Liburan Hari ke-4: Jakarta Aquarium

Hari ini, kami dan keluarga adik-adik Joe jalan bareng ke Jakarta Aquarium. Lokasi Jakarta Aquarium ini di Neo SOHO Mall lantai LM dan LG. Sampai di sana, kami makan siang dulu di open Kitchen lantai 3A karena sudah hampir jam 12. Awalnya tempat makannya terlihat sepi. Jam 12 lewat sedikit tiba-tiba banyak sekali orang ada di mall (ya iyalah ya, namanya juga jam makan). Oh ya, mall ini tempat parkirnya di atas gedung mall nya sendiri. Masuk dan keluar parkiran terasa memusingkan karena naik gerakan memutar (spiral) beberapa lantai sampai atas.

Setelah makan, kami menuju lantai LM. Oh ya, harga tiket masuk untuk weekend lebih mahal dibanding hari biasa. Kami cari promosi pake kartu kredit BNI dan Traveloka. Kami beli tiket regular, karena biasanya anak-anak (terutama Joshua) masih takut dengan tontonan 5 Dimensi.  Tapi dengan promosi kartu BNI kami mendapatkan diskon 15 persen. Promosinya dengan 1 kartu hanya bisa untuk membeli 4 tiket dan kami punya 2 kartu BNI. Kami berangkat 12 orang, 6 dewasa dan 6 anak, tapi anak di atas 120 cm dihitung dewasa, jadilah kami harus membeli 7 dewasa dan 4 anak (1 anak masih bayi, dan anak di bawah 2 tahun belum dikenakan biaya).  Jadi kami beli 6 tiket dewasa dan 2 anak dengan kartu BNI dan 1 tiket dewasa plus 2 anak dengan Traveloka (kita ga bisa beli tiket anak doang dengan traveloka, jadi minimal harus ada 1 orang dewasanya).

Promosi begini sering berganti, jadi sebelum ke sana bisa cek dulu promosi yang masih berlaku. Kalau saya baca websitenya, ada juga promosi happy hour di hari biasa dan jam tertentu diskon 50 persen. Ada juga promosi moms and kids, di mana ibunya saja yang bayar dan anak di bawah umur tertentu gratis, Kenapa kami ga pergi hari biasa? karena hari biasa adik-adik Joe kerja, jadi weekend itu kesempatan yang langka buat ngumpul lengkap.

melihat ikan dari atas

Sekarang ke bagian cerita di dalamnya. Kesan pertama, tempatnya remang-remang dengan musik yang bikin ngantuk hehehehe, mungkin biar ikan-ikannya merasa tenang kali ya hehehe. Saya sempat agak kecewa karena di awal yang saya lihat kebanyakan hanya layar display saja dan bukan aquarium beneran, tapi ternyata ada juga bagian aquariumnya, di mana anak-anak bisa melihat ikan-ikan yang besar seperti ikan pari, hiu dan berbagai jenis ikan yang saya gak tau namanya.

Kalau diperhatikan dengan seksama, Jakarta Aquarium berusaha memberikan pengetahuan mengenai berbagai ikan yang ada di Indonesia dan juga kesadaran untuk menjaga lingkungan untuk tidak membuang plastik karena bisa membuat kerusakan lingkungan hidup di laut. Setiap display yang ada tersedia tablet yang menjelaskan jenis ikan, ukuran ikan dan di mana ditemukan biasanya. Kalau ke sana sebagai tugas sekolah, tentunya ada banyak sekali yang bisa dilaporkan oleh murid-muridnya. Sayangnya, saya tidak menemukan katalog lengkap ikan yang ditampilkan di website Jakarta Aquariumnya.

kesempatan menyentuh bintang laut

Selain ikan, jakarta aquarium juga menampilkan otter, turtle dan iguana. Anak-anak diberikan kesempatan memegang beberapa kura-kura kecil, bintang laut, ikan pari kecil dan beberapa jenis ikan kecil. Sebelum memegang ikan, harus cuci tangan dengan bersih tanpa sabun, dan setelahnya bisa mencuci tangan menggunakan sabun. 

