Review: Kumon Thai

Catatan: Tulisan ini merupakan review mengenai belajar membaca dan menulis bahasa Thai di Kumon Thailand, saya tidak dibayar untuk tulisan ini.

Sejak Homeschool, Jonathan saya ikutkan kelas Kumon Thai sebagai bagian dari belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Awalnya saya tahu Kumon itu untuk Matematika dan Bahasa Inggris saja, eh ternyata ada juga untuk pelajaran bahasa Thai.

Setelah ikutan tes, Jonathan mulai dari level paling awal Word Building Block (7A) dan sekarang sudah sampai level Sentence Building Block (B I) dalam waktu 2 tahun. Lama? ya nggak juga, karena setiap level itu diulang sampai anaknya bisa lulus testnya untuk naik level. Jadi dipastikan anaknya memang sudah mampu untuk naik level.

Belajar bahasa Thai dengan metode Kumon ini lebih cocok untuk Jonathan dibandingkan ikut kelas kursus grup ataupun privat. Kelas Kumon Thai ini menjadi bagian dari homeschool kami, nilainya juga bisa diperoleh setiap kali dia ada ujian kenaikan level.

Cara belajar di Kumon Thai mulai dari awal yang kami jalani ini sebagai berikut:

  • pertama anak akan di nilai level bahasa Thai nya sampai mana. Karena waktu itu Jonathan sempat sekolah di sekolah yang full berbahasa Inggris, kemampuan bahasa Thai Jonathan yang pernah ada waktu kecil menghilang. Jadi dia harus mulai dari awal lagi (level 7A)
  • anak akan diminta untuk mengerjakan lembar kerja setiap harinya (5 hari seminggu) dan 2 hari seminggu mengerjakannya di kumon center.
  • pekerjaan anak harus dikerjakan tidak lebih dari 30 menit dan anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri.
  • lembar kerja yang diberikan sekitar 10 lembar (2 sisi per lembar), jika waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dinilai lebih dari 30 menit, maka pemberian lembar kerja bisa dikurangi per hari nya.
  • lembar kerja yang sudah dikerjakan akan dikoreksi oleh instruktur kumon di kumon center, kalau ada yang salah, anak diminta untuk memperbaiki sampai tidak ada yang salah.
  • tidak ada hari libur dalam mengerjakan lembar kerja, hal ini untuk membangun kebiasaan rutin setiap harinya, lagipula mengerjakan kumonnya tidak memakan waktu lama.
  • instruktur kumon merupakan orang yang sudah mendapat pelatihan khusus, mereka membantu anak dengan memberikan petunjuk dan bukan memberikan jawabannya langsung.
  • dalam 1 level, akan ada pengulangan set lembar kerja beberapa kali sampai anak dinilai bisa lulus untuk test naik ke level berikutnya.
  • lamanya anak berada dalam 1 level tergantung dari masing-masing anak, dan bukan dari ukuran berapa bulan. Ketika anak lulus test naik level, akan ada laporan berapa kali lembar kerja level tersebut diulangi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk anak itu menjalani level tersebut.
Level kumon Thai mulai dari bawah ke atas

Metode Kumon ini cocok untuk Homeschool karena:

  • Mulai dari yang paling mudah dan tingkat kesulitannya meningkat sesuai dengan kemampuan anak, jadi anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri (self study)
  • Anak terbiasa dengan rutin harian mengerjakan kumon, kalaupun hari libur, anak tetap diberikan lembaran kerja untuk dikerjakan.
  • Umumnya dengan kebiasan berlatih sedikit setiap hari, anak akan lebih maju daripada level yang dipelajari di sekolah.
  • Ketika di kumon center, anak belajarnya bukan dalam setting kelas besar, tapi gurunya mengajar tiap anak 1 demi 1. Setiap anak diajar secara khusus sesuai dengan tingkatannya, dengan begini anak tidak perlu merasa ketinggalan dari teman-temannya. Kalau ada bagian yang tidak dimengerti bisa ditanyakan langsung.
  • Materi diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak, tidak ada anak yang harus stress karena tidak mengerti ketika mengerjakan.
  • Waktu pengerjaan lembar kerja yang dibatasi tidak lebih 30 menit, untuk menghindari anak merasa bosan mengerjakan lembar kerjanya.

Bagaimana dengan kumon matematika dan bahasa Inggris? nah ini saya ga bisa banyak kasih opini, karena Jonathan tidak kami daftarkan untuk 2 pelajaran tersebut. Kemampuan matematika dan bahasa Inggris Jonathan saat ini lebih dari cukup, jadi kami tidak merasa perlu untuk menambah pekerjaan sekolahnya.

Dari cerita salah seorang teman kami yang anaknya ikut kumon Math. Anaknya yang awalnya ketinggalan dalam pelajaran Matematika, sekarang ini sudah melebihi kemampuan pelajaran Math di sekolah. Efeknya ya tentunya anak jadi gak takut buat belajar matematika. Anaknya juga setiap hari mengerjakan kumon tanpa disuruh oleh orangtuanya di rumah.

