Baca Buku: Keep Going

Ini buku pertama yang dibaca tahun 2020. Buku pertama yang dibacanya cukup cepat. Ceritanya di grup KLIP ada yang share buku yang dibaca ditahun 2019 yang berkesan dan ada yang menuliskan tentang buku ini. Berhubung bulan Desember lalu diserang kemalasan menulis jadi tertarik dengan buku ini yang memberikan tips-tips untuk tetap berkarya.

Judul lengkap buku ini Keep Going: 10 Ways to Stays Creative in Good Time and Bad. Buku ini ditulis oleh Austin Kleon seorang penulis yang juga menggambar. Saya baru tau setelah selesai membaca buku yang ini, ternyata dia sudah punya 2 buku sebelum buku ini. Buku dengan jumlah 224 halaman, bisa dengan cepat dibaca karena banyak halaman berupa illustrasi seperti komik. Buku ini juga merupakan buku pertama yang selesai saya baca di hari yang sama dengan hari belinya di Kindle (banyak buku yang walau tidak tebal tapi gak selesai-selesai membacanya sampai sekarang).

Dari judulnya aja udah ketahuan kalau ini isinya memberi motivasi biar kita gak berhenti berkarya. Walaupun mungkin dia memberi contohnya karya dalam bidang menulis ataupun menggambar, tapi sebenarnya tips yang dia berikan ini bisa untuk karya apa saja. Bukankah setiap manusia itu diciptakan untuk berkarya di bumi ini.

Buku ini menarik karena gaya bahasanya yang mudah dimengerti dan banyak ilustrasinya. Buku ini juga tidak menuntut kita untuk menciptakan karya yang sempurna, tapi kalau kata saya lebih realistis dan bagaimana membuat proses kreatif itu tetap terasa menyenangkan dan bukan jadi beban.

Berikut ini hal-hal yang berkesan buat saya dari buku ini. Saya tidak akan mengutip setiap bab seperti dari daftar isi, tapi apa yang saya ingat setelah diendapkan beberapa hari.

Rutinitas itu Penting

Biasanya paling sering mendengar keluhan tentang betapa membosankannya rutinitas. Tapi ternyata rutinitas itu penting dan malah lebih baik lagi kalau kita membuat jadwal yang sama setiap harinya untuk berkarya. Penulis buku ini mencontohkan bagaimana jika kita hidup di hari yang sama setiap harinya, seperti di film Groundhog Day?

Contoh daftar hal yang bisa dilakukan setiap hari dari buku Keep Going – Austion Kleon

Apa yang kita lakukan setiap harinya, itulah karya kita. Kita mau isi hari-hari kita tanpa berkarya, atau mau menghasilkan sesuatu yang berarti? Kadang-kadang untuk orang yang pernah sukses menghasilkan sesuatu karya, mereka sering berhenti dan merasa: aduh harusnya ini lebih baik dari yang sudah pernah saya buat. Perasaan seperti ini bisa membuat kita jadi berhenti berkarya. Padahal seharusnya ya tetap berkarya, mungkin hari ini hasilnya tak sebagus kemarin, tapi besok bisa jadi lebih baik dari hari ini karena kita sudah lebih terlatih mengerjakannya. Yang penting, lakukan saja setiap hari dengan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mulai setiap hari dengan karya baru.

Rutin itu penting, supaya kita tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Saya ingat, baca buku tentang membesarkan anak dari bayi, di sana juga disebutkan kita perlu membuat rutin anak yang sama setiap harinya, biar mereka tahu apa yang selanjutkan akan dilakukan. Dengan adanya rutin, anak jadi tahu bangun tidur harus apa, atau setelah selesai sikat gigi dan ganti baju tidur ya harus tidur. Untuk orang dewasa, rutin itu juga penting.

Kalau kita sudah tahu apa yang harus dilakukan berikutnya, kita tidak akan kelamaan mikir: ngapain ya abis ini, atau malah jadi tidak menghasilkan karya sepanjang hari. Oh ya, di buku ini juga disebutkan, kalau kita juga harus meluangkan waktu untuk berjalan di luar ruangan untuk memperhatikan hal-hal sekitar dan juga kalau lagi mentok ide, tidur siang/istirahat mata juga baik untuk merefresh diri.

Buat Daftar untuk Segala Hal

Kebiasaan membuat daftar itu baik. Misalnya mendaftarkan apa yang ingin dikerjakan, atau membuat daftar belanja. Bisa juga membuat daftar apa yang ingin dipelajari. Kalau sedang bepergian, bisa bikin daftar tempat menarik untuk dikunjungi. Bahkan bisa juga membuat daftar film yang ingin ditonton, atau buku yang ingin dibaca untuk hiburan.

Membuat daftar bisa membantu kita untuk mempermudah ketika membuat keputusan/pilihan. Kadang-kadang saya sudah mulai membuat daftar, misalnya membuat daftar topik yang bisa dituliskan di blog, supaya gak setiap hari bertanya-tanya: nulis apa yah hari ini. Sayangnya, setiap kali mau nulis, ide untuk menuliskan hal-hal yang ada di daftar seringnya terasa sulit dan akhirnya gak jadi deh dituliskan.

