Nonton TV Indonesia Online

Sebenarnya kami bukan orang yang sering menonton TV, terutama acara TV yang banyak iklannya. Sejak tinggal di Chiang Mai kami sudah terbiasa tidak menonton TV, apalagi siaran TV Indonesia. Tapi setiap kali baru pulang dari Indonesia, karena di sana biasanya selalu ada TV menyala, Jonathan jadi ikutan nonton dan kamipun terpikir untuk mencari tahu bagaimana supaya bisa menonton siaran TV Indonesia.

Waktu pertama kali mengetahui siaran TV Indonesia bisa ditonton dari internet (sekitar tahun 2008), rasanya senang sekali. Tapi setelah tahu, ya akhirnya tetap saja gak ditonton. Waktu itu masalahnya selain kami tidak terlalu merasa ingin menonton, juga nontonnya sering ada buffering dan terputus-putus. Daripada menonton acara terputus-putus, kami memilih menonton TV Series yang sudah di download hehehe.

Beberapa tahun lalu, kami juga memasang parabola di rumah atas permintaan eyang yang berkunjung ke Chiang Mai. Karena hiburan eyang ya nonton TV dan eyang tidak mengerti nonton acara TV Thailand, ya kami pun memasang parabola yang menghadap ke satelit yang menyiarkan siaran TV Indonesia. Seperti biasa, setelah eyang pulang, kami tidak lagi menonton acara TV Indonesia.

Beberapa kali setelah itu, setiap eyang datang, Joe harus mensetting ulang untuk mencari stasiun TV yang biasa di tonton eyang. Masalahnya, tidak semua siaran TV Indonesia berada dalam satelit yang sama, jadi hanya sebagian stasiun TV yang bisa kami tonton. Pernah juga kami merekam beberapa film Paw Patrol berbahasa Indonesia yang disiarkan di TV Indonesia, lalu Joe akan mengedit menghilangkan iklannya untuk ditonton anak-anak supaya mereka juga bertambah kosa kata bahasa Indonesianya.

Waktu pulang terakhir kemarin, Jonathan mengikuti beberapa film anak-anak yang diputar di AnTV dan juga menonton acara Killer Karaoke Indonesia. Waktu sampai di Chiang Mai, Jonathan meminta ke papanya supaya TV di sini bisa menonton siaran AnTV juga. Waktu Joe mencari tahu, eh ternyata siaran ANTV sudah pindah satelit, dan kami harus menggeser arah parabola kalau mau bisa menonton ANTV. Tapi ternyata, kami jadi menemukan kalau ternyata TV Indonesia sekarang ini sudah banyak live stremingnya di Internet dan bisa diakses secara gratis, jadi kami ga perlu susah payah lagi deh sekarang kalau mau nonton TV Indonesia.

hasil pencarian tv online Indonesia di google

Waktu saya memasukkan kata kunci tv online Indonesia ke Google, saya menemukan ada lebih dari 5 situs yang menyediakan jasa streaming TV Indonesia. Saya mencoba beberapa situs yang katanya nonton tanpa buffering. Pada dasarnya, nonton TV Streaming tergantung dengan kecepatan internet juga. Tapi yang saya heran, beberapa situs yang bilang sama-sama live streaming, tapi beda tayangannya bisa sampai lebih dari 2 menit. Karena saya mencobanya sudah tidak di Indonesia lagi, saya tidak tahu situs mana yang benar-benar live streamingnya sama persis dengan siaran TV dengan antena biasa. Kalau lagi nonton pertandingan siaran langsung sepak bola, bisa-bisa dengar tetangga bilang GOL duluan nih hehehe.

Dari berbagai situs yang dicoba, ada 1 situs yang cukup lancar di akses dan juga antar mukanya cukup gampang. Mereka juga membedakan antar muka untuk akses dari komputer atau dari handphone.

vidio dot com diakses dari handphone

Karena sekarang ini TV kami sudah terhubung dengan mini komputer untuk menonton Netflix, adanya layanan streaming TV Online ini juga mempermudah kami mengakses menonton TV Indonesia jika dibutuhkan. Parabolanya mungkin bisa diarahkan ke satelit mengakses siaran TV Thailand hehehe.

Mudah-mudahan situs-situs TV Online ini bisa bertahan lama. Saya lihat, selain menyediakan konten streaming TV Online, mereka juga menyediakan layanan mengupload video untuk subscribernya. Ada juga layanan berbayar untuk menonton channel TV/film tertentu. Kalau untuk kebutuhan menonton streaming saja, untungnya kita ga harus repot-repot login atau bayar dan semoga tetap seperti itu.