Dulunya, saya juga agak meragukan metode Kumon, tapi ternyata keraguan saya karena saya gak kenal Kumon. Sayangnya di tempat Jonathan ikut Kumon, kelas Kumon ini khususnya untuk anak sekolah, bukan seperti tempat kursus bahasa Thai, jadi saya gak bisa merekomendasikan misalnya ada orang dewasa ingin belajar baca tulis Thai dengan metode Kumon ini hehehe.

Manfaat Ikut Komunitas Spesifik

Dahulu kala (duh kayak mau nulis dongeng) saya mengikuti banyak sekali miling list alumni. Mulai alumni SMA, alumni Kuliah, alumni angkatan dan grup-grup besar lainnya. Bergabung di komunitas online dengan terlalu banyak orang ternyata tidak cocok untuk saya. Bukan saya gak suka bergabung dalam sebuah komunitas, tapi sekarang ini saya menyadari kalau saya lebih suka gabung dengan komunitas yang spesifik.

Sekarang ini, komunitas online yang saya ikutin di Facebook grup ataupuan WhatsApp Grup lebih sedikit dan lebih terarah topiknya, antara lain: komunitas merajut, komunitas menulis, komunitas homeschooling dengan kurikulum yang sama dan juga ga ketinggalan komunitas penggemar kdrama hahaha. Oh ya saya bergabung juga di komunitas orang Indonesia di Chiang Mai karena jumlah kami hanya sedikit di sini dan tentunya supaya gampang kalau ada yang butuh info seputar Chiang Mai.

Lebih Fokus

Kalau jumlah anggotanya terlalu banyak dan tidak ada topik khusus, saya tidak bisa mengikuti setiap percakapan yang ada dan topiknya terlalu kemana-mana, sedangkan kalau komunitas dengan topik tertentu, biasanya pembahasannya gak akan terlalu jauh meluas dan melebar, walaupun kadang-kadang dalam grup menulis bisa jadi pembahasannya resep soto atau topik kdrama hahaha. Tapi sebenarnya topik tersebut masih berhubungan dengan dunia menulis, karena biasanya pencetusnya ada yang menulis soal resep, dan jadilah membahas gimana menulis resep yang menarik dan mudah dibaca. Bisa juga kalau ada yang menulis review soal film, jadilah yang lain merespon misalnya gimana menulis review yang menarik tanpa spoiler.

Lebih Produktif

Manfaat yang paling terasa bergabung dengan komunitas menulis sekarang ini saya bisa menulis setiap hari. Kadang-kadang ada rasa kehabisan topik karena tidak menemukan hal menarik untuk ditulis, tapi dengan obrolan yang ada di grup, biasanya jadi tetap bersemangat menggali ide-ide yang ada dan mengusahakan untuk tetap berlatih menulis setiap harinya.

Komunitas homeschooling juga memberikan perasaan senasib kalau membaca ada orangtua yang berkeluh kesah misalnya anaknya hari itu agak banyak melamun. Ada kalanya juga komunitas homeschooling memberikan ide bagaimana mengajarkan suatu topik tertentu yang sepertinya sulit untuk dimengerti. Ketika melihat anak-anak homeschool sukses menyelesaikan sampai jenjang sekolah menengah dan melanjutkan ke perguruan tinggi dengan beasiswa, disitu perasaan lelah menghomeschool tergantikan menjadi perasaan optimis.

Komunitas merajut lain lagi ceritanya, saya bergabung dengan komunitas lokal yang bertemu sekali seminggu. Nah minggu lalu akhirnya saya bisa datang ke pertemuannya, setelah sekian lama menunda memulai saya jadi lebih bersemangat dan memulai untuk merajut lagi. Rencananya saya akan tetap datang setiap minggu supaya semangatnya gak hilang lagi hehehe.

Belajar hal-hal baru

Dalam komunitas menulis yang saya ikuti, ada banyak alasan kenapa teman-teman saya itu menulis. Dari berbagai alasan, tentunya ada yang sudah lebih lama berkutat di dunia menulis dan ada yang angin-anginan seperti saya. Dari komunitas menulis ini saya mendapatkan banyak hal baru seputar dunia menulis. Mulai dari terminologi, tips praktis dan juga informasi kalau mau ikutan lomba menulis (walau yang ini belum kepikiran untuk ikutan).

Di komunitas homeschool, saya juga banyak belajar dari orang yang sudah lebih dulu menghomeschool anak-anaknya. Belajar mulai cara memilih kurikulum, merencanakan jadwal belajar, bagaimana nantinya mempersiapkan laporan nilai. Di komunitas homeschool yang saya ikuti, tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Kalau misalnya ada orangtua yang bingung kenapa pertanyaan jawabannya A dan tidak mengerti membaca penjelasan di kunci jawaban, anggota yang lain siap memberikan masukan dan bahkan link ke youtube kalau ada.

Di komunitas merajut, saya yang sudah lama gak baca-baca soal merajut juga jadi kembali diingatkan dengan berbagai terminologi merajut. Kadang-kadang bahkan jadi tau ada teknik spesifik yang saya belum pernah ketahui sebelumnya.