Punya Tempat Kerja yang Nyaman

Bagian yang ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Joe. Dulu saya ingat sering protes kenapa komputer menyala 24 jam, atau kenapa mejanya gak rapi. Terus Joe bilang: yang penting ketika mau kerja, komputer sudah siap sedia untuk dipakai. Tidak harus menunggu dulu menyalakan komputer, atau harus membereskan meja dulu. Waktu untuk menunggu itu bisa bikin teralihkan perhatian dan malah ga jadi kerja.

Tempat kerja yang nyaman itu tidak harus rapi ala Marie Kondo, tapi yang penting semua hal yang dibutuhkan untuk berkarya tersedia di sana dan bisa kita pakai dengan mudah. Hal ini kembali ke gaya bekerja masing-masing orang. Ada yang tidak bisa kerja kalau mejanya terlalu berantakan. Nah untuk orang seperti ini, diperlukan meja kerja yang selalu rapi. Atau ada juga orang yang tidak bisa kerja kalau terlalu hening, dan kebalikannya terlalu ramai juga gak bisa kerja. Yang pasti, temukan tempat kerja yang nyaman untuk kita masing-masing.

Merapikan barang-barang itu tetap perlu, tapi berbeda dengan Marie Kondo yang bilang kalau merapikan buku jangan sambil berhenti dan membaca, kita malah disarankan untuk mengunjungi kembali karya-karya kita sebelumnya. Kadang-kadang dari hal-hal yang pernah kita lakukan di masa lalu, yang mungkin saja sudah terlupakan, kita bisa mendapatkan ide baru untuk karya berikutnya.

Lakukan Saja, Karya Kita Tidak Harus Selalu Super

Saya ingat, dulu waktu rajin merajut saya sudah membuat banyak hasil. Kadang-kadang waktu menentukan mau merajut apa berikutnya, ada perasaan: ah ini terlalu mudah, pengen cari yang lebih menantang. Terus akhirnya, malah kelamaan nyari pola dan gak jadi merajut.

Hal lain yang bikin kita gak jadi berkarya adalah ketika kita mengandalkan respon orang lain terhadap karya kita. Misalnya, kita pengen menulis itu sesuatu yang dapat jempol like banyak dari orang lain. Pengennya bikin foto yang super indah dan bisa membuat orang berdecak kagum. Pengennya masak kue yang paling enak sedunia. Pengennya menjahit baju nan indah dengan detail yang super rumit.

Ketika kita kebanyakan pengen tapi gak mulai melakukannya, ya akhirnya karya kita gak ada yang jadi. Makanya disebutkan, lakukan saja apa yang kamu bisa hari ini, terlalu berharap jempol orang atau menunda mengerjakan sesuatu dengan alasan ah ini masih kurang super tidak akan membawa hasil apa-apa. Kadang-kadang bahkan app sederhana seperti flappy bird saja bisa sangat populer.

Berikan Hadiah untuk Orang Lain

Jaman berhobi merajut, kebanyakan rajutan saya itu bukan untuk saya pakai sendiri, tapi untuk diberikan ke orang lain. Waktu belajar menjahit, motivasinya juga bukan untuk terima jahitan, tapi untuk bisa menjahitkan baju untuk dipakai sendiri, Joe dan anak-anak. Menghasilkan karya untuk dihadiahkan ke orang lain itu terasa lebih menyenangkan daripada kejar setoran hehehe.

Gimana kalau pekerjaanya memang penjahit? masa harus menghadiahkan melulu? Ya, nggak dong, bikin hadiah untuk orang lain itu jadi sarana latihan. Kalau ada pekerjaan profesional, ya tetap harus dikerjakan secara profesional. Kalau misalnya kita jadi penulis, bukan berarti hasil tulisan kita harus selalu sempurna kan, bisa saja kita menulis cerita singkat untuk dihadiahkan ke orang-orang tertentu.

illustrasi dari buku Keep Going – Austin Kleon

Nah kalau punya pasangan programmer, bisa tuh minta hadiah dibikinin program aplikasi. Ada banyak aplikasi yang dibuatkan Joe atas permintaan saya, yang kemudian sebagian dia bagikan secara gratis.

Perhatikan Sekitar, jangan Online Selalu

Bagian ini sebenarnya dibahas agak di bagian awal buku, tapi saya tuliskan terakhir. Jaman sekarang, hal ini merupakan hal yang paling sulit. Buku ini menyarankan kita bangun pagi untuk tidak langsung membaca berita online di berbagai penjuru dunia, tapi disarankan untuk rutin pagi itu bangun, jalan-jalan sekitar rumah sambil memperhatikan sekitar kita.

Contoh yang saya pikirkan, saya bisa memperhatikan siklus pohon mangga misalnya, kapan mulai ada bunganya dan kapan jadi buah. Hidup ini juga seperti pohon mangga, ada siklusnya dan ada musimnya. Dari memperhatikan sekitar kita, biasanya akan ada banyak ide-ide untuk berkarya. Setelah kita memberikan waktu untuk diri sendiri, baru deh baca-baca berita dunia.

Tapi sejauh ini, prakteknya masih sulit. Bangun pagi masih lebih dulu nyari henpon buat online. Jalan-jalan sekitar rumah belum dilakukan juga. Ini saja sambil menulis, masih sambil online dan sering pindah ke halaman lain hehehe. Pelajaran dari buku ini, jadi punya motivasi untuk tetap berusaha berkarya setiap harinya.

