Review App iPusnas

Saya baru tahu ada aplikasi perpustakaan digital punya perpustakaan nasional Indonesia yang bisa diakses melalui aplikasi iPusnas. Waktu ke Perpustakaan Nasional akhir tahun 2018, saya gak melihat ada informasi soal ini (dan mungkin saya aja gak perhatian), padahal kalau melihat dari website dan facebooknya, aplikasi ini sudah ada sejak Agustus 2016. Kalau kata Joe, dia pernah tau soal aplikasi iPusnas ini, tapi koleksi bukunya belum banyak dan tidak ada yang menarik, jadilah kami melupakan aplikasi ini.

Beberapa waktu lalu, dari obrolan di grup KLIP, saya jadi tertarik mencoba aplikasi ini. Saya langsung mendownload dan menginstal di HP Android saya. Ternyata sekarang buku-bukunya sudah ada banyak. Berikut ini opini saya setelah beberapa hari menggunakan aplikasi iPusnas.

Instalasi dan Pendaftaran

Aplikasi ini tersedia untuk handphone Android maupun iOs, ada versi desktop juga untuk Mac dan Windows. Jadi pilihan untuk mengakses perpustakaan cukup banyak. Instalasi di desktop Mac akan meminta kita mengatur security nya sedikit, tapi setelah itu tidak ada masalah.

Pendaftaran bisa menggunakan facebook atau alamat email. Saya sudah mencoba mendaftar dengan Facebook, dan Joe mencoba mendaftarkan dengan e-mail. Setelah pendaftaran, kita diminta lagi memasukkan kata sandi terpisah untuk aplikasi ini. Pendaftarannya sangat mudah, dalam waktu 5 menit saya sudah bisa melihat ada buku apa saja dalam koleksinya.

Continue reading “Review App iPusnas”

Lagu-lagu Badanamu

Pertama kali saya tahu mengenai Badanamu ini, saya hanya tahu lagu-lagu dari YouTubenya saja. Karakter animasi Bada merupakan tokoh seperti bear yang berbulu putih tebal dan ekor yang sangat pendek. Konon setelah baca-baca tokoh Bada ini animasi dari seekor anjing pomeranian. Karakter Bada ini punya banyak teman-teman seperti Mimi, Abby, Punk, Curly, dan Jess.

Gambar dari pinterest: https://www.pinterest.com/badanamu/badanamu-friends/?lp=true

Niat menuliskan mengenai Badanamu ini sudah dari dulu, tapi sudah beberapa kali saya tunda, karena ternyata Badanamu ini bukan cuma lagu saya tapi merupakan sebuah program edukasi lengkap dan bahkan menjual buku juga selain lagu-lagu yang ada di YouTube. Saya kaget juga membaca kalau mereka kantor utamanya ada di Seoul, USA dan China. Saya pikir wah bisa buat belajar bahasa Korea juga, eh tapi ternyata fokus mereka mengajarkan dalam bahasa Inggris saja. Karena saya belum jadi juga mencoba aplikasi ataupun menjadi member dari Badanamu Club, saya tidak bisa bercerita banyak mengenai program lengkap mereka. Sekarang ini saya akan menuliskan kenapa kami menyukai lagu-lagu dari Badanamu (apalagi sekarang bisa dengar di Apple Music juga).

Continue reading “Lagu-lagu Badanamu”

Buku: Aku Belajar Tapi Gak Sekolah

Buku karya anak-anak yang belajar di rumah

Beberapa waktu lalu, seorang teman di FB membagikan informasi mengenai buku ini. Sebagai keluarga yang juga memilih jalan sekolah di rumah ini, saya langsung tertarik untuk membacanya, apalagi karena buku ini ditulis bukan oleh orangtuanya, tapi oleh anak yang menjalani kehidupan bersekolah di rumah. Buku ini ditulis oleh 20 anak berusia antara 10 – 17 tahun yang bergabung dalam sebuah komunitas homeschool, dibimbing oleh 3 orang mentor yang menghomeschool anak-anaknya selain juga berkarya di bidangnya. Buku ini juga menjadi salah satu hasil karya belajar menulis yang merupakan kegiatan homeschool mereka di komunitas homeschool Klub Oase.

Komunitas untuk keluarga yang bersekolah di rumah ini sangat dibutuhkan, bukan saja untuk anak bersosialisasi, tapi juga untuk orangtua bertukar ide dan pengalaman. Tahun lalu saya sempat bergabung dengan komunitas lokal di sini, tapi komunitasnya terlalu besar dan akhirnya saya merasa terlalu melelahkan. Tahun ini saya memilih komunitas yang lebih kecil di mana anak-anak bertemu sekali seminggu dengan kegiatan bermain dan belajar bersama.