Bertukar Informasi Spesifik

Untuk hal ini sih setiap komunitas pastinya ada pertukaran informasi. Tapi dengan komunitas spesifik, tentunya informasinya lebih menarik untuk kita dibanding dengan informasi umum yang bisa di baca di situs berita. Kita bergabung ke komunitas spesifik karena kita menaruh minat terhadap topik spesifik tersebut otomatis informasi yang ada akan lebih menarik untuk kita.

Bebas Politik dan Flame War

Nah ini yang paling penting. Dulu sering kali dalam komunitas besar, ada saja yang suka mengirimkan berita politik ataupun memulai penghinaan (flame war) yang akhirnya bikin ribut. Hal ini gak pernah terjadi dalam komunitas spesifik. Setidaknya tidak terjadi dalam komunitas yang saya ikuti. Ada aturan tertulis ataupun tidak, biasanya anggota komunitas spesifik tidak suka memposting hanya untuk memancing keributan. Semua anggota fokus dengan topik yang diminati bersama.

Sekarang ini saya ikut komunitas kalau berasa manfaatnya saja. Kalau komunitas tidak ada manfaatnya dan hanya bikin rusuh, rasanya gak ada waktu buat membacanya. Kalau komunitas kdrama apa dong manfaatnya? ya itu sih buat tukar cerita aja kalau udah sama-sama nonton bahas bagus dan kurangnya apa, kalau belum nonton biar tau bagus tidaknya buat ditonton hehehe.

Kdrama: Hyde Jekyll, Me

Kdrama Hyde Jekyll, Me ini merupakan drama tahun 2015 yang diperankan Hyun Bin (sebagai Mr Goo dan Robin) dan Han Ji-Min (sebagai Jang Ha-Na). Film ini merupakan salah satu film yang waktu itu menurut saya agak berbeda dari kdrama lain yang saya tonton. Saya mulai menonton krama akhir tahun 2018, jadi bisa dibilang, saya masih berkenalan dengan kisah-kisah dalam kdrama waktu itu. Kesan saya waktu itu bisa dibaca di posting ini.

sumber: dari internet

Karena lagi bosan nonton kisah kdrama yang begitu-begitu saja, saya merasa butuh cerita yang ada variasi. Setelah mencoba melihat beberapa film lain tapi gak merasa kliknya, akhirnya saya pilih nonton ulang HJM. Oh ya, walau genre drama ini romance, comedy dan drama, menurut saya comedy-nya kurang banyak dibandingkan porsi drama kehidupan. Ada beberapa bagian yang terasa lambat dan terlalu sedih, tapi ya kalau dipikir-pikir begitulah kehidupan, gak bisa terus-terusan happy juga dan pasti ada bagian sedih-sedihnya.

Nonton ulang kdrama itu mungkin buat sebagian orang gak menarik lagi, tapi ternyata saya banyak lupanya hehehe, dan setelah menonton ulang jadi melihat kalau plot dalam Hyde Jekyll, Me ini ada banyak scene standar yang sering muncul dalam kdrama lainnya.

Walaupun ada banyak plot standar dalam drama ini, banyak juga hal-hal yang menarik bisa dilihat dalam drama ini. Berikut ini beberapa scene standar kdrama yang muncul dalam Hyde Jekyll, Me (saya akan berusaha gak kasih spoiler detail hehehe).

  • Dalam Kdrama, kalau ada 2 pria dan 1 wanita, maka pada akhirnya 1 pria akan tersingkir. Uniknya dalam film ini, 2 pria yang rebutan wanita diperankan oleh orang yang sama. Kisahnya si pria punya kepribadian yang sangat bertolak belakang dan mereka tertarik dengan wanita yang sama. Nah, walau akhirnya udah ketebak, tapi waktu nontonnya, saya jadi gak bisa memilih karakter mana yang akan jadi happy ending dengan tokoh wanitanya. Kalau pemerannya beda, kita bisa tau hampir 100 persen kdrama genre romance berakhir dengan tokoh utama wanita dan pria happy ending. Kalau mereka gak happy ending ya pasti ending menggantung.
  • Dalam drama ini, ada bagian di mana si wanita harus tinggal di rumah yang sama dengan si pria. Kalau udah sering nonton kdrama pasti bisa sebutkan paling tidak 5 drama yang mengambil plot seperti ini.
  • Tokoh pria dan wanita pada awalnya saling membenci, lalu berubah jadi saling suka. Ini juga udah jadi salah satu resep pembuatan kdrama sepertinya.
  • Salah satu tokohnya orang kaya dan tokoh lawannya orang biasa saja dan dalam cerita ini malah pegawainya. Ada yang merasa baru dengan hal ini?
  • Ada scene jatuh dari tangga dan si pria reflek menolong si wanita, lalu scene-nya di freeze beberapa detik hehehhe.
  • Ada beberapa peristiwa walau si pria sebel sama si wanita, tapi secara kebetulan berada pada waktu dan tempat yang tepat untuk menolong. Pertolongan kecil-kecil yang bikin si wanita jadi terbayang-bayang hahaha.
  • Ada scene salah satu tokoh sakit, dan tokoh yang lainnya merawat karena yang sakit gak mau di bawa ke dokter.
  • Tokoh utama wanita dan pria sudah pernah ketemu sebelumnya di masa mudanya.
  • Ada scene si wanita di gendong sama si pria.
  • Ada scene melakukan kebodohan sewaktu kebanyakan minum-minum. Bagian minum-minum ini selalu muncul dalam setiap kdrama, saya gak tau juga apakah memang di Korea sana semua orang terbiasa minum-minuman beralkohol.
  • Ada scene fireworks!
  • ada yang mau ditambahkan?