informasi dalam tablet di berbagai tempat

Di lantai bawah, ada juga display seperti aquarium super besar, di mana kita bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang. Di lantai dasar ini juga ada display jelly fish dan ikan Piranha. Kalau diperhatikan, gerakan ikan piranha sangat sedikit, mereka cenderung terlihat diam. Gerakan jelly fish kalau diperhatikan juga seperti bisa menari-nari dan menghipnotis. Ada 1 ikan yang terlihat seperti rumput yang melayang-layang di air, tapi ya kalau diperhatikan dengan seksama ya ada matanya di bagian bawah.

ikan piranha

Terus terang, ada banyak hal yang saya tidak ketahui nama dan bentuknya sebelumnya dan karena ke Jakarta Aquarium saya jadi tahu, oooh ada ya ikan seperti itu, atau ooh ada ya penghuni laut yang lucu seperti itu. Untuk anak-anak, mungkin melihat sekali saja tidak akan cukup, tapi itulah gunanya memfoto sebanyak-banyaknya untuk kemudian nanti dikeluarkan fotonya dan dicari informasi lebih lanjut di internet heehehe.

Di dekat pintu keluar, ada teater 5D, panggung pertunjukan dan juga tempat untuk membeli foto. Kami tidak membeli fotonya karena harga fotonya 350 ribu rupiah. Saya juga tidak bisa komentar mengenai teater 5D karena kami ga beli tiket untuk masuk 5D. Kami menyempatkan menonton pertunjukan mermaidnya.

pertunjukan mermaid

Ceritanya dinarasikan dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tokoh-tokohnya hanya menari dan berekspresi, panggungnya di lengkapi dengan special effect asap dan lampu-lampu untuk memberi kesan tertentu. Saya cukup kagum dengan kreativitas mereka dalam membuat pertunjukannya walaupun mungkin lebih baik kalau pertunjukannya di lakukan dalam ruangan dan kursi yang lebih nyaman. Saya juga kagum dengan pemain yang bisa menari-nari seperti putri duyung. Mereka pasti harus latihan cukup banyak supaya bisa menahan napas sambil menari-nari dalam aquarium besar.

Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam dari sejak masuk sampai keluar. Anak-anak cukup puas melihat ikan dan juga pertunjukannya, walaupun ada bagian yang buat Joshua terasa menakutkan, karena tokoh ratu jahatnya beneran deh wajahnya jahat banget (hahaha aktingnya berhasil dong ya). 

Secara keseluruhan Jakarta Aquarium cukup menarik untuk anak-anak belajar dan mendapatkan pengalaman memegang ikan-ikan, Tapi saya tidak tahu kenapa harga weekend harus dibedakan dengan harga hari biasa. Satu hal yang terasa sangat berbeda dengan Chiang Mai, harga makanan di dalam Jakarta Aquarium sangat mahal. Milo 1 gelas 25 ribu rupiah (50 baht), padahal harga biasanya diluar kurang dari setengahnya. Kalau mau ke sana, sebaiknya cari harga promosi, bukan akhir pekan dan hari libur dan bawa bekal susu sendiri hahaha.

Cerita Liburan (Hari 1 & 2)

Setelah kemarin teler seharian karena nyampe Depok jam 12 malam dan terbangun subuh, kemaren jadi bolos menulis blog. Hari ini hampir bolos lagi, tapi kalau hari ini bolos lagi ada kemungkinan program menulis satu harinya bakal terhenti lama. Supaya nantinya di akhir liburan ga banyak yang harus dituliskan, saya akan tuliskan sedikit cerita 2 hari pertama di Depok.