Buku ini cukup tebal, lebih dari 300 halaman. Tapi karena ceritanya tidak bersambung kita bisa memilih mau baca cerita siapa terlebih dahulu dengan memilih dari daftar isinya.

Tulisannya dikelompokkan menjadi 5 kategori. Mulai cerita awal perjalanan memilih homeschool, bagaimana kegiatan sehari-hari anak homeschool, bagaimana mereka bersosialisasi, apa saja naik turunnya kegiatan homeschoolers dan apa yang menjadi cita-cita mereka.

Sebagai orang yang menghomeschool anaknya, saya bisa mengerti apa yang dirasakan anak-anak itu. Bagian awal mula homeschool itu ada yang menjadi keputusan orangtua, dan tidak sedikit juga menjadi keputusan anak itu sendiri. Tapi siapapun yang memutuskan dan apapun alasan mulainya, dari cerita mereka saya bisa melihat mereka semua merasa bersyukur belajar di rumah. Mereka juga menjadi anak-anak yang bisa belajar mandiri dan belajar bertanggung jawab mulai dari perencanaan kegiatan mingguan, menetapkan target dan sampai pelaksanaanya termasuk aktif dalam kegiatan-kegiatan pameran hasil karya.

Setiap keluarga punya alasan dan inginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Di dalam buku ini saya lihat banyak anak yang memutuskan/meminta untuk dihomeschool karena merasa beban berat di sekolah, dan juga tidak lepas dari adanya bullying. Saya sendiri tidak pernah dibully waktu sekolah, tapi jangan-jangan tanpa sadar saya yang membully teman saya, karena saya ingat waktu saya SD ada teman yang membagi uang jajannya ke saya tanpa saya minta supaya dia bisa nyontek PR saya (waktu itu saya kelas 1 SD dan ya belum mengerti kalau sebaiknya saya tidak menerima uang dari teman dan tidak memberi contekan PR).

Sedikit hal yang mengganggu dalam buku ini. Saya kadang bingung ketika anak yang sama menulis tentang hal yang berbeda. Di satu bagian dia bercerita sedang persiapan ujian masuk universitas tertentu, di bagian lain dia bercerita kalau dia sudah melupakan target masuk universitas yang itu. Mungkin ada baiknya juga kalau ceritanya dikelompokkan berdasarkan anaknya. Jadi misalnya si A bercerita mulai dari awal dia homeschooling bagaimana, lalu bagaimana kegiatan hariannya, bagaimana dia bersosialisasi, bagaimana roller coaster yang dia hadapi dan apa harapan dia 20 tahun mendatang. Jadi pembaca bisa lebih dapat gambaran misal si A ini hobinya menggambar dan berapa banyak sehari dia menggambar dan apakah 20 tahun ke depan dia berharap berkarya dari gambarnya atau mau kuliah lalu menjadi pengajar gambar.

Sebenarnya, di semua tulisan ada jelas anak mana yang menulis dan di halaman belakang buku ada profil anak tersebut, tapi karena saya bukan tipe yang bisa dengan cepat mengingat nama dan fakta tentang masing-masing anak (dan ada 20 anak), kadang-kadang jadi bingung dan harus baca buku bolak -balik untuk mengingat lagi ini anak yang mana yah.

Menurut saya, buku ini perlu dibaca oleh orang-orang dalam kategori berikut:

  • anak sekolah yang merasa beban sekolah sangat tinggi
  • anak sekolah yang merasa bosan dengan rutinitas sekolahnya
  • anak sekolah yang punya minat untuk pelajaran tertentu
  • orangtua yang selalu merasa stress setiap musim ulangan umum anaknya
  • orangtua yang tertarik dan pingin tahu apa itu homeschool
  • siapa saja yang selalu meragukan kerabatnya yang menghomeschool anak-anaknya

Saya senang sekali membaca buku ini, kami baru melakukan homeschool sekitar 2 tahun, masih banyak pertanyaan dan keraguan setiap tahun ajaran baru, tapi dari membaca pengalaman anak-anak yang sudah dihomeschool baru 2 tahun sampai sudah 8 tahun, semuanya bahagia dengan pilihan homeschool. Mereka juga terlihat menjadi anak yang kreatif dan juga bisa belajar mandiri. Saya gak meragukan kalaupun mereka nantinya memilih kuliah demi mendapat ijasah dengan alasan memperluas pilihan ketika dewasa, mereka tidak akan punya kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman kuliah dan tidak ada masalah mengikuti kegiatan belajar di tingkat universitas. Bahkan mereka bisa lulus dengan cepat karena mereka terbiasa belajar mandiri.