Awalnya saya merasa 20 episode itu terlalu banyak, karena dalam 10 episode pertama saja hampir semua hal sudah dibeberkan dan si tokoh wanita sudah mengetahui soal pria yang dia pikir kembar itu ternyata adalah orang yang sama. Tapi ternyata, memang butuh 20 episode untuk menguraikan ceritanya secara tuntas.

Saya belum pernah ketemu dengan orang yang punya kepribadian ganda. Kasus ini sangat langka dan saya hanya pernah tahu dari membaca buku saja. Dalam drama ini dikisahkan, kepribadian baru muncul karena trauma masa kecil dan keinginan untuk bertahan hidup. Salah satu garis besar yang diceritakan dalam 10 episode pertama bagaimana si tokoh utama mengkonfrontasi traumanya dan berdamai dengan diri sendiri.

Selain cerita romance, dalam drama ini ada tokoh jahatnya yang ingin mencelakai tokoh utamanya dengan alasan merasa menjadi korban dan mendapat perlakuan tidak adil di masa lalu. Penjahat utamanya udah ketahuan buat penonton cukup awal, tapi butuh beberapa episode untuk menceritakan bagaimana 2 kepribadian si pria akhirnya bekerjasama untuk mencari tahu siapakah orang jahatnya. Sekitar episode 15, si tokoh jahat bisa ketangkap. Tokoh pria bisa mengetahui siapa tokoh jahatnya tidak lepas dari bantuan si tokoh wanita juga tentunya, dan ini membuat si wanita jadi makin dekat dengan 2 kepribadian tokoh pria.

Setelah penjahat ketangkap, harusnya bisa dong episode 16 selesai semua cerita. Kan bisa saja dipercepat saja, entah itu happy ending atau ending menggantung. Tapi penulis cerita kayaknya gak mau menyelesaikan cerita terburu-buru. Setelah kisah trauma dan penjahat tertangkap, barulah dimulai penyelesaian romancenya. Siapakah karakter yang akan bertahan sampai akhir dan apakah endingnya benar-benar bahagia untuk penonton hahahaha.

Nah 4 episode terakhir bukan melulu cerita romance doang, masih ada lagi permasalahan orang yang ingin mendapatkan keuntungan kalau dia bisa membuat si tokoh pria diketahui umum punya kepribadian ganda. Mulai dari menyuruh wartawan mewawancarai dengan pertanyaan jebakan, sampai menyuruh orang menabrak mobil dari belakang supaya si tokoh pria dimintai identitasnya oleh polisi.

Lalu bagaimana penyelesaiannya? apakah akhirnya publik mengetahui kalau Mr Goo dan Robin itu orang yang sama? Lalu siapa yang akhirnya akan dipilih oleh Jang Ha-na? Hahaha nah untuk ini silakan nonton sendiri ya.

Kalau menurut saya sih, drama ini menyelesaikan semua permasalahan secara tuntas dan detail. Dulu saya merasa endingnya agak dipaksakan, setelah saya nonton ulang, saya jadi berubah pikiran dan merasa endingnya sudah tepat dan tidak terkesan terburu-buru penyelesaiannya.

Drama ini merupakan drama pertama saya nonton drama yang diperankan Hyun Bin, saya bisa melihat dia langsung memerankan 2 karakter. Kalau gak disebutkan bahwa dia punya kepribadian ganda, saya mikir karakter Mr.Goo dan Robin itu diperankan oleh 2 orang yang berbeda. Memang pembedanya cuma dari tatanan rambut, pemilihan baju dan ekspresi wajah. Nah ekspresinya beda banget! Karakter yang satu sangat kaku dan serius, karakter satunya lagi sangat santai dan murah senyum. Abis nonton ini. saya liat Hyun Bin di Secret Garden juga memerankan 2 karakter. Jempol buat Hyun Bin, aktingnya keren hehehe.

Review App: Code-a-pillar

Tulisan ini membahas aplikasi gratis Code-a-pillar yang tersedia gratis untuk Android dan iOS. Catatan: tulisan ini opini pribadi, dan saya tidak dibayar untuk menuliskannya.

Selain main Tangram, sekarang ini Joshua suka main game Code-a-pillar dari Fisher Price. Namanya seperti itu karena aplikasinya bertujuan mengajarkan pemrograman sederhana (coding) dengan memberikan instruksi lurus, belok kanan atau belok kiri ke seekor ulat bulu (caterpillar).