Hal-hal Yang Bikin Gak Jadi Nulis

Berhubung mulai kehabisan ide menulis, dan tiap hari jadi mikirin: nulis apa ya hari ini tanpa bener-bener ditulis, maka jurus curhat dikeluarkan hahaha. Langsung aja dimulai daftarnya

Menunda menulis

Menunda menulis ini bisa jadi misalnya lagi ada ide, tapi tidak langsung dibikin draftnya. Bisa juga karena menunda dengan alasan pengen mengumpulkan data lebih banyak tapi gak dikerjakan juga. Yang lebih sering terjadi juga adalah sudah dimulai draftnya, terus hilang moodnya untuk meneruskan tulisannya.

Biasanya habis baca buku atau nonton film, semangat lagi tinggi pengen membahasnya, tapi kadang gak langsung ditulis. Akhirnya seperti waktu menonton 4 drama ongoing tahun lalu, akhirnya tulisannya super singkat dan sampai sekarang gak jadi-jadi dituliskan reviewnya (dan sepertinya gak akan jadi hahaha).

Menunda waktu menulis juga bisa jadi penyebab. Ketika buru-buru kejar setoran, tentunya kualitas tulisan jadi berkurang dan gak fokus karena melirik jam terus hahaha. Dari pengalaman setahun berusaha membuat sehari satu tulisan, bisa dihitung jari saya menulisnya bukan ala cinderella alias jelang tengah malam.

Ketiduran

Nah, kalau biasanya kebanyakan orang dewasa itu bilangnya mengaku insomnia, tapi ibu-ibu yang punya anak masih kecil pasti tau dan sering mengalami menemani anak tidur tapi malah ikut ketiduran. Pernah saya terbangun sebelum tengah malam, dan masih ada waktu sebenarnya untuk menulis, tapi kok ya rasanya enakan tidur daripada menulis.

Keasikan Browsing

Penyebab lain yang juga sering terjadi ketika punya ide dan tidak langsung dimulai. Kepikiran cek ini itu dulu. Baca-baca tulisan ataupun berita yang ada. Terus semakin bingung mau nulis apa karena sepertinya semua hal sudah dituliskan orang lain.

Ini kasusnya sama seperti membuka Netflix dan bingung mau nonton apa, karena semua terlihat menarik, tapi semua diantrikan dulu dan tidak langsung dimulai menonton.

Bolos sehari yang berkelanjutan

Walaupun pernah berhasil menulis setiap hari sebulan penuh, godaan untuk bolos menulis itu selalu ada. Kadang saya turutin dan berkata ke diri sendiri: ah gak apa-apa deh bolos 1 hari, besoknya kan bisa lagi. Tapi ternyata yang terjadi bukan cuma bolos 1 hari. Mengembalikan kebiasaan untuk memaksakan diri menulis itu lebih sulit.

Saya tahu sebagian orang memilih tidak menulis daripada tulisannya gak ok. Tapi kadang-kadang tulis aja dulu, edit kemudian kalau mau lebih oke lagi bisa kok.

Takut ada yang salah paham dengan tulisan saya

Nah, ini nih bagian yang biasanya bisa bikin bolos berhari-hari. Saya memilih untuk tidak menuliskan terlalu banyak opini untuk hal-hal yang bukan bidang saya, tapi ya kadang ada aja opini yang jadi topik pemikiran saya dan susah buat saya menuliskan topik lain kalau kepala lagi dipenuhi topik tersebut.

Terkadang agak sulit memformulasikan apa yang saya rasakan menjadi kalimat yang tidak akan salah dimengerti. Saya berusaha menerapkan prinsip: kalau tidak bisa menuliskan hal yang positif lebih baik tidak usah dituliskan. Tapi ya tidak selalu mudah untuk menjadi orang yang positif.

Idealisme Sesaat

Kenapa judulnya sesaat? karena ketika membaca tulisan orang lain yang bagus-bagus, ada perasaan: duh kok tulisan saya gak bisa seperti mereka ya? terus akhirnya minder sendiri dan malah gak jadi nulis. Padahal biasanya juga menulisnya gak ikut aturan baku juga gak apa-apa, ini kan tulisan di blog, bukan tulisan di media yang harus memperhatikan ejaan yang benar dan pemakaian kata yang baku (walaupun kalau memang bisa menulis dengan baik dan benar ya tentu lebih baik).

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini saya jadi nulis walaupun mungkin kurang berkualitas hahaha. Mungkin kalau besok-besok kepikiran lagi hal lain yang bikin saya gak jadi nulis, akan saya edit tulisan ini. Kalau teman-teman pembaca biasanya gak jadi nulis karena apa?

Hari Anak Thailand 2020

Hari ini, 11 Januari 2020, dirayakan sebagai Hari Anak di seluruh Thailand. Perayaan Hari Anak ini selalu diadakan di hari Sabtu minggu ke-2 bulan Januari setiap tahunnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak kegiatan di seluruh mall ataupun tempat wisata. Karena setiap tahunnya (termasuk tahun lalu) kami hampir selalu ke mall, dan mengalami macet di jalan, tahun ini kami mencari tempat yang tidak seramai mall.