Sesuai dengan misi utama buat mudik kali ini yaitu mengurus E-KTP,  hari pertama kami ke kantor kelurahan untuk melakukan perekaman data biometrik. Perekaman data mirip dengan pembuatan passport di KBRI Bangkok, bedanya selain foto dan sidik jari, untuk pembuatan e-KTP dilakukan perekaman retina mata juga. Waktu lihat hasil perekaman mata nya, saya pikir eh kok mata saya bagus ya hahahhaa. Proses perekaman data berjalan lancar dan semoga bisa segera memegang hasilnya sebelum pulang ke Chiang Mai.

Pulang dari kantor kelurahan kami berkunjung ke pabrik kaca eyangnya Jonathan sambil nungguin eyangnya kerja dikit di sana. Rencana semula, mau lanjut ke mall, tapi karena masih capek sisa perjalanan hari sebelumnya, akhirnya anak-anak main aja di rumah dengan sepupunya yang pas banget udah libur sekolah sejak hari kemarin.

Hari ini, hari ke-2, kami udah lebih cukup banyak tidur. Siang hari kami ketemu lagi dengan sepupu Jonathan di mall Margo City yang lagi ada tempat main trampoline. Lumayan bisa naik Grab 1 rupiah pake OVO. Dipikir-pikir, biaya main di sini jauh lebih mahal daripada di Chiang Mai. Tadi itu untuk 45 menit bermain, biayanya sekitar 85 ribu rupiah termasuk kaus kaki. Kalau dikurskan ke thai baht, 85ribu itu sekitar 190 baht. Saya ingat, salah satu tempat bermain di mall di Chiang Mai ada yang tarifnya 120 baht/jam untuk weekend, atau sepanjang hari kalau hari biasa. Tapi ada juga sih mall lain yang mengenakan biaya per 3 jam (tapi saya lupa persisnya).

Karena Joshua tidur sesampainya kami di mall, yang main trampoline cuma Jonathan dengan 2 sepupunya. Papanya ke Starbuck biar Joshua bisa tidur lebih tenang. Eh ternyata malah kebangun dianya, ya udah dia ikutan makan cemilan di starbuck aja ama papanya. Saya nungguin Jonathan main. 

Selesai mainan trampoline, kami ke toko buku Gunung Agung. Rasanya entah kenapa walau udah punya banyak buku, tetep aja senang masuk ke toko buku. Joshua yang lagi tertarik dengan angka, mengambil poster angka 1 – 30 dan membaca bahasa Indonesianya (biasanya Joshua tahu satu – sepuluh saja dalam bahasa Indonesia). Tapi sekarang dia jadi tahu satu  sampai tigapuluh. Jonathan juga kami cobakan membaca buku belajar baca bahasa Indonesia, eh ternyata dia udah mulai bisa juga. Saya sih seneng banget, karena selama ini walau saya ga ngajarin membaca bahasa Indonesia secara khusus, kami mengajak dia ngobrol bahasa Indonesia ya tujuannya supaya perbendaharaan kata dia bertambah dan nantinya dia bisa baca bahasa Indonesia sendiri hehehehe.

Pulang dari mall, lanjut lagi pada ngumpul di rumah eyang. Kali ini semua cucu eyang ngumpul lengkap. Rumah jadi ramai deh dan anak-anak bisa main dengan akur tanpa insiden berantem. Ada sih bagian di mana Joshua mendorong-dorong sepupunya yang sebenernya seumuran tapi badannya lebih kecil, tapi ya mereka seperti tahu kalau mereka bersodara dan dorongannya itu cuma bercanda, jadi ya aman tentram bahagia lah eyangnya melihat cucu-cucunya ngumpul.

Liburannya masih panjang, ceritanya disambung besok-besok lagi supaya ga terlalu panjang hehehe.

Review Homeschooling Grade 3 Term 1

Mulai besok, saya memutuskan untuk meliburkan kegiatan homeschooling Jonathan. Pelajaran kelas 3 yang sudah dimulai sejak bulan Juli dengan jadwal mengerjakan workbook 4 hari seminggu berhasil menyelesaikan lebih dari target materi yang direncanakan semula. Rencananya term ke-2 akan dimulai setelah kembali dari Indonesia. Liburan panjang dulu kayak sekolah-sekolah juga kan ada liburan panjang hehehe.