Instruksi cara bermainnya diucapkan oleh ulat bulunya, Joshua bisa dengan mudah mengikutinya. Dalam waktu singkat, Joshua boisa menyelesaikan 13 level yang diberikan di dalam aplikasinya, tapi ya dia tetap senang berlatih untuk mengulangi lagi dari awal.

Joshua sudah selesai 13 level

Sekarang ini Joshua mengerti benar mana itu right (kanan) dan left (kiri) walaupun orientasi ulatnya dari berbagai arah. Kalau lurus tentunya dari dulu juga sudah tau hehehe. Selain belajar problem solving/coding, aplikasi ini juga mengajarkan untuk berhitung dan mengenali warna.

video 13 level app Code a pillar

Waktu saya mencari tahu mengenai aplikasi ini, ternyata aplikasi ini merupakan pendamping dari mainan fisik ulat bulu untuk seri belajar: Think & Learn Code-a-pillar. Mainannya terlihat lucu, karena bisa dibongkar pasang untuk menyusun instruksinya. Lalu setelah disusun, tinggal dijalankan untuk melihat hasil dari urutan instruksi yang diberikan. Untuk melihat mainannya bisa dilihat di video berikut:

sumber: https://youtu.be/iYEKD1Befg8

Dan melihat lucunya mainan ini, kami memutuskan untuk memesan mainan ini (yang pengen bapaknya kayaknya, anaknya aja gak tau ada mainannya hahahah). Sebenarnya sekalian juga buat hadiah ulang tahun Joshua yang sebentar lagi 4 tahun, siapa tahu nanti besarnya bisa jadi programmer handal kayak bapaknya hahahha. Mudah-mudahan mainannya sampai pada waktunya dan gak mengecewakan.

App nya sebenarnya sangat sederhana, tapi dengan adanya mainan fisiknya nantinya diharapkan bisa lebih banyak lagi eksplorasi yang dilakukan untuk mengarahkan caterpillarnya, dan sebenarnya code a pillar ini seperti versi lebih awal dari bahasa pemrograman Logo seperti yang ada di buku Secret Coders.

Sosialisasi Keluarga Homeschooling

Sore ini, kami mencoba hal baru untuk sosialisasi Jonathan dan Joshua. Jonathan hampir 9 tahun, tentunya lebih pengen untuk bermain dengan anak seusianya daripada main dengan adiknya yang baru mau 4 tahun. Jonathan pengen nonton Detektif Pikachu, Joshua belum bisa gak berisik di dalam bioskop, jadilah Jonathan pergi sama papanya nonton bareng teman Jonathan dan papanya juga.

Sebelum nonton, Jonathan sempat makan dan main dulu di mall sama temannya. Mereka main pakai koin tapi bisa lama banget karena menang terus. Lumayan cuma 10 baht bisa main lama hehehe, tapi ternyata akhirnya kalau kelamaan dibatasi juga waktunya. Mungkin udah sering kali ya orang main kelamaan gak habis-habis kalau tidak dibatasi waktunya.

Tadinya saya akan berdua saja dengan Joshua di rumah, eh ternyata ada teman yang punya anak usia 4 tahun dan 1,5 tahun yang mau main ke rumah, jadilah kebetulan yang pas banget. Joshua main dengan anak seumurnya juga di rumah. Mainan semua yang ada di rumah dibiarin aja berantakan biar puas hahaha. Mamanya sibuk ngobrol dan mikirin mesan makanan.

Karena Jonathan dan papanya makan di mall, saya gak masak lagi sorenya. Temen saya ngajakin pesen makanan dari restoran Indonesia yang baru buka di Chiang Mai. Sebenarnya harusnya kami bisa aja pergi makan ke restoran, tapi karena menu makanannya kayaknya belum tentu ada yang cocok untuk anak-anak dan juga lokasinya rasa susah parkir, kami memutuskan untuk mencoba pesan makanan delivery saja. Anak-anak dibikin nasi goreng dan telur dadar saja hahaha.

Ada 3 jasa layanan antar makanan di Chiang Mai. Meals on Wheels, Food Panda dan Grab Food. Periksa menu di Meals on Wheels, harga menunya lebih mahal 15 – 20 baht dari harga restoran. Ongkos kirim ke rumah 110 baht. Ini sih mahal banget. Tadinya udah mau berangkat aja ke sana belinya, atau gak jadi pesan di sana. Terus cek di Food Panda, ternyata karena mereka kerjasamanya baru banget, menunya belum ada. Grab Food belum ada kerjasama dengan restorannya. Akhirnya coba telpon langsung ke restorannya. Untungnya restorannya bersedia menerima pesanan lewat telepon dan dibayar via bank transfer. Tapi kami yang harus mikirin deliverynya.

