Review Buku: The Manga Guide to Microprocessors

The Manga Guide to Microprocessor sebenarnya bukan buku baru (terbit Agustus 2017), tapi karena Jonathan baru menyelesaikan buku ini jadi akan saya review. Dulu saya mendapatkan ebook buku ini dari salah satu sale di HumbleBundle bersama dengan beberapa buku lain. Seri “The Manga Guide to” ini ada banyak semuanya menjelaskan suatu topik dengan style komik jepang (Manga).

Buku yang menjelaskan mengenai microprocessor ini seharusnya belum cocok untuk usia Jonathan tapi karena dia sudah saya ajari bilangan biner dan gerbang logika (lewat game) jadi buku ini sebagian besar bisa dimengerti.

Buku ini mengajarkan dari mulai topik dasar bilangan biner, gerbang logika, sirkuit latch (flip flop), dan sedikit mengenai CPLD dan FPGA. Topik diteruskan dengan arsitektur komputer secara umum (Register, RAM, interrupt dsb). Assembly juga dibahas tapi hanya sekilas saja, dan terakhir ada pembahasan mengenai microcontroller.

Awalnya saya memberi buku ini adalah karena Jonathan ingin membuat kalkulator di Minecraft. Di Minecraft kita bisa membuat redstone circuit, yaitu mekanisme yang memakai blok tertentu. Kita bisa membuat banyak hal, termasuk juga gerbang logika (AND, OR, NOT, dsb).

Minecraft ini ternyata cukup berguna untuk menjelaskan konsep biner karena semua hal bisa terlihat (visual). Membuat gerbang logika tidak terlalu mudah, tapi masih lebih mudah daripada harus praktik menghubungkan beberapa transistor di dunia nyata.

Dari gerbang logika ini kita bisa membentuk sirkuit half adder, dari half adder kita bisa membuat full adder, dan dari sini kita bisa membuat kalkulator. Tentunya ada bagian lain yang perlu dibuat, ada encoder dari desimal ke binary (10 saklar dari 0 sampai 9 yang masing-masing mengoutputkan nilai biner tertentu), ada sirkuit komputasi, dan ada bagian yang akan melakukan encoding dari binary ke 7 segment. Sekarang ini kalkulator Jonathan belum selesai tapi dia sudah paham apa yang perlu dibuat.

Menurut saya buku ini sangat bagus sebagai suplemen untuk mata kuliah Aristektur Komputer. Minimal jika lulus kuliah aristektur komputer mestinya bisa mengerti isi buku ini. Orang awam yang ingin mengenal arsitektur komputer juga bisa membaca buku ini karena isinya mudah dimengerti dan tidak ada prerequisite untuk membaca buku ini.

Buku Baru: Seri Secret Coders

Masih cerita soal buku yang di beli di Big Bad Wolf Desember lalu. Jonathan gak sengaja memilih 1 buku Secret Coders. Sebenarnya beli buku ini awalnya tertarik karena judulnya saja, dan saya malah gak tau isinya berupa komik. Ceritanya mengenai seorang anak usia 12 tahun yang pindah sekolah dan menemukan beberapa misteri yang ternyata bisa dipecahkan dengan pemrograman. Buku ini sejenis pengenalan pemrograman juga buat Jonathan.

Buku yang kami beli di BBW itu hanya buku nomor 2. Waktu kami kembali ke BBW lagi untuk mencari nomor lainnya, kami gak berhasil menemukannya. Akhirnya karena Jonathan sudah baca buku ke-2 itu berkali-kali, kami memutuskan untuk memnbeli buku lainnya dari Amazon.

Buku ini tersedia dalam format Kindle juga. Waktu kami mau beli akhir Februari lalu, Joe baru tahu kalau buku ke-6 baru akan terbit, dan versi kindlenya belum akan langsung ada. Setelah dibanding-bandingkan harganya, beli versi kindle 1 bukunya 7.6 USD, beli 5 buku kindle 39 USD, nah beli buku fisik 6 buku 40.84 USD, plus ongkos kirim ke Chiang Mai sekitar 10 USD totalnya 50.84 USD, jadi harga bukunya lebih mahal sedikit saja daripada versi kindlenya. Akhirnya rasanya masih tetap lebih murah beli buku fisik. Pertimbangan lainnya, baca komik itu lebih enak pakai buku fisik, jadilah kami beli complete box setnya.

