Fan Fiction: The King Eternal Monarch dan Pandemi

Memasuki tantangan menulis kokoriyaan topik 29, kami harus menuliskan fan fiction dari drama yang sudah ditonton. Sebenarnya, saya belum pernah membuat fan fiction dan tidak terlalu bisa menuliskan fiksi. Tapi, karena semboyan kami “tidak ada topik yang tidak bisa dituliskan”, dan “selalu ada waktu pertama untuk mencoba”, maka kali ini saya pun akan mencoba meneruskan salah satu drama yang saya tidak suka jalan ceritanya terutama endingnya. 

Jong Tae-eul, Lee Gon, dan Kapten Jo Yeong

Biasanya, orang akan menuliskan fan fiction dari drama yang dia suka, tapi saya justru nulis yang ini karena merasa drama ini punya potensi untuk disukai dengan pemilihan pemerannya dan juga visual dari drama yang enak dilihat, tapi sayangnya jalan ceritanya banyak yang membingungkan dan endingnya yang sepertinya bahagia tapi sebenarnya tidak ada tujuan.

Ceritanya

Sebelumnya, untuk yang belum menonton, saya akan memberikan sekilas cerita dari drama ini. Inti drama ini hanya ada di episode pertama dan terakhir. Tengah-tengahnya tidak ada yang terlalu berarti kecuali penjelasan dan usaha-usaha tokoh jahat yang semua berhasil dihapus berkat perjalanan waktu.

Drama ini bercerita tentang Raja Lee Gon (diperankan oleh Lee Min-ho) dari Kerajaan Korea, sebuah dunia rekaan yang berbeda dengan Republik Korea Selatan.  Raja Lee Gon sudah menjadi raja sejak kecil karena orang tuanya dibunuh oleh pamannya. Dia juga hampir jadi korban, kalau saja bukan karena pertolongan sosok misterius yang menghentikan usaha pamannya. Sosok misterius ini membawa sebuah name tag seorang detektif polisi wanita dari Republik Korea bernama Jong Tae-eul (diperankan oleh Kim Go-eun).

Iya, cerita drama ini memang mengangkat tema dunia paralel dan perjalanan waktu. Sejak nonton drama ini, saya memutuskan untuk tidak lagi menonton drama yang memilih tema serupa, kenapa? Karena, walaupun visual dari drama ini sungguh memanjakan mata dengan pemeran yang wajahnya nyaris sempurna dan warna yang indah, tapi plot ceritanya sungguh mengecewakan buat saya.

Sekali lagi, mungkin ini namanya bukan selera ya, tapi sungguh saya kecewa setelah menantikan jalan cerita bergerak maju selama 40 menit  untuk melihat tokoh utama pria, lalu ceritanya maju mundur tidak jelas dan terkadang ada lompatan antar episodenya yang tidak dijelaskan apakah itu kejadian masa lalu atau masa depan. Yang saya ingat dari drama ini hanyalah bagian penuh dengan produk placement alias iklan terutama minuman kaleng dan ayam goreng.

Kisah drama ini intinya adalah rasa penasaran Lee Gon terhadap sosok bernama Jong Tae-eul yang kemudian membawa dia menemukan pintu ke dunia lain. Lalu, ketika dia bertemu dengan Jong Tae-eul, dia pun langsung jatuh cinta karena sudah bertahun-tahun memandang wajahnya di name tag yang dia dapat dari sosok misterius yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya.


Eits…buat fansnya drama ini, jangan protes dulu ya. Menurut saya, jalan ceritanya selain lambat dan banyak lompatan yang tidak jelas, banyak adegan yang juga tidak jelas kenapa harus begitu. Misalnya saja, kenapa raja Lee Gon harus mengusir Jepang di perbatasan lautnya? Bahkan cerita itu tidak ada kelanjutannya selain mau menunjukkan Lee Gon dengan seragam marinir.

Kalau belum menonton, saya tidak menyarankan untuk menontonnya kecuali cuma ingin melihat visual dari raja Lee Gon dan petualangan yang pada akhirnya tidak ada tujuan.

Spoiler: akhirnya Lee Gon dan Jong Tae-eul bahagia tiap akhir pekan pacaran berkeliling dunia paralel dan menjelajahi waktu. Udah gitu aja, tidak ada masa depan ga sih pacaran doang tanpa tujuan menikah atau membangun keluarga.

