Big Bad Wolf Online di Thailand

Setelah tahun lalu tidak ada acara Big Bad Wolf (BBW) di Thailand, tahun 2020 ini, acara BBW kembali lagi dan berhubung pandemi, acaranya diadakan online tanggal 3-13 September 2020. Dan hari ini, buku-buku yang kami pesan sudah tiba semuanya.

Kalau 2 tahun lalu kami datang beberapa kali ke lokasi BBW, tahun ini juga kami memesan sebanyak 3 kali karena situsnya yang sempat lambat dan down. Sepertinya pandemi membuat banyak orang mencari buku bacaan bagus, dan BBW adalah waktunya membeli buku banyak dengan harga lebih murah.

Lanjutkan membaca “Big Bad Wolf Online di Thailand”

Menjahit Masker Kain

Di saat orang-orang sudah punya banyak koleksi masker warna warni, kami cuma punya 1 masker kain seorang. Padahal katanya harus diganti setiap beberapa jam supaya maskernya tetap efektif menangkal virus.

Jahitannya masih kurang rapi dan ada yang tidak rapat

Pada dasarnya saya tidak suka memakai masker, bernafas dengan masker itu tidak nyaman. Tapi ya, di era normal baru ini, ada kewajiban untuk memakai masker di tempat-tempat tertentu. Selama ini sih, saya tidak butuh masker karena di rumah saja. Sekarang, sudah berani keluar rumah karena memang sudah cukup aman, tapi akhirnya jadi butuh masker kain sebagai syarat.

Lanjutkan membaca “Menjahit Masker Kain”

Chiang Mai Crafts Week 2020

Gak terasa, sudah setahun lalu ke acara Chiang Mai Crafts Week. Hari ini Kamis 6 Februari sampai hari Minggu tanggal 9 Februari 2020 berlangsung acara yang sama, Chiang Mai Crafts Week ke-5. Setelah membaca buku Show your Work, saya bisa lebih menghargai semangat acara crafts week ini. Apalagi teman-teman di komunitas merajut lokal ada yang ikut berjualan/pamer hasil karya di acara ini.

Acara tahun ini berbeda lokasinya dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena semakin banyaknya peserta yang ikut pamer karya dan juga demi kenyamanan pengunjung, maka panitia mencari lokasi yang lebih besar dan lebih gampang untuk urusan parkir buat orang-orang yang ingin melihat-lihat. Acaranya diadakan di Promenada Mall. Sebuah mall yang biasanya sepi, tapi punya tempat parkir yang sangat luas.

Lanjutkan membaca “Chiang Mai Crafts Week 2020”

Kita Perlu Hobi

Saya ingat waktu masih SD, Saya sering mengisi buku biodata mengenai nama, tempat tanggal lahir, cita-cita, hobi, makanan kesukaan, minuman kesukaan dan lain sebagainya. Selain cita-cita, kita perlu juga punya hobi. Hobi ini tidak harus berhubungan dengan pekerjaan kita, dan tidak harus selalu menghasilkan duit, bahkan seringnya malah jadi sumber pengeluaran (tergantung hobinya). Saya tidak ingat dulu saya isi apa, karena sepertinya saya baru punya hobi itu setelah kuliah.

Mungkin dulu saya sering menuliskan kalau hobi saya itu membaca dan berenang. Tapi setelah saya ingat-ingat, waktu saya kecil, saya tidak punya banyak akses ke buku perpustakaan dan tidak rutin ke kolam renang. Tapi saya memang merasa senang sekali kalau dibawa berenang ataupun dijanjikan berenang. Nah kalau soal membaca buku, saya biasanya membaca buku pelajaran saja untuk mengerjakan PR dari sekolah hehehe.

Setelah agak besar, seperti kebanyakan orang, saya juga jadi hobi nonton TV. Ini hobi yang kalau kata kebanyakan orang hobi yang pasif. Tapi memang kadang-kadang menonton TV – bahkan belakangan menonton iklan, terasa menghibur karena gak perlu mikir, tinggal terima saja. Setelah kuliah dan punya penghasilan ekstra dari jadi asisten, saya pun jadi suka nonton film ke bioskop. Tapi berhubung nonton bioskop itu mahal, biasanya nonton itu kalau memang filmnya ramai dibicarakan, dan perginya ya ramai-ramai.

