Buku: Aku Belajar Tapi Gak Sekolah

Buku karya anak-anak yang belajar di rumah

Beberapa waktu lalu, seorang teman di FB membagikan informasi mengenai buku ini. Sebagai keluarga yang juga memilih jalan sekolah di rumah ini, saya langsung tertarik untuk membacanya, apalagi karena buku ini ditulis bukan oleh orangtuanya, tapi oleh anak yang menjalani kehidupan bersekolah di rumah. Buku ini ditulis oleh 20 anak berusia antara 10 – 17 tahun yang bergabung dalam sebuah komunitas homeschool, dibimbing oleh 3 orang mentor yang menghomeschool anak-anaknya selain juga berkarya di bidangnya. Buku ini juga menjadi salah satu hasil karya belajar menulis yang merupakan kegiatan homeschool mereka di komunitas homeschool Klub Oase.

Komunitas untuk keluarga yang bersekolah di rumah ini sangat dibutuhkan, bukan saja untuk anak bersosialisasi, tapi juga untuk orangtua bertukar ide dan pengalaman. Tahun lalu saya sempat bergabung dengan komunitas lokal di sini, tapi komunitasnya terlalu besar dan akhirnya saya merasa terlalu melelahkan. Tahun ini saya memilih komunitas yang lebih kecil di mana anak-anak bertemu sekali seminggu dengan kegiatan bermain dan belajar bersama.

Buku ini cukup tebal, lebih dari 300 halaman. Tapi karena ceritanya tidak bersambung kita bisa memilih mau baca cerita siapa terlebih dahulu dengan memilih dari daftar isinya.

Tulisannya dikelompokkan menjadi 5 kategori. Mulai cerita awal perjalanan memilih homeschool, bagaimana kegiatan sehari-hari anak homeschool, bagaimana mereka bersosialisasi, apa saja naik turunnya kegiatan homeschoolers dan apa yang menjadi cita-cita mereka.

Sebagai orang yang menghomeschool anaknya, saya bisa mengerti apa yang dirasakan anak-anak itu. Bagian awal mula homeschool itu ada yang menjadi keputusan orangtua, dan tidak sedikit juga menjadi keputusan anak itu sendiri. Tapi siapapun yang memutuskan dan apapun alasan mulainya, dari cerita mereka saya bisa melihat mereka semua merasa bersyukur belajar di rumah. Mereka juga menjadi anak-anak yang bisa belajar mandiri dan belajar bertanggung jawab mulai dari perencanaan kegiatan mingguan, menetapkan target dan sampai pelaksanaanya termasuk aktif dalam kegiatan-kegiatan pameran hasil karya.

Setiap keluarga punya alasan dan inginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Di dalam buku ini saya lihat banyak anak yang memutuskan/meminta untuk dihomeschool karena merasa beban berat di sekolah, dan juga tidak lepas dari adanya bullying. Saya sendiri tidak pernah dibully waktu sekolah, tapi jangan-jangan tanpa sadar saya yang membully teman saya, karena saya ingat waktu saya SD ada teman yang membagi uang jajannya ke saya tanpa saya minta supaya dia bisa nyontek PR saya (waktu itu saya kelas 1 SD dan ya belum mengerti kalau sebaiknya saya tidak menerima uang dari teman dan tidak memberi contekan PR).

Sedikit hal yang mengganggu dalam buku ini. Saya kadang bingung ketika anak yang sama menulis tentang hal yang berbeda. Di satu bagian dia bercerita sedang persiapan ujian masuk universitas tertentu, di bagian lain dia bercerita kalau dia sudah melupakan target masuk universitas yang itu. Mungkin ada baiknya juga kalau ceritanya dikelompokkan berdasarkan anaknya. Jadi misalnya si A bercerita mulai dari awal dia homeschooling bagaimana, lalu bagaimana kegiatan hariannya, bagaimana dia bersosialisasi, bagaimana roller coaster yang dia hadapi dan apa harapan dia 20 tahun mendatang. Jadi pembaca bisa lebih dapat gambaran misal si A ini hobinya menggambar dan berapa banyak sehari dia menggambar dan apakah 20 tahun ke depan dia berharap berkarya dari gambarnya atau mau kuliah lalu menjadi pengajar gambar.

Sebenarnya, di semua tulisan ada jelas anak mana yang menulis dan di halaman belakang buku ada profil anak tersebut, tapi karena saya bukan tipe yang bisa dengan cepat mengingat nama dan fakta tentang masing-masing anak (dan ada 20 anak), kadang-kadang jadi bingung dan harus baca buku bolak -balik untuk mengingat lagi ini anak yang mana yah.