Kalau kamu termasuk yang mempertanyakan anak homeschool ngapain aja dan apa bedanya dengan sekolah formal, dan juga mempertanyakan bagaimana nanti ijasahnya, nah coba deh baca buku ini untuk melihat lebih dekat kegiatan anak-anak homeschool. Menurut saya, mereka gak akan kurang kesempatannya di masa depan dari anak-anak yang dikirim ke sekolah biasa, malahan kalau dilakukan dengan benar, anak-anak homeschool ini bisa lebih berhasil karena mereka sudah lebih terlatih untuk fokus dengan apa yang mereka suka dan mencari tahu bagaimana melakukan sesuatu dengan benar.

Saya berharap komunitas homeschool di Indonesia juga semakin banyak. Siapa tahu suatu saat kami harus kembali ke Indonesia, jadi kami bisa bergabung dengan komunitas lokal yang ada.

Kdrama: Hello My Teacher

Setelah nonton KMovie Train to Busan yang dimainkan Gong Yoo, saya iseng lihat kdrama lama yang diperankan Gong Yoo dan Gong Hyo-jin. Judulnya Hello My Teacher atau judul lainnya Biscuit Teacher and Star Candy. Ini Kdrama tahun 2005, pemerannya masih pada muda hehehe.

Ceritanya menurut saya agak terlalu rumit, saya akan coba sederhanakan dalam menuliskannya, semoga tapi gak jadi bikin pusing hehehe. Berikut ini tokoh-tokoh dalam kdrama ini:

Na Bo-ri, seorang wanita berumur 25 tahun yang merupakan mantan preman di masa SMA nya sampai dia akhirnya dikeluarkan dari sekolah itu. Tapi walaupun dia dikeluarkan, dia tetap bercita-cita jadi guru. Ada 2 alasan dia ingin menjadi guru, tapi alasan ke-2 nya diceritakan belakangan, alasan pertamanya dia suka dengan seorang guru seni (lelaki) bernama Ji Hyun-wo yang tentunya ganteng. Eh alasan ke-2 nya ternyata dia memang suka mengajar dan berharap sekolah jangan terlalu cepat memutuskan untuk mengeluarkan seorang siswa dari sekolah, tapi sebisa mungkin didengarkan dulu apa masalahnya sebenarnya dan dibantu. Cita-cita ke-2 nya lebih mulia dari cita-cita pertamanya ya hehehe.

Ji Hyun-wo, guru seni yang ganteng dan masih muda dan disukai Na Bo-ri. Guru seni ini adik dari director sekolah, dan merupakan calon penerus yang mengurusi sekolah. Pernah sekolah di Perancis tapi lebih fokus dalam melukis daripada memikirkan ngurusin sekolah. Punya ex-tunangan yang belajar bareng di Perancis bersama dengan dia yang malahan jadi belajar untuk mengurus manajemen sekolah karena Ji Hyun-wo nya milih asik dengan lukisannya saja. Objek lukisannya: Na Bo-ri, dia putus dengan tunangannya karena menyadari kalau dia suka dengan Na Bo-ri dan selalu memikirkan Na Bo-ri walaupun dia tidak pernah bertemu sejak Bo-ri dikeluarkan dari sekolah.

Park Tae-In, anak SMA yang merupakan ponakan dari Ji Hyun-wo dan anak tiri dari director sekolah. Udah dikirim ke Amerika tapi malah bikin huru-hara dan akhirnya di pulangkan ke Korea. Di Korea tadinya dia lebih sering jadi kayak tahanan rumah atau dimasukkan ke sejenis bangsal rumah sakit jiwa. Bapaknya Tae-in ini dokter dan pemilik rumah sakit. Jadi kebayang ya si Tae-in ini anak orang kaya, bapak dokter, mama tiri director sekolah. Mama kandungnya sudah meninggal sejak dia kecil, salah satu alasan dia jadi agak nakal juga karena dia merasa gak dapat perhatian dari bapaknya yang sibuk dengan pekerjaan.