Di tulisan kali ini, saya ingin membahas hobi yang sifatnya lebih aktif dan bukan pasif seperti menonton. Joe itu punya hobi yang berkaitan dengan dunia pemrograman (mulai dari software sampai ke hardware). Sedangkan saya, sebelum punya anak, menemukan hobi yang berkaitan dengan benang, jarum dan kain. Walaupun ngaku-ngaku hobi, setelah melahirkan anak pertama, keinginan untuk bermain benang dan jarum agak hilang karena merasa tidak ada waktu.

Sekarang, setelah anak-anak mulai agak besar, saya mulai bisa lagi melanjutkan kegiatan berhobi. Kegiatan berhobi sekarang ini perasaannya belum seperti masa dulu kala. Saya berusaha mengikuti komunitas lokal di sini untuk mengembalikan semangat yang sempat ada, tapi tentunya membatasi diri untuk tetap mengutamakan tugas utama sebagai istri dan ibu yang menghomeshchool.

Kegiatan berhobi yang baru dimulai lagi di tahun 2019 ini bikin saya bertemu dengan banyak orang yang semangat berhobinya tinggi sekali. Setiap melihat benang, mata berbinar-binar. Setiap membicarakan toko benang baru offline ataupun online juga pada semangat. Kalau ada yang menemukan free pattern juga tentunya semua langsung nimbrung. Tapi ada juga yang realistis dan bilang: saya tidak akan beli benang lagi karena sekarang ini sudah punya benang terlalu banyak (nah ini termasuk saya).

wajah-wajah bahagia

Beberapa manfaat yang terasa sejak kembali berhobi buat saya

Jadi Lebih Kreatif dan Produktif

Untuk yang hobinya membuat karya seperti benang, kain dan jarum, hasil dari hobi itu adalah produk berupa benda. Untuk yang hobinya mrogram seperti Joe, hasilnya ya aplikasi. Untuk yang hobinya berolahraga hasilnya tubuh yang lebih bugar. Untuk yang hobinya masak hasilnya makanan yang bisa dinikmati keluarga ataupun teman-teman – bahkan bisa jadi uang. Untuk yang hobinya menulis bisa menghasilkan tulisan untuk dinikmati banyak orang. Untuk yang hobinya membaca bisa membuat wawasan jadi lebih luas dan biasanya akan membuat orang tersebut jadi punya nilai tambah di bidang pekerjaannya.

Produktif yang saya maksud di sini tidak terbatas berupa benda, tapi dengan mengerjakan sesuatu dari hobi kita, tentunya lebih baik daripada diam saja dan tidak mengerjakan apapun. Bahkan kalau hobi kita itu merapikan rumah, kita akan menemukan metode kita sendiri. Hasil yang langsung bisa dilihat: rumah rapi. Hasil jangka panjang kalau metode kita populer ya bisa jadi seperti Marie Kondo hehehe.

Berhobi juga tentunya bukan berarti membuat hal yang sama berulang-ulang. Biasanya kita jadi lebih banyak berpikir bagaimana membuat versi lain dari produk yang sudah kita hasilkan. Atau kadang-kadang membuat kita tertantang untuk menghasilkan karya yang selalu berbeda dengan yang sudah pernah kita buat. Punya hobi membuat ibu rumah tangga seperti saya menemukan hal lain yang perlu dipikirkan selain: hari ini masak apa ya? hehehehe.

Jadi Lebih Bahagia

Memang ada yang bilang bahagia itu pilihan. Tapi yang saya maksud lebih bahagia di sini misalnya ketika kita merasa tekanan dari luar, biasanya melakukan apa yang kita sukai/hobi akan membuat kita melupakan tekanan yang ada dan bisa lebih rileks. Setelah kita merasa rileks, kita bisa berpikir lebih baik dan tentunya sukur-sukur bisa menemukan jalan keluar dari tekanan yang ada.