Kembali ke Rutinitas

Hari Senin kami mulai hari sekolah di rumah kami setelah liburan hampir 1 bulan di Indonesia. Berbeda dengan kegiatan sekolah biasanya, saya memberi tugas sekolah 1 pelajaran saja pada hari pertama dan 2 pelajaran pada hari ke-2. Rencananya baru minggu depan kami akan melakukan kegiatan homeschool secara penuh.

Kegiatan belajar di luar rumah juga sudah dimulai, tadi Jonathan sudah pergi ke kelas Kumon, tapi rencananya kelas Art baru dimulai minggu depan. Mengembalikan kegiatan ke rutin sebelumya bisa saja langsung semuanya sekaligus seperti halnya kalau belajar di sekolah, tapi saya ingin membangun mood sedikit demi sedikit supaya suasana belajarnya bisa tetap menyenangkan buat Jonathan.

Joshua tracing tulisan Thai

Joshua gak mau kalah, walau ga disuruh dia kembali sibuk dengan menulis di white board, menyanyikan berbagai math fact ataupun alphabet. Dia juga ingin mewarnai dan melatih kemampuan tracing huruf Thai selain huruf biasa. Untuk Joshua, saya tetap belum berikan pelajaran khusus, biasanya saya bebaskan dia mau mengerjakan apa dan malahan saya ajakin main mainannnya daripada belajar terus menerus.

Setelah berlibur lama di Indonesia, Joshua bisa menghitung dalam bahasa Indonesia sampai dengan 30 (tiga puluh), kadang-kadang masih gak mengerti cara Joshua mengenai pola urutan dari angka ataupun bagaimana dia menghapalkan berbagai fakta matematika. Sekarang ini Joshua menghapalkan tabel perkalian sampai perkalian 5 dalam bahasa Inggris dan mulai berusaha untuk mengucapkannya juga dalam bahasa Indonesia.

Ngomong-ngomong, waktu kami tiba di Chiang Mai beberapa hari lalu, udara tidak sedingin musim dingin, malahan cenderung panas. Eh tau-tau hari ini dari pagi udaranya dingin dan hujan. Belakangan ini memang cuaca di Chiang Mai agak aneh, ada hujan di musim dingin dan kadang juga ada hujan di musim panas. Untungnya musim hujan jadinya tidak selalu hujan dan sehari-harinya matahari selalu ada walau di musim hujan.

Kalau udara lagi dingin dan hujan rasanya agak enggan untuk melakukan kegiatan keluar rumah. Mudah-mudahan musim dinginnya kembali normal dalam arti hawa dingin dengan matahari yang cerah sehingga bisa enak jalan-jalan keluar rumah.

Sekarang ini saya harus menuliskan lagi jadwal harian kegiatan sekolah Jonathan yang baru. Ada beberapa hal yang ingin dipindahkan harinya untuk menambahkan kegiatan yang baru. Rasanya setelah terbiasa dengan beberapa hal di hari yang sama, untuk memindahkan kegiatan ke hari lain kadang-kadang gak mudah juga, apalagi kalau kegiatan itu mempengaruhi pengerjaan pelajaran sekolah.

Kadang saya terpikir, jam homeschooling kami yang udah sangat singkat saja masih bikin saya bingung atur jadwal untuk pelajaran di luar rumah seperti art, piano, bahasa Thai dan taekwondo, gimana ya dulu kami mengatur jadwalnya Jonathan waktu masih ke sekolah Senin sampai Jumat dari pagi sampai sore. Gak heran dulu setiap Sabtu dan Minggu, waktu kami tersita untuk mengantar Jonathan ke berbagai kegiatannya. Sekarang ini setiap Sabtu dan Minggu kami bisa berekreasi bersama-sama atau sekedar bermalas-malasan di rumah (family time).

Ternyata, memiliki rutin itu lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk mengatur anak-anak di bandingkan mode liburan yang kegiatannya berbeda setiap harinya. Dengan adanya rutin yang sama, lebih mudah juga menyuruh anak tidur siang (sekalian ikutan tidur siang kalau perlu).