Menurut saya, buku ini perlu dibaca oleh orang-orang dalam kategori berikut:

  • anak sekolah yang merasa beban sekolah sangat tinggi
  • anak sekolah yang merasa bosan dengan rutinitas sekolahnya
  • anak sekolah yang punya minat untuk pelajaran tertentu
  • orangtua yang selalu merasa stress setiap musim ulangan umum anaknya
  • orangtua yang tertarik dan pingin tahu apa itu homeschool
  • siapa saja yang selalu meragukan kerabatnya yang menghomeschool anak-anaknya

Saya senang sekali membaca buku ini, kami baru melakukan homeschool sekitar 2 tahun, masih banyak pertanyaan dan keraguan setiap tahun ajaran baru, tapi dari membaca pengalaman anak-anak yang sudah dihomeschool baru 2 tahun sampai sudah 8 tahun, semuanya bahagia dengan pilihan homeschool. Mereka juga terlihat menjadi anak yang kreatif dan juga bisa belajar mandiri. Saya gak meragukan kalaupun mereka nantinya memilih kuliah demi mendapat ijasah dengan alasan memperluas pilihan ketika dewasa, mereka tidak akan punya kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman kuliah dan tidak ada masalah mengikuti kegiatan belajar di tingkat universitas. Bahkan mereka bisa lulus dengan cepat karena mereka terbiasa belajar mandiri.

Kalau kamu termasuk yang mempertanyakan anak homeschool ngapain aja dan apa bedanya dengan sekolah formal, dan juga mempertanyakan bagaimana nanti ijasahnya, nah coba deh baca buku ini untuk melihat lebih dekat kegiatan anak-anak homeschool. Menurut saya, mereka gak akan kurang kesempatannya di masa depan dari anak-anak yang dikirim ke sekolah biasa, malahan kalau dilakukan dengan benar, anak-anak homeschool ini bisa lebih berhasil karena mereka sudah lebih terlatih untuk fokus dengan apa yang mereka suka dan mencari tahu bagaimana melakukan sesuatu dengan benar.

Saya berharap komunitas homeschool di Indonesia juga semakin banyak. Siapa tahu suatu saat kami harus kembali ke Indonesia, jadi kami bisa bergabung dengan komunitas lokal yang ada.

Belajar Bahasa Korea

Tulisan ini update dari tulisan sebelumnya mengenai belajar bahasa itu proses dan juga merupakan akibat tidak langsung dari gara-gara kdrama hehehe. Saya pikir, saat ini saya sudah akan menyerah dan berhenti kebiasaan baik untuk memakai Memrise dan Coursera. Ternyata ya semakin banyak kosa kata yang kita tahu, semakin kita mengenali hangeul dan semakin mengerti kenapa ada perubahan bunyi dalam pengucapan bahasa Korea, semakin jadi sayang aja kalau ditinggalkan hehehe.

49 hari belajar tiap hari menggunakan Memrise

Tanpa terasa, hari ini sudah 49 hari saya tidak pernah bolos menggunakan Memrise dengan target belajar kata-kata baru dan review kata-kata yang lama. Korean level 2 di Memrise totalnya ada 23 bagian dan sekarang saya sudah hampir selesai bagian 21. Sedikit lagi menuju Korean level 3 di Memrise. Belajar di Memrise ini enaknya sedikit-sedikit dan kalau lupa ya gak apa-apa.

Kemarin saya menyelesaikan kursus yang saya ambil di Coursera. Kursus Learn to Speak Korean 1 ini dirancang untuk dipelajari selama 6 minggu. Jadwal minggu ke-6 itu harusnya 13 Mei, tapi saya sudah selesai duluan heheheh. Bagusnya belajar Coursera sambil belajar Memrise adalah, di Memrise saya banyak belajar kosa kata dan sedikit grammar, tapi di Coursera saya jadi lebih banyak belajar grammarnya, walaupun diajarkannya untuk percakapan sehari-hari (berbelanja, memesan makanan, menanyakan lokasi, nama-nama makanan, menyebutkan harga). Sayangnya di Coursera cuma ada 2 kursus saja untuk belajar bahasa Korea, mereka belum selesai mempersiapkan kelanjutan dari Learn to Speak Korean 1.

Dari kursus di Coursera, saya jadi menyadari kenapa bahasa Korea kedengaran gitu-gitu aja. Walau saya belum bisa mengingat semua rules nya, saya bisa bilang kalau di bahasa Korea itu kata dasar bisa punya banyak akhiran yang berbeda-beda, ada akhiran -aya, -oyo, -haeyo, -yeyo, -e, -a, -eso, -nen, -ren, -ka, -i, dan banyaklah mungkin yang saya belum tau juga hehehhe. Walaupun dah selesai kursus coursera dan menyelesaikan semua quiz dengan baik, tetep aja ya quiz itu tidak mewakili seluruh pelajaran yang ada. Karena tetep aja menurut saya quiz nya terlalu mudah dan cuma 3 – 6 pertanyaan sederhana dan bisa diulang berkali-kali tanpa penalti hehehehe.

Nah sekarang setelah selesai Coursera, rencananya saya masih akan meneruskan kebiasaan baik untuk belajar Korea ini. Di internet ada banyaaaaak sekali sumber-sumber belajar gratis ataupun berbayar, tapi saya tetep belum mau bayar (cukup bayar Netflix dan Apple Music aja), karena untuk belajar bahasa Korea ini saya gak mau ada perasaan terpaksa, saya mau tetap fun. Saya pilih 1 kursus gratisan dari Internet yang menyediakan podcast (mp3) dan file pdf nya. Mereka juga ada channel YouTube nya. Situs yang saya pilih untuk belajar namanya Talk To Me in Korean.

