Cerita Liburan Hari ke -3: Macet Itu Biasa

Hari ke-3 di Depok, kami memutuskan mengunjungi kakak saya di daerah pondok gede/lubang buaya. Pesan grab car, setelah menunggu beberapa saat mobil jemputan datang. Lumayan memang sejak ada fasilitas mobil yang bisa dipesan lewat aplikasi, kalaupun ga ada yang antar kami bisa tetap kesana kemari kalau lagi mudik.

Karena kami ga tau jalan, kami mengandalkan Google maps. Awalnya menurut perkiraan Google Maps bisa tiba dalam waktu 1 jam, kenyataannya baru mau keluar komplek ada penebangan pohon sehingga jalan dialihkan muter. Buat jalanan muternya karena lebih kecil dari jalan utama dan mobil dari 2 arah dialihkan ke komplek yg sama, akhirnya ya makan waktu juga.

Mendekati daerah lubang buaya, ada banyak yang jualan buah bukan hanya di trotoar, tapi ya memakai sebagian jalur lalulintas. Jelas aja dong jalanan jadi macet. Saya bayangkan karena tempat itu bukan pasar, siapa yang mau membeli buah ya minggir di jalan yg harusnya ada flownya, tentunya sumbangsihnya bikin tambah macet lagi.

Pulang ke arah Depok, lagi-lagi Google bilang cuma 1 jam, tapi prakteknya ya malah hampir 2 jam. Alasannya? penutupan jalan karena ada jalan diperbaiki dan rute untuk mutar itu sama dari ke-2 arah, padahal jalan yg dialihkan itu sangat kecil *sigh*.

Saya ga ingin liburan mengeluh macet mulu sehingga ga bisa kemana-mana, tapi saya kagum dan salut dengan semua orang yang bertahan tinggal di Jakarta dan sekitarnya dengan kemungkinan menghadapi macet setiap waktu. Mungkin saya terlalu dimanjakan Bandung tempo dulu dan Chiang Mai, sehingga saya jadi ga biasa hidup berjuang lawan macet. Untungnya Joe juga bukan model orang yang hobi berlama-lama dalam kemacetan, jadi saya rasa Jakarta dan sekitarnya sudah jelas dalam blacklist kalau harus pulang dan menetap di Indonesia.

Main piano dan nyanyi bareng abang Marvel

Anyway, misi kunjungan cukup menyenangkan. Jonathan bisa cukup akur dengan abangnya (anak kakak saya). Jonathan juga bisa dengan cepat ngobrol dengan teman-teman abangnya yang umurnya lebih tua dari dia. Joshua juga ga rewel dan cukup enjoy bernyanyi diiringi piano. Joshua juga mulai tidak terlalu takut dengan orang yang dia baru ketemu. Karena rumah kakak saya di samping gereja, Joshua senang sekali waktu melihat ada pohon natal besar di dalam gereja. Dia mengamati dengan seksama dan sangat tertarik melihat hiasan pohon natal di gereja.

Main bareng Cathy

Pulang dari rumah kakak saya, kami mampir ke rumah adik sepupu Jonathan yang umurnya hampir sama dan dari kemarin datang ke rumah eyang buat nemenin Jonathan dan Joshua main. Setelah puas main-main dan tentunya makan, kami pulang ke rumah eyang. Mudah-mudahan besok-besok kalau keluar rumah lagi ga ketemu macet seperti hari ini, atau mudah-mudahan kami terbiasa dengan macet jadi bisa tetap bersyukur ga nyetir di tengah kemacetan hehehe.

Cerita Liburan (Hari 1 & 2)

Setelah kemarin teler seharian karena nyampe Depok jam 12 malam dan terbangun subuh, kemaren jadi bolos menulis blog. Hari ini hampir bolos lagi, tapi kalau hari ini bolos lagi ada kemungkinan program menulis satu harinya bakal terhenti lama. Supaya nantinya di akhir liburan ga banyak yang harus dituliskan, saya akan tuliskan sedikit cerita 2 hari pertama di Depok.