Salah satu kelebihan dari sekolah di rumah yang di rasakan saat ini, ada fleksibilitas untuk mengubah rutin yang ada kalau dibutuhkan, dan kalau misalnya terasa jenuh atau ada kegiatan khusus, jadwal bisa disesuaikan sewaktu-waktu hehehe. Misalnya seperti sekarang ini, lagi ada oppung yang datang ke Chiang Mai, kami bisa saja sewaktu-waktu meliburkan kegiatan sekolah dan menggantikannya di hari lain hehehe. Kalau ke sekolah mana bisa seperti itu.

Kalau anak punya rutin tertentu, otomatis saya juga rutinnya makin jelas. Kalau anak bisa tidur lebih awal, saya juga jadi bisa punya waktu buat menuliskan blog asalkan idenya sudah ada hehehe.

Mencari Ide Menulis

Baru hari ke-2 tahun 2019 mencoba konsisten untuk menulis sehari satu tulisan, tapi rasanya sudah kehilangan ide mau nulis apa. Ternyata, membangun kebiasaan baik itu memang sulit ya, gara-gara bolos nulis sejak Natal, dilanjutkan bolos nulis sejak tahun baru, rasanya jadi terbiasa untuk tidak menulis setiap hari. Karena hari ini mulai menulisnya juga udah kemaleman, daripada bolos nulis lagi saya akan mencoba menuliskan sumber-sumber mencari ide menulis.

  • Dari bahan obrolan sama pasangan/anak/keluarga: Sumber yang sering jadi ide biasanya adalah dari bahan obrolan. Tapi kadang-kadang gak semua cerita bisa dituliskan di ranah publik, kalau menuliskan di diary mungkin lain ceritanya dan gak perlu berlama-lama mencari ide, apa saja yang terpikir dan terasa langsung deh dituliskan.
  • Dari tontonan atau buku yang dibaca: bisa menuliskan review atau sinopsis dari film atau buku yang pernah ditonton atau dibaca, tapi untuk hal ini saya sering merasa butuh waktu lama menuliskannya, kalau sudah kemalamam pasti gak bisa mereview dengan cepat
  • Dari membaca tulisan orang lain: kadang-kadang ketika membaca tulisan orang lain, terpikir opini kita sendiri dan bisa menuliskan juga dengan versi kita
  • Dari pengalaman atau pengamatan yang kita rasakan sepanjang hari ini atau baru-baru ini: Cerita begini agak sulit pada hari di mana gak pergi ke mana-mana dan hanya ngerjain rutin beberes, masak dan urus anak doang di rumah, karena rasanya tiap hari bisa-bisa ceritanya sama saja :).
  • Dari cerita nostalgia masa lalu atau membandingkan dulu dan sekarang
  • Dari tempat wisata yang dikunjungi atau ada di tempat kita tinggal. Tulisan seperti ini biasanya juga membutuhkan waktu termasuk mencari foto-fotonya, jadi ga bisa ditulis kalau sudah terkantuk-kantuk.
  • Dan ide terakhir adalah menuliskan di mana kita bisa mencari ide menulis seperti yang saya tuliskan ini sambil curhat kalau lagi ga punya ide hahaha.

Katanya menulis harusnya konsisten waktu menulisnya dan sebaiknya pagi hari, udah beberapa bulan mencoba konsisten menulis tiap hari, tapi belum bisa menerapkan menulis di pagi hari. Mudah-mudahan ini karena baru pulang liburan dan rutinnya belum kembali seperti semula.

Saya pernah bikin list topik untuk dituliskan, tapi entah kenapa gak bisa menuliskan sesuai dengan rencana. Kadang-kadang menulis itu cuma butuh dimulai, di awal memang terasa tersendat-sendat, tapi lama kelamaan malahan jadi kepanjangan. Sering juga kalau menulis gak ada topik, bisa ngalor ngidul gak menentu gitu kayak tulisan ini. Kadang-kadang kalau udah mulai ngalor-ngidul malah bingung mau berhentinya gimana hahaha.

Menuliskan ide-ide menulis begini saja rasanya kok ga bisa kepikiran banyak ya, ayo ditunggu sumbang sarannya buat mencari ide menulis apa aja terutama kalau sudah semi mengantuk hehehe.

Cerita Tahun Baru 2019

Sejak bolos nulis setelah Natal lalu, rencana untuk update cerita liburan setiap hari jadi makin buyar. Ternyata menulis setiap hari dalam suasana liburan itu agak sulit, apalagi kalau banyak kegiatan di luar rumah seharian, atau kalau anak-anak kurang sehat. Walaupun hari ini sudah hari ke-6 di tahun 2019, masih boleh dong ucapi Selamat Tahun Baru 2019 buat para pembaca blog kami.