Sebenarnya agak dilema untuk berangkat ke hari anak hari ini. Kegiatan di luar sepertinya masih ada polusi, tapi ya kegiatan di mall juga sama saja karena mall tidak ada filternya. Sebelum berangkat, melihat angka AQI nya menengah, ya agak tenang untuk berkegiatan di luar rumah.

masih aman lah ya buat jalan-jalan

Dari berbagai tempat yang biasanya cukup fun buat anak-anak, kami memilih ke Hidden Village Chiang mai. Terakhir ke sana itu tahun lalu bulan Januari. Tapi ternyata harga tiketnya sudah naik dalam setahun. Tempatnya sih semakin ramai dan banyak tambahan dinosaurusya.

Karena hari ini hari Anak, hari ini tiket masuk untuk anak-anak sampai dengan tinggi 130 cm digratiskan. Untuk orang dewasa, yang seharusnya membayar 100 baht diberikan harga khusus 80 baht. Khusus hari anak, harga orang asing disamakan dengan harga lokal. Biasanya harga orang asing lebih mahal dari orang lokal, jadi hari ini kesempatan yang baik mendapat harga tiket masuk lebih murah dari biasanya.

berangkaaaaat

Tadinya kami pikir, tempat ini akan relatif sepi. Ya dibandingkan mall, memang masih lebih sepi, tapi dibandingkan kunjungan ke sana sebelumnya, tempatnya terlihat ramai sekali. Tempat parkirnya juga lumayan ramai. Selain tempat-tempat kegiatan yang berbayar, mereka juga mengadakan panggung dan membagi-bagi hadiah buat anak-anak yang datang.

Mulai dari pintu masuk, sudah terlihat ada keramaian. Kami yang datang ke sana sudah kesiangan (dari rumah jam 12), langsung menuju restoran Barn Steak House buat makan hehehe. Kali ini makan buffet lagi, untungnya harganya tetap sama dengan tahun lalu: dewasa 259 baht, dan anak-anak 129 baht. Untuk minuman harus beli lagi, tapi makanannya bisa pesan berkali-kali.

Yang berbeda dengan tahun lalu adalah: makanannya terasa lebih fresh, mungkin karena kami makannya siang hari dan banyak pengunjung, jadi mereka selalu menambakan yang baru. Sebenarnya ada spaghetti, ayam goreng, salad dan buah juga, tapi tadi saya lupa foto hehehe.

Selesai makan, baru deh mulai bagian jalan-jalannya. Waktu kami tanya Joshua mau main di playground atau lihat dinosaurus? Joshua dengan mantap menjawab: mau lihat dinosaurus. Tapi sampai dalam tempat dinosaurusnya, dia ternyata menuju tempat main bouncy house yang selalu dimainkan kalau ke sana. Tempat itu bayar lagi sih, 20 baht untuk 20 menit per anak, tapi ya cukup fun buat ngabisin energi yang di makan tadi hehe.

Setelah main bouncy house, kami jalan keliling melihat-lihat dinosaurus. Walau sudah berkali-kali melihat dinosaurus, saya belum bisa hapal sebagian besar nama-namanya. Supaya ingat, saya coba foto-foto dan tuliskan lagi namanya di sini.

Dilophosaurus
Carnotaurus
Brachiosaurus

Melihat Maiasaura dan T.Rex, jadi ingat ada salah satu scene di serial The Flash (Season 2, Episode 21), ibunya membacakan buku ke Flash waktu kecil dengan judul Runaway Dinosaur.

The Runaway Dinosaur

Once there was a little dinosaur called a Maiasaura, who lived with his mother.

One day, he told his mother, “I wish I were special like the other dinosaurs. If I were a T. rex, I could chomp with my ferocious teeth!”

Tyrannosaurus rex alias T.rex

“But if you were a T. rex,” said his mother, “how would you hug me with your tiny little arms?”

“I wish I were an Apatosaurus,” said the little dinosaur, “so with my long neck I could see high above the treetops.”

“But if you were an Apatosaurus,” said his mother, “how would you hear me in the treetops when I told you I love you?”

“What makes you so special, little Maiasaura?” said his mother.

“Is it your ferocious teeth or long neck or pointy beak? What makes you special is out of all of the different dinosaurs in the big, wide world, you have the mother who is just right for you and who will always Love you.”

Maiasaura

Buku ini diilhami dari buku The Runaway Bunny

Sebenarnya ada lebih banyak lagi dinosaurus lainnya, tapi sayangnya gak ada Apatosaurus.

ada patung-patung lain selain dinosaurus, yang pasti ini bukan apatosaurus hehe

Karena Joshua sudah mengantuk, kami pulang sekitar jam 4 sore. Tadinya berencana untuk keluar rumah lagi malam harinya, tapi sayangnya Joshua ternyata demam dan batuk-batuk. Mungkin karena tadi udaranya terlalu panas dan belakangan ini dia tidur siangnya kurang teratur.

Keputusan untuk tidak ke mall hari ini sudah cukup tepat. Kami tidak kena macet. Tapi ternyata perkiraan tempatnya agak sepi tidak sepenuhnya benar. Memang hari anak di Thailand sepertinya hari di mana semua anak wajib di bawa keluar rumah, jadi tidak akan ada tempat yang sepi hehehe.