Hari ini bukunya tiba, mengingat kami baru memesan sekitar 22 Februari, dan buku ke-6 nya baru terbit akhir Februari, buku ini tergolong cepat sampainya ke Chiang Mai. Sore ini Jonathan langsung menyelesaikan membaca 5 buku yang belum dia baca dalam waktu beberapa jam saja. Saya yakin, besok-besok dia masih akan mengulang-ulang baca buku ini, seperti halnya buku -buku seri lainnya yang dia punya.

Saya juga jadi ikut-ikutan membaca bukunya, dan ya ternyata ceritanya cukup menarik. Buku pertama menjelaskan konsep bilangan biner dengan mengenalkan istilan buka tutup. Kalau terbuka merepresentasikan 1 dan kalau tertutup merepresentasikan 0. Selain mengenalkan konsep biner, buku pertama ini juga mengenalkan pemrograman dengan mengenalkan instruksi Forward sekian langkah, Right or Left sekian derajat, dan sampai pada instruksi Repeat untuk mengulang-ulang instruksi sebanyak angka didepan instruksi Repeat.

Oh ya, cara menjelaskan suatu konsep di buku ini dibuat dalam bentuk percakapan antara 2 orang anak sekolah. Walau dalam cerita ini tokohnya berumur 12 tahun dan Jonathan masih 8 tahun, tapi Jonathan tidak kesulitan mengerti penjelasan dalam buku ini, mungkin karea dia udah mengenal apa itu bilangan biner dan juga udah sering mengganggu papanya minta diajari beberapa dasar pemrograman. Tapi saya merasa membaca buku ini tidak seperti membaca buku pelajaran pemrograman, semuanya dijelaskan dengan cukup sederhana. Ah andaikan saya baca buku ini sebelum kuliah dulu, mungkin saya akan lebih cepat ngerti pemrograman waktu tingkat 1 dulu hahaha.

Kalau melihat Jonathan selalu senang membaca buku-buku seperti ini, rasanya senang banget membelikan dia berbagai buku. Mudah-mudahan saja dia gak bosan dengan buku-buku seperti secret coders ini dan ya siapa tahu nanti besarnya bisa lebih jago mrogram dari papanya hehhehe.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi buku lainnya seri belajar pemrograman untuk anak-anak, tuliskan di komentar ya, supaya nambah bahan bacaan Jonathan hehehe.

Seri Buku Murderous Math

Murderous Math adalah seri buku edukasi matematika yang kami beli di Big Bad Wolf book sale. Isi bukunya adalah cerita ngalor ngidul kocak dengan banyak fakta matematika disisipkan di dalamnya. Buku ini juga memiliki banyak ilustrasi yang menarik.

Membahas Fibonacci

Pembahasan matematikanya dalam berbagai serinya cukup luas, dari mulai konsep bilangan (termasuk juga basis bilangan), geometri (konsep pengukuran, pythagoras, 2 dimensi dan 3 dimensi), uang, probabilitas dsb.

Saya tidak tahu apakah anak-anak yang tidak suka matematika akan suka buku ini atau tidak, tapi Jonathan (usia 8 tahun) sudah menyelesaikan membaca kesepuluh buku yang kami beli dan dia sangat menyukainya dan bahkan sering dibaca ulang. Saya yakin jonathan belum mengerti semuanya, tapi itu tidak membuat dia berhenti membaca bukunya karena lucu. Contohnya di dalam salah satu buku ada konsep mengenai persamaan kuadrat. Materi ini terlalu berat untuk anak umur 8 tahun.

Selain terhibur Jonathan jadi penasaran dengan berbagai konsep matematika. Jonathan sempat tertarik dengan Fibonacci, lalu beberapa hari terakhir ini Jonathan sangat penasaran dengan faktorial. Dia mengalikan sendiri sampai faktorial yang cukup besar di kertas. Dia juga penasaran berkali-kali: kenapa 0! = 1, kenapa bukan 0?. Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang saya harus ngecek dulu ke Google supaya yakin bisa memberi jawaban yang benar.

