Yoga Class

Sejak hari senin kemarin kami mulai kelas yoga di sini. Gerakannya masih yang dasar, tidak terlalu sulit, yang lebih sulit adalah mencerna kata-kata instrukturnya. Yap..instrukturnya menggunakan bahasa Thai sepanjang menjelaskan gerakan. Jelas aja jadi sulit konsentrasi, karena setiap kali kami harus melihat dengan seksama apa yang dilakukan instruktur lalu menirukannya.

Setidaknya dengan mengikuti kelas Yoga ini kami dapat 2 manfaat. Pertama badan yang lebih bugar dan kedua menambah vocabulary bahasa Thai hehehe..

Chiang Mai Zoo

IMG_0053IMG_0070

Bertahun-tahun kuliah di Bandung dekat sekali dengan Kebun Binatang, tapi tidak pernah tergerak untuk menjenguk ke dalam. Pengen sih, tapi tidak ada kesempatan dan kadang memang tidak menyempatkan. Kali ini, mumpung Joe baru terima GPS, kami nyobain nyari jalan ke Chiang Mai Zoo menggunakan GPS itu. Horeee berhasil juga sampe ke Chiang Mai Zoo ๐Ÿ™‚

IMG_0074IMG_0050

Tiket masuk untuk orang lokal dan orang pendatang itu beda. Kami berdua plus mobil total harga tiketnya jadi 250 THB (atau sekitar 70 ribu rupiah). Walau belum pernah masuk ke kebun binatang Bandung, bisa dibilang Chiang Mai Zoo lebih bagus. Jenis hewannya lebih banyak, dan tentu saja, areanya jauh lebih luas. Enaknya, kita bisa berkeliling menggunakan mobil di dalam area Zoo, lalu mencari parkir terdekat dengan jenis hewan yang ingin kita lihat. Kalau kita ingin jalan juga boleh. Daerahnya cukup teduh karena banyak pohon besar yang melindungi. Oh ya, kalau tidak bawa mobil sendiri, di dalam Chiang Mai Zoo ada sejenis bis untuk berkeliling (tapi kami belum mencoba).

Anyway, ada 2 hewan yang tidak ada di kebun binatang di Indonesia (dan juga tidak ada di kebun binatang Bandung). Dengan asumsi sudah banyak binatang yang pernah kami lihat di Taman Safari Cisarua Bogor, maka kami hanya memfokuskan pada binatang yang belum pernah dilihat secara langsung sebelumnya seperti koala dan penguin. Akhirnya, ga harus jauh-jauh ke kutub untuk liat Penguin, dan ga harus ke australia buat liat koala ๐Ÿ™‚

SLI Thailand – Indonesia

Hari ini terima tagihan detail Xplor via email. Dan ternyata dari sekitar 13 sms yang dikirimkan di Singapura (waktu transit) dan Thailand, total biayanya 55.000 rupiah. Rate roaming singapura masih lebih murah, ada yang 1857 dan 2609 (tanpa ppn tuh). Kalau roaming dari Thailand setiap sms nya Rp. 3946 (blum ikut ppn juga). Mahal yaaa…. Untungnya itu buat ngirim sms doang, bukan termasuk nerima. Soalnya udah jauh-jauh ke sini tetap aja nerima sms ‘sampah’ dari XL *sigh*, males banget kan kalau harus bayar juga nerima sms tak penting itu.

Kalau dipikir-pikir, tarif sms internasional pake nomor lokal sini dengan operator true juga mahal, yaitu sekitar 9 Baht untuk 1 sms nya, kalau di hitung konversi 1 Baht = Rp.270, maka pake sms sini sekitar Rp. 2430. Tapi sesungguhnya, dibandingkan mengsms, masih lebih mending lagi nelpon aja pake Skype.

Nelpon 1 menit ke Indonesia (telepon rumah) รขโ€šยฌ0.125 (Rp1492), kalau telpon ke rumah di Jakarta malah lebih murah : รขโ€šยฌ0.072 (Rp. 860). Sedangkan kalau nelpon ke HP Indonesia รขโ€šยฌ0.183 (Rp. 2184) tapi masih tetap lebih murah dibandingkan sms ke Indonesia. Well…masih ada alternatif lain tapi sepertinya kami memilih skype. Walau di awal harus beli kreditnya dulu 10 Euro, tapi ya..toh bisa diirit makenya. Selama sebulan ini saja 10 Euro blum abis (tapi sebenernya lain kali mendingan beli kreditnya yang 10 USD aja, biar ga usah banyak-banyak nyimpen duit di Skype). Kayaknya biaya yang selama ini dialokasikan untuk bayar biaya mobile phone bisa dialihkan untuk bayar internet hehehe…

Sebulan di Chiang Mai

Baru sebulan di Chiang Mai, tapi kok rasanya sudah lama banget ya. Setelah sebulan selalu menggeleng tiap orang sini ngomong pake bahasa Thailand, akhirnya mulai belajar bahasanya juga. Hari ini adalah hari pertama belajar. Untuk 5 minggu pertama belajar speaking and listening, mungkin setelah level ini selesai baru melanjutkan kelas menulisnya.