Supaya gak lupa, saya mau menuliskan tentang cerita sejak awal 2019 sampai kami pulang ke Chiang Mai. Kalau di update tiap hari mungkin ceritanya akan lebih panjang lagi, tapi ya tulisan ini seperti ringkasan saja hehehe.

Malam Tahun Baru banyak petasan dan kembang api di sekitar rumah eyang. Bahkan lebih banyak dari kembang api dibandingkan di lokasi rumah kami sekarang di Chiang Mai. Untungnya gak sampai bikin Joshua bangun. Jonathan yang tadinya sudah tidur, malah senang terbangun lihat kembang api. Pemandangannya tidak seperti melihat dari condo lantai 18, tapi ya lumayanlah karena kami melihatnya dari lantai rumah eyang.

Tanggal 1 Januari, mama saya datang dari Medan. Senang rasanya karena di bawain kue buatan mama seperti yang biasanya disuguhkan di rumah ketika hari tahun baru di Medan. Walaupun kami ga jadi ke Medan, jadinya merasakan suasana Medan di Jakarta.

Yay, kue tahun baru asli masakan mama saya

Tanggal 2 Januari, dapat kesempatan ketemu dengan beberapa saudara dari bapak saya yang tinggal dan berkunjung di Jakarta. Karena sekarang sudah ada 3 generasi, walaupun pertemuan hanya singkat, terasa sangat meriah. Jadi teringat masa kecil dulu kalau lagi tahun baru di Siantar, wow lebih ramai lagi orang-orangnya. Pertemuannya sangat singkat karena Jonathan kurang enak badan dan perjalanan dari Grand Indonesia ke Depok bakal memakan waktu lebih dari 1 jam dan kalau kemalaman sampainya kami khawatir Jonathan tambah sakit lagi.

Foto dulu sebelum makan dan nyemil-nyemil bareng

Tanggal 3 Januari, karena Jonathan masih belum sehat maka kami ga pergi jauh-jauh. Saya cuma anterin mama saya untuk ketemu inangudanya (adik dari mamanya mama saya) yang rumahnya ada deket rumah eyang. Kami pergi ke sana naik Grab dan cuma 15 menit, lalu pulangnya eh dianterin sama Tulang dan gantian deh berkunjung ke rumah eyangnya Jona.

Dianterin sambil kunjungan balasan oleh tulang dan oppung Citanduy Depok

Tanggal 4 Januari, hari terakhir liburan kami. Karena Jonathan masih kurang begitu semangat makan dan terlihat lemas, kami putuskan saya dan anak-anak di rumah eyang saja. Joe pergi sendiri karena ada undangan ke BSD. Siang harinya, kakak saya datang ke rumah eyang. Eh ternyata kakak saya sampai malam ngobrol di rumah Eyang dan ya karena malam terakhir di Jakarta jadilah gak terasa ngobrol sampai malam, apalagi adiknya Joe juga datang dan jadilah makin ramai obrolannya.

Makin malam makin rame

Tanggal 5 Januari, kami pulang ke Chiang Mai. Oppung ikut ke Chiang Mai, yay senangnya. Kami berangkat dari rumah Eyang sekitar jam 10 pagi. Jadwal berangkat jam 1.30 dan tiba di Bangkok jam 5.10 sore. Setelah melewati imigrasi, kami kembali ke ruang tunggu untuk penerbangan berikutnya. Untungnya semua penerbangan sesuai jadwal. Kami berangkat dari Don Mueang jam 7.30 malam dan tiba di Chiang Mai jam 8.30 malam. Karena harus mengambil bagasi ke terminal internasional padahal mendarat di terminal domestik, lalu kembali ke terminal domestik untuk naik taksi, kami baru tiba di rumah menjelang pukul 10 malam.

Walaupun sudah lelah, tapi rasanya senang sekali sampai di rumah. Untungnya udara di Chiang Mai tidak terlalu dingin. Cukup dinginnya untuk tidak meyalakan AC, tapi ya tidak sampai menggigil kedinginan.