Dari buku ini saya bisa melihat bahwa meskipun Jonathan masih sering tidak teliti mengerjakan soal-soal penjumlahan dan perkalian di materi home schoolingnya, tapi dia memiliki minat dalam bidang matematika.
Saya juga berusaha memberikan trick question misalnya dalam kasus faktorial: berapa 2 digit terakhir 100! (jawabannya sangat mudah, ini hanya sekedar mengetes logika saja) . Meskipun belum diajarkan di materi homeschoolnya sekarang Jonathan sudah tahu apa itu bilangan pi.

Sebagian isi bukunya membuat Jonathan terlalu excited dan ingin mengajari semua orang trik tertentu. Contohnya mengenai perkalian 1089. Perkalian dengan bilangan ini memiliki properti yang menarik: digit pertama dan kedua menaik, sementara digit ketiga dan keempat menurun.

Waktu Big Bad Wolf book sale kami langsung membeli satu kotak (isi 10) bukunya. Dan kami tidak menyesal membeli langsung sekotak, tapi bagi yang anaknya mungkin tidak suka matematika bisa dicoba dulu membeli satu atau dua buku.

Target Baca Buku

Udah beberapa waktu belakangan ini, kegiatan membaca buku berkurang banyak dibanding sebelumnya. Jonathan tetap membaca banyak buku, walaupun sepertinya banyak juga yang dia bacanya sebagian-sebagian saja. Dibandingkan Jonathan, saya kalah banyak dalam hal membaca.

Setiap tahun, selalu punya target membaca 1 buku 1 bulan (teorinya 1 buku 1 minggu, tapi mari kita realistis dengan 1 buku 1 bulan), tapi kenyataannya seringkali 1 bulan berlalu tanpa menyelesaikan buku yang sudah dimulai di baca.

Waktu BBW kemarin, sudah membeli beberapa buku. Pulang ke Indonesia kemarin juga membeli beberapa buku lagi untuk di baca. Dari semua buku yang di beli, belum ada yang dibaca sampai tuntas. Lemari buku sudah hampir penuh dan perlu di reorganisasi, tapi yang lebih penting lagi buku-buku yang sudah dibeli jangan sampai gak dibaca sampai berdebu.

Di Depok, ada banyak buku yang kami tinggalkan juga waktu kami pindah ke Chiang Mai. Melihat buku-buku yang kami tinggalkan itu, saya jadi ingat masa-masa kami agak rajin beli buku dan baca buku. Entah kenapa, buat saya kegiatan membaca itu seperti kegiatan musiman, padahal katanya, kalau mau lancar menulis sebaiknya rajin membaca juga. Mungkin ini kenapa belakangan agak sulit menulis ya, karena udah lama ga membaca hehehe.

Bulan ini sudah 11 hari, ada 1 buku yang sudah dimulai baca. Bukunya gak tebal, tapi karena ga dilanjutkan ya ga selesai juga. Sepertinya saya perlu juga menargetkan waktu baca setiap harinya, bukan cuma membuat sehari satu tulisan saja.

Dipikir-pikir, membaca fiksi biasanya bisa lebih cepat daripada non-fiksi. Tapi, kemarin malahan banyakan beli buku non-fiksi. Pantesan saja saya kalah banyak membacanya dibandingkan Jonathan. Mungkin saya harus membuat perlombaan dengan Jonathan dalam hal membaca supaya saya juga jadi membaca buku.

Target baca buku bulan ini, saya ingin membaca 20 menit sehari. Kita lihat saja ada berapa banyak buku yang akan selesai sampai akhir bulan. Kira-kira membaca buku itu enaknya pagi, siang atau malam hari ya? Kalau menulis, sepertinya sekarang ini saya hanya bisa menulis malam, karena entah kenapa dari pagi sampai sore selalu saja gak bisa duduk dengan tenang untuk menulis.