Saya baru tau sekarang ada jasa Grab Express di Chiang Mai. Grab Express ini mengantarkan barang apa saja dengan motor, ongkosnya juga relatif murah, dari restoran itu ke rumah cuma sekitar 56 baht. Jadilah kami berhasil memesan makanan tanpa biaya ekstra per porsinya dan juga biaya delivery yang lebih murah. Jadi teringat dengan isi buku soal berhemat yang baru dibaca beberapa hari lalu, walaupun pesan makanan itu bukan langkah berhemat, tapi sesekali bolehlah ya memanjakan diri dengan pesan makanan dari restoran dan memikirkan mendatangkannya tanpa biaya yang terlalu mahal.

Senang rasanya bisa menikmati makanan Indonesia di rumah, gak kena macet, gak repot cari parkir, gak repot ngurusin anak di restoran, biayanya juga ga sampe berlipat ganda hehehe. Jadi juga deh malam ini makan nasi lemak, nasi kuning, rendang, kerupuk udang, sate ayam, daaaan yang gak kalah penting: sambelnya dooong!. Ada 2 jenis sambal yang dikirim, sambal terasi dan sambal bawang. Aduh itu sambalnya masih nyisa, besok tinggal goreng tempe atau masak bakwan deh buat dicocol ke sambalnya.

Kata siapa anak homeschool gak punya teman? Ini sih bukan cuma anaknya yang bersosialisasi, tapi emak dan bapaknya juga kok. Memang untuk anak homeschool, sosialiasi itu akhirnya lebih ke sosialiasi keluarga bukan cuma sosialisasi anak-anaknya doang. Oh ya, teman Joshua bukan anak homeschool sih, tapi ya mereka datang main ke rumah kan jadi temen buat Joshua hehehe.

Warna apa yang kamu lihat?

Mungkin sudah pernah menemukan posting mengenai gambar yang sama tapi diperdebatkan memiliki warna yang berbeda. Nah biasanya saya hanya bisa melihat kombinasi warna yang itu-itu saja dan tidak pernah berubah. Dan biasanya saya dan Joe juga melihat warna yang sama juga, jadi sering gak percaya kalau foto itu bisa terlihat berbeda warnanya. Tapi beberapa hari ini, saya bisa melihat kombinasi warna berbeda lalu malamnya kembali lagi ke warna yang kemarinnya saya lihat.

Sepatu di bawah ini ada yang bilang berwarna abu-abu dengan garis dan tali hijau muda, tapi sebagian orang juga melihatnya berwarna merah jambu dengan garis dan tali putih. Sebelum saya melihat perubahan warnanya, saya tidak percaya gambar yang sama bisa dilihat warna yang berbeda, tapi bahkan saat saya menuliskan postingan ini, sepatu ini berubah warna di mata saya.

Memang benar kalau kita cenderung tidak percaya kalau tidak membuktikan sendiri. Nah setelah mengalami sendiri, saya jadi ikut bertanya-tanya kenapa kira-kira warna sepatu ini bisa terlihat berbeda.

Gambar berikutnya yang juga pernah viral di internet gambar sendal dan dress berikut ini, warna apa yang kamu lihat?

Saya selalu melihat warna yang sama yaitu putih dan keemasan, sedangkan Joe dan beberapa teman yang saya tanyakan melihat warna yang berbeda, yang ternyata kalau dari hasil browsing dinyatakan warna asli sendal dan dress tersebut adalah biru dan biru tua.

warna asli sendal

Ada beberapa posting dari foto-foto ini menyatakan kalau perbedaan warna yang dilihat terkait dengan dominan otak kiri dan otak kanan, tapi ada juga yang menyatakan kalau perbedaan warna yang kita lihat ini karena faktor asumsi awal dan cahaya yang masuk ke mata dan mengakibatkan kita melihat warna yang berbeda.

Karena penasaran, saya mencari tahu di internet apakah sudah ada yang menuliskan alasan kenapa kita bisa melihat warna yang berbeda. Ada 2 artikel yang saya temukan. Artikel ini mengenai perbedaan warna sepatu, dan mengacu ke artikel yang lebih lengkap membahas mengenai warna dress dan sendal di sini.

Artikel-artikel tersebut membahas super lengkap mengenai kenapa warnanya bisa berbeda dengan kesimpulan masalah adanya asumsi awal yang mempengaruhi kita dan faktor pencahayaan akan menentukan warna apa yang kita lihat. Tapi mau dilihat berkali-kali dan diasumsikan dari awal sekalipun, saya gak pernah bisa melihat warna dress dan sendalnya jadi biru dan biru tua. Saya tetap melihat warnanya putih dan keemasan. Joe juga gak pernah bisa melihat sepatu jadi berwarna pink dan putih.

Tapi terlepas dari alasan ilmiahnya, sebenarnya seru juga melihat-lihat ada perbedaan warna dari foto yang sama. Hal ini mengingatkan kembali kalau hal yang sama bisa berbeda diproses dan dimengerti oleh kita masing-masing. Masalah seperti ini bukan masalah siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi ya harus terima memang ada perbedaan prosesing di otak masing-masing kita hehehehe.