Hidup harus punya tujuan

Sini saya ceritakan lanjutannya versi saya.

Cerita dimulai dari titik akhir episode 16 drama TKEM. Setelah berhasil menyatukan tongkat bambu ajaib yang bisa membuka pintu kemana saja seperti pintu doraemon, Lee Gon dan Jong Tae-eul berkeliling dunia dan menjelajahi berbagai periode waktu.

Mereka tidak perlu khawatir dengan adanya efek kupu-kupu, karena apapun yang mereka lakukan tidak akan mengubah masa depan. Mereka hanya bersenang-senang dan mencoba berbagai jenis busana dari daerah yang mereka datangi.

Dalam perjalanan yang mereka lakukan setiap akhir pekan (karena Jong Tae-eul tetap harus bekerja sebagai detektif di kantor polisi Republik Korea dan Raja Lee Gon juga harus memerintah kerajaannya) sesekali mereka akan bertemu dengan kembaran mereka di dunia tersebut. Terkadang mereka juga berusaha memperbaiki sistem dari negara yang mereka datangi kalau mereka merasa ada yang perlu diperbaiki.

Sampai suatu ketika, mereka tak sengaja sampai di masa pandemi sedang terjadi. Iya tahun 2020, mau pergi kemanapun di seluruh dunia mereka melihat ada pandemi dan korban berjatuhan.

Jong Tae-eul mengusulkan kepada Lee Gon kalau mereka harus membantu masa pandemi ini dengan pergi ke masa depan dan mengambil vaksin atau apapun obat yang sudah ditemukan, dan membawanya kembali ke masa 2020. Tapi, tentu saja usahanya tidak semudah itu. Pintu menuju masa depan yang lebih dari 2020 tidak kunjung ditemukan. Mereka malah selalu nyasar ke titik hari yang sama tahun 2020, hanya beda kota saja. 

Karena mereka hanya punya waktu di akhir pekan untuk berkelana, sudah berbulan-bulan mereka mencoba ke masa depan dan sayangnya mereka selalu kembali ke tanggal pertama kali mereka memutuskan membantu mencari obat pandemi, yaitu 23 September 2020.

Mereka berkelana ke berbagai kota di berbagai negara, mulai dari Wuhan, Amerika, Eropa, bahkan Thailand dan akhirnya sampai juga di Indonesia. Mereka agak heran kenapa mereka selalu kembali ke titik yang sama. Tapi ternyata Lee Gon baru memperhatikan, kalau tongkat bambu ajaibnya semakin pendek setiap kali mereka berusaha ke masa depan.

Akhirnya, setelah melihat usaha mereka tidak berhasil dan melihat begitu banyak orang-orang konyol yang anti masker dan tidak takut Covid-19, Jong Tae-eul berubah pikiran dan berkata kepada Lee Gon kalau dia tidak ingin lagi membantu melenyapkan pandemi.

Jong Tae-eul sudah bosan dengan perjalanan tak berakhir dan tanpa tujuan itu. Dia sudah lelah berusaha membantu orang-orang yang sulit dan tidak mau membantu dirinya. Menurut Tae-eul, waktunya untuk fokus terhadap diri mereka berdua daripada memikirkan seluruh dunia.

Lee Gon pun bertanya, apa maunya Jong Tae-eul. Mereka sekarang ini berperjalanan setiap akhir pekan karena masing-masing tidak ada yang bersedia meninggalkan hidupnya. Manalah mungkin seorang raja meninggalkan kerajaannya demi seorang wanita. Seharusnya wanita itu dong yang meninggalkan keluarganya untuk ikut suami, setidaknya demikianlah pendapat Lee Gon.

Jong Tae-eul yang dibesarkan terbiasa mandiri tentu saja tidak terima dengan pandangan Lee Gon kalau wanita harus ikut suami. Jong Tae-eul akhirnya minta putus saja dari Lee Gon. Dia sudah lelah dengan hubungan tanpa status. Sepertinya mereka juga tidak akan pernah bisa bersatu.

Jong Tae-eul juga sudah menerima kalau Lee Gon itu hanyalah hidup di dunia khayalnya dan bukan kehidupannya sebenarnya. Jong Tae-eul ingin melanjutkan hidup di dunianya dengan melakukan apa yang berarti dan bukan sekedar pacaran tanpa tujuan. Jong Tae-eul juga ingin memiliki keluarga yang normal, seperti semua orang di dunia ini.