Polusi Udara di Awal 2020

Kalau tahun lalu polusi di Chiang Mai terasa mulai akhir Januari, tahun ini polusi datang lebih awal lagi. Sejak bulan Desember 2019, sudah terasa ada hari-hari di mana terasa berkabut. Bahkan ketika kami berangkat ke Sukhothai tanggal 28 Desember, saya ingat udara di Chiang Mai terasa berbau asap.

Waktu itu saya merasa bersyukur kami memutuskan pergi liburan ke Sukhothai karena di sana udaranya lebih bersih. Untungnya ketika kami di Sukhothai, ada hujan deras yang membersihkan udara di Chiang Mai, sehingga ketika kami kembali ke Chiang Mai, udaranya terasa masih bersih.

Beberapa hari lalu, saya ingat melihat ke arah Doi suthep, pemandangannya sangat cerah. Saya pikir: ah untunglah polusinya tidak jadi datang lebih awal. Tapi ternyata saya salah. Sudah 4 hari ini, polusi kembali lagi. Awalnya polusi terasa hanya di malam hari, sedangkan di pagi hari dan siang udaranya cukup bersih. Tapi sudah 2 hari ini angka polusinya merah seperti hari ini.

Saya jadi harus meralat nih kapan waktu terbaik datang ke Chiang Mai. Suhu udaranya memang sekarang ini masih cukup terasa sejuk di pagi hari, tapi siang harinya sudah terasa menyengat. Mau jalan-jalan di kala polusi begini rasanya sangat tidak disarankan sekali. Iseng-iseng, saya mencoba mengecek bagaimana kualitas udara di Sukhothai dan Bangkok yang letaknya menjauh dari utara Thailand. Hasilnya, ternyata di Bangkok malah tidak lebih baik daripada di Chiang Mai.

Saya menemukan berita yang menyatakan kalau Bangkok malah menjadi ranking 3 dengan kualitas udara terburuk di dunia akibat polusi dari daerah industrinya. Jadi bertanya-tanya, kira-kira kalau polusinya lebih awal, apakah selesainya juga lebih awal? Tahun lalu sih polusinya cukup lama sampai sekitar akhir April dengan titik tertinggi di bulan Maret.

Karena sudah beberapa kali mengalami polusi, kami sudah punya persiapan beberapa filter dan juga alat pengukurnya. Tapi karena sudah dipakai beberapa tahun, waktunya untuk mengganti hepa filternya. Untungnya sekarang, hampir semua jenis hepa filter sudah ada yang jual di toko online yang di Bangkok. Pesanan filter beberapa hari lalu sudah tiba hari ini, dan langsung dipasang. Kami juga sudah membeli beberapa masker yang bisa pm2.5 untuk kebutuhan di luar rumah. Beberapa tahun yang lalu, filter penggantinya harus pesan dari luar Thailand dan menunggu beberapa minggu baru tiba.

Tapi biasanya, dengan adanya filter di rumah dan di mobil, kami sangat jarang memakai masker wajah. Kami juga menghindari banyak beraktifitas di luar rumah. Pergi ke mall, walaupun indoor, jadi dikurangi. Mall di sini tidak ada filter udaranya. Beberapa restaurant maupun coffee shop mulai mempersiapkan filter udaranya juga, biasanya tempat-tempat ini akan lebih ramai dikunjungi dibandingkan yang tidak ada filternya.

Biasanya, polusi udara jelek ini tidak selalu memburuk setiap harinya. Ada hari-hari di mana polusinya tiba-tiba berkurang, terutama setelah hujan. Tapi untuk amannya, pilih bulan lain untuk berlibur ke Chiang Mai daripada kecewa. Tapi kalau memang kebetulan harus tinggal di Chiang Mai selama bulan polusi, bisa mempersiapkan diri dan mengikuti tips yang pernah saya tuliskan. Intinya sih: jaga kesehatan, gunakan masker ketika di luar dan nyalakan filter udara di dalam rumah (pastikan pintu dan jendela tertutup rapat).

Kalau udara mulai polusi begini, setiap hari berharap turun hujan supaya udaranya bersih. dan semoga saja polusi tahun ini tidak berkepanjangan seperti tahun lalu.

Flash Fiction: Bunga jadi Pengantin

Bunga tersenyum, hari yang dinantikannya tiba si usianya yang ke 27 tahun. Di seberang sana, dia melihat sosok yang juga tersenyum padanya dan berjalan dengan langkah pasti ke arahnya diiringi alunan piano yang dibawakan adik sepupunya.

Bunga tak ingin melepaskan pandangan matanya dari mata kekasihnya, tapi aduh maskara yang terlalu tebal membuat matanya terasa gatal. Mau tak mau Bunga mengedipkan matanya sepersekian detik. Ketika Bunga membuka matanya lagi, dia hampir berteriak histeris.

Arghhhh kemana lelaki yang tadi berjalan ke arahnya. Kemana hadirin yang terlihat ramai dan kemana alunan denting piano.

Bunga menutup matanya lagi dan berharap kembali ke scene sebelumnya. Dia memandang ke baju yang dia kenakan. Alamak, baju tidur, jadi tadi itu cuma mimpi. Huh seballll.