Situs Talk To Me in Korean ini punya banyak kursus gratisan. Kursus Grammarnya aja ada 9 level. Ada kursus Learn Korean with a Web Drama juga. Nah saya mulai dari awal lagi, sekalian mereview. Pelajaran Korean Grammar level 1 ini terlalu mudah, tapi memang mereka memulai dari kata paling sederhana dan ditambahkan sedikit demi sedikit. Untuk pelajaran belajar dari web drama saya belum dengar, tapi pastinya masih sejalan dengan niat awal belajar bahasa Korea biar bisa nonton Kdrama tanpa subtitle hehehe.

Oh ya, tulisan ini opini pribadi, saya memilih situs ini juga karena gratis dan sepertinya kurikulum mereka cukup jelas langkah-langkahnya. Waktu belajar Coursera kemarin sebenarnya saya agak kewalahan karena diberi fakta terlalu banyak dan akibatnya walau tahu tapi gak semua bisa saya ingat. Model belajar saya butuh banyak repetisi, jadi ya mari kita belajar dari awal lagi, kan katanya lancar kaji karena diulang. Kalau ada yang mau menyarankan situs belajar bahasa Korea gratisan, tulis di komen ya, buat pelajaran berikutnya hehehe.

Ada yang mau ikutan belajar bahasa Korea bareng saya? Kata Joe sih kalau saya tetap konsisten belajar bahasa Koreanya dan berasa ada progress, kalau ada rejeki siapa tau bisa jalan-jalan ke Korea hehehe. Eh tapi, sejak banyak belajar bahasa Korea ini frekuensi menonton kdrama berkurang, soalnya waktunya kepake buat belajar plus buat nulis di blog soal per-Korea-an ini hehehhee. Gak apa lah ya, belajar dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Doain aja semoga saya tetap semangat. Kalau masih semangat pasti akan ada update lagi di blog ini.

Lagu-lagu Project Pop

Tulisan ini masih sambungan tulisan kemaren soal nyobain Apple Music. Nyari-nyari lagu Indonesia yang ketemu lagu cinta melulu. Aduh, nonton kdrama bolehlah isinya romance tapi kalau dengerin musik pengennya yang lebih memotivasi, bukan cuma dengerin kegalauan hati melulu, lagian kadang-kadang tujuannya buat didengerin pas nyetir biar gak ngantuk atau bosan kalau lagi lampu merah.

Membongkar-bongkar ingatan apa ya dulu lagu yang enak didengar, terus ingat sama Kahitna. Nah lagu Kahitna ini walaupun masih rada-rada lagu cinta, tapi masih dianggap enak di dengar (ah alasan, dasar aja gak biasa dengan lagu baru). Nah terus teringatlah dengan lagu-lagu Project Pop.

Dulu setiap kali Project Pop bikin album, saya akan beli kasetnya. Awalnya sejak masih bernama Padhyangan Project dengan lagu nasib anak kost, pertama beli pas jadi anak kost di Bandung hehehe, berasa lagu kebangsaan deh walaupun gak mengandalkan wesel lagi tapi udah pake transfer ke bank dan cek duit di atm saja. Senang aja dengerinnnya karena lagunya lucu-lucu.

Nih coba liat sebagian lirik lagu nasib anak kost

Nasib anak kost tak kenal lelah
Mengikuti mata kuliah
Ya nasib anak kost rajin belajar
Agar hidup tak susah la yaw ya nasib

Aku makan tiap hari
Kadang hanya makan mi
Gimana nggak kurang gizi

Wesel datang tak pasti
Ibu kost tak mau mengerti
Nagih sewa bulan ini ..

Padhyangan Project, Nasib Anak Kost

Padhyangan project ini berubah nama jadi P-Project dan jadi Project Pop. Terakhir beli CD audio Top Of The Pop waktu pulang ke Indonesia setelah di Chiang Mai. Nah setelah itu, saya gak pernah lagi ngikutin apakah ada album atau single yang baru dari Project Pop. Sebelum hari ini, saya hampir lupa dengan Project Pop hehehe.

Hari ini, saya bisa mendengarkan lagi lagu-lagu Project Pop yang lama maupun yang baru, sayangnya album dari Padhyangan Project tidak ada dalam Apple Music, jadi adanya album setelah mereka berubah nama jadi Project Pop. Itupun sudah lumayan banyak sih, dan hasilnya saya senyum-senyum sepanjang hari. Lagu-lagu mereka bukan cuma enak didengar dan nambah semangat, tapi liriknya juga lucu-lucu dan sebagian juga cerita soal persahabatan.

Ini satu potongan lirik lagu Ingatlah Hari Ini yang bikin saya jadi teringat masa-masa kuliah. Sayangnya, beberapa teman gak eksis di medsos dan menghilang dari peredaran. Walau demikian, mereka tetap istimewa sih di hati, dan saya ingat hari-hari itu. Hari-hari di mana teman-teman yang bantuin kalau lagi gak enak body karena sesama anak kost jauh dari orangtua dan keluarga.

Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
S’lamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita t’lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini


Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don’t you worry just be happy

Project Pop, Ingatlah Hari Ini

Jadi kalau kamu belum pernah dengerin lagu Project Pop, dan lagi nyari lagu Indonesia buat didengerin dan nambah semangat, coba deh dengerin lagu mereka. Selain enak didengar, liriknya lucu dan menghibur karena mereka awalnya idenya memang bikin grup parodi tapi cukup kreatif.

Waktu mendengarkan lebih lanjut, eh ada lagu Gara-gara Kahitna, loh kok jadi nyambung dengan pencarian lagu sebelumnya yah. Lirik lagu ini juga lucu, dan musiknya mirip-mirip musik Kahitna.

Setahun kemarin aku enggak ngerti
Gaya merayuku tak sebebas merpati
Ketika ku dengarkan lagu karangan Yovie
Kini aku tahu cara menyatakan cinta
Ku bilang bukan ku ingin mengganggumu
Ijinkan lah aku menyayangimu


Gara-gara Kahitna
Kita pun punya cerita cinta
Gara-gara Kahitna
Bergolak rasa di dada
Tadinya oh tadinya
Aku hampir hampir insomnia
Gara-gara Kahitna
Kau jadi kasih tercinta

Project Pop, Gara-gara Kahitna

Setelah bertahun-tahun gak mengikuti soal Project Pop, saya nemu mereka baru ngeluarin single baru tahun 2017 dan 2018. Walapun baru dengar sekali, saya langsung suka denger lagu mereka. Tahun 2017 single Kalahkan Dengan Cinta, dan 2018 judulnya Coconut.

Nah gak tau deh kenapa mereka bikin judul gak nyambung kayak Coconut, tapi lagunya enak di dengar dan seperti liriknya bilang, lagunya lagu gembira hehehe. Memang ya kalau orang kreatif, apa aja dari ga nyambung bisa disambungin.

Coconut
Buah kelapa
Coconut
Yang aku suka
Coconut
Lagu gembira
Coconut
Mari berdansa
Kamu yang ganteng diujung sana
Kenapa kamu cemberut aja
Coba sini tengok-tengok saya
Kata orang saya mirip Raisa
Hai kamu yang cantik dan manis
Sini ku hibur pakai Bahasa Inggris
Are you smiling atau meringis
But I gonna say I love you may
Coconut
Buah kelapa
Coconut
Yang aku suka
Coconut
Lagu gembira
Coconut
Mari berdansa
Kamu yang single maupun yang double
Kids jaman now or kids jaman old
Hilangkanlah duka sedih di hati
Project pop sudah hadir di sini
Coconut
Buah kelapa
Coconut
Yang aku suka
Coconut
Lagu gembira
Coconut
Mari berdansa
Apapun yang kau rasakan
Dalam hatimu saat ini
Jangan sensi macak orang sakit gigi
Walau kamu sendirian
Asal hati nggak kesepian
Jangan ragu…

Project Pop, Coconut

Kalau mau dengerin lagu-lagu yang saya sebutkan (atau lagu-lagu Project Pop lainnya, saya lihat kebanyakan ada di YouTube juga, tapi lebih baik lagi kalau beli ya, kan mendukung karya anak bangsa. Saya belum beli sih, tapi kan udah langganan Apple Music hehehe. Mudah-mudahan Project Pop ada album baru deh, biar nambah koleksi di playlist.

catatan: tulisan ini opini pribadi dan saya gak dibayar sama sekali oleh Apple Music ataupun Project Pop.

Nyobain Apple Music di Thailand

Sejak gak kerja lagi, saya jarang sekali mendengarkan musik. Udah gak pernah tau lagu apa yang baru atau enak di dengar. Joe juga ga terlalu dengerin musik, tapi ya kayaknya dia di kantor karena semua orang pake earphone jadinya juga masihlah nemu 1 atau 2 lagu yang enak didengar.

Oh ya, dari nonton film juga kadang-kadang jadi nemu lagu-lagu enak seperti soundtrack Frozen, Plane, Sing, beberapa lagu anak-anak semuanya pernah dibeli dari itunes. Nah karena kemaren nonton kdrama Phantom jadi inget lagi dulu pernah beli CD Audio Phantom of the Opera abis nonton filmnya (masa itu belum musim beli musik dari iTunes), tapi sekarang ga nemu lagi cd nya di mana. Nah Joe jadi kepikiran untuk mencarinya di Apple Music.

Di Thailand kebetulan promosi mencoba Apple Music itu gratis selama 3 bulan. Nah ya, walaupun waktu daftar harus masukin kartu kredit, tapi bener-bener free of charge selama 3 bulan pertama. Kalau mau dibatalkan setelah 3 bulan juga bisa hehehe. Biasanya sih kalau memang menarik, layanan begini akan kami pakai terus seperti halnya Netflix, ini salah satu usaha untuk hidup legal.

Kembali ke soal dengerin musik, sekarang ini satu-satunya kesempatan saya buat mendengarkan musik itu kalau lagi di mobil. Salah satu bukti kami tidak terlalu mencari musik terbaru adalah: di mobil kami cd musiknya cuma ada 2, musik lagu anak-anak dan musik lagu natal. CD musik itu udah ada sejak Jonathan masih kecil hahahah. Sekarang ini cd nya sudah mulai susah dibaca dan kalau dipasang mulai melompat-lompat nyanyiannya. Oh ya, mobil kami belum ada slot usb buat music playernya, jadi ya makanya dulu burn CD sendiri. Nah, karena CD nya mulai gak bagus, akhirnya sekarang beralih pasang music dari HP aja pake kabel AUX.