Selain 3 tokoh sentral dan si ex tunangan pak guru seni, masih ada lagi anak sma lain yang suka dengan Tae-In, ada adiknya bu guru Bo-ri yang merupakan seorang dokter dan bekerja di rumah sakit milik bapaknya Tae-in dan tentunya guru-guru dan murid-murid SMA lainnnya.

Kisahnya sekilas sederhana, seorang murid mengidolakan gurunya. Lalu 6 tahun kemudian dia kembali ke sekolah itu melamar menjadi guru. Tapi dengan track record pernah dikeluarkan dari sekolah itu, tentunya ketahuan kalau dia bukan murid yang cemerlang. Semua orang mempertanyakan apakah memang Na Bo-ri ini pantas jadi guru atau nggak.

Si guru seni kasih ide ke kakaknya, gimana kalau Na Bo-ri diminta untuk jadi guru wali kelas aja, jadi dia ga harus ngajar. Teorinya kan hanya preman yang tau cara menghadapi preman. Nah jadilah si Na Bo-ri di kontrak sebagai guru tapi tugas utamanya untuk mengawasi si ponakan Park Tae-in supaya ga berbuat onar lagi dan bisa sekolah normal. Guru seni ini ternyata punya motif sendiri, dia pengen bisa menindaklanjuti perasaan yang lama tersimpan.

Udah ketebak belum perkembangan ceritanya? masih episode pertama saja saya udah tau kelanjutannya, walaupun dalam cerita ini ada 2 pria dan 3 wanita, pada akhirnya ceritanya berkurang dengan 2 pria dan 1 wanita. Endingnya? ah jangan ditulis di sini nanti spoiler.

Cerita ini agak gak realistis, tapi ya bukannya ga mungkin terjadi. Saya ga pernah kenal teman saya yang menikah dengan guru SMA nya ataupun yang menikah dengan muridnya, tapi cerita orang jatuh cinta diatas umur 20 tahun udah beda tipis lah jadinya antara 20 ke 26 dan ke 30. Dalam cerita kdrama, di Korea umumnya anak lulus SMA itu sekitar umur 20 tahun, dan setelah itu mereka terhitung dewasa dan bisa menentukan mau lanjut kuliah atau mau langsung cari kerjaan.

Satu-satunya bagian yang berkesan ketika menonton film ini adalah nasihat bapaknya ke anaknya: kau mau menikah atau tidak itu pilihanmu, setelah kau menikah semua itu akan menjadi tanggung jawabmu, kau gak bisa menyalahkan aku atau menyesali kenapa tak melarangmu menikah. Pesanku kalau kau nanti menikah, sayangi isitrimu dan jangan lakukan kesalahanku yang mengabaikan keluarga dengan terlalu sibuk bekerja.

Kerumitan cerita ini karena tokohnya saling terkait. Jadi banyak scene di mana masing-masing tokoh kayak lagi berpikir keras apa yang sebaiknya dilakukan tanpa membuat malu yang lain. Semua berusaha melakukan hal yang tidak egois. Semua berusaha jadi orang baik. Tapi namanya cerita cinta, mana bisa sih semuanya happy ending, pasti akan ada tokoh yang harus minggir dan menerima kenyataan. Nah kira-kira kalau judulnya adalah pilih sendiri ending ceritanya mana ending yang lebih kalian pilih:

  • guru seni nikah dengan tokoh utama wanita
  • guru seni nikah dengan tunangannya yang pintar ngurusin sekolah, tokoh utama wanita nikah dengan si anak SMA yang akhirnya jadi suka sama dia walaupun itu notabene merebut pacar pamannya
  • guru seni dan si anak SMA gak ada yang jadi sama si tokoh utama wanita karena tokoh utama wanita gak mau merusak hubungan kekeluargaan antara guru seni dan ponakannya
  • kalau ada alternatif ending silakan tulis di komen hehehe

Namanya kdrama ya, apapun bisa jadi ending. Bisa happy ending, bisa juga open ending. Melihat kdrama ini saya malah teringat masa kuliah. Waktu SMA gak ada guru idola yang muda nan kece sih, tapi pas kuliah kebetulan temen-temen saya ada yang pada demen dengan asisten dosen yang masih muda dan single. Gak ada yang sukses sih ngedapatin si ibu dosen itu, tapi kira-kira saya jadi bisa relate dengan kisah murid yang suka dengan gurunya ini.