Ketika kita berhobi dan mendapatkan hasil karya dari hobi kita, biasanya juga ada perasaan puas karena menyelesaikan satu project. Terlepas apakah produk itu akan dipakai sendiri, dijual menjadi duit atau diberikan kepada orang lain, ada perasaan senang yang bisa disebut bahagia juga.

Punya hobi juga biasanya membuat kita mencari komunitas yang sejalan dengan hobi kita. Bertemu dengan orang yang mengerti apa yang kita rasakan ketika menemukan benang baru, tentunya memberikan rasa bahagia juga hehehe.

Jadi Lebih Konsumtif

Nah, yang ini pernah saya alami di awal saya suka merajut. Kalau gak hati-hati, memang rasanya pengen beli beli segala material dan peralatan yang berkaitan dengan hobi. Tapi ya kalau memang ada dananya tidak apa-apa sih, asal jangan sampai merusak ekonomi rumahtangga saja hehehe.

Belanja material dan peralatan hobi ini sebenarnya memberi perasaan bahagia juga. Mungkin untuk yang tidak sehobi dengan kita, mereka tidak mengerti kenapa ada yang mau keluarkan duit untuk koleksi benda-benda tertentu. Tapi, buat yang punya hobi, beli ini dan itu dianggap bagian dari berhobi dan selalu ada pembenaran kenapa harus beli lagi dan lagi hehehe.

Jadi Lebih Punya Prioritas

Ketika saya punya hobi, biasanya saya lebih banyak memberikan perhatian saya untuk hal-hal seputar hobi. Tapi ketika tidak menjalankan hobi, rasanya banyak hari berjalan tanpa hasil. Kadang-kadang saya menghabiskan banyak waktu mencari berita infotainment ataupun browsing secara random.

Di komunitas hobi yang saya ikuti, pembicaraannya umumnya ya seputar hobi. Bukan ngomongin berita viral ataupun politik. Sejak beberapa waktu belakangan ini, saya menghindari dari berita viral, karena biasanya menghabiskan waktu untuk membaca berbagai komen dan tidak ada manfaatnya buat saya. Topik politik sudah saya hindari dari dulu, karena saya bukan praktisi politik.

Gimana kalau hobinya belanja online? Nah kalau yang ini saya gak bisa komentar, karena saya gak hobi belanja secara random. Biasanya kalau belanja pasti karena ada kebutuhan. Terus saya suka ga betah memilih-milih barang secara online dan membanding-bandingkan harga.

komik by @maghfirare

Gimana kalau hobinya nonton ? Biasanya kalau memang sudah banyak menonton berbagai film, akan punya banyak pendapat mengenai berbagai film yang ditonton. Bisa saja dari hobi nonton berkembang menjadi kritikus film atau bisa juga menjadi reviewer film. Oh ya hobi nonton drama korea membuat saya tertarik belajar bahasa Korea hehehe (walaupun tetap belum merasa bisa menonton tanpa subtitle, apalagi ngobrol ya hehehe).

Bagaimana dengan kamu? punya hobi apa dan kira-kira apa manfaatnya yang sangat dirasakan?

Hobby Jahit (10 Tahun Kemudian)

Tahun 2009, di masa lagi rajin dan punya banyak waktu luang, saya membeli mesin jahit untuk melengkapi hobi merajut. Waktu itu tertarik beli merk Elvira, karena toko yang menjual mesin jahitnya menyediakan kelas belajar gratis.

berhasil mengosongkan meja buat nempatin mesin jahit

Setiap hari ada guru yang akan membantu kita mengerjakan apa yang mau kita kerjakan. Hal yang paling menarik dari membeli mesin ini adalah: mereka menyatakan akses belajar gratis ini tidak ada batasan waktu. Kita bisa belajar selama yang kita mau.

Dulu saya sudah belajar menjahit beberapa hal termasuk quilting dengan bantuan guru di kelas jahit. Selain yang ditulis, waktu itu saya sempat jahit seprai, sarung bantal, sarung galon minuman dan taplak meja. Sejak hamil dan punya anak, saya tidak meneruskan hobi menjahit, selain kehilangan semangat, alasannya tidak punya waktu hehehe.

