Catatan dari Nonton Phantom: Waspada di Dunia Digital

Ceritanya masih nyambung dengan postingan Joe. Karena liburan panjang kali ini kualitas udara masih kurang baik dan panasnya juga minta ampun, kami memutuskan untuk menonton ulang kdrama Phantom tahun 2012 yang kami pernah nonton bareng di tahun 2013. Entah kenapa, walau namanya nonton ulang, misterinya masih terasa baru karena saya udah lupa semua siapa penjahatnya dan bagaimana mereka mengungkapkannya.

Waktu pertama kali nonton kdrama ini, saya belum jadi penggemar kdrama seperti sekarang, malahan dulu Joe yang ajakin nonton serial ini hehehe. Mana saya tahu dulu siapa itu So Ji Sub ataupun Lee Yeon He. Kdrama ini memang berbeda genrenya dengan kdrama yang biasanya saya tonton, tapi lebih mirip dengan serial dari Amerika. Ceritanya berkisah seputar upaya tim investigasi cyber untuk mengungkapkan kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di dunia nyata makanya Joe mau nonton hehehe. Jadi kayak serial CSI Cyber.

Ceritanya banyak sisi teknis dan berusaha memecahkan misteri siapa pelaku kejahatannya, tapi dalam 20 episode ada 1 misteri besar dan beberapa misteri kecil-kecil yang berusaha mereka pecahkan. Jadi berbeda dengan drama genre romance yang tujuan akhirnya male lead jadian sama female lead, drama ini seperti beberapa drama dijadikan satu drama besar. Cocok buat jadi tontonan bareng pasangan biar gak sendirian nonton kdramanya hehehehe.

Memang sejak dunia digital sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, orang jahat ya kepikiran aja gitu memanfaatkan celah yang ada untuk berbuat jahat. Dari beberapa episode yang sudah ditonton, saya ingin menuliskan beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya kita tidak menjadi korban dari dunia digital ini.

  1. Gantilah password/pascode secara berkala
  2. Gunakan password yang berbeda untuk account yang berbeda dan device yang berbeda
  3. Kalau kita punya access point di rumah, pastikan ada passwordnya, supaya gak sembarang orang bisa masuk ke komputer di rumah kita
  4. Jangan suka nulis hate comment di forum internet, walaupun kita pakai nama samaran, ada saja cara orang jahat menemukan identitas asli kita.
  5. Jangan buka attachment iming-iming gratisan kalau gak pernah subscribe ke layanan tersebut.
  6. Account e-mail menggunakan nama kita bisa diciptakan siapapun, jadi kalau menerima e-mail dari orang yang namanya kita kenal tapi kita tidak merasa memberitahu e-mail kita, tetap berhati-hati karena bisa jadi bukan orang yang kita kenal itu yang mengirimkan e-mail ke kita.

Ada beberapa kejanggalan dalam cerita kejahatan di Phantom ini. Misalnya, penjahatnya itu sampai beberapa episode gak ketangkap, tapi motifnya terkadang terlalu biasa saja. Kalau kata Joe: ya sebenarnya siapa saja bisa melakukan kejahatan digital dengan mudah, kalau dia agak cerdas maka dia bisa melakukannya supaya agak sulit dilacak. Tapi sebenarnya namanya kriminal sebagian besar melakukannya karena mereka mentalnya gak sehat. Jadi bisa saja karena stress mereka jadi fokus memikirkan dan menyusun rencana jahat yang susah untuk diusut. Sama saja dengan kejahatan non digital, polisi akan butuh waktu untuk menguraikan apa saja kemungkinan yang ada dan petunjuk mana yang nantinya akan membantu sampai ke penyelesaian masalah.

Dipikir-pikir, nonton film kok serius amat yah, ya begitu emang kalau nonton bareng enaknya bisa dibahas apa yang gak pas hehehehe. Karena nontonnya baru sampai episode 8, tulisannya nanti disambung kalau sudah selesai ditonton ulang semuanya.

Bedanya nonton yang sekarang dengan dulu, kalau dulu gak kenal ini aktornya main di mana saja, dan dulu kalau ada tulisan-tulisan hangeul muncul saya gak ngerti sama sekali, sekarang tentunya udah bisa sekalian latihan dikit-dikit dari apa yang sudah dipelajari. Ada bagusnya juga lupa endingnya bagaimana, jadi walaupun namanya nonton ulang, rasaya seperti baru nonton aja hehehe.

Kejanggalan dalam K-drama Memories of the Alhambra

Serial Memories of the Alhambra sudah tayang episode terakhirnya di Netflix, dan setelah awalnya ragu-ragu untuk mengikutinya, sekarang rada menyesal mengikuti sebelum serinya berakhir. Buat yang belum nonton, tulisan ini mungkin akan susah dimengerti dan akan ada spoilernya, buat yang sudah nonton kemungkinan sedikit banyak bakal merasakan banyak hal yang tidak diselesaikan dalam ceritanya.