Kegiatan homeschool grade 3 ini lebih banyak dikerjakan Jonathan secara mandiri. Kegiatannya masih seperti sebelumnya dimulai jam 9 pagi dan selesai sebelum jam 12 siang. Hari tertentu bisa selesai jam 1.30 karena paginya ada kegiatan les piano 1 jam di luar rumah. Dibandingkan tahun sebelumnya, sekarang ini jadwalnya sudah semakin jelas dan saya juga berusaha mencetak jadwal mingguan untuk Jonathan. Kami masih cukup fleksibel, tapi biasanya saya upayakan kalau tidak terpaksa kami tetap kerjakan semuanya dipagi hari.

Kenapa dipagi hari? biar siang hari bisa istirahat atau main-main atau kalau ada kegiatan luar rumah gak harus mikirin harus segera pulang supaya menyelesaikan pekerjaan sekolah. Kadang kalau terpaksa ya bisa juga diliburkan dadakan hahaha. Dengan kegiatan 4 hari sekolah 1 minggu dan rata-rata 3 jam sehari, rasanya Jonathan punya banyak waktu untuk membaca dan beristirahat. 

Dari target kurikulum yang kami pakai, berikut ini jumlah pelajaran yang sudah selesai:

  • Math 5 buku dari 10 buku
  • Reading 5 buku dari 10 buku
  • Language Arts 5 buku dari 10 buku
  • Bible 3 buku dari 5 buku
  • Science 5 buku dari 10 buku
  • Social Studies 4 buku dari 6 buku

Pelajaran Bible dan Social Studies semester depan bisa lebih cepat selesai. Tapi ada juga beberapa rencana yang tidak berlanjut. Awalnya kami ingin juga melakukan pelajaran ekstra dengan papa di malam hari, pelajaran story of the world dan science in the beginning. Tapi karena papanya lagi banyak kerjaan, dan basically pelajaran dari CLE sudah ada social studies dan science, maka kami putuskan menunda melanjutkan 2 buku itu. Rencananya nanti kalau ada waktu di term ke-2 kami akan lanjutkan pelajaran dengan 2 buku tersebut.

Bagaimana dengan nilai akademiknya? Dari hasil test yang dilakukan setiap pelajaran ke-5, ke-10 dan ke-16 (dalam 1 buku ada 16 pelajaran), rata-rata nilainya masih diatas 90. Walau nilai akademik masih bagus, masalah fokus belajar Jonathan masih kurang bagus. Kadang-kadang saya masih harus selalu mengingatkan dia supaya ga bengong, terutama di hari-hari di mana ada libur kejepit, pasti deh fokusnya bubar jalan lagi.

Tulisan Jonathan masih kurang bagus dibandingkan dengan anak seumurnya. Walau begitu, secara umum tulisannya sudah semakin baik, terutama kalau dia ga buru-buru menuliskannya. Mengikuti instruksi kadang masih suka terlewat, misalnya beberapa problem matematika dia masih skip kerjakan. Pengerjaan latihan speed drill matematika untuk persoalan pengurangan juga masih kurang baik. 

Pelajaran yang paling dia sukai sekarang ini Reading, Bible dan Social Studies karena bisa dikerjakan dengan sangat cepat. Untuk pelajaran math dia bisa mengerti konsep baru dengan cepat. Sejauh ini dia sudah mempelajari tabel perkalian sampai perkalian 12 dan mulai dikenalkan dengan konsep pembagian. 

Pelajaran diluar buku CLE, dia masih ikut kelas piano, taekwondo, kumon bahasa Thai dan kelas menggambar di Global Art. Term 1 ini juga kami mengikuti co-op selama 3 bulan dan dia belajar Beginning Gymnastic, What’s in the Bible dan Fun Science. Pelajaran yang paling dia suka di co-op itu Fun Science, karena setiap kali mereka mengadakan percobaan yang buat dia sangat menarik.