Sejak beberapa hari sebelum pulang, Joshua dan Jonathan sepertinya sudah rindu Chiang Mai. Joshua sudah beberapa kali menyebut-nyebut Central Airport Plaza, ini adalah mall yang dekat rumah dan sering kami datangi untuk sekedar makan dan bermain berbagai permainan gratisan yang disediakan di mall tersebut. Jonathan juga sepertinya sudah rindu Chiang Mai, dia gak terlalu selera makan beberapa hari terakhir, dan beberapa kali menyebutkan pengen pulang ke Chiang Mai.

Hari ini 6 Januari 2019, sepulang gereja kami ke Central Airport Plaza untuk makan dan sedikit bermain. Joshua makan dengan lahap dan Jonathan yang sudah beberapa hari susah makan semakin membaik makannya. Selesai makan, kami naik kereta api gratisan. Turun dari kereta api, seperti biasa Joshua pergi ke tempat bermain lego gratisan. Senang rasanya melihat anak-anak langsung adaptasi kembali dengan kota Chiang Mai.

Makan malam di mall sesuai permintaan anak-anak (dan saya yang malas masak)

Pepatah bilang daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Tapi sepertinya buat anak-anak, peribahasanya tidak berlaku, karena mereka lahir dan besarnya di negeri orang.

Liburan di Indonesia sudah berakhir, tapi rasanya akan butuh waktu untuk mengembalikan rutinitas kegiatan homeschooling. Rencana awal, tanggal 7 Januari kami sudah akan memulai kegiatan homeschooling, tapi sepertinya, saya perlu menyusun ulang jadwal kegiatan sekolah dengan menambah porsi kegiatan sekolah sedikit demi sedikit selama minggu pertama. Alasannya karena saya juga masih dalam mode liburan haahaha. Saya juga perlu kembali dengan rutinitas sehari satu tulisan.

Kenangan Akhir Tahun – Sambut Tahun Baru 2019

Sudah beberapa hari ga menuliskan tantangan sehari satu tulisan. Hari ini hari terakhir tantangan Desember dan sebelum memulai tahun yang baru, saya ingin mereview 10 tahun terakhir melalui status kenangan dari Facebook.

Banyak hal terjadi dalam 1 hari, apalagi dalam 10 tahun. Saya tetap mengucap syukur kepada Tuhan karena dalam 10 tahun terkahir, Tuhan masih tetap menjaga dan menyertai kami seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, baru tahun ini kami mendapat kesempatan tutup tahun di Indonesia lagi. Berbeda dengan di Chiang Mai, di sini saya berharap ga ada dentuman petasan ataupun kembang api dan bisa melewatkan malam tahun baru dengan tidur nyenyak hehehe.

Oke kita hitung mundur sejak 10 tahun lalu:

Membaca status kenangan ini, saya jadi ingat dengan pengalaman pindah rumah pertama kali di Chiang Mai. Pindah rumah dari unit studio ke unit yang lebih luas dan lantai yang lebih tinggi. Melihat state rumah yang tadinya kosong lalu kami isi sampai penuh hihihi.

Tahun 2009, tahun di mana saya kehilangan bapak saya, makanya bikin status mengenai kehidupan. Akhir tahun cuma di rumah saja di Chiang Mai dengan memasak kue kering. Tadinya mau niru tradisi di Medan, tahun baru punya suguhan kue kering di rumah, tapi waktu itu masaknya buat di makan berdua doang hehehe.

Akhir tahun 2010, tahun pertama kami jadi orangtua. Tahun penantian sampai lahirnya Jonathan di bulan November. Makanya di tahun berikutnya 2011 juga statusnya ga jauh-jauh dari Jonathan hehe.

Akhir tahun 2011, harapannya Jonathan sudah besar dan saya sudah bisa kembali ke hobi jahit dan craft lainnya. Kenyataanya sampai sekarang mesin jahitnya bahkan belum masuk servis hahaha. Semoga ya 2019 dilaksanakan hehehe.

Tahun 2012 dan 2013 sepertinya saya sedang malas update status di FB, atau mungkin update statusnya di 1 Januari hari berikutnya. Jadinya ga ada jejak kenangan deh. Tapi saya ingat, tahun-tahun tersebut kami merayakan natal dan tahun baru di Chiang Mai dan ga pulang ke Indonesia.

Akhir tahun 2014, kami liburan bareng satu keluarga Indonesia di Chiang Mai lainnya yang sama-sama jagain Chiang Mai di akhir tahun. Tahun ini bisa dibilang liburan terakhir kami sebelum jadi family of 4. Saat liburan ini saya sedang hamil anak ke-2. Kalau hamil pertama saya gak kemana-mana, hamil ke-2 berani sedikit jalan di area yang cukup curam begini hehehe.

