Mengajak Jonathan Membaca

Sejak bisa membaca, Jonathan senang membaca berbagai buku. Buku yang dia paling senang model buku Usborne yang ada lift the flapnya. Berikutnya dia mulai suka membaca komik. Kami berusaha mengenalkan dia untuk membaca buku tanpa gambar (chapter book), awalnya dia bilang kurang suka dan ceritanya ga menarik.

Bulan Januari 2018, saya berusaha melatih Jonathan untuk membaca buku setiap hari 1 selama 10 menit, saya ikuti kegiatan challenge Read Aloud yang ada di internet tentunya dengan memberi reward buku yang dia pilih sendiri.  Walaupun  dia sudah bisa baca, waktu membacakan bersuara, kadang-kadang dia belum bisa berhenti ketika ada titik ataupun tanda baca lainnya. Dia cenderung membaca seperti kereta api yang tidak ada jeda walau ada titik koma. Semua diterobos aja gak berhenti sampai ganti halaman. Tentunya jadi tidak enak mendengarkannya dan saya harus mendampingi membacanya.

Buku yang saya berikan untuk dia baca selama sebulan Januari beraneka ragam. Kadang saya suruh dia membaca dongeng sebelum tidur yang cuma beberapa halaman, buku lift the flap, komik dan saya mulai kasih chapter book yang isinya berupa kumpulan cerita lepas dan membacanya tidak lebih dari 10 menit.

Seperti umumnya anak-anak, Jonathan ga suka dan bersungut-sungut ketika saya suruh baca. Tapi lama kelamaan, tanpa sepengetahuan saya, dia sering membaca tak bersuara sendiri  tanpa disuruh. Akhirnya saya menyerah memaksa dia membaca bersuara dan membiarkan saja dia memilih apa yang dia mau baca (lebih baik dia membaca daripada main game atau nonton TV doang). Untuk mengecek apakah Jonathan mengerti yang dia baca, kami ajak dia ngobrol dan menanyakan siapa tokohnya, bagian mana ceritanya yang dia suka atau tidak suka, siapa tokohnya dan apa peristiwa yang terjadi dalam buku yang dia baca.

Awalnya saya memberikan buku yang banyak direkomendasikan homeschoolers dengan kategori living books. Dia bilang bukunya tidak menarik dan mungkin dia belum mendapatkan klik dalam membaca buku. Kami juga berusaha memberi reward untuk memotivasi Jonathan membaca. Katanya Jonathan pengen punya uang buat dikumpulin dan nantinya dibelikan sesuatu, jadi kami setuju, kalau dia baca 1 chapter book akan kami berikan 10 baht. Kalau bukunya lebih tebal lebih dari 100 halaman nantiya bisa dikasih lebih.

Setelah mencoba memberikan berbagai chapter book dengan hasil yang ga terlalu signifikan (kadang dibaca kadang nggak), suatu hari Joe memberikan buku cerita yang mengajarkan pemrograman BASIC terbitan lama, seri Micro Adventure. Dalam buku ini, disertakan juga beberapa listing program BASIC yang bisa dicoba disalin dan dijalankan di komputer. Ternyata buku ini merupakan buku yang memberi klik untuk Jonathan menyukai membaca chapter book.

Sejak awal April atau Mei, dia sudah membaca 7 dari 10 serial Micro Adventure. Selain serial ini, dia juga membaca berbagai buku lainnya termasuk belakangan ini dia baca buku Harry Potter 1 dan 2 dalam hitungan beberapa hari saja. Untuk beberapa buku kami beri reward boleh menonton film dari buku itu. Sejauh ini Jonathan sudah menonton: Captain Underpants, Charlie and The Chocolate Factory dan Harry Potter pertama.

Saya mencoba catch up dengan Jonathan membaca buku-bukunya, tapi sejauh ini saya masih ketinggalan banyak hehehe. Jonathan sering bertanya “what is your favorite part in this book?” setelah selesai membaca buku yang dia tahu kami sudah baca (misalnya Harry Potter). Kecepatan membaca dia melesat seperti tak terbendung dan sekarang dia bahkan mulai membaca buku-buku kategori living books yang dulu dia bilang ga suka.

Berikut ini daftar buku yang dia baca dalam sebulan ini sebagai catatan buat kami:

 Micro Adventure Series:
  1. Space Attack: Micro Adventure Number One by Eileen Buckholtz and Ruth Glick (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33165-5)
  2. Jungle Quest: Micro Adventure Number Two by Megan Stine and H. William Stine (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33166-3)
  3. Million Dollar Gamble: Micro Adventure Number Three by Chassie L. West (1984; ISBN 0-590-33167-1)
  4. Time Trap (Micro Adventure, No 4) by Jean Favors (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33168-X)
  5. Mindbenders (Micro Adventure, Vol. 5) by Ruth Glick and Eileen Buckholtz (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33169-8)
  6. Robot Race (Micro Adventure, Vol. 6) by David Anthony Kraft (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33170-1)
Captain Underpants novels:
  1. The Adventures of Captain Underpants (1997)
  2. Captain Underpants and the Attack of the Talking Toilets (1999)
  3. Captain Underpants and the Invasion of the Incredibly Naughty Cafeteria Ladies from Outer Space (and the Subsequent Assault of the Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds) (1999)
Roald Dahl novels:
  1. Charlie and the Chocolate Factory (1964)
  2. The Magic Finger (1966)
  3. Fantastic Mr Fox (1968)
  4. Charlie and the Great Glass Elevator (1972)
  5. George’s Marvellous Medicine (1981)
  6. Matilda (1988)
Harry Potter novels:
  1. The Philosopher’s Stone (1997)
  2. The Chamber of Secrets (1998)

Dan yang terakhir dia menyelesaikan 12 buku dalam winnie the pooh library box set

Banyak juga buku yang dia baca dalam sebulan ini, semoga ke depannya Jonathan tetap semangat membaca dan dengan rajin membaca dia bisa belajar lebih banyak hal lagi.

Gadget non Screen untuk Belajar : LeapFrog Scribble and Write, Talking pen, Smart Pad

Ada beberapa gadget/mainan yang kami beli untuk belajar Jonathan dan Joshua yang  tidak ada screennya. Joshua bisa bermain cukup lama dan belajar cukup banyak dari mainan-mainan ini. Supaya tidak lupa, saya akan menuliskannya di sini.

LeapFrog Scribble and Write

Benda ini kami beli sejak Jonathan belajar menulis. Awalnya saya kurang setuju untuk membelinya, karena saya pikir ga ada bedanya dengan menulis di tablet Ipad/Android. Ternyata, setelah diperhatikan, untuk menulisnya anak akan belajar memegang pen nya seperti memegang alat tulis dan harus ditekan seperti menulis di atas kertas. Anak belajar tracing dengan mengikuti led yang menyala per pixel. Mainan ini mengajarkan menulis huruf besar dan huruf kecil, selain menggambar beberapa bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, garis, segiempat dan juga beberapa gambar bebas. Versi yang kami beli belum ada untuk menuliskan angka, terakhir kami lihat versi yang sama dengan ini sudah ada menuliskan angka juga.

Joshua dari sejak umur setahun sudah senang dengan mainan ini, awalnya dia suruh kami yang tracing dan dia mengamati saja, atau dia senang mendengar instruksi-instruksi yang diberikan untuk tracing ataupun menebak huruf. Kemampuan Joshua mengingat huruf A-Z dan a-z sebagian besar karena mainan ini.

My First SmartPad: Baby Einstein

Mainan Smartpad ini dibelikan sebagai hadiah ulang tahun Joshua ke-2. Seperti biasa, saya kurang setuju membelikannya karena menurut saya, Joshua sudah bisa ABC dan ga perlu lagi untuk dibelikan mainan ABC lainnya. Tapi alasan Joe: Joshua belum pernah dibelikan mainan bagus yang baru, semua mainan dia warisan dari kakaknya.

Dan dalam waktu singkat Joshua sudah bisa memainkan mainan ini dengan baik dan mengingat ejaan banyak kata-kata yang ada dalam bukunya. Dalam bundle yang dibeli, selain smart pad, disertakan juga buku yang mengajarkan kata-kata berawalan a sampai z, mengeja warna dan benda-benda yang memiliki warna tertentu, musik, dan lain-lain. Mainan ini juga menanyakan huruf awal dari sebuah kata.

Mainan ini membantu menambah banyak kosa kata Joshua, dan juga mengenali huruf awal dari sebuah kata. Setelah main dengan smartpad ini, Joshua sangat cepat mencari huruf untuk mengeja kata-kata yang ada dalam bukunya. Dia juga belajar untuk mengetik di keyboard komputer papanya dan bisa mengetik A-Z dan angka-angka dengan cukup cepat.

Talking Pen

Kami tertarik dengan talking pen  karena Joe pengen bisa ngoprek mainan ini (walaupun sampai sekarang dia belum sempat membuat sesuatu dari benda ini).  Talking pen yang kami beli ini bisa untuk belajar 3 bahasa (Inggris, Thai dan Mandarin), tapi kami beli untuk bahasa Inggris dan terutama bahasa Thailand.  Pulpen ini bisa membaca buku khusus yang sudah ada mark nya di dalamnya, buku yang diterbitkan sudah sangat banyak. Ketika membeli paket pulpennya, kami mendapat banyak buku dan flashcard yang sampai sekarang belum habis dimainkan anak-anak. Kami akhirnya beli 2 pulpen karena awalnya Joshua dan Jonathan selalu berebutan untuk memainkannya. Joe bilang, ya beli 2 nanti yang 1 buat dia program kalau anak-anak udah bosan mainannya.

Mainan ini agak lama tidak dimainkan karena repot membereskan tiap kali selesai main. Tapi belakangan ini, sejak kami stop tontonan, mainan ini kami keluarkan lagi. Sejak mulai main dengan talking pen, Joshua tertarik untuk mengenali huruf Thai. Awalnya dia suka untuk mendengarkan saja, sekarang dia sudah hampir mengingat 44 huruf konsonan Thai dalam waktu seminggu.

Mainan-mainan ini memang agak mahal harganya, tapi kalau dilihat dari kegunaan dan memang cukup lama dimainkan, rasanya mainan ini sudah sangat terpakai dan dipakai oleh 2 anak. Untuk talking pen, nantinya saya juga ingin pakai untuk belajar mandarin.

Selain mainan yang menggunakan baterai, ada banyak juga mainan lain yang membantu anak-anak untuk belajar menulis dan membaca. Mainan favorit Joshua yang sering dia pakai adalah: white board + spidol, huruf2 magnetik, eva mat yang bermotif huruf dan magnetik drawing board.