Ayo sekarnag masing-masing coba lihat lagi gambar-gambarnya dengan dan tanpa asumsi. Kira-kira bisa melihat warna-warna yang dilihat orang lain juga, atau cuma bisa melihat 1 warna saja. Coba juga tanyakan ke teman-teman yang lain. Kalau ada yang pernah menemukan penjelasan yang lebih sederhana dan bisa menemukan cara membuat kita melihat tiap kemungkinan warna dari gambar-gambar tersebut bagi-bagi infonya ya.

Keluarga Super Irit 28: Itu Irit Bukan Pelit!

Buku ini merupakan salah satu buku yang dibeli waktu mudik ke Indonesia kemarin. Buku terjemahan dari komik Korea mengenai jurus berhemat dari keluarga Bindae. Sudah banyak seri dari buku ini yang ditejemahkan dan bisa dibeli di Gramedia, tapi saya cuma beli 1 karena pengen coba liat isinya seperti apa. Buku ini termasuk dalam buku belajar mengelola uang, sehingga komiknya dikategorikan sebagai educomics.

Ada banyak tips mengenai hidup berhemat yang bisa dilihat di dalam buku ini. Sebagian besar sudah saya tahu, tapi sebagian lagi saya baru tahu dan belum coba. Beberapa tips spesifik untuk kondisi di Korea, tapi bisa diadaptasi idenya untuk berhemat.

Cerita berhemat ini mengambil setting dalam sebuah keluarga, bagaimana orangtua yang hemat mengatasi anaknya yang sangat hobi makan dan tetap bisa hemat. Ada 10 cerita dalam buku ini, ceritanya tidak harus dibaca dari depan ke belakang, tapi setiap cerita akan diakhiri dengan tips-tips atau rangkuman dari cara berhemat yang diceritakan sebelumnya.

Metode menghemat yang diceritakan dalam buku ke-28 ini bukan sesuatu hal yang baru, tapi bisa jadi sudah dilakukan oleh orangtua kita dari dulu. Saya akan mencoba menuliskan secara ringkas metode berhemat apa yang saya dapatkan dari buku ini yang bisa kita aplikasikan di jaman sekarang ini.

Dari cerita pertama, metode berhemat yang dikenalkan adalah menggunakan baking soda untuk berbagai hal, mulai dari membersihkan tumit dari kulit mati, menghilangkan noda, membuka pipa yang mampat, menghilangkan bau bahkan bisa untuk membersihkan sayuran. Trik menggunakan baking soda ini bukan hal yang baru lagi, saya sudah sering membacanya dan juga sudah mempraktekkan sebagian besar.

Cerita mengenai penggalian barang antik mengajarkan kita untuk memperhatikan nilai suatu barang sebelum membuangnya. Tidak semua barang punya nilai yang jadi mahal, tapi bisa jadi barang yang menumpuk di rumah orangtua kita bertahun-tahun ditumpuk debu ternyata masih punya nilai bahkan dicari-cari oleh kolektor jaman sekarang ini. Beberapa contoh yang bisa saja mempunya nilai lebih adalah: koin, perangko, lego seri tertentu, komik, boneka barbie. Di akhir cerita juga diberikan tips mengenai kebiasaan yang perlu diperhatikan untuk diubah kalau kita sudah merasa berhemat tapi tetap merasa selalu kekurangan uang.

Berhemat itu teorinya memang dari yang sudah ada, beberapa orang mungkin berpikir bagaimana bisa menabung kalau pendapatan selama ini selalu kurang. Supaya bisa menabung ya berhemat, berhemat bukan saja mengurangi pengeluaran, tapi juga memikirkan bagaimana menghasilkan pemasukan dari apa yang sudah ada dan tidak kita gunakan lagi. Salah satunya ya dengan cara melihat apakah ada barang antik yang mungkin buat kita tidak begitu berharga tapi buat orang lain bernilai tinggi. Bisa juga dengan cara memperbaiki apa yang rusak daripada selalu membeli baru.

Di Thailand sini sih kami bisa berhemat dengan cara membeli mainan bekas yang masih bagus, atau dengan menjual kembali mainan atau baju-baju yang sudah tidak dipakai lagi. Cara menjual kembali ini berguna untuk kita dan orang yang membeli. Kita senang karena rumah jadi tidak menumpuk barang dan dapat sedikit uang, pembeli senang karena tidak harus membeli dengan harga toko yang pastinya lebih mahal daripada harga barang bekas.

Pernah dengar pepatah: rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya? Nah di buku ini ada diberikan daftar yang bisa kita gunakan untuk mengukur sudah sehemat mana kita. Ada 4 kategori yang diberikan:

  1. Pintu kekayaan tertutup rapat: kategori ini untuk orang yang selalu mengandalkan uang dari orang tua dan tidak pernah mau berusaha berhemat
  2. Mengetuk pintu kekayaan: kategori ini untuk orang yang sudah tau bagaimana berhemat tapi belum punya keinginan kuat untuk berhemat dan masih kurang melaksanakan cara berhemat yang diketahui
  3. Pintu kekayaan sedang terbuka: kategori ini untuk orang yang sudah tahu cara berhemat dan mulai melaksanakannya tapi masih perlu lebih giat berusaha lagi
  4. Pintu kekayaan terbuka lebar: aktivitas hidup hemat dan kemampuan gaya berhemat membuat pintu kekayaan terbuka lebar.