Akhir tahun 2015, kami liburan bareng teman Jonathan dari daycare yang mana mamanya jadi teman saya juga. Kami naik kereta api dari Chiang Mai ke Lampang biar Jonathan pernah naik kereta api hahaha. Waktu itu, Joshua baru 6 bulan, dan cukup menikmati perjalanan singkat yang inti perjalanannya cuma naik kereta api, naik delman, duduk ngopi dan pulang lagi ke Chiang Mai hehehe.

Sejak akhir tahun 2016 yang lalu, Joe terinspirasi buat bikin skrip 1 foto 1 hari selama 1 tahun, untuk melihat review hal-hal yang terjadi. Tahun lalu, walaupun saya tidak posting khusus juga di FB, kami juga ada video review 1 tahun dan untuk tahun ini sedang dikumpulin ama Joe. Besok saya akan posting review foto-foto setahun sejak tahun 2016, 2017 dan 2018.

Gak terasa ya, saya sudah bertambah tua 10 tahun. Mulai dari rajin ngeblog, lama ga ngeblog dan tahun ini kembali lagi berusaha aktif menulis blog. Banyak target di tahun 2018 yang belum berhasil di lakukan, tapi ya tentunya tidak menyerah dan akan mencoba lebih baik lagi di tahun 2019. Setelah bertahun-tahun kami merayakan Natal dan Tahun Baru di Chiang Mai, akhirnya tahun ini bisa menghabiskan hari-hari menjelang akhir tahun 2018 dengan keluarga Joe. Rencana semula kami akan ke Medan juga, tapi mama saya bersedia datang ke Depok untuk merayakan tahun baru bersama kami di Depok.

Selamat menyambut tahun baru buat kita semua. Semoga tahun 2019 kita semua tetap dalam lindungan Tuhan, diberikan kesehatan dan juga kesuksesan dalam menyelesaikan apa yang kita rencakan untuk dilakukan di tahun 2019. Tuhan memberkati kita semua.

Selamat Natal 2018

Selamat Natal 2018 buat kita semua. Tahun ini kami merayakan Natal di Depok. Terakhir kali Natalan di Indonesia juga di Depok rasanya tahun 2007. Sudah hampir lupa suasana natalan di Depok, tapi ya kebiasaanya ternyata belum berubah.

Tahun ini kami ga ke gereja tanggal 25 Desember. Tadi pagi hujan dan sorenya anak-anak masih tidur. Pertimnbangan lain, besok kami akan ke gereja untuk menghadiri kebaktian babtisan salah satu ponakan, jadi ya besok aja ke gerejanya hehehe. Akhirnya sejak sampai di Indonesia, untuk pertama kalinya kami bisa di rumah saja di hari Natal ini.

Kebiasaan hari Natal di lingkungan rumah eyangnya Jonathan masih sama dengan belasan tahun silam. Sejak pagi eyang girl (eyang ti) udah sibuk menyiapkan suguhan makanan berat untuk tamu yang akan datang. Siang hari adik-adik Joe datang berkumpul di rumah sekalian kesempatan anak-anak main bareng. Dan sore hari, tetangga yang tidak merayakan Natal datang berkunjung ke rumah untuk sekedar mengucapkan selamat merayakan Natal dan menikmati suguhan makan malam yang disiapkan eyang.

Dulu di Medan, saya ingat kebiasaanya berbeda dengan di Depok. Tamu-tamu datang ke rumah itu bukan hari Natal, tapi setelah Tahun Baru. Saya gak tahu sekarang ini gimana di Medan. Setahu saya, mama saya masih menyiapkan suguhan kue-kue kering untuk tamu yang datang mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru.

Kalau di Chiang Mai, hari Natal itu bukan hari libur kerja. Jadi biasanya Joe akan ijin setengah hari supaya bisa ke gereja. Kalau di Indonesia hari Natal itu hari libur, dan gereja-gereja dipadati jemaat yang mau beribadah, karena kebanyakan orang yang jarang gereja sekalipun akan bela-belain buat ibadah Natal. 