Belajar Bahasa Korea

Tulisan ini update dari tulisan sebelumnya mengenai belajar bahasa itu proses dan juga merupakan akibat tidak langsung dari gara-gara kdrama hehehe. Saya pikir, saat ini saya sudah akan menyerah dan berhenti kebiasaan baik untuk memakai Memrise dan Coursera. Ternyata ya semakin banyak kosa kata yang kita tahu, semakin kita mengenali hangeul dan semakin mengerti kenapa ada perubahan bunyi dalam pengucapan bahasa Korea, semakin jadi sayang aja kalau ditinggalkan hehehe.

49 hari belajar tiap hari menggunakan Memrise

Tanpa terasa, hari ini sudah 49 hari saya tidak pernah bolos menggunakan Memrise dengan target belajar kata-kata baru dan review kata-kata yang lama. Korean level 2 di Memrise totalnya ada 23 bagian dan sekarang saya sudah hampir selesai bagian 21. Sedikit lagi menuju Korean level 3 di Memrise. Belajar di Memrise ini enaknya sedikit-sedikit dan kalau lupa ya gak apa-apa.

Kemarin saya menyelesaikan kursus yang saya ambil di Coursera. Kursus Learn to Speak Korean 1 ini dirancang untuk dipelajari selama 6 minggu. Jadwal minggu ke-6 itu harusnya 13 Mei, tapi saya sudah selesai duluan heheheh. Bagusnya belajar Coursera sambil belajar Memrise adalah, di Memrise saya banyak belajar kosa kata dan sedikit grammar, tapi di Coursera saya jadi lebih banyak belajar grammarnya, walaupun diajarkannya untuk percakapan sehari-hari (berbelanja, memesan makanan, menanyakan lokasi, nama-nama makanan, menyebutkan harga). Sayangnya di Coursera cuma ada 2 kursus saja untuk belajar bahasa Korea, mereka belum selesai mempersiapkan kelanjutan dari Learn to Speak Korean 1.

Dari kursus di Coursera, saya jadi menyadari kenapa bahasa Korea kedengaran gitu-gitu aja. Walau saya belum bisa mengingat semua rules nya, saya bisa bilang kalau di bahasa Korea itu kata dasar bisa punya banyak akhiran yang berbeda-beda, ada akhiran -aya, -oyo, -haeyo, -yeyo, -e, -a, -eso, -nen, -ren, -ka, -i, dan banyaklah mungkin yang saya belum tau juga hehehhe. Walaupun dah selesai kursus coursera dan menyelesaikan semua quiz dengan baik, tetep aja ya quiz itu tidak mewakili seluruh pelajaran yang ada. Karena tetep aja menurut saya quiz nya terlalu mudah dan cuma 3 – 6 pertanyaan sederhana dan bisa diulang berkali-kali tanpa penalti hehehehe.

Nah sekarang setelah selesai Coursera, rencananya saya masih akan meneruskan kebiasaan baik untuk belajar Korea ini. Di internet ada banyaaaaak sekali sumber-sumber belajar gratis ataupun berbayar, tapi saya tetep belum mau bayar (cukup bayar Netflix dan Apple Music aja), karena untuk belajar bahasa Korea ini saya gak mau ada perasaan terpaksa, saya mau tetap fun. Saya pilih 1 kursus gratisan dari Internet yang menyediakan podcast (mp3) dan file pdf nya. Mereka juga ada channel YouTube nya. Situs yang saya pilih untuk belajar namanya Talk To Me in Korean.

Situs Talk To Me in Korean ini punya banyak kursus gratisan. Kursus Grammarnya aja ada 9 level. Ada kursus Learn Korean with a Web Drama juga. Nah saya mulai dari awal lagi, sekalian mereview. Pelajaran Korean Grammar level 1 ini terlalu mudah, tapi memang mereka memulai dari kata paling sederhana dan ditambahkan sedikit demi sedikit. Untuk pelajaran belajar dari web drama saya belum dengar, tapi pastinya masih sejalan dengan niat awal belajar bahasa Korea biar bisa nonton Kdrama tanpa subtitle hehehe.

Oh ya, tulisan ini opini pribadi, saya memilih situs ini juga karena gratis dan sepertinya kurikulum mereka cukup jelas langkah-langkahnya. Waktu belajar Coursera kemarin sebenarnya saya agak kewalahan karena diberi fakta terlalu banyak dan akibatnya walau tahu tapi gak semua bisa saya ingat. Model belajar saya butuh banyak repetisi, jadi ya mari kita belajar dari awal lagi, kan katanya lancar kaji karena diulang. Kalau ada yang mau menyarankan situs belajar bahasa Korea gratisan, tulis di komen ya, buat pelajaran berikutnya hehehe.