Mungkin akan ada yang merasa: ah masak dengan berhemat bisa kaya, kalau mau kaya ya harus kerja keras biar penghasilan tambah banyak. Tapi kalau menurut saya, berapapun penghasilan, pengeluaran itu akan menyesuaikan dengan penghasilan. Kalau gak terbiasa hidup hemat, waktu penghasilan sedikit mungkin cukup, tapi waktu penghasilan banyak tetap saja gak bisa ada tabungan karena selalu dihabiskan lagi.

Mungkin ada yang akan bertanya lagi: kenapa harus jadi kaya, kita kan cukup dengan hidup berkecukupan. Yah kalau menurut saya kaya itu kan sebutan lain untuk orang yang punya kebebasan finansial, kalau butuh sesuatu yang memang harus dibeli, bisa dengan mudah membelinya tanpa harus mikir lagi uangnya darimana. Kalau kita biasa berhemat, kita jadi tau mana yang memang benar-benar perlu untuk dibeli, dan otomatis kalau memang sesuatu itu benar-benar dibutuhkan, kita bisa beli tanpa berhutang.

Tips lain yang juga sangat berguna dari buku ini adalah tips berbelanja di supermarket. Bagaimana mengatasi godaan diskon, godaan membeli barang karena harga murah padahal kita gak butuh, godaan promosi beli 1 gratis 1 dan godaan karena melihat isi troli orang lain. Saya baru tahu dari buku ini kenapa desain troli itu dibuat besar dan bolong-bolong hehehehe.

alasan troli belanja desainnya seperti itu

Tips lainnya juga ada untuk orang yang suka mendatangi konser-konser budaya. Tapi tips ini mungkin spesifik Korea di mana ada hari-hari di mana ada promosi tiket gratis. Di Thailand sendiri ada juga beberapa tiket wisata yang suka dijual lebih murah daripada datang langsung ke tempatnya, tapi tiket seperti itu ada masa berlakunya.

Tiket promosi ini murah kalau memang kita sudah pasti akan pergi, tapi kalau kita beli lalu tidak terpakai, malah jadi pemborosan. Untuk hal pembelian tiket, yang pernah kami praktekkan itu mencari informasi diskon sebelum berangkat ke tempat wisata. Banyak tempat wisata yang memberikan kupon diskon di internet, atau bisa membeli melalui aplikasi travel tertentu. Sekali lagi promosi seperti ini jadi hemat kalau memang kita sudah akan pergi ke tempatnya. Beberapa tempat di sini juga bisa lebih murah kalau bayar dengan harga Thai, untuk itu saya merasa kemampuan bisa berbahasa Thai sudah membuat kami banyak berhemat hahaha.

Dalam buku ini ada juga tips untuk melihat kita masuk kategori belanja seperti apa. Buku ini membagi 4 grup tipe belanja:

  1. Grup tanpa berpikir: grup ini akan belanja seenaknya dan cenderung cepat menghabiskan uang tanpa sisa. Ibaratnya berapapun penghasilan, setiap bulannya ya habis.
  2. Grup standar: grup ini belanja sesuai dengan standar. Ada kalanya berhemat tapi masih sering juga dompetnya kosong karena belanja spontan. Kurang membuat perencanaan belanja
  3. Grup penuh arti: grup ini hanya membeli barang yang dibutuhkan saja, tapi masih ada kebiasaan konsumtif sedikit.
  4. Grup pertahanan kuat: grup ini jagoan belanja yang menjaga dompet dengan ketat. Sebelum membeli barang masih berpikir berkali-kali, jadi tidak ada uang keluar sia-sia.

Saya ingat, ajaran orangtua saya masuk kategori 4, banyak yang perlu beli yang paling perlu. Dalam prakteknya tapi saya masih sering gagal dan jatuh dalam grup 3 dan bahkan 2.

Tips yang juga sangat berguna dalam buku ini adalah bagaimana mengurangi biaya makan dengan menghabiskan makanan atau bahan makanan yang sudah dibeli. Ada tips cara menyelamatkan sayuran layu/menjaga sayuran tetap segar dan bagaimana menyimpan camilan yang tersisa. Ada juga diberikan tips berhemat kalau memang mau makan di restoran.

Diakhir dari buku ini, bahkan diberikan tips bagaimana mengatasi rasa kelelahan dalam berupaya hidup hemat. Harus diakui hidup hemat itu butuh effort, tapi hemat itu bukan berarti pelit. Kalau hemat sudah jadi gaya hidup, tentunya usaha berhemat itu tidak akan terasa sulit lagi.

Saya senang membaca buku ini karena jadi mengingatkan saya lagi kalau saya ini belum benar-benar hemat, pantesan aja belum jadi orang kaya hahahhaa. Jadi penasaran pengen tau buku lainnya kayak apa lagi tipsnya.