Sesuai dengan misi utama buat mudik kali ini yaitu mengurus E-KTP,  hari pertama kami ke kantor kelurahan untuk melakukan perekaman data biometrik. Perekaman data mirip dengan pembuatan passport di KBRI Bangkok, bedanya selain foto dan sidik jari, untuk pembuatan e-KTP dilakukan perekaman retina mata juga. Waktu lihat hasil perekaman mata nya, saya pikir eh kok mata saya bagus ya hahahhaa. Proses perekaman data berjalan lancar dan semoga bisa segera memegang hasilnya sebelum pulang ke Chiang Mai.

Pulang dari kantor kelurahan kami berkunjung ke pabrik kaca eyangnya Jonathan sambil nungguin eyangnya kerja dikit di sana. Rencana semula, mau lanjut ke mall, tapi karena masih capek sisa perjalanan hari sebelumnya, akhirnya anak-anak main aja di rumah dengan sepupunya yang pas banget udah libur sekolah sejak hari kemarin.

Hari ini, hari ke-2, kami udah lebih cukup banyak tidur. Siang hari kami ketemu lagi dengan sepupu Jonathan di mall Margo City yang lagi ada tempat main trampoline. Lumayan bisa naik Grab 1 rupiah pake OVO. Dipikir-pikir, biaya main di sini jauh lebih mahal daripada di Chiang Mai. Tadi itu untuk 45 menit bermain, biayanya sekitar 85 ribu rupiah termasuk kaus kaki. Kalau dikurskan ke thai baht, 85ribu itu sekitar 190 baht. Saya ingat, salah satu tempat bermain di mall di Chiang Mai ada yang tarifnya 120 baht/jam untuk weekend, atau sepanjang hari kalau hari biasa. Tapi ada juga sih mall lain yang mengenakan biaya per 3 jam (tapi saya lupa persisnya).

Karena Joshua tidur sesampainya kami di mall, yang main trampoline cuma Jonathan dengan 2 sepupunya. Papanya ke Starbuck biar Joshua bisa tidur lebih tenang. Eh ternyata malah kebangun dianya, ya udah dia ikutan makan cemilan di starbuck aja ama papanya. Saya nungguin Jonathan main. 

Selesai mainan trampoline, kami ke toko buku Gunung Agung. Rasanya entah kenapa walau udah punya banyak buku, tetep aja senang masuk ke toko buku. Joshua yang lagi tertarik dengan angka, mengambil poster angka 1 – 30 dan membaca bahasa Indonesianya (biasanya Joshua tahu satu – sepuluh saja dalam bahasa Indonesia). Tapi sekarang dia jadi tahu satu  sampai tigapuluh. Jonathan juga kami cobakan membaca buku belajar baca bahasa Indonesia, eh ternyata dia udah mulai bisa juga. Saya sih seneng banget, karena selama ini walau saya ga ngajarin membaca bahasa Indonesia secara khusus, kami mengajak dia ngobrol bahasa Indonesia ya tujuannya supaya perbendaharaan kata dia bertambah dan nantinya dia bisa baca bahasa Indonesia sendiri hehehehe.

Pulang dari mall, lanjut lagi pada ngumpul di rumah eyang. Kali ini semua cucu eyang ngumpul lengkap. Rumah jadi ramai deh dan anak-anak bisa main dengan akur tanpa insiden berantem. Ada sih bagian di mana Joshua mendorong-dorong sepupunya yang sebenernya seumuran tapi badannya lebih kecil, tapi ya mereka seperti tahu kalau mereka bersodara dan dorongannya itu cuma bercanda, jadi ya aman tentram bahagia lah eyangnya melihat cucu-cucunya ngumpul.

Liburannya masih panjang, ceritanya disambung besok-besok lagi supaya ga terlalu panjang hehehe.