Di Chiang Mai, walaupun hari Natal tidak libur, tapi hari Natal itu bukan hanya milik orang beragama Kristen. Setiap tahunnya selain banyak hiasan dan lagu-lagu Natal di Mall, tetangga rumah yang punya pohon cemara juga menghias pohonnya seperti hiasan pohon Natal. Hari Natal ini sudah jadi budaya, seperti halnya juga Loy Kratong yang awalnya merupakan kegiatan berdoa buat umat Budha, tapi diadaptasi menjadi hari yang diramaikan bersama (dan bukan hari libur juga).

Lain padang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Walaupun mungkin berbeda-beda cara orang di berbagai tempat merayakan hari Natal, tapi saya sekali lagi ingin mengucapkan selamat Natal buat kita semua yang merayakannya dan selamat menyambut tahun baru 2019.

Istana Anak-Anak TMII

Foto di depan Istana Anak-anak

TMII singkatan dari Taman Mini Indonesia Indah. Dulu taunya ya tempat melihat versi kecil dari Indonesia. Untuk masuk ke area TMII dikenakan biaya 25000/orang. Di dalam TMII ada berbagai tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Rasanya sehari tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat di dalam TMII.

Peta Taman Mini Indonesia Indah

Hari ini kami menghabiskan waktu hampir 5 jam cuma di bagian Istana Anak-Anak yang ada di TMII. Secara keseluruhan tempat ini cukup menyenangkan buat anak-anak bermain. Tiket masuk tidak mahal (10000 rupiah per orang) dan ada berbagai permainan ekstra dengan tambahan bayaran antara 5000 – 15000 rupiah. Kalaupun memilih untuk tidak menaiki wahana apapun, ada banyak area playground gratis dan panggung pertunjukan yang tidak bayar lagi.

Di dalam area Istana anak-anak ada beberapa toko yang berjualan makanan, cemilan, minuman dan es krim dengan harga di bawah harga mall. Sebelum pintu masuk juga ada beberapa jualan makanan dan minuman. Saya perhatikan, beberapa miniatur rumah daerah juga disulap menjadi tempat makan.

Beberapa penjual makanan sebelum pintu masuk Istana Anak-Anak.

Sebelum masuk ke dalam, saya pikir, kenapa ya gak dijual tiket terusan TMII, jadi kita bisa main apa saja sepuasnya tanpa harus mikirin bayar ini itu lagi. Tapi setelah kami menghabiskan 5 jam untuk 1 tempat, saya mengerti kalau dengan cara sekarang ini kita tidak harus bayar mahal, anak-anak bisa bermain sepuasnya. Kami hanya perlu membayar beberapa mainan saja di dalam Istana Anak-anak, karena walaupun ada beberapa wahana mini seperti di dunia fantasi dengan harga murah, anak-anak tidak tertarik menaikinya. Kalau anak tidak tertarik, tentu saja kita gak menawarkan hahaha.

Dari pengalaman hari ini, kami masih pengen ke TMII lagi tapi mungkin buat liburan berikutnya. Sedikit hal yang agak mengganggu saya ketika di Istana Anak-Anak ya, masalah asap rokok dan sampah. Saya tahu kalau ini masih masalah umum di Indonesia, tapi saya agak sedih melihat tempat bermain anak-anak di mana orangtuanya membuat anak-anak menjadi perokok pasif.

pengunjung ramai sekali

Untuk masalah sampah, kalau dulu mungkin masalahnya kurangnya tempat sampah. Hari ini saya perhatikan kalau tempat sampah sudah cukup banyak, tapi sepertinya mungkin masalah kebiasaan orang yang terlalu banyak datang ini bukan tipe orang yang biasa membuang sampah pada tempatnya kali ya. Kadang saya herannya ada tempat sampah sangat dekat, tapi ada saja yang meninggalkan sampahnya di dekat tempat sampah itu. Padahal tinggal 1 langkah lagi mungkin dia bisa memasukkan sampahnya ke dalam tempatnya.

Dipikir-pikir, daripada bermain ke playground mall, main ke tempat ini lebih puas bermain dan gak merobek kantong hehehe. Tadi udaranya juga cukup baik, matahari bersinar tapi ada angin yang berhembus memberikan rasa adem. Ramalan cuaca akan hujan, tapi ternyata gerimisnya datang setelah kami sudah di jalan pulang. Harapannya semoga tempat ini harganya kalaupun naik ga banyak naiknya, tapi ya perawatannya juga semakin baik dan siapa tahu dikemudian hari ada larangan merokok di kawasan bermain Istana Anak-anak ini.