Untuk kegiatan membaca sebenarnya ada beberapa kesempatan membaca tanpa gangguan, terutama kalau lagi nganterin Jonathan les, tapi ya kadang-kadang godaan baca sosmed lebih besar daripada baca buku. Mau ekstrim non-aktifkan paket data pas di luar rumah, tapi eh kebanyakan tempat ada WIFi nya, jadi ya godaan online tetap akan ada. Yang lebih dibutuhkan tentunya disiplin untuk melakukan apa yang direncanakan.

koleksi buku Jonathan dari Gramedia Depok

Mengenai membaca, Jonathan mulai bisa membaca bahasa Indonesia juga. Walaupun waktu membaca bersuara dia masih banyak belum bisa membaca dengan benar, tapi dia sudah bisa menikmati beberapa pilihan buku seri Why yang dia beli di Gramedia kemarin. Buku-buku ini dalamnya disajikan dalam bentuk komik. Dari beberapa buku yang dibeli, rasanya sudah hampir semua dia baca. Nantinya tinggal diulang lagi membaca bersuara sambil mengajari kosa kata bahasa Indonesia.

Mungkin level membaca bahasa Indonesia Jonathan saat ini sama dengan level membaca bahasa Thai buat saya. Jadi kemungkina saya juga perlu cari buku komik untuk melatih kemampuan membaca bahasa Thai saya. Ah sudahlah, daripada pusing baca tulisan cacing, sekarang ini latihan konsisten membaca bahasa Indonesia dan Inggris dulu saja. Kalau sudah bisa konsisten dalam waktu sebulan ini, nanti kita pikirkan untuk membaca tulisan bahasa Thai hehehe. Yuk mari ada yang mau ikutan nemenin saya membaca setiap hari minimal 20 menit?

Tentang Serial TV

Awalnya pingin menuliskan review TV Seri yang pernah ditonton, tapi bingung mau mulai dari mana (saking banyaknya). Dan karena kepikiran banyak hal mengenai cerita-cerita dalam Serial TV, saya kali ini cuma pengen cerita-cerita aja secara umum mengenai berbagai TV Seri yang pernah saya tonton.

Sejak kenal dengan Joe, kami banyak menonton Serial TV bersama-sama, genrenya biasanya mulai dari science fiction, horror, action sampai comedy. Cuma 1 genre yang gak ditonton sama Joe: drama yang sedih atau terlalu dekat ceritanya dengan dunia nyata. Alasannya: nonton itu buat hiburan, jadi gak mau nonton kalau ceritanya sedih hehehe. Saya suka nonton drama, tapi syaratnya boleh aja ceritanya sedih tapi akhirnya harus bahagia hahahaha. Kadang-kadang tapi kalau bagian filmnya terlalu sedih, saya gak terusin karena saya juga males nonton orang sedih melulu, apalagi tipe cerita sedih ditindas dan gak melawan.

Sejak saya gak bekerja, saya mengikuti lebih banyak Serial TV dibandingkan Joe hehehe. Sejak langganan NETFLIX, tambah banyak lagi serial TV yang diikuti hehehe. Awalnya saya lebih banyak mengikuti serial TV berbahasa Inggris. Pernah mengikuti Telenovela tapi udah lupa, jadi gak akan dibahas. Mengikuti kategori di NETFLIX, di posting ini saya akan bahas serial TV Western (berbahasa Inggris) dan serial TV Asia. 

Hal-hal mengenai TV Seri Barat

  • TV Seri bisa berupa pengembangan dari cerita di layar lebar, bisa juga dari TV Seri kemudian di filmkan di layar lebar. Kadang-kadang aktornya sama, kadang berbeda (tergantung bayarannya kayaknya hehehe).
  • TV Seri biasanya tentu saja lebih dari 1 episode. Sedangkan layar lebar kalaupun ada sambungan ceritanya mereka bikin sequel atau prequel.
  • TV Seri kadang-kadang bisa sampai ratusan episodes, dengan cerita yang tak kunjung habis. Beberapa TV Seri yang saya ikuti yang lebih dari 10 season misalnya Bones dan Grey’s Anatomy.
  • Dalam 1 season TV seri, jumlah episodenya bervariasi, rata-rata lebih dari 10 episode.
  • Cerita dalam TV Seri tidak selalu seru untuk setiap episodenya, ada kalanya ceritanya terasa membosankan seperti filler buat memperbanyak jumlah episode saja.
  • Dalam TV Seri, semakin banyak jumlah seasonnya, pemeran awal (original cast) biasanya semakin sedikit dan digantikan dengan tokoh-tokoh baru.
  • Beberapa TV Seri tidak selalu bersambung antar episodenya, tapi akan ada beberapa hal yang terkait dengan episode sebelumnya menjadi tema besar dalam 1 season. Contoh TV Seri yang tidak selalu ada hubungannya: Dr. Who, dan McGyver. 
  • Beberapa serial TV, kalau diketahui akan ada season berikutnya akan mengakhiri sebuah season dengan cerita yang menggantung. Untuk serial yang tidak diperpanjang, umumnya mereka akan menyelesaikan cerita semua bahagia.