Review Terbang dengan AirAsia

Berhubung hari ini kami sedang travel pulang ke Indonesia naik AirAsia, sekalian jadi pengen cerita tentang pengalaman naik AirAsia sejak jaman dahulu kala. Mungkin kategori yang tepat bukan review tapi ya cerita-cerita aja hahaha.

sekarang giliran papa jagain anak-anak hehehe

Kami menggunakan AirAsia sejak sebelum menikah, ya maklum aja harga tiket penerbangan lain jauh diatas rate AirAsia. Pilihannya ya pakai AirAsia atau naik kapal laut, tentu saja milih naik pesawat. Masih ingat pengalaman pertama ditinggal pesawat juga ditinggal sama AirAsia (eh semoga nggak ada pengalaman ditinggal berikutnya). Pernah juga perubahan jadwal dadakan yang di majukan beberapa jam dari jadwal awal atau berangkat besok harinya, sehingga kami selesai pesta pernikahan harus buru-buru antar sebagian keluarga Joe ke airport. Ya perubahan jadwalnya sebenar waktu itu tidak harus kami terima, tapi sebagian anggota keluarga kebetulan ga bisa kalau harus dibesokkan lagi menunggu berangkatnya.

Ironisnya, dihari perubahan jadwal itu keluarga Joe ditunggu sampe beberapa menit mereka tutup pintu pesawat. Giliran saya dan Joe beberapa hari kemudian datang terlambat 5 menit dari batasan check in diijinkan 45 menit sebelum take-off eh kami ga boleh dong masuk huhuhu. Padahal oh padahal sebelumnya mereka menerima sampai 5 menit sblom jadwal take-off. Huh tak adil. Eh kok jadi curhat.

Sejak pindah ke Thailand, pilihan untuk pulang juga semakin mahal dengan penerbangan lain, kapal laut juga nggak bisa dipilih hahaa. Air Asia jadi pilihan lagi terutama kalau mau pulang lebih dari 1 x setahun. Waktu awal-awal, kami ga punya banyak pilihan, pulang ke Indonesia harus transit via Kuala Lumpur. Karena waktu itu AirAsia belum ada yang namanya fly thru, kami harus sangat repot sekali. Turun pesawat di Malaysia, keluar dari imigrasi, menunggu bagasi, ambil bagasi, pindah terminal ke terminal keberangkatan berikutnya, masukin bagasi lagi lalu imigrasi untuk keberangkatan ke Indonesia, proses pulang itu bener-bener perjuangan hahaha. Tapi balik ke Chiang Mainya lebih perjuangan lagi, karena ada step tambahan ketika sampai di Kuala Lumpur kami harus menginap di Tunes hotel 1 malam (karena tidak ada jam penerbangan berikutnya di hari yang sama), bangun super pagi untuk berangkat lagi ke Chiang Mai. Bisa aja nginap di tengah kota KL, tapi mana ada jaminan besok paginya nyampe subuh ke bandara buat berangkat lagi. Atau bisa aja ngampar di airport, tapi bayar tunes hotel ga terlalu mahal dan tentunya lebih nyaman daripada ngampar di airport.

Pernah sekali, sebelum kami punya anak, karena begitu repotnya perjalanan akhirnya kami iseng sekalian mampir sana sini. Jadi sebelum kembali ke Thailand, kami mampir dulu ke KL untuk berkunjung ke teman yang tinggal di KL, lalu kami mampir ke Singapur menginap 1 malam di Singapur. Dari Singapur kami terbang ke Bangkok, dan di hari yang sama dari Bangkok terbang ke Chiang Mai. Dipikir-pikir iseng banget ya hahaha. Kebetulan waktu itu dihitung-hitung dengan detour sedikit biayanya ga jadi jauh lebih mahal, dan karena teman-teman kami baik hati, kami ga perlu bayar hotel hahaha.

Setelah punya anak pertama, pulang pertama kali kami memutuskan naik Singapore Air demi kenyamanan perjalanan. Tapi perjalanan berikutnya untungnya sudah ada pilihan untuk fly thru  dan bisa terbang di hari yang sama jadi kami kembali naik Air Asia hehehe.

Sekarang ini, perjalanan dengan AirAsia jauh lebih nyaman. Selain bisa langsung terbang di hari yang sama tanpa repot keluar masuk bagasi, sekarang ini kami bisa memilih berapa banyak bagasi yang harus kami beli karena toh kami ga pernah bawa barang terlalu banyak, kami bisa memesan makanan terlebih dahulu secara online dan bisa memilih kursi dan cek in online. Sistem Air Asia sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu, kadang-kadang masih ada masalah ketika check in, atau membeli makanan. Kemarin kami harus mengkombinasikan penggunaan aplikasi AirAsia mobile dan web ketika membayar untuk bagasi, kursi dan makanan.

Beberapa waktu lalu, untuk bisa terbang langsung ke Indonesia dengan fly thru, kami hanya bisa memilih transit di Bangkok (DMK), padahal saya sering melihat kalau rute pilihannya CNX-KUL, lalu KUL-CGK atau KUL-KNO, seringnya harganya lebih murah daripada via DMK. Tapi belakangan ini saya perhatikan aplikasi airasia sudah bisa juga fly-thru via KUL. Sekarang ini, jadi ada pilihan transit mau di Bangkok atau KL.

Hari ini, setelah sekian lama ga transit di KL dengan AirAsia, kami mampir di KL lagi. Terakhir mampir sini sudah beberapa tahun lalu sebelum ada Joshua. Eh pernah sekali mampir sini naik Malindo Air, sayangnya rutenya udah ga ada lagi. Waktu naik Malindo kami transitnya super sebentar, dan gate nya sebelahan jadi ga melihat banyak hal di KLIA. Sekarang ini kami transit beberapa jam, makanya sempat nulis ini sambil nunggu pesawat berikutnya. Hal yang paling menyenangkan, masih di pesawat udah bisa konek free wi-fi Airport yang bisa digunakan selama 24 jam. Jadi sambil nunggu gini bisa tetep online, main pokemon juga bisa haha.

Oh ya, kadang-kadang kami memilih penerbangan lain karena waktu di cek harganya penerbangan lain lebih murah daripada AirAsia, tapi hal ini jarang sekali terjadi. Sejauh ini pengalaman terbang dengan Air Asia baik-baik saja, semoga ke depannya semakin baik lagi.

Tentang Drama Korea

Tulisan kali ini saya tidak secara khusus mereview drama Korea tertentu, cuma mau menuliskan kesan-kesan setelah menonton sekian banyak TV Seri K drama. Saya gak tahu persisnya udah nonton berapa banyak, soalnya belum pernah menuliskan listnya (kapan-kapan tulis listnya kalau mau nulis review satu persatu hahahaha).

Dulu, jaman teman-teman saya pada ramai  ngomongin drama Korea, saya ga ikutan karena kalau dengar cerita mereka kesannya K-drama isinya romance doang. Tapi mungkin juga mereka dulu nontonnya emang yang genre romance doang ya. Dulu alasan ga nonton selain belum tertarik, ga ada waktu, juga ga mau beli /nyewa CD, sedangkan yang diputar di TV yang saya ingat cuma Meteor Garden dan ini bukan K-drama.

Beberapa waktu lalu, waktu iseng-iseng liat di Netflix, saya gak sengaja melihat serial Boys Over Flowers yang katanya versi koreanya Meteor Garden. Awalnya cuma pengen lihat apakah mereka cuma beda pemeran dengan cerita yang sama persis, atau mereka adaptasi sendiri. Ternyata walau garis besarnya sama, tapi karena saya nonton Meteor Gardennya udah lama banget, ya akhirnya saya keterusan juga nontonnya hahaha.

Beberapa judul yang populer memang terkenal karena aktor dan aktrisnya. Saya lupa apa serial berikut yang saya tonton, tapi beberapa serial awal yang saya tonton jalan ceritanya hampir bisa ditebak. Akan ada kilas balik, ada amnesia, ada yang kalau ketemu berantem mulu terus akhirnya jadi pasangan, ada cinta beda latar belakang ekonomi, dan kebanyakan walau awalnya jalan ceritanya berjalan dengan cepat, di tengah-tengah akan ada beberapa episode yang jalan ceritanya terasa lambat sekali dan banyak kilas balik dari episode-episode sebelumnya dan akhirnya semua diselesaikan secara terburu-buru di episode terakhir.

Udah tau pattern kayak gitu tapi tetep aja ya ditonton, salah siapa coba hahaha. Saya akhirnya sempat berhenti nonton karena mulai bosan dengan cerita yang gitu-gitu aja. Tapi ternyata setelah berhenti beberapa lama, saya menemukan serial kdrama yang jalan ceritanya ga cuma kisah cinta.

Salah satu kdrama yang topiknya hampir ga ada kisah cintanya itu seri yang tayang di Netflix Life. Ceritanya seputar konflik politik  antara manajemen di rumah sakit yang berorientasi profit dengan dokter yang berorientasi menyelamatkan pasien. Biasanya saya menonton kdrama yang sudah selesai seasonnya, serial Life ini salah satu yang saya tonton waktu masih harus menunggu 2 episode per minggu. Walaupun ceritanya berlangsung di rumah sakit, tapi tidak banyak cerita mengenai penyakit pasien tertentu. Kalaupun ada diceritakan soal pasien, karena pasien itu ada hubungannya dengan konflik kepentingan yang terjadi.

Salah satu seri yang saya tonton mengangkat cerita seorang pria terkena kanker payudara. Sebelum nonton film ini saya gak pernah tahu (dan seperti dikisahkan di film ini kalau kebanyakan orang gak pernah tahu) kalau pria juga bisa terkena kanker payudara. Dalam serial ini diceritakan mulai dari simptom awal, pemeriksaan awal, treatment yang dijalani sampai reaksi orang-orang ketika mengetahui seorang pria terkena kanker payudara. Walaupun ada kisah cintanya, film ini jadi bisa memberi edukasi juga supaya kita lebih aware dengan penyakit ini. 

Ide cerita yang juga menarik mengenai seorang yang punya kepribadian ganda dan jatuh cinta pada wanita yang sama. Walaupun penyelesaian ceritanya menurut saya gak masuk akal, tapi cukup menarik melihat 1 aktor memerankan 2 karakter yang sangat berbeda. Dalam serial ini diceritakan juga mengenai hypnotis itu bukan sihir tapi science. Ada bagian cerita dimana psikiater bisa menghipnotis orang secara massal dengan bunyi atau benda tertentu. Saya kurang tahu mengenai hipnotis, tapi saya jadi ingat dengan banyak cerita kejahatan dimana pelakunya menghipnotis korban sehingga tanpa sadar memberikan uang atau transfer atm dan sebagainya. Tapi di film itu disebutkan, biasanya orang bisa terhipnotis kalau yang dihipnotis menaruh kepercayaan ke orang yang menghipnotisnya.

Ada juga kdrama bercerita mengenai seorang spy yang sedang dalam pelarian lalu menjadi baby sitter tetangganya. Film ini menarik karena ada actionnya juga dan ibu-ibu komplek yang sangat canggih dalam mencari informasi. Jadi walaupun film ini berkisah mengenai agen rahasia, tapi banyak unsur komedinya juga jadi terasa lebih ringan, jangan dibandingkan dengan film Mission Impossible.

Walaupun sejak menonton Life saya bertekat ga akan menonton kdrama yang masih on-going, tapi ya kadang-kadang kalau lihat trailernya menarik saya akhirnya nonton juga tuh episode pertamanya untuk menentukan akan meneruskan menonton atau tidak. Sekarang ini sedang tergoda nonton Memories of the Alhambra. Film ini menarik karena walau saya sebelumnya ga tau apa itu Alhambra, di mana itu kota Granada, tapi karena dikisahkan tokohnya bermain game dengan augmented reality yang dilihat menggunakan contact lens dan adegan berantem melawan tokoh-tokoh yang muncul secara virtual. Entah kenapa malah teringat game pokemon hahaha. Sekarang ini baru ada 4 episode, dari 2 episode yang sudah ditonton, di akhir episode selalu ada hal yang bikin penasaran. Sepertinya saya akan menunda dulu menonton film ini sampai selesai di bulan Januari nanti (daripada saya penasaran tiap minggu hahaha).

Ada banyak alasan orang nonton k-drama, tapi buat saya ide ceritanya paling menentukan dibanding aktor dan aktrisnya. Biasanya trailer dan episode pertama bisa menentukan apakah filmnya cukup menarik atau tidak untuk ditonton. Kalau di episode pertama saja ceritanya sudah bertele-tele dan lamban, sudah pasti gak akan saya terusin hehehe. 

Kalau ada rekomendasi film (terutama k-drama) yang jalan ceritanya menarik, bagi-bagi judulnya ke saya ya hehehe.

Tentang Serial TV

Awalnya pingin menuliskan review TV Seri yang pernah ditonton, tapi bingung mau mulai dari mana (saking banyaknya). Dan karena kepikiran banyak hal mengenai cerita-cerita dalam Serial TV, saya kali ini cuma pengen cerita-cerita aja secara umum mengenai berbagai TV Seri yang pernah saya tonton.

Sejak kenal dengan Joe, kami banyak menonton Serial TV bersama-sama, genrenya biasanya mulai dari science fiction, horror, action sampai comedy. Cuma 1 genre yang gak ditonton sama Joe: drama yang sedih atau terlalu dekat ceritanya dengan dunia nyata. Alasannya: nonton itu buat hiburan, jadi gak mau nonton kalau ceritanya sedih hehehe. Saya suka nonton drama, tapi syaratnya boleh aja ceritanya sedih tapi akhirnya harus bahagia hahahaha. Kadang-kadang tapi kalau bagian filmnya terlalu sedih, saya gak terusin karena saya juga males nonton orang sedih melulu, apalagi tipe cerita sedih ditindas dan gak melawan.

Sejak saya gak bekerja, saya mengikuti lebih banyak Serial TV dibandingkan Joe hehehe. Sejak langganan NETFLIX, tambah banyak lagi serial TV yang diikuti hehehe. Awalnya saya lebih banyak mengikuti serial TV berbahasa Inggris. Pernah mengikuti Telenovela tapi udah lupa, jadi gak akan dibahas. Mengikuti kategori di NETFLIX, di posting ini saya akan bahas serial TV Western (berbahasa Inggris) dan serial TV Asia. 

Hal-hal mengenai TV Seri Barat

  • TV Seri bisa berupa pengembangan dari cerita di layar lebar, bisa juga dari TV Seri kemudian di filmkan di layar lebar. Kadang-kadang aktornya sama, kadang berbeda (tergantung bayarannya kayaknya hehehe).
  • TV Seri biasanya tentu saja lebih dari 1 episode. Sedangkan layar lebar kalaupun ada sambungan ceritanya mereka bikin sequel atau prequel.
  • TV Seri kadang-kadang bisa sampai ratusan episodes, dengan cerita yang tak kunjung habis. Beberapa TV Seri yang saya ikuti yang lebih dari 10 season misalnya Bones dan Grey’s Anatomy.
  • Dalam 1 season TV seri, jumlah episodenya bervariasi, rata-rata lebih dari 10 episode.
  • Cerita dalam TV Seri tidak selalu seru untuk setiap episodenya, ada kalanya ceritanya terasa membosankan seperti filler buat memperbanyak jumlah episode saja.
  • Dalam TV Seri, semakin banyak jumlah seasonnya, pemeran awal (original cast) biasanya semakin sedikit dan digantikan dengan tokoh-tokoh baru.
  • Beberapa TV Seri tidak selalu bersambung antar episodenya, tapi akan ada beberapa hal yang terkait dengan episode sebelumnya menjadi tema besar dalam 1 season. Contoh TV Seri yang tidak selalu ada hubungannya: Dr. Who, dan McGyver. 
  • Beberapa serial TV, kalau diketahui akan ada season berikutnya akan mengakhiri sebuah season dengan cerita yang menggantung. Untuk serial yang tidak diperpanjang, umumnya mereka akan menyelesaikan cerita semua bahagia.