Baca Buku: The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Baca buku ini sudah lama, maksudnya sudah lama mulai dan akhirnya selesai tahun lalu. Waktu itu mau nulis tentang buku ini, tapi karena sudah banyak yang nulis, malah jadi menunda. Tapi dipikir-pikir, ada baiknya menuliskan sendiri apa yang diingat dari buku ini.

Buku ini sebenarnya tidak tebal, cuma 224 halaman dan terdiri dari 9 chapters. Joe sudah membacanya duluan dan merekomendasikannya ke saya. Awalnya saya agak enggan membacanya karena buku ini kategori self help dan bahasanya terasa kurang sopan. Oh ya, kalau tidak salah, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang lebih sopan menjadi: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Masalah judul dan bahasa di awal yang terasa agak kasar itu yang bikin saya gak bisa fokus membacanya. Saya membaca versi e-booknya yang dibeli Joe di Google Playbook.

Biasanya, judul buku dalam kategori self help merupakan cerminan dari isi bukunya. Ternyata di buku ini, berbeda dengan buku self help lainnya, walaupun isinya mungkin mirip-mirip juga dengan isi buku self help lainnya. Bedanya, kalau buku self help lain tipenya selalu meyakinkan kamu pasti bisa! Kamu pasti berhasil. Tapi buku ini lebih realistis bahwa hidup ini tidak selalu indah, butuh usaha dan kerja keras kalau mau berhasil, dan tidak semua orang bisa jadi pemenang dan nomor 1.

Jadi sebenarnya gimana sih seni untuk bersikap bodo amat? Apa maksudnya kita cuek aja gitu kayak bebek, gak usah mikirin apapun di dunia ini dan hidup seenaknya?

Seperti saya sebutkan, sudah banyak yang membuat review dan kesimpulan dari buku ini, jadi saya akan menuliskan hal-hal yang walaupun saya sudah tahu, tapi masih bisa membuat saya mengangguk-angguk dan seperti menemukan hal baru.

Pilih yang Terpenting Dari yang Penting

Di bukunya sih disebut, kita harus bisa memisahkan apa yang penting dan tidak penting. Kita gak usah pusing dengan hal-hal yang gak penting, tapi fokus dengan hal yang penting saja. Tapi saya malah jadi teringat dengan pesan orangtua saya dari saya kecil.

Saya bukan berasal dari keluarga yang berlebih. Mama saya Pegawai Negeri Sipil, Papa saya Karyawan Swasta. Walaupun kami hidupnya gak susah-susah amat, tapi kami tidak punya kemewahan untuk membeli berbagai hal yang mungkin pada masa itu lagi trend. Orang tua saya selalu mengajarkan: banyak yang penting, tapi beli yang paling penting. Jadi dari kecil, saya sudah diajarkan untuk membuat skala prioritas kebutuhan. Saya ingat dulu waktu kakak saya minta dibelikan sepeda mini, papa dan mama saya suruh kami bikin proposal dulu kira-kira kenapa mereka butuh sepeda mini dan apa gunanya.

Buku ini bukan masalah keuangan saja, tapi secara umum dalam hidup ini kita harus bisa memilah-milah dan mengkategorikan apa hal yang penting untuk kita pikirkan, dan sisanya cuekin saja. Setiap orang sudah punya porsi masing-masing, kalau jadi ibu rumah tangga ya prioritaskan tugas jadi ibu rt. Kalau lagi jadi ibu guru pas homeschool anak, prioritaskan menjadwalkan dan memeriksa kegiatan homeschool. Setiap orang punya porsi masing-masing, makanya saya menghindari komentar di sosial media untuk hal-hal yang bukan urusan saya.

Hidup ini Penuh Pilihan

Dari mulai bangun pagi sampai mau tidur, kita harus memilih. Tidak semua pilihan kita sesuai dengan harapan. Banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup kita, tapi kita selalu bisa untuk memilih bagaimana respon kita terhadap apa yang terjadi (ini sering banget nih muncul di banyak buku self help). Dengan kata lain: kendalikan diri dan jangan terlalu reaktif kalau ada hal yang tidak kita harapkan terjadi.

Kadang-kadang kita merasa kesal dengan sikap seseorang ke kita, tapi kalau dipikir-pikir, pilihan kita untuk merasa kesal itu tidak akan mengubah sikap orang tersebut. Kita tidak punya kendali terhadap orang lain. Jadi kalau ada orang yang mengundang kekesalan mending dicuekin aja alias gak usah dipikirin. Kita bisa memilih untuk tidak merespon orang tersebut dengan perasaan kesal.

Masalah pilihan ini ada lagi bagian yang menarik. Dulu saya pernah dengar ada yang bilang ke saya, kalau mencari pasangan itu sebaiknya kita koleksi dulu baru seleksi. Katanya kalau semakin banyak koleksi kita bisa membanding-bandingkan untuk mendapatkan pilihan terbaik. Tapi sebenarnya ajaran itu salah! Semakin banyak pilihan, akhirnya kita semakin bingung dan gak jadi-jadi memilih.

sumber dari JimBenton.com

Contohnya ya, kalau kita buka Netflix dan belum tahu mau nonton apa, kita lihat-lihat ada film apa saja yang ada. Terus tak terasa, kita menghabiskan waktu beberapa jam untuk memilih dan akhirnya malah tidak jadi nonton karena harus melakukan hal lain. Coba kalau misalnya kita sudah tahu sebelumnya kalau kita mau nonton film yang sudah masuk Netflix, kita bisa langsung nyalakan dan dalam waktu 2 jam selesai deh nontonnya.