Bulan lalu, saya streaming dari YouTube tiap kali pasang musik, akibatnya paket data kritis di akhir bulan hahaha. Nah terus masalah berikutnya, kalau di HP itu, tiap pindah dari aplikasi youtube, lagunya berhenti. Setelah saya komplain masalah ini, Joe bilang: loh kenapa gak pake Apple Music aja? Nah loh, saya kan gak pernah tau soal Apple Music ini kalau gak dikasih tau hahaha. Dengan agak ragu-ragu saya tanya: tapi kan aku gak pake iPhone, emang Apple Music bisa di Android? Hahaha aduh, bener-bener deh mulai gaptek ya jadinya kalau ga banyak mau. Apple Music ini sifatnya ya kayak aplikasi music bawaannya Android juga, bisa tetap jalan di background, bahkan ketika buka aplikasi Google Map atau Pokemon Go, ya tetep denger lagunya, malah jadi denger suara double.

Udah kepanjangan intronya. Singkat cerita, Apple Music itu ada aplikasinya untuk Android juga. Nah, untuk loginnya saya pake aja loginnya Joe biar librarynya juga bareng, tinggal bikin playlist terpisah aja. Berdasarkan pemakaian 2 hari ini saya kesenangan membrowse musik-musik yang ada. Musiknya bisa di dengar streaming ataupun didownload. Bisa menambahkan beberapa playlist tentunya dan kalau gak tau mau nyari lagu apa, ada juga channel sejenis Radio yang playlistnya udah mereka siapin. Ada daftar lagu yang populer sepanjang minggu ini, ada juga top 100 music global dan lokal. Banyak pilihan deh kalau gak tau mau milih apa.

Berikutnya tentunya yang saya lakukan adalah:

  • cari musik Indonesia yang baru maupun yang dulu sering di dengar.
  • dengerin lagu-lagu Thailand juga (nah ini kurang familiar sebenarnya)
  • cari lagu yang sama dengan yang ada dengan playlist di CD mobil yang mulai rusak.
  • gak kalah penting, cari musik ost drama Korea dong!

Terus melengkapi kesenangan hati adalah, banyak lagu yang dilengkapi dengan liriknya, jadi bisa sing along kalau mau, atau kalau mau rajin bisa untuk belajar baca Korea ataupun Thai. Sekarang sih masih ngumpulin playlist aja dulu hehehe. Supaya lebih berguna, bangun pagi sekarang bikin playlist lagu yang semangat tinggi biar lebih semangat nyiapin sarapan dan siap-siap kegiatan harian.

Oh ya, kalau saya lihat harga berlangganan Apple Music ini berbeda di Thailand, Indonesia dan Amerika. Di Asia harganya lebih murah, paling murah itu harga mahasiswa/pelajar. Kalau kata Joe sih, misalnya memang berguna menghibur ya nanti bisa dipertimbangkan bayar. Kalau gak bayar lagi soalnya nantinya file-file yang di download tidak akan bisa diakses juga.

Mungkin akan ada yang nanya, kenapa gak makai Spotify atau Google Music? Saya sih alasannya sederhana: karena Joe udah daftar Apple Music aja sih dan lagu-lagu yang pernah kami beli dulu semuanya ada di library Apple Music juga. Lagipula Goggle Music belum masuk ke Thailand. Kelemahan Apple Music ini tentunya ada juga, beberapa lagu tidak bisa diakses dari region Thailand. Sejauh ini sih cukuplah, kita lihat saja berapa lama saya bertahan mendengarkan musik setiap hari.

Update 23 April 2019

Ternyata kalau saya dan Joe berbarengan menyalakan Apple Musicnya akan ada peringatan lebih dari 1 device mengakses musik dan menyarankan untuk upgrade ke family plan. Sekarang ini karena lagi masa trial bisa dicoba dengan buka account trial 1 lagi, atau ya udah gantian aja makeya, toh Joe pas jam kerja juga gak terus menerus dengerin musik dan saya di rumah juga ga pasang musik sepanjang hari.

Buku-Buku Homeschool Term Depan

Hari ini pak pos datang pagi-pagi ke rumah, nganter paket buku Homeschool CLE term yang akan datang. Kami pesan dari tanggal 26 Maret 2019 lalu dan baru sampai hari ini. Sengaja sih mesannya dari sekarang, karena pengalaman kalau mesannya berdekatan dengan pergantian tahun ajaran, semua orang juga lagi mesan dan mereka lebih lama lagi memproses orderannya.

Buku-buku CLE ini kami pesan dari situsnya langsung, dikirim dari Amerika dengan ongkos kirim sebesar 20 persen dari harga bukunya. Ongkos kirim internasional ini flat rate, dan dibandingkan dengan kurikulum lainnya, CLE ini yang paling murah ongkos kirimnya. Tapi kami memilih kurikulum ini bukan karena masalah ongkos kirimnya saja, tapi karena kurikulumnya juga sudah teruji dan dipakai lebih dari 30 tahun. Dari pengalaman memakai kurikulum ini sejak Jonathan kelas 2 dan tahun ini akan selesai kelas 3, kami cukup puas dan melihat Jonathan cukup bisa mengerjakan pelajarannya dengan mandiri.

