Star Trek: Voyager

Selama beberapa Minggu terakhir ini, saya dah Jonathan menonton serial Star Trek di Netflix. Ini merupakan serial lama yang dulu tayang di tahun 1995-2001. Serial ini tayang setelah Star Trek: The Next Generation (1987 – 1994).

Serial lama ini saya tonton bersama Jonathan karena saat ini tidak banyak film serial yang:

  • Ceritanya menarik untuk anak-anak tapi juga orang dewasa
  • Memiliki pesan moral yang baik
  • Cukup bersih (tidak terlalu banyak adegan kekerasan atau seksual)

Star Trek the Original Series sudah terlalu tua dan special effectnya terlihat aneh (seperti mainan). Star Trek Voyager yang dibuat di tahun 90an memiliki special effect yang bagus dan tidak terlalu berbeda dengan berbagai film baru saat ini.

Poster Voyager
Lanjutkan membaca “Star Trek: Voyager”

Pentingnya Kelas Pranikah

Tulisan hari ini merangkum obrolan di beberapa grup yang saya ikuti (dan isinya ibu dan istri) setelah saya membagikan tulisan tentang film Indonesia Ali dan Ratu-ratu Queens.

Sebelum saya menontonnya, ada banyak pujian tentang film ini. Ada beberapa hal yang disebutkan kalau wanita itu boleh punya mimpi dan perlu mengejar cita-citanya.

Ali dan ratu-ratu queens
Kalau mau jadi penyanyi kenapa ga jadi penyanyi di Indonesia aja sih?

Tapi, buat saya, ibunya Ali ini tetap tidak bertanggung jawab sebagai ibu atas nama cita-cita. Apalagi cita-citanya cuma mau jadi penyanyi, kalau ga sukses di Indonesia, kok ya mimpi terkenal di Amerika? Ada Smule dan Youtube tuh kalau mau jadi penyanyi masa kini.

Lanjutkan membaca “Pentingnya Kelas Pranikah”

Review Film: The Mitchells vs. The Machines

Halo para mamah gajah dan pembaca setia blog ini,

Di bulan Juni ini, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog hadir dengan tema artikel berupa Film Keluarga bergenre Family (Keluarga) atau bercerita tentang keluarga dengan genre bebas.

banner Tantanga Blogging Bulanan Komunitas Mamah gajah ngeblog
yuk para mamah gajah yang suka menulis, bergabung ngeblog di MGN

Sebenarnya ada banyak sekali pilihan di berbagai platform streaming seperti Netflix, HBO dan yang terbaru masuk ke Thailand Disney Hotstar. Sepanjang bulan Juni, kami juga sudah menonton beberapa film dengan tema keluarga ini.

Akhirnya, pilihan jatuh untuk mereview film “The Mitchells vs. The Machines” ini berdasarkan saran pak suami dan juga berdasarkan respon dari anak-anak ketika menonton. Anak-anak juga suka aja sih menonton film yang ada robotnya, walaupun dalam film ini robotnya bukan seperti cerita storybot.

You don’t have to be INCREDIBLE to save THE WORLD.

The Mitchells vs. The Machines
Lanjutkan membaca “Review Film: The Mitchells vs. The Machines”

Hobi Nonton? Yuk Menulis

Hari ini, saya mau membahas tentang seringnya saya membaca atau mendapatkan komentar negatif tentang penonton drama Korea. Beberapa komentarnya antara lain mencibir kalau artis Korea terlihat cantik karena operasi plastik, menyebutkan kalau penonton drama Korea umumnya kerjanya bergadang sehingga di siang hari terkantuk-kantuk sepanjang hari. Lalu ada lagi komentar kalau cerita drama Korea yang katanya terlalu membikin penontonnya menjadi halusinasi dan tidak bisa membedakan dunia nyata dan dunia fantasi.

Lanjutkan membaca “Hobi Nonton? Yuk Menulis”

Grey’s Anatomy Season 17

Serial TV terpanjang yang saya ikuti itu ya Grey’s Anatomy. Saya tidak mengikuti dari awal, tapi setelah ada beberapa season, saya menonton beberapa season sekaligus. Akhirnya sejak sekitar season 10, saya mengikuti setiap kali ada episode baru keluar.

Hari Kamis kemarin, 2 episode pertama season 17 dimulai lagi, dan hari ini saya berkesempatan menontonnya di Disney+ Hotstar (nambah langganan layanan streaming lagi deh). Hari ini saya jadi menyadari, alasan saya tetap nonton serial ini. Saya memang sudah malas mengikuti serial western yang jumlahnya puluhan episode (dan banyak season), tapi masih ada beberapa serial yang tetap diikuti dan serial ini salah satunya.

Lanjutkan membaca “Grey’s Anatomy Season 17”

Kdrama: “The Greatest Love”, Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Drama “The Greatest Love” ini merupakan drama terbaik di tahun 2011. Saya baru menontonnya di tahun 2020 karena tentu saja tahun 2011 saya belum menjadi penonton Kdrama.

Poster “The Greatest Love” dari Wikipedia

Selesai menonton drama ini, saya pikir bisa sekalian nih mereview drama dan menghubungkannya dengan topik tulisan kokoriyaan 26 bersama teman-teman di grup drakor dan literasi tentang artis multitalenta atau serba bisa.

Ceritanya

Drama ini berkisah tentang seorang wanita Gu Ae-jung (diperankan oleh Gong Hyo-jin) yang pernah menjadi idol dan merupakan anggota paling tenar dari girl band yang dia ikuti. Tapi karena satu dan lain hal, grup mereka bubar dan karena dia yang meminta grupnya bubar, maka pemirsa jadi membenci dia. Biasa banget ya, dari yang dicintai dan paling populer jadi yang paling dihujat oleh pemirsa.

Lanjutkan membaca “Kdrama: “The Greatest Love”, Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian”

A Series of Unfortunate Events

Memikirkan hal-hal yang terjadi di 2020 di mana banyak kejadian yang tidak nenyenangkan datang silih berganti, saya jadi teringat dengan buku anak yang saya tonton filmnya di tahun 2004 dan sudah pula menjadi serial TV oleh Netflix yang berjudul A Series of Unfortunate Events.

Saya belum membaca bukunya, waktu itu pernah membeli buku versi bahasa Indonesianya, tapi kami tinggal di Indonesia. Saya tidak berhasil menyelesaikan membaca bukunya, karena dari awal ceritanya banyak kejadian menyedihkan.

Biasanya, buku anak-anak itu diberikan akhir yang membahagiakan, atau kisah yang menyenangkan. Tapi, buku ini berbeda. Dari judulnya dan dari bagian awal buku ini, sudah diberitahukan kalau mencari kisah yang membahagiakan, jangan baca buku tersebut.

Oh ya, karena ingat dengan buku tersebut, saya juga jadi ingat dan memulai menonton serialnya di Netflix. Serialnya di Netflix juga cukup menarik dan dari dialognya, saya merasa seakan-akan sedang dibacakan bukunya.

Lanjutkan membaca “A Series of Unfortunate Events”