Prinsip: Do Something

Menulis blog setiap hari itu tidak selalu mudah. Walaupun tahun 2019 sudah banyak menulis dan hampir setiap hari, sampai sekarang tetap saja saya masih sering bingung mau nulis apa ya? Padahal sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin dituliskan, tapi ya kadang-kadang kalah dengan rasa malas atau rasa-rasa lain yang akhirnya ga jadi nulis. Padahal harusnya mulai saja menulis, mulai dengan 1 kalimat, lalu jadi paragraph. Kalau idenya mentok, mungkin bikin tulisan lain lagi, atau kadang-kadang tidak terasa jadi tulisan terlalu panjang yang bikin orang lain malas baca hahaha.

Prinsip ini bukan hanya untuk menulis. Dalam hidup, ketika kita menghadapi tantangan dan bingung mau ngapain, sebaiknya lakukan sesuatu, jangan diam saja atau bengong. Karena kalau kita diam saja dan tidak melakukan sesuatu, tidak ada aksi dan tidak akan ada motivasi. Tapi kalau kita melakukan sesuatu dan melihat hasil dari sesuatu yang kita kerjakan itu, biasanya kita jadi dapat motivasi maupun inspirasi untuk menyelesaikan tantangan yang kita hadapi.

Lakukan sesuatu, mulai dari hal yang paling sederhana. Melakukan sesuatu lebih baik daripada diam saja.

Selesaikan Masalah Masing-Masing

Setiap orang punya porsi masalah masing-masing. Masalah itu tanda-tanda kita masih hidup hehehe. Kita tidak bisa berharap orang lain menyelesaikan masalah kita dan kita juga ga usah ikut campur sama masalah orang lain. Kita tidak bisa membantu orang yang tidak membantu dirinya sendiri.

Kita bisa membantu orang yang minta bantuan, tapi tentunya yang minta bantuan harus lebih aktif menyelesaikan masalahnya. Nah kalau gak diminta bantuan gimana? ya kalau gak diminta bantuan kita selesaikan urusan sendirilah.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya buku ini apa? Kalau saya melihatnya, buku ini berusaha mengingatkan kita lagi untuk menentukan prioritas dalam hidup. Kita perlu menyaring informasi yang kita terima, apalagi di sosial media, gak usah semuanya mau dikomentari. Kita perlu memilih lingkungan pergaulan kita. Kita perlu fokus dengan apa yang sudah menjadi komitmen kita. Kita tetap melakukan sesuatu untuk menyelesaikan persoalan dan tantangan dalam hidup kita. Selain hal-hal yang sudah kita tetapkan menjadi prioritas kita, ya cuekin aja. Bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang tidak dalam prioritas kita itu perlu loh, daripada akhirnya jadi pusing sendiri.

Mimisan itu Genetik Ya?

Hari ini, untuk pertama kalinya, Joshua mimisan. Saya tulis di sini, supaya jadi catatan di kemudian hari. Tadi itu mimisannya hanya sebentar dan cepat berhenti, walaupun dianya sangat sulit disuruh untuk tenang dan jangan lompat-lompatan atau gerak-gerak terus.

Kembali ke judul. Joe pernah beberapa kali mimisan. Sejak jaman pacaran, saya sudah pernah liat dia mimisan. Menurut Joe, dia mimisan sejak masih SD dan dulunya agak sering. Joe sudah pernah di periksa ke dokter, tapi kata dokter itu karena pembuluh darah di hidungnya agak tipis. Sejauh ini, mimisannya Joe itu bisa dijelaskan penyebabnya, tapi ya pernah juga agak lama berhentinya, atau dalam sehari setelah berhenti tau-tau kejadian lagi.

Beberapa penyebab Joe mimisan itu diawali dengan kecapean atau kepanasan. Jadi kalau dia lagi banyak kerjaan suka lupa minum air. Terus daya tahan tubuhnya menurun. Biasanya dia jadi gampang pilek. Nah waktu pilek kan sering buang ingus tuh. Setelah beberapa saat, terjadilah mimisan itu. Atau kalau lagi demam tinggi, pernah juga tuh jadi mimisan. Yang paling mengkhawatirkan itu pernah waktu lagi sakit demam berdarah, dia agak pilek juga, dan malah jadi mimisan. Aduhai jadi bingung kan ini mimisan level yang mana, level demam berdarah atau level pilek.

Penyebab lainnya juga biasanya kalau abis kena panas-panasan lama di bawah matahari dan kurang minum atau dalam keadaan kurang fit. Mimisan ini jadi seperti penanda kalau badannya butuh istirahat dan kurang minum.

Karena sudah agak pengalaman mimisan, Joe jadi tahu dan lebih tenang menghadapi mimisan. Untuk menghentikan mimisan kita bisa memencet bagian hidung yang agak di bawah mata, duduk agak menunduk dan jangan berbaring ataupun menengadah karena bisa jadi darah masuk ke saluran pernapasan/paru-paru. Darah yang sudah keluar ya dibersihkan dengan tissue di ujung hidung. Jangan malahan dikorek-korek. Kalau terasa ada darah masuk ke tenggorokan, ya nanti bisa berkumur.