Ayo tebak, buku sebanyak ini harus bayar berapa? buku-buku ini untuk kebutuhan Jonathan kelas 4 semester pertama, kami juga beli buku petunjuk untuk guru supaya saya gampang ngecek kerjaan Jonathan dan juga buku untuk Joshua kalau dia sudah siap untuk mulai kegiatan sekolah di rumahnya. Buku untuk Joshua ini untuk preschool dan TK, jadi bisa dipakai untuk 2 tahun ke depan, tapi ya rencananya sih saya hanya akan memberikan Joshua pekerjaan kalau dia memang mau melakukannya. Saya belum berniat serius menghomeschool Joshua, biar dia puas main-main dulu.

Jonathan senang banget melihat buku-buku semester depan sudah datang, padahal buku untuk kelas 3 sekarang ini masih di buku 9 pertengahan. Kalau semua lancar, paling awal Juni baru selesai semuanya. Tapi ya namanya homeschooling, bisa aja kalau Jonathan lagi semangat dia dibujukin mempercepat selesainya dengan iming-iming biar bisa libur lebih awal hehehe. Masalah kapan akan memulai semester berikut juga tergantung Jonathan, bisa libur cuma 2 minggu, bisa juga libur 1 bulan kalau mau sebelum mulai pelajaran kelas 4.

Tadi Jonathan langsung ambil buku bacaannya, dari dulu dia paling senang membaca cerita-cerita dalam buku pelajaran Reading. Terus dia komen, loh kok Readingnya cuma sampai buku ke – 5? Nah jadi ceritanya kelas 4 itu pelajaran terstuktur membacanya dikurangi, dalam 1 tahun cukup 5 buku saja (biasanya 10), nah pelaksanaanya terserah apakah 5 buku itu dibagi jadi 2 semester atau mau 1 semester selesaikan 5 buku dan semester depannya kasih buku-buku lain atau pelajaran bebas.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, ngapain buku Preschool dan TK buat Joshua udah dipesen sekarang, padahal belum berencana memulai program sekolah di rumah untuk Joshua. Ya, saya pengen lihat aja isinya. Sekarang ini Joshua kemampuan akademisnya sebenarnya sudah seperti anak SD kelas 1, dia udah bisa membaca banyak kata (bahasa Inggris) baik dengan cara sight words ataupun dengan mengeja. Joshua juga sudah mulai mengerti operasi penjumlahan dan pengurangan dan sangat rajin berlatih sendiri. Tapi saya pingin dia dapat dasar yang benar, belajar hal-hal sederhana mulai dari menarik garis lurus dengan cara memegang pensil yang benar. Jadi ya, saya gak akan memburu-buru dia untuk bisa melakukan semua dengan benar, tapi gak ada salahnya mempersiapkan supaya nantinya bisa memulai sedikit demi sedikit.

Nah kembali ke pertanyaan pertama, udah ada yang berhasil nebak harga buku-buku yang kami beli ini? Harganya tentunya lebih murah dari uang sekolah Internasional. Total belanja dengan ongkos kirim cuma 262.50 USD. atau sekitar 3,7 juta rupiah. Mahal? ya nggak dong, itu kan buat 2 anak, yang satu untuk 1 semester (6 bulan), dan anak 1 lagi untuk 2 tahun pelajaran. Biaya bayar gurunya yang mahal, emaknya kudu sedia waktu buat 2 anak hehehe.

Rincian pesanan

Tadinya kami berniat untuk memesan buku pelajaran Jonathan sekalian untuk 1 tahun, tapi gak jadi karena gak ada tempat nyimpannya juga di rumah. Lagipula, entah kenapa ada perasaan senang aja pas nerima buku-buku homeschool ini. Jadi saya ingin membagi kesenangan saya menjadi 2 kali menerima buku dan bukan cuma sekali hehehhe. Nanti kalau sudah mulai pelajaran kelas 4, pesanan untuk semester berikutnya biasanya akan jauh lebih murah, karena gak perlu beli buku untuk Joshua lagi dan juga buku untuk gurunya sudah digabung dalam pembelian yang sekarang.

Pilih-pilih Mie Instan

Hari ini sewaktu belanja mencari keperluan anak-anak, mata ini tertuju ke deretan mie instan yang terpajang di rak. Terlepas dari berbagai berita mengenai mie instan yang kabarnya begini dan begitu, kami masih tetap mengkonsumsi mie instan sesekali. Prinsipnya, apapun yang kebanyakan memang tidak baik, tapi kalau masih sesekali ya masih oke-oke aja.

Sejak beberapa tahun lalu, kami menemukan Indomie goreng tersedia di Thailand, tentunya dengan harga lebih mahal daripada di Indonesia. Tapi ternyata kalau dibandingkan dengan harga ramen dari Korea, harga Indomie goreng masih lebih murah.

