2 anak itu bagusnya anak yang 1 akan membuat anak yang lain pengen ikut-ikutan. Joshua dulu tertarik dengan abc dan numbers juga karena sering melihat Jonathan belajar. Sekarang Jonathan yang biasanya malas berlatih piano jadi gak mau kalah dan berlatih juga.

duet main piano

Memang katanya gak baik membanding-bandingkan anak karena setiap anak itu berbeda. Tapi ya, memang sebaiknya punya anak jangan cuma 1. Sekarang ini, walaupun umurnya berbeda hampir 4 tahun, Jonathan dan Joshua sudah mulai bisa main bersama dan saling membuat yang lain pengen ikutan melakukan hal yang sama. Sejauh ini sih hal-hal yang mereka tiru masih hal yang baik, dan semoga terus seperti itu.