Kalau udara lagi panas, kering dan dingin, harus banyak minum. Musim kering begini, biasanya banyak debu juga, terus hidung jadi banyak kotorannya, nah membersihkan kotoran hidung juga gak boleh terlalu keras, tapi lebih baik dicuci pakai air, atau pakai saline water. Yang pasti, hidungnya jangan sampai terluka kena kotoran hidung yang kering atau karena kena kuku kita hehehe.

Nah itu kan cerita bapaknya. Sekarang cerita bagian anak-anak. Waktu Jonathan sekitar umur 2,5 atau 3 tahun, di suatu saat menjelang subuh, dia bangun dan nangis-nangis. Waktu kami datangi ke kamarnya, loh kok ada banyak darah di bajunya dan bantal. Awalnya saya sempat panik, apalagi masih dalam keadaan baru bangun. Jonathan yang juga masih mengantuk malah susah disuruh biar berhenti menangis. Semakin dia nangis dan bergerak, semakin susah menghentikan darahnya.

Waktu itu, rumah kami lokasinya sangat dekat dengan salah satu rumah sakit di Chiang Mai. Karena Jonathan masih kecil dan kami tidak tahu sudah berapa lama mimisannya sebelum kami bangun, kami kuatir ada penyebab lain. Matahari belum terbit, kami jalan menggendongnya ke Emergency Room. Untungnya, kata dokter, karena mimisannya sudah berhenti, ya tidak ada yang serius. Cuma harus diperhatikan supaya dia tidak mengorek hidungnya dan menyebabkan luka yang baru kering jadi berdarah lagi.

Setelah kejadian pertama itu, Jonathan pernah mimisan lagi di saat demam batuk pilek. Pernah juga sekali pulang main-main di bawah panas matahari. Persis bapaknya ya penyebabnya. Tapi karena dia sudah agak besar dan bisa dibilangin, kami sudah gak panik lagi dan bisa suruh dia duduk diam sambil menunggu darah mimisannya berhenti. Setelah itu disuruh kumur-kumur supaya kalau ada rasa darah di tenggorokan bisa sekalian dibersihkan. Dan tentunya setelahnya dipastikan untuk memberi asupan cairan dan memperhatikan biar dia tidak menggosok-gosok atau mengorek hidungnya.

Joshua sekarang ini 4,5 tahun. Saya pikir, Joshua bakal aman dan tidak mengalami kejadian mimisan. Ternyata, tadi sore tiba-tiba dia mimisan. Dia tidak sedang demam ataupun pilek. Tapi belakangan ini, udara di Chiang Mai memang sedang panas, kering dan banyak debu. Joshua juga kadang-kadang mengorek hidungnya karena tidak nyaman dengan kotoran hidung. Sudah sering sih saya ajarin untuk mencuci hidung dengan air, tapi ya namanya anak-anak, belum terlalu mengerti walau emaknya ngomong berkali-kali.

Waktu Joshua mimisan tadi, kami bisa cukup tenang (walaupun saya tetap aja ada perasaan khawatir terulang lagi). Kami bawa Joshua ke kamar mandi untuk dibersihkan hidungnya, dan berkumur-kumur. Tapi, tantangan berikutnya adalah membuat Joshua tenang dan gak lompat-lompatan. Kami ajak baca buku, tapi ya tetap aja ga mudah membuat Joshua duduk manis baca buku. Untungnya tadi, darahnya termasuk cepat berhenti tanpa kami harus pencet hidung ataupun suruh dia duduk menunduk sekian lama. Sekarang sih dia sudah tidur. Selanjutnya harus lebih diperhatikan apakah minumnya cukup atau tidak terutama kalau abis main panas-panasan. Selain itu ya kalau dia mulai korek-korek hidung, harus dibawa mencuci hidungnya sebelum hidungnya jadi terluka dan berdarah.

Kalau saya, sejauh yang saya ingat, saya itu tidak pernah mimisan. Jadi kalau mimisan itu genetik, udah jelas asalnya dari Joe. Mungkin bukan mimisannya yang genetik ya, tapi pembuluh darah di hidung yang agak tipis itu sama kayak Joe hehehe.

Tapi saya jadi baca-baca lagi mengenai nosebleed atau mimisan. Mimisan itu umum terjadi untuk anak usia 2 – 10 tahun. Umumnya kalau mimisan bisa berhenti tidak lebih dari 20 menit, berarti ini penyebabnya tidak serius, cuma pembuluh darah di hidung nya mungkin terluka. Tapi, mimisan juga bisa menjadi indikasi penyakit yang serius. Nah karena saya gak mau nakut-nakutin diri sendiri, saya cukupkan tulisan sampai di sini.

Mudah-mudahan mimisannya Joe, Jona dan Joshua tidak terulang lagi dengan cara menjaga kesehatan, cukupkan asupan cairan dan tidak main panas-panasan berlama-lama. Untungnya kejadian mimisannya bukan pas liburan kemarin (atau mungkin ini efek kecapean dan kepanasan pas liburan kemarin).

Triple J : Joe, Jona dan Joshua

Ada yang ingin berbagi penyebab dan cara mengatasi mimisan yang pernah dialami, dan apakah ada anggota di keluarganya yang juga mengalami hal yang sama?