Ngalong bersama Codefest AOSSS ke-8

Teringat pada masalalu, mengerjakan tugas kuliah, mengerjakan tugas akhir, mengerjakan tesis, belajar untuk ujian karena sistem SKS yang dianut (iya maksudnya sistem kebut semalam). Masa-masa di mana stamina masih sangat oke untuk terbangun selama 24 jam (bahkan pernah bangun 48 jam menyelesaikan tugas besar dengan adrenalin yang membuat tetap terjaga).

Lepas dari bangku kuliah, pernah juga terjaga sepanjang malam karena mengerjakan pekerjaan kantor. Sering juga terjaga di rumah memandangi layar monitor sambil ngobrol dengan orang-orang yang masih terjaga di saat seharusnya beristirahat.

Teringat lagi masa di mana masih muda dan kurang pertimbangan dalam menghabiskan uang. Berjam-jam online
tak jelas arah dan tujuan, untuk kesenangan yang dibayar dengan jerih lelah sebulan :P.

Kali ini situasinya berbeda. Bukan mengerjakan tugas kuliah, bukan juga pekerjaan kantor. Bukan untuk hobby yang bodoh, tetapi untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin saja berupa hal yang seharusnya dari dulu dikerjakan tapi selalu ditunda (karena satu dan lain hal). Situasi yang sengaja diciptakan untuk mengumpulkan orang-orang yang peduli dengan pengembangan open source di Indonesia. Situasi yang dihangatkan dengan beberapa komputer yang dinyalakan dengan mematikan AC biar ga kedinginan di ruang laboratorium kampus. Situasi yang dibentuk oleh semangat. Semangat untuk melakukan sesuatu untuk perangkat lunak Indonesia.

Beberapa jam sudah berlalu, masih ada yang tetap bersemangat, tapi beberapa sudah tertidur dibalik selimut hangatnya. Berbagai cara dilakukan untuk tetap semangat, mulai dari ngobrol, gosip, browsing dikit-dikit ataupun menganggu orang lain yang sedang bekerja, atau ngeblog seperti saya :D. Ada yang tetap terjaga, ada yang menyerah ditengah perjalanan.

Bagaimana dengan diriku? diriku terdampar disini. Tapi…demi menemani Joe yang jadi penanggung jawab acara ini, ya..aku akan mencoba untuk terjaga. Sudah lama sekali tak bergadang sejak menyelesaikan tesis. Sudah lama sekali hidup lebih teratur. Semoga aku kuat…mengingat acara ini menjadi sponsor bulan madu kami 😀

Bali…we’re coming…

Menikah dengan gadis batak

Ini sebagian dari pengalaman dari acara pernikahanku dengan Risna. Pertama: hal yang paling sulit adalah mengingat harus memanggil apa terhadap orang-orang. Ini tidak mudah, di batak ada banyak panggilan sopan (istilah bataknya ‘tutur’) untuk aneka relasi dalam keluarga (misalnya: tulang, natturang, inang, bapak tua, bapak anggi, lae, namboru, dst). Jika tidak ada Risna maka saya harus berpikir keras, dan meski ada risna, panggilan risna terhadap kerabatnya akan berbeda dengan panggilan saya (misalnya kalau risna memanggil Namboru, berarti saya harus memanggil inang, dan mungkin bisa jadi harus dengan sebutan inang tua). Kapan-kapan penjelasan mengenai tutur ini akan saya tuliskan dengan lebih lengkap.

Ini nasihat saya untuk yang ingin menikah dengan gadis batak. Siapkan RFID tag untuk setiap tamu, lalu kantongi reader RFID, yang terkoneksi ke PDA dan gunakan headset bluetooth untuk memberi tahu harus memanggil apa tamu itu. Memang agak rumit (Anda harus menulis sendiri program untuk PDA-nya, ditambah lagi harus ada data mengenai setiap tamu yang hadir), tapi akan mempermudah Anda untuk memanggil seseorang :).

pulang ke bdg (as husband and wife)

kalau orang biasanya ketinggalan bis/kereta, kami ketinggalan pesawat. sebenernya ga terlalu terlambat,tapi setelah 2 kali menunda perjalanan anggota keluarga Joe, kali ini mereka (air asia) ga memaafkan kami yg telat check in 5 menit. well, ya sutralah, ga masyalah.

kami beruntung, langsung dapat tiket lion air berangkat jam 15.10, ga jauh dari jadwal semula. tapi ternyata nasib tak berpihak pada kami. lion air ada yg rusak sehingga kami terkena imbasnya. jadwal mundur ke jam 5 sore. higs..

Joe tiba2 inget kalau aku punya citibank gold, ya sutra kami manfaatkan saja untuk masuk vip lounge bandara. tapi berhubung hanya bisa 1 orang 1 kartu dan ga punya kartu lain byr cash sajalah. dengan modal 75rb, kami bisa menunggu di tempat yg lebih nyaman dan banyak makanan maupun minuman. lumayan, joe jadi bisa sambil bekerja.

sayangnya, internetnya lagi ngerror 🙁 tapi gpplah, jatah dari xplor masih banyak.

anyway, telat airasia jadi pengalaman baru buat kami. lainkali, daripada merana di airport mungkin lebih baik byr lounge. anggap saja termasuk biaya perjalanan 😉

Martupol dan Adat Pernikahan Simalungun

Martupol adalah sebuah acara perjanjian pernikahan di Gereja (dalam hal ini GKPS), di mana calon mempelai harus membacakan janji akan menikah, menandatangani surat perjanjian, dan sekaligus sebagai pengumuman
kepada jemaat gereja kalau ada yang mau protes (speak now or forever hold your peace).

Tanggal 19 Januari 2007 kemarin, acara martupol sudah kami jalani dan berjalan dengan baik. Selesai acara gereja, kami menjalani acara adat batak, khususnya simalungun berupa acara pajabu parsahapan dan maralop yang disederhanakan. Walaupun gue pernah punya keinginan untuk tidak menjalani semua itu, tapi dalam rangka menyenangkan hati orangtua kami jabani juga ritual adat yang sebagian besar tidak kami mengerti (tujuannya sudah dimengerti, tapi tetep aja merasa ribet). Beberapa foto-foto martupol bisa dilihat di album foto. Oh ya, katanya sih kalau jaman belum beragama, setelah acara maralop, secara adat pasangan itu sudah resmi menikah, tapi karena kami sudah beragama, ya..tetep aja kami resmi menikahnya setelah diberkati di gereja. Sekarang ini anggap sajalah kami bertunangan (tanpa cincin hehe).

Oh ya, buat yang mau datang tanggal 27 Januari 2007 (ke gereja ataupun gedung resepsi), sekarang sudah di upload peta untuk mengetahui arah jalannya. Acara resepsi yang diadakan juga masih merupakan rangkaian acara adat batak Simalungun. Oke deh, doakan kami, dan semoga tidak nyasar di jalan ya :), see you there…

PJJ dengan XL

PJJ disini bukan pelatihan Jarak Jauh, tetapi Pacaran Jarak Jauh.. Ceritanya untuk sementara waktu ini saya dan Joe akan berada di kota yang berbeda. Banyak yang mungkin sudah mengalami kalau pacaran jarak jauh pasti banyak biaya. Nah, untuk menghemat biaya komunikasi (walau sms murah, tapi kalau sering sms-an, jatohnya mahal juga). Niatnya kita berdua bakal menggunakan agile messenger buat chatting (toh kami sudah sama-sama mendaftar paket megadata xplor).

Beberapa hari yang lalu, dapat kabar kalau internet se-Asia down sehubungan dengan gempa di Taiwan dan bakal butuh waktu cukup lama untuk memulihkan koneksi internet. Baca di detik ada seruan untuk puasa internet. Ternyata, menggunakan paket Megadata XL, puasa yahoo messenger cuma 2 hari. Karena sejak kemarin sudah bisa online yahoo dari agile messenger (senang deh!).

Oh ya, kali ini koneksi XL lebih baik di banding satelindo indosat ataupun telkomsel, karena menurut teman saya yang menggunakan IM3 ataupun Telkomsel, gprs mereka tidak bisa online Yahoo Messenger. Well..mungkin penggunaan YM bukan parameter yang menentukan, tapi setidaknya, karena saya (dan Joe) saat ini membutuhkan pengganti SMS, kami beruntung menggunakan paket data ini.

Kemarin waktu tidak bisa koneksi ke agile, kami mengakali dengan saling berkirim email (untungnya dari xl sudah bisa koneksi ke gmail juga). Untuk beberapa jenis handphone bisa diatur supaya bisa autocheck email setiap 30 menit sekali, dan mail yang masuk seperti menerima sms saja. Untuk hal yang sangat penting kami tetap menggunakan sms sesekali.

Yang paling menyenangkan adalah memanfaatkan fasilitas video call 3g (yang saat ini masih gratis dan untungnya diperpanjang sampai 31 Januari). Senang karena bisa bertatapan muka langsung saat mendengar suaranya (aih iklan banget deh!), dan senang juga karena gratisan (cukup 6 menit di putus koneksi lalu disambung lagi).

Well.. XL, walau kadang kami harus berurusan dengan CS yang mencla mencle, kami tetap merasa untung pake XL (loh bukannya itu slogannya Esia?). Anyway, ini bukan iklan, cuma berbagi info aja kok 🙂

Katekisasi Pranikah

Hari minggu kemarin aku dan risna mengikuti retreat katekisasi pra nikah untuk menutup sesi 8 minggu kelas katekisasi yang kami ikuti. Menurutku katekisasi ini sangat berguna sekali, dan aku cuma mau sharing apa aja yang dibagikan di situ.

Buat yang non Kristen, atau buat yang Kristen tapi di gerejanya nggak ada katekisasi pra nikah, ini penjelasan singkat: kelas katekisasi di GII Hok Im Tong diwajibkan untuk yang akan diberkati pernikahannya di sana, dan minimal harus diikuti 6 bulan sebelumnya. Keluarga Risna inginnya kami nikah di Medan, jadi kelas itu cuma sekedar untuk menambah pengetahuan, dan menyiapkan diri menghadapi pernikahan.

Kelas ini membuat aku jadi berpikir banyak mengenai pertanyaan: “benarkah dia yang terbaik untukku dan aku mau menghabiskan sisa hidupku dengannya?”, dan apakah “aku sudah siap menikah?”.
Lanjutkan membaca “Katekisasi Pranikah”