Setelah anak-anak agak besar, saya mulai ada waktu “libur”, anak-anak dikirim ke group homeschool buat sosialisasi. Saya teringat lagi dengan mesin jahit yang sudah lama tidak disentuh (dan butuh diservis). Minggu lalu saya bawa mesin jahitnya ke toko Elvira, dan setelah selesai servis saya tanya lagi tuh apakah masih ada fasilitas belajar jahit gratis. Dan ternyata jawabannya masih ada, dan saya masih boleh belajar gratis! Cihuy deh.

Jadilah minggu ini, saya mulai belajar menjahit lagi. Emangnya ilmu yang dulu sudah hilang semua? ya sebenarnya masih ingat, tapi saya butuh motivasi dan guru hehehe. Di kelas belajarnya itu lebih ke praktik langsung daripada teori.

Jadi pertama kita akan diminta untuk menjiplak pola yang mau kita kerjakan. Lalu polanya digunting. Lalu belajar meletakkan pola di kain (termasuk arah meletakkan pola), dan menggunting kain mengikuti pola.

Oh ya, kemarin itu jonathan tidak pergi ke group homeschool dan memilih ikut saya ke kelas jahit. Saya pikir siapa tahu Jonathan ada bakat juga, tapi ternyata semangat di awal saja hehehe. Tapi bagusnya, di sana Jonathan mendapat kesempatan berkomunikasi menggunakan bahasa Thai juga (guru-gurunya umumnya bicara dalam bahasa Thai).

Beberapa kali datang ke sana, selalu ada anak perempuan usia 11 atau 10 tahun yang juga datang untuk belajar menjahit. Jadi ibunya hanya mengantar, lalu anaknya ditinggal belajar. Ibunya pergi entah kemana hehehe.

Kadang-kadang, kalau hanya dibayangkan, sepertinya menjahit itu gampang. Tapi kalau dikerjakan, ada teknik-teknik yang kita ketahui kalau kita mengerjakannya. Saya senangnya, di kelas itu gurunya tidak menuntut kita menjahit langsung sempurna. Karena memang latihan itu tidak cukup hanya sekali. Bertanya berkali-kali untuk hal yang sudah diajarkan juga boleh, sampai kita yakin bisa kerjakan sendiri.

Anak-anak yang datang belajar di sana juga banyak dibantu oleh gurunya. Saya pikir, kalau Jonathan berminat, bisa juga nih ntar dikirim ke kelas menjahit sementara emaknya belanja misalnya.

Mesin jahit yang baru diservis ternyata mirip dengan mesin jahit yang baru beli. Bunyinya halus, semangat menjahitnya juga tinggi hehe. Dan dalam minggu ini saya berhasil menyelesaikan proyek membuat baju tidur untuk Jonathan. Bagian tersulit dari menjahit baju tidur ini adalah di bagian kerah bajunya. Kapan-kapan kalau bikin lagi harus bikin video tutorialnya.

Saya suka dengan mesin jahit saya sekarang. Walaupun bukan model paling canggih, tapi sudah cukup canggih dibanding mesin jahit mama saya dulu. Mesin jahit mama saya dulu ya masih model manual yang digoyang pakai kaki, sedangkan mesin saya sudah otomatis pakai listrik. Untuk memasukkan benang ke jarum, ada alat bantunya sehingga saya tidak perlu kesulitan melihat lubang jarum. Untuk menjahit kancing dan lubang kancing, ada kaki khusus yang diberikan sebagai aksesori ketika membeli mesinnya. Kalau mau quilting atau bordir sederhana sih udah lebih dari cukup.

Saya masih ingat, mesin jahit ini kami beli dengan harga 16900 baht. Masa itu, kurs baht ke rupiah belum semahal sekarang. Tapi dengan adanya akses belajar gratis, dan ternyata masih bisa digunakan setelah 10 tahun kemudian, rasanya saya bersyukur membeli mesin merk Elvira ini. Minimal kalau ada kerusakan, saya tahu kemana untuk reparasinya.