Belakangan ini, saya juga mengikuti beberapa TV Seri Asia (Thai, Jepang, Korea). Saya perhatikan, perbedaan yang paling signifikan dengan dari serial TV Asia dibandingkan produksi Barat adalah:

  • Biasanya hanya ada 1 atau 2 season. 
  • Setiap seasonnya tidak lebih dari 30 episode.
  • Jalan ceritanya seperti cerita bersambung, hampir setiap akhir episode bakal bikin kita penasaran buat menonton lanjutannya. Dengan alasan ini, saya lebih memilih menonton serial TV yang sudah complete, biar ga penasaran nunggunya.
  • Dari beberapa seri asia yang saya tonton cuma ada 1 yang sad ending, sisanya happy ending. Sebenarnya dari awal saya sudah tahu bakal sad ending, tapi saya tonton juga karena aktornya terkenal hahaha.

Beberapa jalan cerita dalam TV Seri terasa mengada-ada, tapi kadangkala mereka juga berusaha mengangkat cerita dari isu yang sedang hangat dibicarakan di dunia nyata. Belakangan ini saya lebih suka nonton drama asia karena ceritanya ga terlalu banyak sampai ratusan episode hehehe. 

Gimana dengan sinetron Indonesia? masuk kategori mana? aduh kalau itu sih saya ga bisa komen, karena saya ga pernah nonton lagi. Tapi kalau dari jumlah episodenya, ada juga yang seperti Serial TV Barat. Duluuuuuu pernah juga menonton beberapa sinetron, tapi seperti halnya telenovela, saya sudah lupa judulnya dan jalan ceritanya hahaha. Sekarang sih udah ga minat ngikutin sinetron Indonesia, karena adegannya terkadang penuh delikan mata dan perpindahan wajah dengan cepat yang bikin sakit kepala menontonnya hehehe. Eh tapi, kalau ada yang bisa rekomendasi sinetron Indonesia, boleh deh ntar dicoba tonton, siapa tahu sekarang sinetron Indonesia udah meningkat kualitasnya mengikuti TV Seri Korea hehehehe.

Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.

Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight

Buku ini salah satu yang saya beli di Big Bad Wolf kemarin. Saya belum pernah membaca tentang seri ini, sekilas dari judulnya sepertinya menarik, Space Taxi. Buku yang saya beli bundle 4 buku jadi 1 seharga 140 baht, tergolong sangat murah mengingat harga buku baru untuk chapter books biasanya sekitar 200-350 baht di toko buku Asiabooks. Judulnya Space Taxi, dibagian belakang bukunya ada klaim menyertakan fakta ilmiah juga. Saya pikir, karena Jonathan cukup suka membaca mengenai hal-hal yang terkait mengenai luar angkasa, buku ini akan menarik minatnya untuk membacanya.  

4 buku jadi 1 seharga 140 baht

Satu hal yang bikin saya suka dengan buku ini adalah: tulisan di dalamnya menggunakan font yang cukup besar. Saya tidak perlu kacamata saya untuk membacanya haha. Di dalamnya juga ada beberapa ilustrasi yang cukup membantu imajinasi untuk menikmati buku ini. Cerita dalam buku ini mengenai seorang anak bernama Archie Morningstar yang berumur 8 tahun 8 bulan 8 hari yang untuk pertama kalinya ikut papanya bekerja di malam hari. Papanya bekerja sebagai supir taxi dan jam kerjanya berbeda dengan jam kerja biasa, jadi ini seperti pengalaman pertamanya juga untuk boleh bergadang di malam hari hahaha.

Lanjutkan membaca “Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight”