Seri Buku Murderous Math

Murderous Math adalah seri buku edukasi matematika yang kami beli di Big Bad Wolf book sale. Isi bukunya adalah cerita ngalor ngidul kocak dengan banyak fakta matematika disisipkan di dalamnya. Buku ini juga memiliki banyak ilustrasi yang menarik.

Membahas Fibonacci

Pembahasan matematikanya dalam berbagai serinya cukup luas, dari mulai konsep bilangan (termasuk juga basis bilangan), geometri (konsep pengukuran, pythagoras, 2 dimensi dan 3 dimensi), uang, probabilitas dsb.

Saya tidak tahu apakah anak-anak yang tidak suka matematika akan suka buku ini atau tidak, tapi Jonathan (usia 8 tahun) sudah menyelesaikan membaca kesepuluh buku yang kami beli dan dia sangat menyukainya dan bahkan sering dibaca ulang. Saya yakin jonathan belum mengerti semuanya, tapi itu tidak membuat dia berhenti membaca bukunya karena lucu. Contohnya di dalam salah satu buku ada konsep mengenai persamaan kuadrat. Materi ini terlalu berat untuk anak umur 8 tahun.

Selain terhibur Jonathan jadi penasaran dengan berbagai konsep matematika. Jonathan sempat tertarik dengan Fibonacci, lalu beberapa hari terakhir ini Jonathan sangat penasaran dengan faktorial. Dia mengalikan sendiri sampai faktorial yang cukup besar di kertas. Dia juga penasaran berkali-kali: kenapa 0! = 1, kenapa bukan 0?. Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang saya harus ngecek dulu ke Google supaya yakin bisa memberi jawaban yang benar.

Dari buku ini saya bisa melihat bahwa meskipun Jonathan masih sering tidak teliti mengerjakan soal-soal penjumlahan dan perkalian di materi home schoolingnya, tapi dia memiliki minat dalam bidang matematika.
Saya juga berusaha memberikan trick question misalnya dalam kasus faktorial: berapa 2 digit terakhir 100! (jawabannya sangat mudah, ini hanya sekedar mengetes logika saja) . Meskipun belum diajarkan di materi homeschoolnya sekarang Jonathan sudah tahu apa itu bilangan pi.

Sebagian isi bukunya membuat Jonathan terlalu excited dan ingin mengajari semua orang trik tertentu. Contohnya mengenai perkalian 1089. Perkalian dengan bilangan ini memiliki properti yang menarik: digit pertama dan kedua menaik, sementara digit ketiga dan keempat menurun.

Waktu Big Bad Wolf book sale kami langsung membeli satu kotak (isi 10) bukunya. Dan kami tidak menyesal membeli langsung sekotak, tapi bagi yang anaknya mungkin tidak suka matematika bisa dicoba dulu membeli satu atau dua buku.

Target Baca Buku

Udah beberapa waktu belakangan ini, kegiatan membaca buku berkurang banyak dibanding sebelumnya. Jonathan tetap membaca banyak buku, walaupun sepertinya banyak juga yang dia bacanya sebagian-sebagian saja. Dibandingkan Jonathan, saya kalah banyak dalam hal membaca.

Setiap tahun, selalu punya target membaca 1 buku 1 bulan (teorinya 1 buku 1 minggu, tapi mari kita realistis dengan 1 buku 1 bulan), tapi kenyataannya seringkali 1 bulan berlalu tanpa menyelesaikan buku yang sudah dimulai di baca.

Waktu BBW kemarin, sudah membeli beberapa buku. Pulang ke Indonesia kemarin juga membeli beberapa buku lagi untuk di baca. Dari semua buku yang di beli, belum ada yang dibaca sampai tuntas. Lemari buku sudah hampir penuh dan perlu di reorganisasi, tapi yang lebih penting lagi buku-buku yang sudah dibeli jangan sampai gak dibaca sampai berdebu.

Di Depok, ada banyak buku yang kami tinggalkan juga waktu kami pindah ke Chiang Mai. Melihat buku-buku yang kami tinggalkan itu, saya jadi ingat masa-masa kami agak rajin beli buku dan baca buku. Entah kenapa, buat saya kegiatan membaca itu seperti kegiatan musiman, padahal katanya, kalau mau lancar menulis sebaiknya rajin membaca juga. Mungkin ini kenapa belakangan agak sulit menulis ya, karena udah lama ga membaca hehehe.