Dipikir-pikir, dengan jadwal homeschooling sekarang ini, Jonathan belajar cukup banyak. Yang kurang itu teman hahaha. Rencananya untuk tahun depan, saya akan masukkan Jonathan ke sebuah program di mana dia bisa bertemu dengan orang yang sama setiap minggunya. 

Kehidupan homeschooling kami juga sekarang ini masih sangat santai. Bangun tidak buru-buru, tidur malam tetap tidak lebih dari jam 10. Siang bisa istirahat. Setiap jumat sore bisa jalan-jalan ke park. Sabtu atau minggu masih bisa ke zoo atau jalan ke tempat lain sama papa. Rencana untuk menambah jadwal berenang belum juga dilaksanakan karena di tempat Jonathan dulu belajar berenang sedang tidak ada guru bahasa Inggrisnya. Saya mencoba mengajar sendiri, tapi dia lebih suka main-main kalau berenang dibandingkan belajar berenang.

Secara berkala kami masih tanyakan ke Jonathan apakah dia mau kembali ke sekolah supaya punya banyak teman (dengan jadwal harus bangun pagi, tidur awal, kemungkinan ada banyak PR). Tapi sejauh ini jawabannya masih sama: mau sekolah di rumah saja. Ah senangnya besok liburan homeschooling, artinya sayanya juga libur mengajar dan ingetin dia kerjain kerjaan sekolahnya hehehee.

Review Brain Quest Deck (Flash Card)

Kali ini saya mau mereview flash card dari Brain Quest. Pertama membeli produk brain quest ini waktu Jonathan masih 2 tahun. Kami menggunakannya tidak terlalu rutin, tapi biasanya sebagai salah satu aktivitas sebelum siap-siap tidur. Flash card brain quest pertama yang kami punya tentunya untuk umur 2-3 tahun, dengan 350 pertanyaan yang berguna membangun vocabulary dari anak usia tersebut. 

Sebagian dari koleksi BrainQuest kami

Jonathan tergolong cepat berbicara dan mengerti banyak hal, dia senang sekali bermain dengan kartu-kartu brain quest ini. Biasanya dalam 1 box ada 2 set kartu, dan terbagi berbagai topik seperti topik bangun tidur, berpakaian, siap-siap berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, ke taman, ke playground, di rumah bahkan sampai topik liburan. 

Brain quest ini memang menggunakan bahasa Inggris, tapi karena memang kami dari awal menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, Jonathan tidak ada masalah dan memang menambah banyak perbendaharaan kata-katanya dia. Setelah agak lama, Jonathan sempat bosan dan kami jadi lupa dengan kegiatan bermain dengan kartu Brain Quest ini.

Setelah Jonathan masuk sekolah, dia ingat dengan kartu Brain Quest yang dia punya dan minta dibelikan seri umur berikutnya. Waktu itu, ga selalu ada urutan umur berikut dari 2-3 tahun, jadi kami sempat skip membeli umur berikutnya 4-5 tahun dan 5-6 tahun. Setelah Jonathan bisa membaca, dia sering membaca sendiri pertanyaan dan jawaban yang ada di kartu. Kadang-kadang dia minta kami bacakan, dan semua pertanyaan yang ada dia bisa ingat jawabannya. Sekali bermain kami ga selalu membaca dari awal sampai akhir, paling ya 5 – 10 kartu saja.

Sejak Joshua mengenal huruf a,b,c dan tertarik dengan membaca, Joshua juga senang diajak bermain dengan Brain Quest. Perkembangan bicara Joshua berbeda dengan Jonathan, Joshua lebih memilih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Setelah beberpa kali diajak tanya jawab dengan kartu brainquest, dia malah sering main sendiri dengan kartu-kartu yang ada. Dia seperti bisa membaca pertanyaan dan jawabannya sehingga kadang saya bertanya-tanya Joshua beneran bisa baca atau dia memang mampu menghapal tanpa pengertian 100 persen?