Sekilas cerita berkisah seorang investor yang sedang tertarik untuk investasi di game yang menggunakan teknologi augmented reality dengan menggunakan lensa kontak. Pembuat game ini di awal film menelpon dia dan menyuruhnya untuk bertemu di sebuah penginapan di Granada.Tapi ternyata, si programmer game ini gak pernah muncul, sementara si investor malah mulai mencoba main gamenya dan malah jadi ketagihan main dan jadi punya misi hidup untuk menemukan si programmer. Misi hidupnya muncul tanpa alasan, walaupun setelah setahun bermain baru ditunjukkan kalau dia tertarik dengan kakak si programmer. Kisah cintanya cuma selipan, supaya filmnya banyak penonton saja.

Singkat cerita, awalnya penggambaran bermain AR Game nya cukup menarik. Kadang ditunjukkan adegan dia seperti menari-nari sendiri, berantem dengan ruang kosong, terkadang lawannya ditunjukkan berasal dari patung-patung yang ada di sekitar gedung. Selain itu, cara login dan logout nya dan gerakan-gerakan seolah-olah layar ada di depan mata, dan user interfacenya di mana bisa memilih dengan gerakan tangan semuanya cukup menarik dan berharap film ini juga akan mengupas sisi teknologi yang mereka pakai untuk mengembangkan game nya.

Keanehan pertama muncul ketika tokohnya bisa terlogin sendiri tanpa menggunakan lensa kontaknya. Saya kepikiran apakah somehow waktu udah pernah pakai lensa kontaknya, si program jadi tertanam di otak penggunanya? jadi otak mengunduh aplikasi gamenya? awalnya saya pikir lensa kontak itu terhubung dengan handphone, sehingga setiap main pasti dibutuhkan handphonenya, tapi bisa juga lensa kontaknya yang langsung terhubung ke server game dengan teknologi tertentu misalnya. Tapi kalau sampai pengguna bisa autologin tanpa lensa kontaknya, ini jadi ga masuk akal.

Keanehan berikutnya, ketika player dari dunia nyata mati dalam pertarungan antar player, lalu muncul lagi sebagai NPC (non-player character). Pertanyaanya apakah programnya benar-benar sampai merusak otak dan mengakibatkan ketika seorang player duel dan kalah, otomatis otaknya juga akan mengakibatkan dunia nyata dari player itu juga terbunuh. Digambarkan tokoh tersebut keluar darah dari kupingnya, jadi ya saya pikir mungkin saja ada program yang bisa mempengaruhi otak dan mengakibatkan orang tersebut terluka sesuai dengan yang dia alami dalam game.

Di beberapa episode akhir di jelaskan kalau itu adalah akibat dari bug program. Bug program itu sendiri sudah dimulai dari sejak sebelum tokoh utamanya dihubungi oleh si programmer. Yang jadi aneh adalah, kalau dikisahkan sebelumnya player tidak akan beneran mati ketika kalah duel dengan tokoh NPC, kenapa setelah orang dari real life jadi NPC, jika menyerang player beneran jadi bisa bikin player di dunia nyata pun ikut mati. Bahkan di beberapa episode terakhir, NPC yang bukan berasal dari player dunia nyata pun bisa bikin player benar-benar terluka.

Ah mungkin yang baca kalau belum nonton akan bingung dengan penjelasan saya. Tapi ya memang sebenarnya penjelasan dalam film ini malah bikin ceritanya makin gak jelas. Beberapa hal sepertinya tidak terjaga timelinenya. Aturan permainannya juga diubah-ubah sesuai mau-maunya penulis cerita saja.

Salah satu ketidak konsistenan aturan permainannya misalnya: di awal diceritakan kalau player gak bisa bertanya ke NPC yang bernama Emma kalau belum level 5, lalu tokoh tersebut bersusah payahlah supaya bisa naik ke level 5. Nah di episode penjelasan, ditunjukkan kalau seorang player dengan level 1 bisa berkomunikasi dengan si NPC Emma ini. Mungkin mereka ubah sendiri gitu aturan permainannya supaya bisa?

Oh ya, keanehan yang paling aneh menurut saya adalah, game itu belum dijual oleh si programmer, maka asumsinya perusahaan investor belum punya tuh source code dari game tersebut, tapi kok mereka bisa saja menambahkan items atau tools yang dibutuhkan oleh si investor untuk membantu petualangannya dalam mencari si programmer?

Secara keseluruhan, awalnya berharap film ini bakal menarik seperti menariknya bermain Pokemon Go. Tapi setelah dijelaskan dan penjelasannya rasanya terlalu lamban dan malah bikin makin banyak ketidakjelasan. Setelah menonton sampai akhir, saya merasa kecewa. Main Pokemon Go rasanya lebih seru daripada nonton film ini hehehe. Tadinya mau rekomen ke Joe buat nonton, tapi setelah melihat endingnya dan juga banyak hal yang tidak dijelaskan, saya tidak merekomendasikan nonton ini.

Ada banyak kejanggalan-kejanggalan lain, tapi lain kali saja saya tambahkan.