Belakangan ini, saya juga mengikuti beberapa TV Seri Asia (Thai, Jepang, Korea). Saya perhatikan, perbedaan yang paling signifikan dengan dari serial TV Asia dibandingkan produksi Barat adalah:

  • Biasanya hanya ada 1 atau 2 season. 
  • Setiap seasonnya tidak lebih dari 30 episode.
  • Jalan ceritanya seperti cerita bersambung, hampir setiap akhir episode bakal bikin kita penasaran buat menonton lanjutannya. Dengan alasan ini, saya lebih memilih menonton serial TV yang sudah complete, biar ga penasaran nunggunya.
  • Dari beberapa seri asia yang saya tonton cuma ada 1 yang sad ending, sisanya happy ending. Sebenarnya dari awal saya sudah tahu bakal sad ending, tapi saya tonton juga karena aktornya terkenal hahaha.

Beberapa jalan cerita dalam TV Seri terasa mengada-ada, tapi kadangkala mereka juga berusaha mengangkat cerita dari isu yang sedang hangat dibicarakan di dunia nyata. Belakangan ini saya lebih suka nonton drama asia karena ceritanya ga terlalu banyak sampai ratusan episode hehehe. 

Gimana dengan sinetron Indonesia? masuk kategori mana? aduh kalau itu sih saya ga bisa komen, karena saya ga pernah nonton lagi. Tapi kalau dari jumlah episodenya, ada juga yang seperti Serial TV Barat. Duluuuuuu pernah juga menonton beberapa sinetron, tapi seperti halnya telenovela, saya sudah lupa judulnya dan jalan ceritanya hahaha. Sekarang sih udah ga minat ngikutin sinetron Indonesia, karena adegannya terkadang penuh delikan mata dan perpindahan wajah dengan cepat yang bikin sakit kepala menontonnya hehehe. Eh tapi, kalau ada yang bisa rekomendasi sinetron Indonesia, boleh deh ntar dicoba tonton, siapa tahu sekarang sinetron Indonesia udah meningkat kualitasnya mengikuti TV Seri Korea hehehehe.

Review Homeschooling Grade 3 Term 1

Mulai besok, saya memutuskan untuk meliburkan kegiatan homeschooling Jonathan. Pelajaran kelas 3 yang sudah dimulai sejak bulan Juli dengan jadwal mengerjakan workbook 4 hari seminggu berhasil menyelesaikan lebih dari target materi yang direncanakan semula. Rencananya term ke-2 akan dimulai setelah kembali dari Indonesia. Liburan panjang dulu kayak sekolah-sekolah juga kan ada liburan panjang hehehe.

Kegiatan homeschool grade 3 ini lebih banyak dikerjakan Jonathan secara mandiri. Kegiatannya masih seperti sebelumnya dimulai jam 9 pagi dan selesai sebelum jam 12 siang. Hari tertentu bisa selesai jam 1.30 karena paginya ada kegiatan les piano 1 jam di luar rumah. Dibandingkan tahun sebelumnya, sekarang ini jadwalnya sudah semakin jelas dan saya juga berusaha mencetak jadwal mingguan untuk Jonathan. Kami masih cukup fleksibel, tapi biasanya saya upayakan kalau tidak terpaksa kami tetap kerjakan semuanya dipagi hari.

Continue reading “Review Homeschooling Grade 3 Term 1”

Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.