Karena Joshua suka juga bermain dengan kartu Brain Quest, kami melengkapi seri umur 3-4 tahun. Tapi sejak beberapa waktu lalu, Joshua ga berhenti dengan brainquest yang diperuntukkan sesuai umurnya, dia malah pengen baca juga punya Jonathan untuk kelas 1 dan kelas 2 (tapi kosakatanya sudah terlalu sulit, jadi dia sering minta kami bacakan saja).

Contoh pertanyaan dan jawaban kartu BrainQuest

Selain flash card, brain quest juga ada workbook, app di nintendo dan seri write&erase. Untuk workbook, kami tidak beli semuanya, kami beli hanya kalau Jonathan berjanji untuk mengerjakannya. App nya juga ada untuk grade tertentu saja. Untuk write&erase nya saya belum pernah menemukan di Chiang Mai, padahal kalau ada, pasti Joshua akan senang sekali hehehe.

Kami suka Brain Quest ini karena ukurannya kecil bisa dengan mudah dibawa-bawa di mobil. Pertanyaan dan jawabannya juga dikategorikan berdasarkan umur dan bisa dimainkan sedikit demi sedikit. Untuk anak yang tertarik baca seperti Joshua, kartu-kartu ini juga bisa dipakai untuk dia berusaha baca. Mungkin awalnya dia menghapalkan pertanyaan dan jawabannya, tapi sekarang saya perhatikan dia mulai mengerti dan berusaha merangkai huruf di mana saja untuk dia baca.

Kami menggunakan kartu-kartu ini bukan untuk mendrill anak dan harus hapal, tapi mengikuti apakah anaknya mau bermain atau tidak. Kalau misalnya mereka sedang tidak ingin tanya jawab ya kami bacakan buku yang lain saja. Tapi melihat bagaimana Jonathan dan Joshua bermain menggunakan kartu-kartu dan workbook dari Brain Quest, kami cukup senang karena mereka menganggap belajar itu bukan beban dan seperti menjawab teka-teki silang saja hehehe. Kartu dan workbook dari Brain Quest ini seperti investasi buku. Membantu anak untuk suka belajar tanpa beban dan tetap fun.

Review Mainan Tupperware Shape – O Ball

Saya baru tahu Tupperware memproduksi mainan juga setelah membeli bola yang berisikan puzzle bentuk-bentuk geometri ini. Waktu Jonathan masih 2 tahun, saya pernah melihat mainan seperti ini ketika sedang playdate di gereja, tapi saya tidak memperhatikan kalau bola biru merah ini merk tupperware.

Waktu Joshua masih bayi, saya gak sengaja menemukan mainan ini di sebuah toko barang bekas dari Jepang yang jualnya kiloan. Sempat pesimis kalau bentuk-bentuknya masih lengkap, tapi ternyata masih lengkap 10 puzzle bentuk di dalamnya. Serasa nemu harta karun deh.

Sejak Joshua masih belum bisa jalan, sekitar 1 tahunan dia sudah senang main dengan puzzle bola ini. Dia bisa main cukup lama dan berkali-kali walau sudah berhasil dia minta main lagi dan lagi.

Setelah agak lama saya perhatikan, baru saya melihat ada tulisan Tupperware di bola nya. Lalu saya juga baru mengamati, di dalam bentuk geometrinya ada angka dan titik-titik sejumlah angkanya. Kalau diperhatikan mereka berusaha membuat angka yang tercetak di dalamnya sejumlah sisi dari bentuk geometrinya. Mulai 1 untuk lingkaran dan 10 untuk bentuk bintang.

Selain bermain memasukkan puzzle ke dalam bolanya, Joshua juga berusaha menyebutkan nama bentuknya setiap kali sebelum memasukkan bentuk ke dalam bola.  Setelah dia mengenal angka, dia juga suka mengurutkan objeknya berdasarkan angka di dalamnya.