Bulan ini sudah 11 hari, ada 1 buku yang sudah dimulai baca. Bukunya gak tebal, tapi karena ga dilanjutkan ya ga selesai juga. Sepertinya saya perlu juga menargetkan waktu baca setiap harinya, bukan cuma membuat sehari satu tulisan saja.

Dipikir-pikir, membaca fiksi biasanya bisa lebih cepat daripada non-fiksi. Tapi, kemarin malahan banyakan beli buku non-fiksi. Pantesan saja saya kalah banyak membacanya dibandingkan Jonathan. Mungkin saya harus membuat perlombaan dengan Jonathan dalam hal membaca supaya saya juga jadi membaca buku.

Target baca buku bulan ini, saya ingin membaca 20 menit sehari. Kita lihat saja ada berapa banyak buku yang akan selesai sampai akhir bulan. Kira-kira membaca buku itu enaknya pagi, siang atau malam hari ya? Kalau menulis, sepertinya sekarang ini saya hanya bisa menulis malam, karena entah kenapa dari pagi sampai sore selalu saja gak bisa duduk dengan tenang untuk menulis.

Untuk kegiatan membaca sebenarnya ada beberapa kesempatan membaca tanpa gangguan, terutama kalau lagi nganterin Jonathan les, tapi ya kadang-kadang godaan baca sosmed lebih besar daripada baca buku. Mau ekstrim non-aktifkan paket data pas di luar rumah, tapi eh kebanyakan tempat ada WIFi nya, jadi ya godaan online tetap akan ada. Yang lebih dibutuhkan tentunya disiplin untuk melakukan apa yang direncanakan.

koleksi buku Jonathan dari Gramedia Depok

Mengenai membaca, Jonathan mulai bisa membaca bahasa Indonesia juga. Walaupun waktu membaca bersuara dia masih banyak belum bisa membaca dengan benar, tapi dia sudah bisa menikmati beberapa pilihan buku seri Why yang dia beli di Gramedia kemarin. Buku-buku ini dalamnya disajikan dalam bentuk komik. Dari beberapa buku yang dibeli, rasanya sudah hampir semua dia baca. Nantinya tinggal diulang lagi membaca bersuara sambil mengajari kosa kata bahasa Indonesia.

Mungkin level membaca bahasa Indonesia Jonathan saat ini sama dengan level membaca bahasa Thai buat saya. Jadi kemungkina saya juga perlu cari buku komik untuk melatih kemampuan membaca bahasa Thai saya. Ah sudahlah, daripada pusing baca tulisan cacing, sekarang ini latihan konsisten membaca bahasa Indonesia dan Inggris dulu saja. Kalau sudah bisa konsisten dalam waktu sebulan ini, nanti kita pikirkan untuk membaca tulisan bahasa Thai hehehe. Yuk mari ada yang mau ikutan nemenin saya membaca setiap hari minimal 20 menit?

Tentang Serial TV

Awalnya pingin menuliskan review TV Seri yang pernah ditonton, tapi bingung mau mulai dari mana (saking banyaknya). Dan karena kepikiran banyak hal mengenai cerita-cerita dalam Serial TV, saya kali ini cuma pengen cerita-cerita aja secara umum mengenai berbagai TV Seri yang pernah saya tonton.

Sejak kenal dengan Joe, kami banyak menonton Serial TV bersama-sama, genrenya biasanya mulai dari science fiction, horror, action sampai comedy. Cuma 1 genre yang gak ditonton sama Joe: drama yang sedih atau terlalu dekat ceritanya dengan dunia nyata. Alasannya: nonton itu buat hiburan, jadi gak mau nonton kalau ceritanya sedih hehehe. Saya suka nonton drama, tapi syaratnya boleh aja ceritanya sedih tapi akhirnya harus bahagia hahahaha. Kadang-kadang tapi kalau bagian filmnya terlalu sedih, saya gak terusin karena saya juga males nonton orang sedih melulu, apalagi tipe cerita sedih ditindas dan gak melawan.

