Facebook VS Blog

Nggak terasa udah beberapa bulan jadi rajin nulis blog sejak ikutan tantangan OneDayOnePost tahun lalu. Blog yang tadinya sekian lama gak diisi, tiba-tiba jadi diupdate setiap hari. Misi ikutan ODOP yang sekarang menjadi Sehari Satu Tulisan bisa dibilang cukup berhasil. Ada hari-hari di mana tetap gak punya ide mau nulis apa, karena rata-rata isi tulisan saya umumnya cerita keseharian saja. Idealisme menuliskan sesuatu harus secara lengkap panjang lebar dilengkapi gambar juga udah hilang. Sayangnya, sejauh ini tetap belum bisa menemukan waktu rutin untuk menulis.

Hari ini hari terakhir bulan ke-2 tahun 2019, gak terasa sejak rajin ngeblog saya jadi jarang update status di FB. Teorinya, setiap ngeblog tulisannya saya post di FB, tapi kadang saya pikir, ah gak usah dishare, nanti orang-orang bosan baca tulisan saya hehehe. Padahal cerita di blog ini bisa lebih lengkap dibanding status FB saya yang jarang banget cerita panjang lebar.

Dulu, salah satu alasan kenapa jadi jarang ngeblog adalah karena adanya FB. Pasang status di FB itu bisa singkat, cukup 1 foto atau tanpa foto dan 1 paragraph, kalau di blog cuma 1 paragraph rasanya aneh, padahal ya gak ada juga larangan nulis blog cuma 1 paragraph.

Nulis status di FB itu biasanya rasanya lebih “aman” karena pembacanya bisa dibatasi, yang komen juga bisa dibatasi hanya teman kita. Nulis posting di blog begini, saya gak tau siapa saja yang mampir ke sini karena jarang ada yang ninggalin jejak, kadang yang berusaha ninggalin jejak malahan spam doang (untungnya blog kami udah ada mekanisme menyaring komen-komen spam).

Kadang-kadang tapi merasa bersalah juga, ada yang komen di blog tapi gak saya balas karena notifikasi komennya gak saya set dikirim ke e-mail hehehe. Mungkin ini juga yang bikin orang-orang malas ninggalin komen (selain mungkin gak tau mau komen apa karena cerita saya sering random).

Seperti tulisan random lainnya, sepertinya tulisan ini cukup sampai di sini sebelum tambah random lagi. Oh ya, kalau ada yang rajin ngunjungi blog ini dan bingung kenapa tulisannya selang seling antara tulisan random dan topik teknis, ya jangan heran karena blog ini yang ngisi 2 orang. Joe lebih sering nulis soal teknis walau kadang-kadang dia juga nulis hal-hal random, tapi tulisan saya lebih banyak randomnnya hahaha.

Happy Ending?

Realita hidup ini gak selalu semua berakhir dengan bahagia. Tapi tentunya kalau nonton film atau baca fiksi yang endingnya ga bahagia, rasanya kok ga enak ya. Padahal bisa saja kita teruskan sendiri ceritanya berdasarkan imajinasi kita dan semuanya bisa berakhir sesuai maunya kita. Tapi itukan beda dan ga seru, mau refreshing gak pake mikirin ending sendiri ah, mau terima yang pasti-pasti aja. Dalam hidup ini juga mana ada sih yang tau pasti apa yang terjadi besok hari, tapi kadang kita bisa prediksi apakah besok hujan atau tidak berdasarkan berbagai faktor yang bisa diukur di alam ini.

Aduh ini mau ngomongin apa sih, pasti langsung nuduh saya mau bahas drama korea ya? Hahahaha, ya dan tidak sebenernya, mau ngomongin film seri aja secara umum. Walaupun awalnya nulis ini karena mikirin beberapa generalisasi dari film-film yang saya tonton terutama beberapa kdrama yang belakangan ini jadi tontonan saya.

Untuk genre romantis, happy ending itu jelas kalau akhirnya setelah lika liku kisah cinta naik turun, akhirnya mereka hidup bahagia selamanya, walaupun biasanya dalam setiap kisah cinta akan ada tokoh yang jadi orang ke-3 atau ke-4 yang kurang beruntung mendapatkan versi bahagianya. Minimal harus ada kejelasan bahwa mereka akan bersama, bukan dikasih hint doang kayak endingnya Alhambra hehehe.

Untuk genre horror, happy ending itu tentunya kalau tokohnya ada lebih dari 1 yang selamat. Film-film Holywood biasanya diawalin dengan sekelompok orang yang terisolasi dan pada akhir episode hanya 1 atau 2 yang masih hidup. Lah yang lain kemana? ya namanya horror, pastilah yang lain ga selamat jadi korban mahluk yang mengejar-ngejar yang hidup. Mahluknya bisa berupa mahluk imajinasi atau orang super jahat kayak film Saw.

Untuk genre action, happy ending itu kalau anak mudanya berhasil mengalahkan orang jahatnya. Kalau orang jahatnya yang menang, pasti penonton merasa kecewa. Misalnya kalau film Superman VS Batman gimana dong? emang yang mana yang anak mudanya? pasti deh ada yang kecewa dengan endingnya film itu.

Ada genre apalagi ya, oh science fiction, happy ending itu kalau penjelasan ilmiahnya masuk di akal kita dan berhasil membantu tokoh utama menyelesaikan misinya. Dulu ngikutin serial Fringe, ini ceritanya sempat agak kesana kemari gak jelas, eh tau-tau akhirnya nyambung lagi dengan season awal dan semua diselesaikan, padahal tadinya udah sempet males ngikutinnya.

Entah kenapa, mau itu buku atau film, ada kecenderungan kita ingin melihat sesuatu berakhir dengan bahagia. Walau begitu, ada juga beberapa series yang membuat penonton berpihak ke orang yang melakukan kejahatan. Ini sih biasanya ada penjelasan yang merasionalkan kejahatannya, dan secara gak langsung penonton akan pro sama kejahatan yang dilakukan sama pemeran utamanya.

Siapa yang pernah tau serial Dexter? pernah ga waktu nonton serial itu ikut deg-degan waktu identitasnya hampir terbongkar? padahal kalau beneran ada di dunia nyata, Dexter itu orang jahat loh apapun alasannya. Buat yang belom pernah nonton atau tau Dexter, silakan google heheh, terlalu panjang buat saya jelaskan di sini.

Ada yang inget serial Prison Break? nah saya tanyakan, kira-kira apakah kalau ada napi yang kabur dari penjara kita akan merasa senang? atau kita malah jadi kuatir. Gimana dengan serial Breaking Bad? ikut senang ga dengan endingnya? atau kasihan dengan nasib tokoh utamanya setelah dia hampir ketahuan berkali-kali?

Pada akhirnya semua kembali ke persepsi dan imajinasi kita. Karena hidup ini adalah proses, kita yang menentukan apakah sejauh ini hidup kita happy atau gak. Konflik dan masalah akan selalu ada, tapi bukan berarti kalau lagi banyak masalah hidup kita lagi ga happy. Kebahagiaan itu pilihan, nonton serial yang endingnya selalu happy juga pilihan hahaha. Maaf kalau tulisan ini terasa agak random.

Fishing Game

Mainan ini umurnya udah 6 tahun (dari april 2013), dulunya dibelikan sama temennya Joe buat Jonathan. Waktu itu Jonathan masih berumur 2 tahunan dan mainan ini untuk anak 3 tahun ke atas. Nah kebetulan, sebelum ke Bandung kami sudah beli mainan serupa yang lebih kecil di Depok, tapi karena mainan ini lebih besar, tentunya kami bawa ke Chiang Mai dan masih awet sampai sekarang dan bisa dimainkan sama Joshua juga.

bisa main bareng

Dulunya, mainan ini banyak saya simpan, sesekali dikeluarkan dan setiap dikeluarkan dimainkan sampai baterenya habis. Setelah batere habis, karena gak ada suaranya Jonathan bosan. Sebelum ikan-ikannya hilang, saya rapihkan dan simpan kembali ke dalam kotaknya dan masukkan lemari hahaha.

Setelah ada Joshua, mainan ini sudah beberapa kali dikeluarkan juga. Jonathan juga masih suka memainkannya. Waktu Joshua masih kecil banget, dia senang mendengarkan musiknya dan kebanyakan Jonathan dan papanya yang main pancing-pancing ikan. Mainan ini gak terlalu mudah dimainkan, karena harus nunggu ikannya terbuka mulutnya baru bisa dipancing. Tapi mainan ini cukup seru karena kadang-kadang sudah kepancing eh lepas lagi. Mainan ini bisa dimainkan sampai 30 menitan, sebelum akhirnya bosan dan beralih ke mainan lain.

jangan buang kotaknya, supaya mainannya tidak ada yang hilang

Setelah 6 tahun, karena kami kadang-kadang lupa mengeluarkan baterenya ketika menyimpan, tempat baterenya mulai berkarat. Setelah dibersihkan sama Joe, masih bisa dimainkan dan berjalan dengan baik. Ikan-ikannya juga masih utuh jumlahnya, walau kadang-kadang mulut ikannya ada yang gampang lepas, tapi ya masih bisa dipasang kembali. Pancingnya dari 4 sekarang tersisa 2, sepertinya ada yang patah dan ada juga yang dibuang-buang dan waktu membereskan gak ketemu jadi ya masih ada 2 masih bisa main berdua, jadi cukuplah.

Sekarang ini, Jonathan dan Joshua kadang berebutan juga mainnya. Tapi karena ini mainan untuk 3 tahun ke atas, saya kasih pengertian ke Jonathan kalau ini bukan mainan Jonathan lagi tapi udah jadi mainan Joshua. Untungnya Jonathan mau ngerti dan mungkin dia senang juga dianggap anak besar. Kalau mereka mulai rusuh dan gak mau akur, mainannya saya simpan.

Setelah bosan mancing, biasanya Joshua mulai memainkannya dengan menyusun ikan-ikannya menjadi huruf-huruf. Joshua memang sangat rajin menyusun semua benda jadi huruf dan angka. Tapi biasanya dia akan membiarkan mainannya berbunyi, dan dia sibuk menyusun dari A sampai Z, lalu angka sampai bosan.

apapun mainannya, pasti disusun jadi huruf sama Joshua

Kadang-kadang mereka ingat untuk mematikan mainannya, tapi ya untungnya bunyi mainan ini tidak terlalu kencang. Baterenya memakai batere kecil AAA 3 biji. Sekali ganti batere, mainan ini bisa dimainkan sekitar seminggu. Setelah seminggu saya simpan dan keluar lagi kalau dicariin hehehe.

Mainan ini cukup bagus untuk melatih kesabaran memancing. Tapi kalau gak sabar memancing, ya bisa juga kayak Joshua dipakai untuk menyusun huruf, angka dan bentuk-bentuk. Dulu saya pakai juga untuk mengenalkan warna dan menghitung jumlah ikan yang berhasil dipancing. Ada yang anaknya punya mainan ini? kira-kira anaknya suka mainkannya seperti apa?

Curhat Potty Training

Tiap anak berbeda, tapi ada timeline yang bisa jadi garis besar untuk perkembangan tiap anak. Katanya gak baik membanding-bandingkan anak, tapi ya mau tak mau, punya anak 2 secara gak langsung jadilah membandingkan. Dulu potty training Jonathan juga ga mudah, tapi sebelum 3,5 tahun Jonathan sudah bisa dinyatakan lulus potty training. Setelah agak besar pernah sekali dua kali insiden terutama kalau dia kecapean dan gak ke toilet dulu sebelum tidur, tapi ya masih dalam batas wajar, karena dalam setahun gak lebih dari 3 kali insidennya terjadi.

Sekarang Joshua 3 tahun 8 bulan, tapi masih pakai popok :(. Awalnya sih mikirnya ya santai aja, ada teori baru, anak-anak itu gak perlu di potty train, ntar juga dia akan mengerti dan bisa ngerti untuk ke toilet. Tapi karena badan Joshua cukup besar untuk umurnya, semakin susah mencari popok untuk ukuran dia. Maka kamipun memutuskan waktunya untuk mengajari Joshua ke toilet.

Banyak teori terkait bagaimana cara membawa ke toilet dan kapan waktunya memulai potty train, tapi yang paling penting adalah membawa anak secara rutin dan mengerti apa itu pipis dan di mana tempatnya. Persoalan saat ini adalah: setiap kami bawa ke toilet, Joshua belum pernah mau pipis. Kadang-kadang bangun di pagi hari popoknya masih kering, di bawa langsung ke toilet, tetep aja gak pipis. Mungkin ini juga karena Joshua malas minum, jadi ya memang belum terasa pipis dan gak bisa memaksakan pipis.

Sekarang ini, akhirnya kami memakaikan celana biasa kalau di rumah, dengan resiko kalau dia kepipisan ya basah dan harus ngepel, dan hanya memakaikan popok kalau pergi. Belakangan dia mulai terlihat kayak orang kebelet pipis sambil pegang-pegang gitu, tapi sejauh ini di bawa ke toilet gak pernah mau jadi pipis, malah maunya main-main air. Terus tak lama setelah pasang celana lagi, baru deh dia pipis (dan harus ngepel huhuhu).

Masalah dia jarang minum juga masih harus dipikirkan gimana supaya dia suka minum. Dia suka minum, susu dan semua yang manis, tapi rasanya gak mungkin kan kalau dia dikasih minuman manis terus menerus. Jadi ya sekarang ini harus super sabar saja sampai dia mengerti dan bisa kasih tau dia butuh ke toilet.

Katanya orang-orang, emang lebih susah melatih anak laki-laki untuk potty train. Ya untungnya ini anak ke-2, jadi kami lebih sabar juga sih karena udah punya pengalaman sebelumnya. Tulisan ini juga sekedar jadi catatan buat ingat kapan kami memulai melatih Joshua ke toilet. Di masa depan kalau baca tulisan ini dan masa ini sudah berlalu, tentunya bisa berbagi tips lebih banyak.

Siapa yang lagi melatih anak ke toilet juga? semangat ya ibu-ibu dan bapak-bapak! Oh ya, para bapak, bantuin istri juga ya kalau latih anak ke toilet, apalagi kalau anaknya laki-laki.

Mengingat Jadwal di HP

Dengan memilih homeschooling, kami bisa menyusun jadwal lebih leluasa. Tapi karena banyak kelas tambahan, jadilah terasa lebih sulit mengingat semua jadwal kalau tidak dituliskan terutama kalau ada kegiatan tambahan yang di luar jadwal. Tahun lalu saya mencoba memakai diary/organizer fisik untuk mengingat jadwal termasuk merencanakan jadwal pelajaran, tapi hanya berhasil dipakai 1 bulan saja. Kadang-kadang waktu ada yang perlu ditulis, bukunya lagi gak di tas, sampai rumah jadi lupa deh.

Sejak gagal pakai buku fisik, saya mulai membiasakan diri mencatat jadwal di aplikasi Calendar yang ada di HP saja. Calendar di android ini bisa dishare juga ke Joe, jadi kalau ada appointment yang bukan hal rutin mingguan, saya tambahkan di Calendar dan bikin reminder berupa notifikasi maupun e-mail. Kalender yang kami pakai juga di sinkronisasi ke gmail. Jadwal yang sering terlupakan itu biasanya janji ke dokter gigi, karena cuma 6 bulan sekali, biasanya klinik gigi nya akan menelpon untuk mengingatkan janji untuk esok harinya, tapi kalau mengandalkan nunggu telepon repot juga kalau mau bikin rencana jalan-jalan di akhir pekan.

Tampilan kegiatan per hari

Calendar ini bisa diubah tampilannya untuk melihat schedule saja, jadwal sehari termasuk jamnya ataupun secara keseluruhan jadwal 1 bulan. Jadwal saya itu biasanya isinya ya jadwal antar jemput anak-anak. Terkadang ada juga kegiatan bersama atau khusus untuk saya. Sebenarnya hari ini, niatnya mau datang ke kumpulan perajut, tapi karena mata sangat mengantuk, saya putuskan buat tidur siang sama Joshua saja, hehehe.

Continue reading “Mengingat Jadwal di HP”

Homeschool atau Kirim Anak ke Sekolah?

Kami pernah mengirim Jonathan ke sekolah selama 3 tahun sebelum akhirnya memutuskan menghomeschool Jonathan selama 1,5 tahun terakhir ini. Saya ingat, hari pertama kami mulai mantap menghomeschool ketika kami mulai menggunakan kurikulum dari CLE. Akhir Agustus 2017, Jonathan sering sakit, susah tidur cepat dan berakibat masih ngantuk waktu bangun dan di sekolah sering ketiduran. Di sekolah, Jonathan akhirnya lebih sering tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Awal memutuskan homeschool, saya sangat khawatir kalau kami jadi terlena dan tidak mengajarkan apapun ke Jonathan, apalagi saya masih belum menemukan kurikulum yang akan kami pakai. Saya khawatir terlalu santai, dan tahu-tahu waktu berlalu tanpa Jona belajar apapun.

Saya sempat sedikit khawatir masalah apakah saya akan kuat secara mental untuk tidak marah-marah kalau Jonathan tidak mengerjakan tugasnya. saya nggak kuatir masalah tidak bisa mengajarkannya atau Jonathan tidak mengerti, saya lebih khawatir Jonathan tidak mau mendengar saya atau menolak mengerjakan pekerjaan sekolahnya.

Continue reading “Homeschool atau Kirim Anak ke Sekolah?”

Super Full Moon 2019

Dari beberapa hari lalu, sudah dapat link mengenai super full moon yang akan terjadi hari ini 19 Februari 2019. Tapi karena banyak kesibukan hari ini jadi terlewat informasi kalau badan astronomi Thailand yang ada di Chiang Mai ternyata mengadakan acara mengintip super moon pakai teleskop mereka. Untungnya sekarang ini semua ada di facebook ya, jadi walau ga bisa datang ke sana, bisa juga melihat hasil jepretan yang datang ke sana.

Foto super full moon dari FB page: อุทยานดาราศาสตร์สิรินธร Princess Sirindhorn Astropark

Tadi akhirnya cuma liat keluar dengan mata biasa, sekaligus memberi tahu Jonathan beberapa informasi mengenai super full moon ini. Seperti biasa, cara termudah mengajarkannya setelah melihat langsung adalah memberikan video mengenai apa itu super full moon. Fakta-fakta mengenai super full moon bisa di baca lengkap di sini.

Continue reading “Super Full Moon 2019”