Ada yang mau ikutan belajar bahasa Korea bareng saya? Kata Joe sih kalau saya tetap konsisten belajar bahasa Koreanya dan berasa ada progress, kalau ada rejeki siapa tau bisa jalan-jalan ke Korea hehehe. Eh tapi, sejak banyak belajar bahasa Korea ini frekuensi menonton kdrama berkurang, soalnya waktunya kepake buat belajar plus buat nulis di blog soal per-Korea-an ini hehehhee. Gak apa lah ya, belajar dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Doain aja semoga saya tetap semangat. Kalau masih semangat pasti akan ada update lagi di blog ini.

Lagu-lagu Project Pop

Tulisan ini masih sambungan tulisan kemaren soal nyobain Apple Music. Nyari-nyari lagu Indonesia yang ketemu lagu cinta melulu. Aduh, nonton kdrama bolehlah isinya romance tapi kalau dengerin musik pengennya yang lebih memotivasi, bukan cuma dengerin kegalauan hati melulu, lagian kadang-kadang tujuannya buat didengerin pas nyetir biar gak ngantuk atau bosan kalau lagi lampu merah.

Membongkar-bongkar ingatan apa ya dulu lagu yang enak didengar, terus ingat sama Kahitna. Nah lagu Kahitna ini walaupun masih rada-rada lagu cinta, tapi masih dianggap enak di dengar (ah alasan, dasar aja gak biasa dengan lagu baru). Nah terus teringatlah dengan lagu-lagu Project Pop.

Dulu setiap kali Project Pop bikin album, saya akan beli kasetnya. Awalnya sejak masih bernama Padhyangan Project dengan lagu nasib anak kost, pertama beli pas jadi anak kost di Bandung hehehe, berasa lagu kebangsaan deh walaupun gak mengandalkan wesel lagi tapi udah pake transfer ke bank dan cek duit di atm saja. Senang aja dengerinnnya karena lagunya lucu-lucu.

Nih coba liat sebagian lirik lagu nasib anak kost

Nasib anak kost tak kenal lelah
Mengikuti mata kuliah
Ya nasib anak kost rajin belajar
Agar hidup tak susah la yaw ya nasib

Aku makan tiap hari
Kadang hanya makan mi
Gimana nggak kurang gizi

Wesel datang tak pasti
Ibu kost tak mau mengerti
Nagih sewa bulan ini ..

Padhyangan Project, Nasib Anak Kost

Padhyangan project ini berubah nama jadi P-Project dan jadi Project Pop. Terakhir beli CD audio Top Of The Pop waktu pulang ke Indonesia setelah di Chiang Mai. Nah setelah itu, saya gak pernah lagi ngikutin apakah ada album atau single yang baru dari Project Pop. Sebelum hari ini, saya hampir lupa dengan Project Pop hehehe.

Hari ini, saya bisa mendengarkan lagi lagu-lagu Project Pop yang lama maupun yang baru, sayangnya album dari Padhyangan Project tidak ada dalam Apple Music, jadi adanya album setelah mereka berubah nama jadi Project Pop. Itupun sudah lumayan banyak sih, dan hasilnya saya senyum-senyum sepanjang hari. Lagu-lagu mereka bukan cuma enak didengar dan nambah semangat, tapi liriknya juga lucu-lucu dan sebagian juga cerita soal persahabatan.

Ini satu potongan lirik lagu Ingatlah Hari Ini yang bikin saya jadi teringat masa-masa kuliah. Sayangnya, beberapa teman gak eksis di medsos dan menghilang dari peredaran. Walau demikian, mereka tetap istimewa sih di hati, dan saya ingat hari-hari itu. Hari-hari di mana teman-teman yang bantuin kalau lagi gak enak body karena sesama anak kost jauh dari orangtua dan keluarga.

Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
S’lamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita t’lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini


Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don’t you worry just be happy

Project Pop, Ingatlah Hari Ini

Jadi kalau kamu belum pernah dengerin lagu Project Pop, dan lagi nyari lagu Indonesia buat didengerin dan nambah semangat, coba deh dengerin lagu mereka. Selain enak didengar, liriknya lucu dan menghibur karena mereka awalnya idenya memang bikin grup parodi tapi cukup kreatif.

Waktu mendengarkan lebih lanjut, eh ada lagu Gara-gara Kahitna, loh kok jadi nyambung dengan pencarian lagu sebelumnya yah. Lirik lagu ini juga lucu, dan musiknya mirip-mirip musik Kahitna.