Barusan saya iseng membaca review benda ini, ternyata mainan ini merupakan mainan klasik dari puluhan tahun silam. Ada yang anaknya sudah berumur 30 tahunan dan mainan ini diwariskan ke cucuya. Kalau melihat dari material plastiknya memang cukup kuat, asalkan jumlah shapesnya nggak hilang, mainan ini memang bisa bertahan cukup lama.

Tapi sepertinya, daripada disimpan puluhan tahun, mainan ini akan saya donasikan atau dijual lagi saja. Lumayan kan bisa untuk beli mainan lainnya hehehe. Tapi untuk sekarang ini, walau mainan ini sudah terlalu gampang untuk Joshua mainkan, dia masih suka memainkannya cukup lama. 

Mainan ini selain mengenalkan bentuk dan angka, juga bisa dipakai untuk mengajarkan kata-kata buka, keluarkan, masukkan, urutkan. Ukurannya juga cukup besar dan tidak perlu kuatir di masukkan ke mulut, tapi juga tidak terlalu besar sehingga anak susah memegangnya. 

Kalau ada yang punya anak toddler dan bingung mau beliin mainan lagi, saya merekomendasikan mainan ini. Kalau bisa beli bekas saja, soalnya harganya barunya sepertinya cukup mahal. Asal bentuk-bentuknya masih lengkap, mainan ini masih cukup fun untuk dimainkan

Review TV Series Numberjacks

Hari ini mau mereview salah satu tontonan yang sering ditonton sama anak-anak. Awalnya nemu ga sengaja dari youtube, waktu itu mencari cara supaya Jonathan merasa lebih fun untuk belajar math facts, eh ternyata malah dapat serial yang sifatnya bukan cuma mengajarkan mathfacts saja.

Serial numberjacks merupakan animasi komputer yang disisipkan ke dunia nyata. Tokoh utama yang akan menyelesaikan permasalahan   adalah karakter animasi nomor mulai 0 sampai 9 dengan cara matematis. Seri ini asalnya dari UK, tapi bahasa Inggrisnya ga british-british amat. Kami biasanya memberikannya random kadang-kadang berdasarkan nomor yang akan jadi pahlawan. Satu episodenya sekitar 15 menitan, tapi ya di YouTube kadang sudah digabung misalnya semua episode untuk numberjacks nomor 4 dan 5.

Lanjutkan membaca “Review TV Series Numberjacks”

Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight

Buku ini salah satu yang saya beli di Big Bad Wolf kemarin. Saya belum pernah membaca tentang seri ini, sekilas dari judulnya sepertinya menarik, Space Taxi. Buku yang saya beli bundle 4 buku jadi 1 seharga 140 baht, tergolong sangat murah mengingat harga buku baru untuk chapter books biasanya sekitar 200-350 baht di toko buku Asiabooks. Judulnya Space Taxi, dibagian belakang bukunya ada klaim menyertakan fakta ilmiah juga. Saya pikir, karena Jonathan cukup suka membaca mengenai hal-hal yang terkait mengenai luar angkasa, buku ini akan menarik minatnya untuk membacanya.  

4 buku jadi 1 seharga 140 baht

Satu hal yang bikin saya suka dengan buku ini adalah: tulisan di dalamnya menggunakan font yang cukup besar. Saya tidak perlu kacamata saya untuk membacanya haha. Di dalamnya juga ada beberapa ilustrasi yang cukup membantu imajinasi untuk menikmati buku ini. Cerita dalam buku ini mengenai seorang anak bernama Archie Morningstar yang berumur 8 tahun 8 bulan 8 hari yang untuk pertama kalinya ikut papanya bekerja di malam hari. Papanya bekerja sebagai supir taxi dan jam kerjanya berbeda dengan jam kerja biasa, jadi ini seperti pengalaman pertamanya juga untuk boleh bergadang di malam hari hahaha.

Lanjutkan membaca “Review Buku Space Taxi: Archie Takes Flight”