Ini postingan sekedar iseng, saya lagi iseng aja pengen banding-bandingin mie instan yang bisa dibeli di Chiang Mai. Saya ga akan membahas semua jenis mie instan, tapi ya saya tulis yang tadi saya beli saja hehehe. Saya akan bahas perbandingan Indomie goreng dari Indonesia, Ramen Jajangmyon Samyang dan Ramen Cheese Ottogi dari Korea dan Mama mie muusap dari Thailand. Dari keterangan yang ada di kemasan, 2 mie pertama ada label halalnya, sedangkan 2 yang berikutya tidak ada. Oh ya, jajang ramen ini juga jenisnya stir fry noodle tapi di rebus bukan di goreng hehehe.

Andaikan Indomie kari ayam ada di jual di Thailand, saya udah pasti gak pake iseng-iseng nyobain berbagai mie instan ini karena udah jelas juaranya Indomie kari ayam, tapi karena adanya cuma Indomie goreng, itupun jadilah buat lepas kangen sesekali hehehe. Di sini kayaknya lebih banyak mie ramen dari korea daripada mie instan dari Indonesia. Mungkin lebih banyak orang Korea merantau ke Thailand ya daripada orang Indonesia. Padahal ramen koreanya lebih mahal.

Ramen Korea aneka rasa dan merk, baru nyoba 2 jenis dari sebanyak ini

Nah, sebelum masuk ke perbandingan 4 mie instan, saya juga menemukan ada Indomie goreng dalam cup di sini. Harganya tentunya lebih mahal daripada Indomie goreng dalam bungkusan. Ih coba ya pop mie gitu masuk sini, jangan cuma Indomie gorengnya aja. Ngomong-ngomong, apakah di Indonesia juga sekarang ada Indomie goreng dalam cup?

Indomie goreng dalam Cup, harga satuan 29 baht

Nah sekarang kembali ke topik utama. Pembahasan pertama tentunya yang paling disukai dan termasuk anak-anak mau makanya: Indomie Goreng. Harga satuannya antara 15 baht sampai 17 baht. Tersedia di Tesco Lotus, Tops dan 7 eleven. Gak ingat apakah ada di Big C. Beberapa waktu lalu di 7 Eleven pernah ada promosi harganya turun jadi 10 baht saja (saya langsung borong belinya hahaha). Oh ya, karena saya lagi malas berhitung, saya kasih tahu saja hari ini 1 baht itu 444 rupiah, jadi hitung sendiri ya berapa rupiahnya hehehe (waktu kami baru datang 1 baht itu 275 rupiah).

Nah sekarang lihat harga Cheese Ramen, 1 nya 46 baht, bisa dapat berapa indomie goreng tuh! Secara kemasan memang cheese ramen ini lebih berat (111 gram) dibandingkan Indomie goreng yang cuma 85 gram. Secara tekstur, ramen korea ini mie nya agak mirip dengan tekstur indomie rebus. Jadi not bad lah ya, cuma ya tetep aja mahal hehehe. Untuk Ramen jajang tidak ada dijual kemasan satuan, mereka menjual 1 pack isi 5 seharga 98 baht, jadi kira-kira 1 bungkusnya 20 baht. Mama mie muusap yang produksi thailand saya beli pack isi 10 seharga 53 baht, jadi harga perbungkusnya sekitar 6 baht.

Dari informasi mengenai nutrisinya, Indomie goreng ini 85 gram per bungkus dan memberikan 420 kilokalori. Sedangkan cheese ramen 111 gram memberikan 470 kilokalori. Jajang ramen 80 gram memberikan 320 kilo kalori. Mama mie muusap yang paling ringan nih, 60 gram menghasilkan 250 kilo kalori. Jadi memang yang paling murah itu paling ringan dan paling sedikit memberi tenaga. Tapi kalau dimakannya pakai telur, udah cukuplah ya mama mie juga hehehe.

Nah berikutnya masalah rasa. Pertama kali saya mencoba cheese ramen itu karena saya pikir Joshua akan suka. Ternyata, entah kenapa dia gak suka sama sekali. Padahal Joshua itu masih mau makan Indomie kari ayam, mama mie dan Indomie goreng. Jonathan sih suka aja, tapi kata dia rasanya agak terlalu pedas (padahal perasaan gak dicampurin cabenya). Untuk jajang ramen, karena baru nemu hari ini saya belum suruh anak-anak coba, tapi tadi saya penasaran dan masak deh 1 bungkus. Isinya cuma mie dan seperti kecap. Rasanya terlalu manis, tapi tekstur mie nya mirip dengan tekstur Indomie. Tekstur mama mie itu agak berbeda dengan tekstur indomie, menurut saya agak terlalu tipis dan kurang sip (gak tau gimana mendeskripsikannya). Tekstur cheese ramen sebenarnya mirip dengan tekstur Indomie rebus, tapi mungkin Joshua ga suka karena masalah rasa.

Di bungkusan jajang ramen tidak ada petunjuk cara memasaknya, tapi saya asumsi aja masaknya direbus kayak nyiapin mie goreng, lalu airnya ditiriskan dan dicampur deh dengan sausnya. Sekilas nih kalau dilihat walau beda cuma 5 gram dibandingkan indomie goreng, tapi perasaan dikit banget deh. Oh ya, tadi saya iseng aja karena ada wortel di rumah, saya rebus mienya campur wortel dikit.