Setahun kemarin aku enggak ngerti
Gaya merayuku tak sebebas merpati
Ketika ku dengarkan lagu karangan Yovie
Kini aku tahu cara menyatakan cinta
Ku bilang bukan ku ingin mengganggumu
Ijinkan lah aku menyayangimu


Gara-gara Kahitna
Kita pun punya cerita cinta
Gara-gara Kahitna
Bergolak rasa di dada
Tadinya oh tadinya
Aku hampir hampir insomnia
Gara-gara Kahitna
Kau jadi kasih tercinta

Project Pop, Gara-gara Kahitna

Setelah bertahun-tahun gak mengikuti soal Project Pop, saya nemu mereka baru ngeluarin single baru tahun 2017 dan 2018. Walapun baru dengar sekali, saya langsung suka denger lagu mereka. Tahun 2017 single Kalahkan Dengan Cinta, dan 2018 judulnya Coconut.

Nah gak tau deh kenapa mereka bikin judul gak nyambung kayak Coconut, tapi lagunya enak di dengar dan seperti liriknya bilang, lagunya lagu gembira hehehe. Memang ya kalau orang kreatif, apa aja dari ga nyambung bisa disambungin.

Coconut
Buah kelapa
Coconut
Yang aku suka
Coconut
Lagu gembira
Coconut
Mari berdansa
Kamu yang ganteng diujung sana
Kenapa kamu cemberut aja
Coba sini tengok-tengok saya
Kata orang saya mirip Raisa
Hai kamu yang cantik dan manis
Sini ku hibur pakai Bahasa Inggris
Are you smiling atau meringis
But I gonna say I love you may
Coconut
Buah kelapa
Coconut
Yang aku suka
Coconut
Lagu gembira
Coconut
Mari berdansa
Kamu yang single maupun yang double
Kids jaman now or kids jaman old
Hilangkanlah duka sedih di hati
Project pop sudah hadir di sini
Coconut
Buah kelapa
Coconut
Yang aku suka
Coconut
Lagu gembira
Coconut
Mari berdansa
Apapun yang kau rasakan
Dalam hatimu saat ini
Jangan sensi macak orang sakit gigi
Walau kamu sendirian
Asal hati nggak kesepian
Jangan ragu…

Project Pop, Coconut

Kalau mau dengerin lagu-lagu yang saya sebutkan (atau lagu-lagu Project Pop lainnya, saya lihat kebanyakan ada di YouTube juga, tapi lebih baik lagi kalau beli ya, kan mendukung karya anak bangsa. Saya belum beli sih, tapi kan udah langganan Apple Music hehehe. Mudah-mudahan Project Pop ada album baru deh, biar nambah koleksi di playlist.

catatan: tulisan ini opini pribadi dan saya gak dibayar sama sekali oleh Apple Music ataupun Project Pop.

Nyobain Apple Music di Thailand

Sejak gak kerja lagi, saya jarang sekali mendengarkan musik. Udah gak pernah tau lagu apa yang baru atau enak di dengar. Joe juga ga terlalu dengerin musik, tapi ya kayaknya dia di kantor karena semua orang pake earphone jadinya juga masihlah nemu 1 atau 2 lagu yang enak didengar.

Oh ya, dari nonton film juga kadang-kadang jadi nemu lagu-lagu enak seperti soundtrack Frozen, Plane, Sing, beberapa lagu anak-anak semuanya pernah dibeli dari itunes. Nah karena kemaren nonton kdrama Phantom jadi inget lagi dulu pernah beli CD Audio Phantom of the Opera abis nonton filmnya (masa itu belum musim beli musik dari iTunes), tapi sekarang ga nemu lagi cd nya di mana. Nah Joe jadi kepikiran untuk mencarinya di Apple Music.

Di Thailand kebetulan promosi mencoba Apple Music itu gratis selama 3 bulan. Nah ya, walaupun waktu daftar harus masukin kartu kredit, tapi bener-bener free of charge selama 3 bulan pertama. Kalau mau dibatalkan setelah 3 bulan juga bisa hehehe. Biasanya sih kalau memang menarik, layanan begini akan kami pakai terus seperti halnya Netflix, ini salah satu usaha untuk hidup legal.

Kembali ke soal dengerin musik, sekarang ini satu-satunya kesempatan saya buat mendengarkan musik itu kalau lagi di mobil. Salah satu bukti kami tidak terlalu mencari musik terbaru adalah: di mobil kami cd musiknya cuma ada 2, musik lagu anak-anak dan musik lagu natal. CD musik itu udah ada sejak Jonathan masih kecil hahahah. Sekarang ini cd nya sudah mulai susah dibaca dan kalau dipasang mulai melompat-lompat nyanyiannya. Oh ya, mobil kami belum ada slot usb buat music playernya, jadi ya makanya dulu burn CD sendiri. Nah, karena CD nya mulai gak bagus, akhirnya sekarang beralih pasang music dari HP aja pake kabel AUX.

Bulan lalu, saya streaming dari YouTube tiap kali pasang musik, akibatnya paket data kritis di akhir bulan hahaha. Nah terus masalah berikutnya, kalau di HP itu, tiap pindah dari aplikasi youtube, lagunya berhenti. Setelah saya komplain masalah ini, Joe bilang: loh kenapa gak pake Apple Music aja? Nah loh, saya kan gak pernah tau soal Apple Music ini kalau gak dikasih tau hahaha. Dengan agak ragu-ragu saya tanya: tapi kan aku gak pake iPhone, emang Apple Music bisa di Android? Hahaha aduh, bener-bener deh mulai gaptek ya jadinya kalau ga banyak mau. Apple Music ini sifatnya ya kayak aplikasi music bawaannya Android juga, bisa tetap jalan di background, bahkan ketika buka aplikasi Google Map atau Pokemon Go, ya tetep denger lagunya, malah jadi denger suara double.

Udah kepanjangan intronya. Singkat cerita, Apple Music itu ada aplikasinya untuk Android juga. Nah, untuk loginnya saya pake aja loginnya Joe biar librarynya juga bareng, tinggal bikin playlist terpisah aja. Berdasarkan pemakaian 2 hari ini saya kesenangan membrowse musik-musik yang ada. Musiknya bisa di dengar streaming ataupun didownload. Bisa menambahkan beberapa playlist tentunya dan kalau gak tau mau nyari lagu apa, ada juga channel sejenis Radio yang playlistnya udah mereka siapin. Ada daftar lagu yang populer sepanjang minggu ini, ada juga top 100 music global dan lokal. Banyak pilihan deh kalau gak tau mau milih apa.

Berikutnya tentunya yang saya lakukan adalah:

  • cari musik Indonesia yang baru maupun yang dulu sering di dengar.
  • dengerin lagu-lagu Thailand juga (nah ini kurang familiar sebenarnya)
  • cari lagu yang sama dengan yang ada dengan playlist di CD mobil yang mulai rusak.
  • gak kalah penting, cari musik ost drama Korea dong!

Terus melengkapi kesenangan hati adalah, banyak lagu yang dilengkapi dengan liriknya, jadi bisa sing along kalau mau, atau kalau mau rajin bisa untuk belajar baca Korea ataupun Thai. Sekarang sih masih ngumpulin playlist aja dulu hehehe. Supaya lebih berguna, bangun pagi sekarang bikin playlist lagu yang semangat tinggi biar lebih semangat nyiapin sarapan dan siap-siap kegiatan harian.

Oh ya, kalau saya lihat harga berlangganan Apple Music ini berbeda di Thailand, Indonesia dan Amerika. Di Asia harganya lebih murah, paling murah itu harga mahasiswa/pelajar. Kalau kata Joe sih, misalnya memang berguna menghibur ya nanti bisa dipertimbangkan bayar. Kalau gak bayar lagi soalnya nantinya file-file yang di download tidak akan bisa diakses juga.

Mungkin akan ada yang nanya, kenapa gak makai Spotify atau Google Music? Saya sih alasannya sederhana: karena Joe udah daftar Apple Music aja sih dan lagu-lagu yang pernah kami beli dulu semuanya ada di library Apple Music juga. Lagipula Goggle Music belum masuk ke Thailand. Kelemahan Apple Music ini tentunya ada juga, beberapa lagu tidak bisa diakses dari region Thailand. Sejauh ini sih cukuplah, kita lihat saja berapa lama saya bertahan mendengarkan musik setiap hari.

Update 23 April 2019

Ternyata kalau saya dan Joe berbarengan menyalakan Apple Musicnya akan ada peringatan lebih dari 1 device mengakses musik dan menyarankan untuk upgrade ke family plan. Sekarang ini karena lagi masa trial bisa dicoba dengan buka account trial 1 lagi, atau ya udah gantian aja makeya, toh Joe pas jam kerja juga gak terus menerus dengerin musik dan saya di rumah juga ga pasang musik sepanjang hari.