Lee Gon pusing kepala dengan tuntutan Jong Tae-ul. Disatu sisi dia sangat mencintai wanita itu. Kenapa sih ngeyel banget diajak jadi ratu hidup senang ga usah kerja keras aja ga mau. Padahal, di kerajaan Corea, kalau Lee Gon bersabda, semua wanita ngantri mau jadi istrinya. Tapi memang inilah kelebihan Jong Tae-ul yang membuat Lee Gon jatuh hati padanya. Wanita itu punya prinsip, walaupun terkadang jadi bikin dia pusing seperti sekarang ini.

Akhirnya, Lee Gon sadar, kalau cinta itu butuh pengorbanan. Walaupun dunianya di kerajaan Corea sangat nyaman bahkan bebas pandemi, walaupun tongkat bambu ajaibnya bisa membuat dia berperjalanan kemanapun tanpa paspor ataupun karantina wajib di masa pandemi, tapi hidup seperti itu tidak ada maknanya. Dia perlu belajar untuk menjalani hidup seperti semua orang lainnya yang perlu bekerja keras dan berkarya. Bukan cuma jalan-jalan keliling dunia sok jadi pahlawan. 

Setelah memikirkan selama sebulan penuh, Lee Gon mempersiapkan Kapten Jo Yeong (diperankan oleh Woo Do-hwan) untuk memimpin kerajaan Corea. Dia mengumumkan pengunduran dirinya di hadapan rakyatnya. Pengunduran dirinya ini juga sekaligus pesta pernikahan dia dan Jong Tae-ul.

Kapten Jo Yeong sempat berusaha meyakinkan Lee Gon untuk memilih wanita lain di kerajaan Corea, tapi dia juga tahu kalau Lee Gon sudah tidak bisa diubah lagi pendapatnya walau ditakut-takuti dengan pandemi yang masih merajalela. Keputusan Lee Gon memang sudah mantap, dia ingin melanjutkan hidup dengan tujuan lebih jelas, walaupun mungkin banyak masalah akan menghadang di depan mata.

Pesta tersebut merupakan terakhir kalinya Lee Gon dan Jong Tae-eul berada di kerajaan Corea. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal di Republik Korea. Lee Gon juga memutuskan untuk membakar tongkat bambu ajaibnya supaya tidak ada lagi orang yang bisa berperjalanan waktu dan mengubah-ubah masa lalu.

Pada akhirnya, Jong Tae-ul dan Lee Gon hidup bahagia dengan berbagai masalah rumahtangga yang mereka hadapi. Tapi mereka bahagia karena mereka selalu bersama dan bekerjasama menyelesaikan masalah bersama dan bukan masalah seluruh dunia ini.

The End.

Penutup

Namanya juga fan fiction ya, jadi harap maklum kalau ceritanya agak terkesan tidak masuk akal. Pada dasarnya, dramanya juga fantasi yang tidak masuk akal, saya hanya menambahkan supaya akhirnya lebih ada tujuan saja versi saya, hehehe…

Kdrama: “Record of Youth”, Bukan Mimpi di Siang Hari

Hari ini tidak terasa sudah saatnya untuk menuliskan tantangan kokoriyaan lagi. Semakin mendekati akhir dari tantangan menulis, semakin sulit mencari ide tulisannya. Kebetulan banget nih lagi pengen cerita tentang drama “Record of Youth” yang baru ada 4 episode di Netflix dan tayang setiap Senin dan Selasa.

Poster Record of Youth (sumber: wikipedia)

Topik 28. Daydreaming: pengen ketemu tokoh drama yang mana? Atau pengen jadi tokoh drama yang mana. 

Walaupun mungkin tidak terlalu pas, mari kita pas-pasin saja ya isi tulisannya sebagai jawaban dari tantangan tulisan kali ini, hehehe.

Continue reading “Kdrama: “Record of Youth”, Bukan Mimpi di Siang Hari”

Kdrama: “Pasta” dan “Oh My Ghostess”, Kisah Cinta di Restoran Italia

Hari ini waktunya menuliskan tentang drama Korea dengan tema yang serupa tapi tak sama untuk tantangan menulis bersama teman-teman drakor dan literasi. Sebenarnya saya sudah pernah menuliskan drama senada seperti “Her Private Life” dan “What’s Wrong With Secretary Kim”, dan juga drama “Hyde, Jekyll and Me” dan “Kill Me Heal Me”. Hari ini waktunya menuliskan drama yang lain lagi.