Rasa jajang ramen ini menurut saya terlalu manis. Mungkin lain kali bisa dikurangi campuran sausnya biar ga terlalu manis. Besok-besok bisa dicoba ke Joshua siapa tau dia mau makan juga. Pernah sekali pesan jajangmyeon di restoran korea, Joshua ga mau nyoba sama sekali, mungkin juga tampilannya gak menarik jadi dia ogah duluan hehehehe.

Nah demikian pembahasan mie instan hari ini. Yang pasti Indomie tetap juaranya, harganya juga pertengahan lah hehehe. Kalau beli dari Indonesia sih harga Indomie rasaya jadi murah daripada beli di sini hehehehe. Tapi jangan sering-sering makan mie instan, ini sih buat makanan sesekali kalau lagi kehabisan ide mau masak apa bolehlah hehehehe.

Tips WordPress

Hari ini, seorang teman di group KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional) kehilangan tulisan yang sudah dia simpan di wordpress. Saya juga pernah mengalaminya, dan rasanya aduhai sebel karena udah nulis panjang lebar, loh kok malah hilang. Berhubung hari ini belum kepikiran mau nulis apa, ya sekalian deh nulis beberapa pengalaman memakai wordpress. Semoga saja berguna untuk teman-teman yang lain.

Mengembalikan tulisan yang pernah disimpan

Untuk kasus saya, waktu itu nulisnya di aplikasi wordpress android. Saya yakin udah pernah simpan bebeberapa kali malah draftnya. Nah giliran mau publish loh kok hilang. Untungnya Joe kasih tau saya kalau sekarang wordpress itu menyimpan versi revisi sebelumnya setiap kali kita menyimpan draft kita. Jadi kita bisa bandingkan versi sebelumnya dengan versi terakhir yang kita punya, dan kita bisa kembali ke versi sebelumnya.

Menulis di handphone ataupun komputer, kita bisa tanpa sengaja memencet tombol select all- cut ataupun delete. Makanya sejak itu saya selalu membiasakan diri untuk menyimpan draft tulisan walaupun di wordpress juga sudah ada fitur autosave setiap beberapa menit.

Rasanya lebih baik kehilangan beberapa paragraph daripada kehilangan mood karena tulisan hilang dan harus memulai dari awal lagi. Nah caranya gimana?

  • Langkah pertama: jangan panik hehehe. Buka laptop dan masuk ke situs wordpress.
  • Dari dalam wordpress, buka posting yang hilang dan klik tombol setting dan lihat bagian Document.
  • Berikutnya dari Document bisa dilihat berapa versi Revisions yang ada, dan coba periksa masing-masing revisi itu mana versi yang paling lengkap.
Buka settings – revisions
  • Kita bisa membandingkan 2 versi revisi yang pernah kita simpan, dan pilih mau dikembalikan ke versi yang mana
kembali ke versi revisi yang diinginkan
  • Lanjutkan menulis dan jangan lupa sering-sering menyimpan tulisan kalau memang laptopnya mau ditinggal hehehe.

Menjadwalkan waktu menerbitkan tulisan

Ada hari-hari di mana saya punya lebih dari 1 ide tulisan sehari. Supaya gak lupa, saya sering tulis dulu lalu simpan sebagai draft. Kita bisa set kapan tulisan itu mau diposting, apakah besok atau minggu depan atau tanggal yang sudah lewat sekalipun. Caranya gimana?

ganti tanggal publish dari immediately ke tanggal yang diinginkan

Masih dari setting Document, pilih bagian Status & Visibility, ganti setting publish Immediately (segera), menjadi tanggal dan jam yang baru. Dengan posting terjadwal, besok kita gak harus menulis lagi, tulisannya otomatis terpublish pada waktu yang dijadwalkan.

Mengganti link tulisan (permalink)

Kadang-kadang, kita ingin tulisan kita punya link yang merepresentasikan isi tulisan kita. Sebenarnya wordpress sudah secara otomatis memberikan permalink sesuai judul blog kita, tapi bisa saja judulnya terasa terlalu panjang, jadi kita pengen ganti yang lebih mudah diingat. Nah untuk ini juga bisa dilakukan, caranya dari setting Document – Pilih Permalink dan ganti deh sesuai dengan yang diinginkan.

tuliskan nama url yang diinginkan

Pengaturan permalink di blog kami memang selalu akan ada tahun/bulan/tanggal dan judul, kalau misalnya kita gak mau ada indikasi tanggal tapi langsung judul bisa gak? bisa dong. Caranya?

Menu Pengaturan Permalink

Dari menu pengaturan permalink kita bisa mengubah mau seperti apa url tulisan kita nantinya.

Sepertinya hari ini cukup itu dulu tipsnya, kapan-kapan kalau ada yang nanya lagi bisa ditulis lagi hehehehe. Semoga bisa bikin tambah semangat ngeblog karena tulisan berhasil selamat, terjadwal dan juga bisa nulis dengan url yang menarik 🙂