Sejak saya gak bekerja, saya mengikuti lebih banyak Serial TV dibandingkan Joe hehehe. Sejak langganan NETFLIX, tambah banyak lagi serial TV yang diikuti hehehe. Awalnya saya lebih banyak mengikuti serial TV berbahasa Inggris. Pernah mengikuti Telenovela tapi udah lupa, jadi gak akan dibahas. Mengikuti kategori di NETFLIX, di posting ini saya akan bahas serial TV Western (berbahasa Inggris) dan serial TV Asia. 

Hal-hal mengenai TV Seri Barat

  • TV Seri bisa berupa pengembangan dari cerita di layar lebar, bisa juga dari TV Seri kemudian di filmkan di layar lebar. Kadang-kadang aktornya sama, kadang berbeda (tergantung bayarannya kayaknya hehehe).
  • TV Seri biasanya tentu saja lebih dari 1 episode. Sedangkan layar lebar kalaupun ada sambungan ceritanya mereka bikin sequel atau prequel.
  • TV Seri kadang-kadang bisa sampai ratusan episodes, dengan cerita yang tak kunjung habis. Beberapa TV Seri yang saya ikuti yang lebih dari 10 season misalnya Bones dan Grey’s Anatomy.
  • Dalam 1 season TV seri, jumlah episodenya bervariasi, rata-rata lebih dari 10 episode.
  • Cerita dalam TV Seri tidak selalu seru untuk setiap episodenya, ada kalanya ceritanya terasa membosankan seperti filler buat memperbanyak jumlah episode saja.
  • Dalam TV Seri, semakin banyak jumlah seasonnya, pemeran awal (original cast) biasanya semakin sedikit dan digantikan dengan tokoh-tokoh baru.
  • Beberapa TV Seri tidak selalu bersambung antar episodenya, tapi akan ada beberapa hal yang terkait dengan episode sebelumnya menjadi tema besar dalam 1 season. Contoh TV Seri yang tidak selalu ada hubungannya: Dr. Who, dan McGyver. 
  • Beberapa serial TV, kalau diketahui akan ada season berikutnya akan mengakhiri sebuah season dengan cerita yang menggantung. Untuk serial yang tidak diperpanjang, umumnya mereka akan menyelesaikan cerita semua bahagia.

Belakangan ini, saya juga mengikuti beberapa TV Seri Asia (Thai, Jepang, Korea). Saya perhatikan, perbedaan yang paling signifikan dengan dari serial TV Asia dibandingkan produksi Barat adalah:

  • Biasanya hanya ada 1 atau 2 season. 
  • Setiap seasonnya tidak lebih dari 30 episode.
  • Jalan ceritanya seperti cerita bersambung, hampir setiap akhir episode bakal bikin kita penasaran buat menonton lanjutannya. Dengan alasan ini, saya lebih memilih menonton serial TV yang sudah complete, biar ga penasaran nunggunya.
  • Dari beberapa seri asia yang saya tonton cuma ada 1 yang sad ending, sisanya happy ending. Sebenarnya dari awal saya sudah tahu bakal sad ending, tapi saya tonton juga karena aktornya terkenal hahaha.

Beberapa jalan cerita dalam TV Seri terasa mengada-ada, tapi kadangkala mereka juga berusaha mengangkat cerita dari isu yang sedang hangat dibicarakan di dunia nyata. Belakangan ini saya lebih suka nonton drama asia karena ceritanya ga terlalu banyak sampai ratusan episode hehehe. 

Gimana dengan sinetron Indonesia? masuk kategori mana? aduh kalau itu sih saya ga bisa komen, karena saya ga pernah nonton lagi. Tapi kalau dari jumlah episodenya, ada juga yang seperti Serial TV Barat. Duluuuuuu pernah juga menonton beberapa sinetron, tapi seperti halnya telenovela, saya sudah lupa judulnya dan jalan ceritanya hahaha. Sekarang sih udah ga minat ngikutin sinetron Indonesia, karena adegannya terkadang penuh delikan mata dan perpindahan wajah dengan cepat yang bikin sakit kepala menontonnya hehehe. Eh tapi, kalau ada yang bisa rekomendasi sinetron Indonesia, boleh deh ntar dicoba tonton, siapa tahu sekarang sinetron Indonesia udah meningkat kualitasnya mengikuti TV Seri Korea hehehehe.

Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.

Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight

Buku ini salah satu yang saya beli di Big Bad Wolf kemarin. Saya belum pernah membaca tentang seri ini, sekilas dari judulnya sepertinya menarik, Space Taxi. Buku yang saya beli bundle 4 buku jadi 1 seharga 140 baht, tergolong sangat murah mengingat harga buku baru untuk chapter books biasanya sekitar 200-350 baht di toko buku Asiabooks. Judulnya Space Taxi, dibagian belakang bukunya ada klaim menyertakan fakta ilmiah juga. Saya pikir, karena Jonathan cukup suka membaca mengenai hal-hal yang terkait mengenai luar angkasa, buku ini akan menarik minatnya untuk membacanya.  

4 buku jadi 1 seharga 140 baht

Satu hal yang bikin saya suka dengan buku ini adalah: tulisan di dalamnya menggunakan font yang cukup besar. Saya tidak perlu kacamata saya untuk membacanya haha. Di dalamnya juga ada beberapa ilustrasi yang cukup membantu imajinasi untuk menikmati buku ini. Cerita dalam buku ini mengenai seorang anak bernama Archie Morningstar yang berumur 8 tahun 8 bulan 8 hari yang untuk pertama kalinya ikut papanya bekerja di malam hari. Papanya bekerja sebagai supir taxi dan jam kerjanya berbeda dengan jam kerja biasa, jadi ini seperti pengalaman pertamanya juga untuk boleh bergadang di malam hari hahaha.

Lanjutkan membaca “Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight”

Review Elfin Book 2.0

Awal tahun 2018, saya kepingin sekali punya agenda, tapi waktu itu saya masih belum bisa memutuskan apakah saya mau punya agenda digital atau agenda biasa. Saya coba mengetik di HP, tapi kok rasanya cape ya ngetik di HP (apalagi waktu itu saya belum tahu mengenai voice typing). Lalu saya pikir, coba beli buku kecil biasa, dan lihat apakah saya bisa terus menuliskan sesuatu di buku. Hasilnya? buku saya malah dipake Joshua untuk menulis A sampai Z dan angka. Untung beli bukunya bukan buku yang mahal hahaha. Lalu tidak sengaja lihat iklan mengenai buku yang bisa dihapus. Saya pikir, wah buku ini cocok nih buat saya bawa-bawa, karena kalaupun dipakai Joshua, nantinya bisa saya hapus.

Iklan yang saya lihat itu namanya Rocket Book, tapi Joe kasih tahu saya ada buku sejenis yang lebih murah namanya Elfin Book. Setelah baca-baca dan tidak menemukan perbedaan secara fungsi, akhirnya saya memutuskan beli yang lebih murah, karena kepikiran andaikata gak terus dipakai ya gak rugi-rugi amat hahaha. Minimal, bisa dipakai kalau Joshua butuh untuk coret-coret.

Lanjutkan membaca “Review Elfin Book 2.0”

Big Bad Wolf di Chiang Mai

Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sejak beberapa minggu lalu sudah berencana buat ke acara Big Bad Wolf Book Sale yang pertama kali diadakan di Chiang Mai. Selama ini cuma dengar ceritanya saja. Sebenarnya, buku di rumah sudah banyak, masih banyak juga yang belum selesai dibaca, tapi rasanya sulit menolak kesempatan melihat lautan buku.

Lautan Buku BBW Chiang Mai

Jadwal BBW itu seharusnya dimulai tanggal 30 November – 9 Desember 2018, tapi untuk hari ini mereka membuka untuk presales buat sebagian yang mendapatkan VIP Pass. Tapi kalau dilihat lagi, mereka tidak terlalu mengecek apakah yang datang punya VIP Pass atau tidak. Bagusnya datang hari ini masih belum terlalu ramai dan bisa lebih leluasa untuk browsing buku.

Lanjutkan membaca “Big Bad Wolf di Chiang Mai”