Setelah membongkar-bongkar ingatan, mencari drama mana lagi yang sudah ditonton tapi belum dituliskan, saya jadi teringat dengan drama “Pasta (2010)” dan “Oh My Ghostess (2015)”. Dua drama bergenre komedi romantis yang ringan tapi manis dan menghibur hati dan bikin pengen makan Spaghetti.

Continue reading “Kdrama: “Pasta” dan “Oh My Ghostess”, Kisah Cinta di Restoran Italia”

Kdrama: “The Greatest Love”, Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Drama “The Greatest Love” ini merupakan drama terbaik di tahun 2011. Saya baru menontonnya di tahun 2020 karena tentu saja tahun 2011 saya belum menjadi penonton Kdrama.

Poster “The Greatest Love” dari Wikipedia

Selesai menonton drama ini, saya pikir bisa sekalian nih mereview drama dan menghubungkannya dengan topik tulisan kokoriyaan 26 bersama teman-teman di grup drakor dan literasi tentang artis multitalenta atau serba bisa.

Ceritanya

Drama ini berkisah tentang seorang wanita Gu Ae-jung (diperankan oleh Gong Hyo-jin) yang pernah menjadi idol dan merupakan anggota paling tenar dari girl band yang dia ikuti. Tapi karena satu dan lain hal, grup mereka bubar dan karena dia yang meminta grupnya bubar, maka pemirsa jadi membenci dia. Biasa banget ya, dari yang dicintai dan paling populer jadi yang paling dihujat oleh pemirsa.

Continue reading “Kdrama: “The Greatest Love”, Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian”

Zoom Drakor dan Literasi (3)

Akhir bulan, waktunya untuk bertemu dengan teman-teman grup drakor dan literasi. Harapannya sih bertemu beneran, sambil ngopi atau ngeteh bareng. Tapi karena jarak geografis di antara kami yang tersebar di berbagai kota, sementara ini harus mencukupkan diri bertemu virtual via aplikasi Zoom meeting.

Bulan Agustus, grup kami sudah sampai ke topik 25 dari 30 topik yang pertama kali dijadwalkan. Bulan September masih akan ada 5 topik terakhir. Ternyata, setelah di bulan Juni dan Juli kami menulis 10 topik per bulan, penurunan jumlah topik di bulan Agustus membuat ada rasa kehilangan. Tapi, kalau dipaksakan menuliskan 10 topik, sudah pasti kami akan keteteran juga.

Continue reading “Zoom Drakor dan Literasi (3)”

Antara K-pop dan K-drama

Hari Sabtu, harinya menuliskan tentang kokoriyaan. Tidak terasa, sudah menuliskan 25 topik tentang kokoriyaan bersama teman-teman di grup drakor dan literasi. Walaupun tulisannya berkurang dari 10 topik per bulan menjadi 5 topik per bulan, obrolan di WAG sih jalan terus setiap harinya.

Dari sekian banyak anggota yang bergabung, sebagian besar terpapar K-pop dan K-drama secara bersamaan. Pakai kata terpapar sudah seperti penyakit saja ya, hehehe. Maksudnya, mereka memang sudah lama berkecimpung dengan hallyu wave dan mengenal hampir semua nama aktor dan juga artis K-pop.

Continue reading “Antara K-pop dan K-drama”

K-pop, Musiknya atau Visual yang Bikin Menarik?

Sebelum menjadi penggemar kdrama, saya tidak pernah tau apa itu K-pop. Sampai sekarang juga saya bukan penggemar K-pop. Tapi tanpa disadari, setelah sering ngobrol dengan teman-teman yang punya band idol favorit, saya ternyata sering mendengar musik K-pop dan cukup bisa menikmatinya juga.

K-pop menurut wikipedia

Kalau dulu, saya pikir, aneh banget sih beberapa orang nyanyi dan nari-nari gitu. Boyband, girl band dari dulu sudah ada, tapi kali ini anggotanya lebih banyak dari Backstreet Boys ataupun New Kids on The Block. Saya tidak bisa mengikuti lagunya karena saya tidak mengerti mereka bilang apa. Tapi ternyata, belakangan saya tahu kalau K-pop itu bisa dinikmati tanpa lirik dan tanpa visual tari-tariannya!

Continue reading “K-pop, Musiknya atau Visual yang Bikin Menarik?”