Btw, beberapa update tentang kota ini:

  • ternyata kota ini ga sepi-sepi banget, untuk jam-jam tertentu sudah mulai terlihat kemacetan lalu lintas (walaupun tetep aja masih lebih macet Bandung).
  • pengendara motor disini lebih parah dari pengendara motor di Bandung, bayangin aja, mereka umumnya ga pake helm, terus bawa anjing di boncengan, kadang-kadang sambil mengepit sesuatu di kakinya, dan satu tangan memegang handphone *buset deeeh*, belum lagi mereka suka muncul tiba tiba dari belakang baik dari sebelah kanan maupun dari sebelah kiri
  • sekarang udah nemu pengganti teh botol, ice tea! (perasaan teh botol emang teh hehe, ga terlalu mirip sih, tapi.. cukuplah untuk pelipur lara).
  • cara melafalkan huruf Thai masih lebih mudah untuk orang Indonesia dibandingkan orang Jepang, Amerika ataupun Perancis
  • mulai terbiasa untuk tidak ber sms ๐Ÿ˜› (abisnya mahal sih), menelpon menggunakan account skype masih lebih bisa diandalkan
  • kecap manis di sini umumnya encer seperti kecap asin, tapi dengan sedikit usaha kecap manis yang kental bisa ditemukan
  • hawanya ga selalu dingin, ternyata lebih sering panassss, makanya orang disini selalu minum air dengan es batu, dan sepertinya mereka selalu merasa kepanasan

Udah, segitu dulu. Yang jelas, di tempat ini ada banyak kesempatan untuk belajar. Mulai dari belajar nyetir, belajar renang (buat Joe), belajar bahasa Thailand maupun belajar Yoga ataupun Thai Massage. Belum lagi urusan belajar untuk keperluan kerjaan :P. Terkadang memang harus jauh ke negeri orang dulu baru belajar dengan sungguh-sungguh ya :P.

Kesan berikutnya…

Huah… dari kemaren pengen posting, tapi ga pengen panjang-panjang, eh akhirnya malah ga posting-posting. Berikut ini fakta mengenai Chiang Mai yang menurut kami cukup untuk membuat kami merasa betah di sini :

  • zona waktu yang sama dengan Indonesia, GMT+7, sehingga tidak perlu repot menyesuaikan waktu untuk menelpon ke orangtua ๐Ÿ™‚
  • cuaca yang cukup mirip dengan Bandung, walaupun so far Bandung masih lebih dingin
  • lalu lintas yang tidak terlalu macet, sehingga jarak yang cukup jauh bisa ditempuh dalam waktu yang relatif singkat
  • makanan yang enak dengan harga yang lebih murah daripada di Bandung
  • bumbu masakan yang sama dengan apa yang ditemui di Indonesia, bahkan di sini memakai lebih banyak bumbu daripada kita, sehingga mudah untuk memasak makanan Indonesia yang ingin kita makan (asal tau cara masaknya hehe)
  • internet unlimited 24/7 dengan kecepatan 1Mbps seharga 300 ribu rupiah :), lumayan untuk telpon VOIP ke rumah, download berbagai hal dan tentu saja streaming radio siaran Indonesia, bikin serasa tetap di Indonesia saja
  • tempat tinggal yang sangat dekat dengan pasar tradisional, sehingga bisa belanja sayur dan buah segar dengan mudah walaupun agak repot dalam berkomunikasinya
  • Furniturenya oke punya, masih baru pula.. jadi serasa main The Sims nih ๐Ÿ™‚
  • Ada gereja berbahasa Inggris yang memberikan informasi yang sangat berguna untuk permulaan hidup di Chiang Mai, lokasi gereja yang cukup dekat dari tempat tinggal, dan kami berhasil menemukan sepasang orang Amerika yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Mereka sudah 8 tahun di Chiang Mai, dan baru sekarang bertemu orang Indonesia lagi (yeah.. feels like home)

Well, seenak-enaknya di negeri orang, pasti lebih enak di negeri sendiri. Beberapa hal berikut sebagai contoh:

  • Listrik dan Bahan bakar minyak tidak disubsidi, jadi mahal :(, padahal di apartemen perabotannya pada pake listrik dengan watt gede pula, semoga sanggup bayar nih ๐Ÿ˜
  • Karena tinggal di apartemen yang ga boleh pake kompor yang ada apinya, jadi agak repot masaknya, harus adaptasi lagi
  • Masalah bahasa dan tulisan yang asing, mana jenis fontnya macem-macem lagi.. harus belajar dulu…
  • Biaya telpon seluler sesama operator sini memang murah, tapi.. biaya SMS jauh lebih murah di Indonesia. Huhuhuhu, SMS Internasional lebih mahal lagi :(, telepon lokal disini itungannya flat sekali angkat mau sampe berbusa juga bayarnya tetep, tapi sayangnya di sini ga ada yang bisa ditelpun ๐Ÿ˜›
  • Tinggal di rumah masih lebih enak daripada di apartemen, tapi ngurus apartemen lebih mudah daripada ngurus rumah (ceritanya kan di sini tanpa pembantu), umm.. bedanya, kalau di Bandung udah ga bayar sewa lagi, kalau di sini harus bayar sewa lagi deh…
  • Gak ada teh botol…huhuhuhu…. masa kudu ngimpor ๐Ÿ™

Duh, karena udah malam dan agak ngantuk, ga konsen buat nginget2 lagi, well ntar diupdate lagi kalau ada yang diingat lagi. Segitu dululah. Overall bertemu orang yang bisa berbahasa Indonesia, bahkan bisa memasak rendang (catat, rendang!!), membuat kami merasa senang, ada orang yang bisa jadi tempat bertanya ๐Ÿ™‚ .

Kalau ditanya: betah ga di sana? betah-betah aja tuh, setiap tempat ada plus minusnya. Enjoy ajaaa…!

Dua bulan jadi istri Joe

Pertanyaan yang paling banyak muncul dalam bulan ini adalah: “Gimana rasanya menikah?” Well, jawabannya singkat saja: “menyenangkan”. Pertanyaan berikutnya: “Udah isi belum?”. Nah pertanyaan ini adalah pertanyaan standar, akan dijawab dengan: “mau isi apa? isi lemak? daging? atau apa?”, sok bego hihhihi.. Ada juga yang membandingkan dengan pengalamannya yang “langsung jadi”. Tapi yang pasti, setelah menikah kami berdua jadi tambah ndut, apalagi kalau bukan karena masakanku yang sangat… tepat waktu hihihi. Tepatnya kami jadi hidup lebih teratur, bangun tidur sarapan, mandi, makan siang, tidur siang, nyemil sore, makan malam, tidur lagi. Hebat..hebat.. mau jadi apa makan tidur doang? :p

Ah ga sehiperbola itulah. Anyway, senang rasanya menemukan potensi diri yang selama ini tak pernah dilakukan. Dulu.. mamaku selalu khawatir anaknya tak pernah ke dapur, tak pernah memasak, gimana nanti setelah menikah, mau makan diluar terus? aduh..jangan-jangan dipulangkan nanti sama mertuanya. Ternyata… semua orang bisa memasak, yang jadi masalah adalah mau mencoba atau tidak. Jadi buat para wanita karir yang saat ini dituntut untuk “bisa memasak” atau “diputuskan” oleh sang pacar, mendingan bilang ama dia: kalau putus lu rugi sendiri, soal masak, keciiiiil huehuehueue… ada banyak bumbu instan beredar di pasaran, atau kalau ada waktu bikin bumbu sendiri juga bisa. Ga masyalah toh!. Apalagi jaman sekarang begitu banyak majalah ataupun buku panduan memasak, belum lagi sumber-sumber diinternet mulai dari masakan yang bumbunya hanya 3 jenis sampai semua bumbu dapur masuk ke kuali :). Yang penting, mau mencoba dan ada waktu untuk mencoba. Kalau sibuk emang sulit sih ya…

Ah ya, dua bulan waktu yang sangat singkat. Kadang-kadang masih ga biasa dengan sebutan: suami saya, dan kadang-kadang lupa kalau sudah menikah, perasaan masih pacaran aja hehehe.. “Bedanya pacaran dengan menikah apa dong?” ya beda! Setelah menikah ada yang namanya komitmen. “Kan pacaran juga pake komitmen?” oke deh, bedanya kalau pacaran sangat mungkin putus, sedangkan kalau sudah menikah, dalam hal ini dipersatukan Tuhan, tidak ada yang dapat memisahkan. “Jadi..ga boleh cerai?” ya ga bolehlah!! gimana sih? buat apa nikah kalau masih mikirin cerai? hairan deh…. “Terus.. kalau ternyata, suatu hari nanti..terjadi apa-apa, ga boleh cerai?” komitmennya adalah untuk selalu bersama (dalam segala kondisi) bukan sementara ini bersama kalau sudah tidak ada kecocokan lagi kita berpisah, gimana seh!!. “Terus kalau berantem gimana dong?” Ya diselesaikan lah!, bedanya lagi, waktu pacaran misalkan kita marah pasti terpikir udah ah putus aja, pusing begini terus. Nah kalau sudah menikah lalu berantem ga boleh mikir gitu, malah mikirnya, gimana ya biar masalah ini selesai dan kami menjadi semakin mesra.

Ah.. mungkin terdengar seperti teori. Apalah artinya 2 bulan, pengalaman kami masih sangat sedikit. Tapi..dengan itikad baik, semoga semuanya tetap baik.